- Beranda
- The Lounge
Hidup Susah Tapi Bahagia? Emang Ada? Yuk, Simak Kisah Anak Ladang Satu Ini
...
TS
darmawati040
Hidup Susah Tapi Bahagia? Emang Ada? Yuk, Simak Kisah Anak Ladang Satu Ini

Sumber Gambar: Pixabay
Hallo, selamat malam, GanSis. Jumpa lagi dengan Ara, gadis super sibuk dan hobi menyibukkan diri.
Eh, apa maksudnya, ya? Abaikan GanSis. Anggap saja basa-basi.
Yaelah, emang lagi basa-basi, kan, Ra!
Hkhk ... 😅 iya, iya ... Kalau terlalu serius, kan, bikin tegang, GanSis.
Eh, apa maksudnya, ya? Abaikan GanSis. Anggap saja basa-basi.
Yaelah, emang lagi basa-basi, kan, Ra!
Hkhk ... 😅 iya, iya ... Kalau terlalu serius, kan, bikin tegang, GanSis.
Ok, mari lanjut ke pembahasan inti. Kali ini, Ara mau berbagi pengalaman dengan Agan and Sista. Pengalaman yang mungkin belum pernah kalian rasa.
Pernahkah kalian membayangkan, bagaimana rasanya hidup di hutan? Suasananya ketika siang dan malam? Tidur di pondok kecil yang terbuat dari kayu, yang alasnya hanya kardus bekas yang diminta dari pemilik kios-kios kecil. Tanpa listrik. Tanpa suara musik. Juga tanpa bising suara kendaraan? Asap sebagai pengusir nyamuk. Bulan dan bintang menjadi penerang di saat malam.
Duh, jika ingat masa itu. Masa tersulit yang pernah Ara dan keluarga alami. Rasa-rasanya, tidak ingin menyia-nyiakan hasil jerih payah sekarang ini. Sekalipun hanya seperak dua perak, Ara ingin selalu menghargainya.
Bagi anak sembilan puluan yang hidupnya di desa, sepertinya tahu betul bagaimana rasanya hidup di ladang. Rasanya menyenangkan, sekaligus menyebalkan.
Pernahkah kalian membayangkan, bagaimana rasanya hidup di hutan? Suasananya ketika siang dan malam? Tidur di pondok kecil yang terbuat dari kayu, yang alasnya hanya kardus bekas yang diminta dari pemilik kios-kios kecil. Tanpa listrik. Tanpa suara musik. Juga tanpa bising suara kendaraan? Asap sebagai pengusir nyamuk. Bulan dan bintang menjadi penerang di saat malam.
Duh, jika ingat masa itu. Masa tersulit yang pernah Ara dan keluarga alami. Rasa-rasanya, tidak ingin menyia-nyiakan hasil jerih payah sekarang ini. Sekalipun hanya seperak dua perak, Ara ingin selalu menghargainya.
Bagi anak sembilan puluan yang hidupnya di desa, sepertinya tahu betul bagaimana rasanya hidup di ladang. Rasanya menyenangkan, sekaligus menyebalkan.
Quote:
Jika dipikir kembali, menjadi anak petani rupanya tidak mudah. Apalagi hidupnya terbilang kekurangan. Hebatnya, ayah dan ibu kuat juga tangguh. Setiap hari kerja di ladang tanpa pernah mengeluh. Pagi-pagi, ayah memasuki hutan belantara demi untuk mengambil kayu bakar, yang kemudian nanti dipotong rapi lalu dijual ke desa. Sementara ibu, pekerjaannya tidak terkira. Dari urusan dapur, menumbuk padi dan gandum, hingga mencabut rumput-rumput yang menghalangi pertumbuhan padi. Sebelum akhirnya Ara pulang sekolah dan ikut membantu. Maklum, jaman dulu belum terkenal yang namanya alat semprot. So, tumbuh-tumbuhan yang menghambat pertumbuhan padi dan tanaman lainnya, harus dicabut manual, alias memakai sabit. Tak jarang jari-jari Ara jadi korban. Berdarah, sembuh. Berdarah, sembuh. Begitu seterusnya.
Quote:
Menjadi anak ladang memang tidak mudah. Setelah pulang sekolah, keinginannya seringkali tidak terpenuhi. Tidak bisa ikut bermain sebagaimana teman-teman yang berada. Tidak bisa bersantai ria atau nonton tivi meski hanya mengintip di rumah tetangga. Tidur siang? Wah, jangan harap bisa. Jikalaupun bisa, mungkin tidak sampai satu jam. Karena memang, waktunya hanya dihabiskan untuk membantu ayah dan ibu.
Quote:
Meski begitu, Ara tetap bahagia. Bahagia karena selalu bisa melihat ayah dan ibu tampak bahahia. Ya, walau terkadang ada rasa kesal. Masih wajar, sih. Namanya juga anak-anak. Terkadang marah-marah, lalu kembali ceria. Kala itu, Ara benar-benar merasakan apa itu bahagia. Ya, kami hidup susah tapi merasa bahagia. Kenapa? Karena bersama dan saling cinta. Apa pun masalah dan bagaimana keadaannya, ayah ibu selalu bisa mengatasinya dengan tidak menunjukkan kesulitan itu sendiri.
And, Ara paling suka mendengar satu perintah dari ibu. Yaitu, mandi. Ya mandi, GanSis. Kenapa? Karena jika bicara tentang mandi, itu berarti, Ara harus menuju kali alias sungai. Di sana, Ara bisa bermain air sepuasnya. Menumpuk-numpuk batu di tengah-tengah suangai yang airnya mengalir. Kemudian berenang. Hihi ... Seru pokonya. Dan, Ara juga bisa melakukan hal yang tak kala seru. Apa itu? Menyuci. Kalau jaman sekarang, sih, boro-boro menyebutnya sebuah kesenangan. Ngelirik pakaian kotor saja, ogah. Beda dengan jaman dulu. Jaman dulu, suasananya lebih kurang seperti dalam gambar di bawah ini, GanSis. Cekidot ....

Sumber gambar: Pixabay
Bagaimana? Ara yakin, siapa pun pasti menyukainya. Apalagi jika air sungai itu bersih bening. Seperti yang ada dalam gambar di atas.
Lanjut, GanSis. Perjuangan Ara belum berakhir. Biasanya, dalam setahun, mulai bulan Desember hingga bulan Mei mendatang, kami masih menginap di ladang. Sampai semuanya benar-benar selesai. Terkadang gagal panen. Kadang juga rejeki berlimpah. Setiap tahunnya, pendapatan kami berbeda-beda. Tetapi, rasa syukur senantiasa melapangkan hati ayah dan ibu. Kalau Ara, sih, masih belum paham tentang itu semua. Maklum, masih duduk di bangku SD kelas lima, saat, itu.
Ketika panen, Ara biasanya akan mengeluh. Mengeluh karena terlalu banyak padi yang harus diangkat dan dibawa pulang ke rumah yang di desa. Mengeluh karena terlalu banyak gandum, wijen, jagung, dan lan-lain. Bayangkan, GanSis, hasil ladang yang begitu banyak harus dibawa pulang ke desa yang berjarak sangat jauh. Ara dan keluarga harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter dengan berjalan kaki sambil menjunjung atau memikul hasil panen itu. Bolak balik dari pagi hingga sore selama dua minggu bahkan bisa lebih. Tergantung sebanyak apa hasil ladang.
Rasanya mau pingsan. Tak jarang Ara menangis di tengah jalan. Lalu membuang barang bawaan. Bukannya marah, saudara-saudara Ara malah menertawainya. Hal itu membuat Ara semakin marah dan mengancam tidak mau membantu. Tetapi, apalah arti kemarahan Ara? Rayuan ibu tetap mampu mengalahkannya. Selain tangguh, ibunya Ara juga pandai mendamaikan hati. Terbukti, setiap Ara marah, beliau selalu bisa menenangkannya. Beliau memang the best mom, deh 😍
Ketika panen, Ara biasanya akan mengeluh. Mengeluh karena terlalu banyak padi yang harus diangkat dan dibawa pulang ke rumah yang di desa. Mengeluh karena terlalu banyak gandum, wijen, jagung, dan lan-lain. Bayangkan, GanSis, hasil ladang yang begitu banyak harus dibawa pulang ke desa yang berjarak sangat jauh. Ara dan keluarga harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter dengan berjalan kaki sambil menjunjung atau memikul hasil panen itu. Bolak balik dari pagi hingga sore selama dua minggu bahkan bisa lebih. Tergantung sebanyak apa hasil ladang.
Rasanya mau pingsan. Tak jarang Ara menangis di tengah jalan. Lalu membuang barang bawaan. Bukannya marah, saudara-saudara Ara malah menertawainya. Hal itu membuat Ara semakin marah dan mengancam tidak mau membantu. Tetapi, apalah arti kemarahan Ara? Rayuan ibu tetap mampu mengalahkannya. Selain tangguh, ibunya Ara juga pandai mendamaikan hati. Terbukti, setiap Ara marah, beliau selalu bisa menenangkannya. Beliau memang the best mom, deh 😍
Quote:
Ok, GanSis. Sepertinya sudah dulu, deh, curhatnya. Eh, berbagi pengalamannya. Semoga bermanfaat. See you nex time, All ... Jangan lupa tinggalin jejak dan cendolnya, ya ... Selamat rehat ^^
Quote:
Bima, 12 Juli 2019
swiitdebby dan 13 lainnya memberi reputasi
14
2.8K
63
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•104.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya
