alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
315
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd416f0337f936916304401/prekuel-sebelum-karma
Pada suatu waktu, gue pernah bertanya pada diri gue sendiri; Bagaimana kelak keadaan disekitar gue ketika gue pergi? Ketika gue gak lagi bisa mengusahakan untuk memperbaiki hal-hal yang mungkin udah terlanjur terjadi. Ketika kesalahan gue adalah satu-satunya kenangan yang sempat gue tinggalkan. Ketika gue gak lagi bisa membuka pintu yang telah gue tutup dengan membantingnya berulan
Lapor Hansip
09-05-2019 19:02

[Prekuel] Sebelum Karma

Past Hot Thread
[Prekuel] Sebelum Karma


Quote:
Prolog


Pada suatu waktu, gue pernah bertanya pada diri gue sendiri; Bagaimana kelak keadaan disekitar gue ketika gue pergi? Ketika gue gak lagi bisa mengusahakan untuk memperbaiki hal-hal yang mungkin udah terlanjur terjadi. Ketika kesalahan gue adalah satu-satunya kenangan yang sempat gue tinggalkan. Ketika gue gak lagi bisa membuka pintu yang telah gue tutup dengan membantingnya berulang kali.

Gue selalu percaya, bahwa apapun yang terjadi dalam dunia yang kita tempati saat ini adalah sejalan dengan apa yang telah Dia tuliskan dalam buku 'skenario' -Nya.Tapi, sebagian kecil dalam hati gue berusaha mempertanyakan; Apakah segala kesalahan yang Lo, Gue dan Kita lakukan juga masih bagian dalam 'skenario' itu? Gue rasa gue bukan orang yang punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang mungkin akan menyulut sebuah perdebatan; bukan dengan orang lain, tapi dengan diri sendiri. Soal layak atau tidaknya  Gue memperjuangkan kembali jalan yang telah jauh gue lalui. Soal sanggup atau tidaknya gue untuk terus melangkah dengan kepala tegap meski sesal yang berbalut benci masih tertanam di dasar hati.

Karna pada akhirnya, setiap langkah yang gue ambil selalu membawa gue pada kemungkinan-kemungkinan yang lain. Pada cerita-cerita yang mungkin bisa saja terjadi, atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Pada kejadian-kejadian yang kelak menjadi gumpalan kenangan, atau malah menjadi penyesalan yang sama sekali gak berarti. Atau pada kenyataan yang akhirnya harus gue hadapi –mungkin dengan meratapi, atau justru malah mensyukuri.

Dan gue tau, sebelum gue berada di titik dimana gue sangat amat bersyukur dengan segala yang gue terima dan miliki saat ini, Gue pernah terkapar di suatu malam meratapi apa yang telah gue lewatkan. Gue pernah menyesal sejadinya atas kesalahan yang telah gue lakukan. Gue pernah memaki dan mengutuk kebodohan yang dengan mudahnya gue lakukan untuk menangisinya kemudian. Hingga bagi gue, gak ada satu rangkai kata pun dapat gue tulis tanpa mengecap manis dan pahitnya jalan yang pernah gue tapaki langkah demi langkah, untuk menjadi seorang Bagus Mahendra seperti saat ini.


*****


“Itu lagu siapa deh? Kayanya gue pernah denger.” Tanya  dia setelah gue menyelesaikan lagu yang baru saja gue nyanyikan.

Gue meletakkan gitar bersandar di pinggiran tembok balkon yang tengah gue duduki, dan hanya menjawabnya dengan senyuman. Sengaja membuat dia penasaran. Karna anak ini kalo udah penasaran bakal setengah mati berusaha untuk mencari tahu.

“iish. Lagu siapa Gus?! Jangan resek aah. Gue beneran lupa. Liriknya juga tadi agak kurang jelas gue dengernya. Tapi gueyakin gue kenal nadanya.” Ucapnya dengan gemas sambil bangun dari kasurnya dan menghampiri gue.

Dia lalu menaiki tembok balkon depan kamarnya dan duduk disamping gue, kemudian menarik-narik rambut gue dengan sedikit kesal. Gue hanya tertawa meladeninya. Hingga akhirnya tarikannya terasa semakin sakit karna dia mulai beneran kesel.

“Iyaa.. Iyaa. Ampun. Lepas dulu.” Ucap gue menyerah karna dia semakin benar-benar keras menarik rambut gue.

“The second you sleep –nya Saybia.” Sambung gue cepat sambil mengusap-usap kepala yang kini beneran berasa sakit di kulitnya.

Dia yang gak merasa bersalah setelah menyiksa gue kemudian kembali berjalan kedalam kamarnya dan setengah melompat ke atas kasur lalu mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu yang gue duga dia lagi nyari lirik lagu yang tadi guesebut judulnya.

You close your eyes, and leave me naked by your side. You close the door so I can’t see, the love you keep inside, the love you keep for me..” Gue mengambil dan memetik gitar dengan perlahan sambil menyenandungkan lirik awal lagu yang tadi udah gue nyanyikan.

Dia mengangkat wajahnya yang tadi sempat menunduk memperhatikan handphone ditangannya. Kedua bola matanya menatap tepat ke dalam mata gue. Bola mata yang dulu selalu gue puja warna dan keindahannya. Bola mata yang kemudian sempat gue benci setiap kali terbayang dengan mudahnya didalam kepala gue.

I stay to watch you fade away. I dream of you tonight. Tomorrow you`ll be gone. It gives me time to stay, to watch you fade away. I dream of you tonight. Tomorrow you`ll be gone. I wish by god you`d stay..”

Dia bersenandung pelan dengan irama yang sedikit berantakan. Meski sama sekali gak mengurangi keindahan senandungnya. Sebuah senandung yang entah bagaimana caranya membuat gue gak mampu mengalihkan pandangan dari wajahnya. Membuat gue mungkin harus berulang kali mengeja namanya untuk dapat sejenak menepikan nama wanita yang saat ini telah berhasil mengobati rasa kecewa saat gue dulu merasa di sia-siakan. Meski membutuhkan waktu cukup lama sejak dia memutuskan untuk mengikuti emosi sesaatnya kala itu.

Gue melihat jelas genangan air disudut matanya yang tengah ia pertahankan untuk gak menetes kepipinya.

I wish by god you`ll stay..”

Ia mengucapkannya sekali lagi dengan suara yang kini bergetar. Dan tetesan air yang akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Yang kemudian menyelimuti gue dalam sesaknya rasa sesal yang sempat mengucapkan bahwa gue gak akan pernah menetap disana. Di dalam hatinya yang juga basah meski tak terkena tumpahan air mata.





I never meant to hurt no one
Nobody ever tore me down like you
I think you knew it all along
And now you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
And will I ever see the sun again?
I wonder where the guilt had gone
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt no one
Sometimes you gotta look the other way
It never should've lasted so long
Ashamed you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
I know I'll never be the same again
Now taking back what I have done
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt nobody
Nobody ever tore me down like you
I never meant to hurt no one
Now I'm taking what is mine..




<< Cerita sebelumya



Quote:


Diubah oleh ucln
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panjang.kaki dan 22 lainnya memberi reputasi
-15
Tampilkan isi Thread
Halaman 14 dari 17
[Prekuel] Sebelum Karma
14-07-2019 19:20
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
15-07-2019 08:11
bener tuh stockholm syndrom si bags...mana berani sama nia emoticon-Wakaka
profile-picture
ucln memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
15-07-2019 23:38
M U L U S T R A S I


Quote:
Dalam Rangka menyeragamkan imajinasi para reader tentang para tokoh dicerita ini terutama para tokoh ceweknya, berikut gw kasih mulustrasinya.

Mulustrasi


sumber: Google Image
Diubah oleh ucln
profile-picture
profile-picture
bogalbogel28 dan DanyMartadinata memberi reputasi
2 0
2
[Prekuel] Sebelum Karma
15-07-2019 23:43
moga moga mulustrasi membantu deh ya..

emoticon-Ngakak (S)
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
[Prekuel] Sebelum Karma
17-07-2019 10:27
Quote:Original Posted By ucln
M U L U S T R A S I



boleh tuh ya mulusnya astrid..cewek yang manis dan g ngebosenin
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
17-07-2019 19:30

Part #24



Setelah proses pengambilan raport selesai. Nyokap gue menemui gue dan mengatakan akan segera pulang bersama Adam. Gue mencium tangannya dan mengatakan bahwa gue akan kerumah Maul dulu. Nyokap mengiyakan sambil berpesan agar gue ga pulang terlalu malam karna beliau dan Bokap gue akan menunggu gue di rumah. Entah kenapa, gue jadi parno sendiri mendengar ucapan Nyokap yang meski diiringi senyumannya itu. Gue jadi khawatir sendiri jangan-jangan gue memang kalah taruhan dengan Beliau. Meski gue yakin nilai gue cukup bagus, gue masih ragu soal permintaan gue ke Pak Umar untuk masuk ke tiga besar di kelas. Karna tentu saja di kelas gue juga ada anak-anak pinter yang kerjanya belajar mulu entah di rumah atau di sekolah.

Gue, Maul, dan Ryan berjalan kearah luar sekolah dan berniat kembali ke rumah Maul. Gue sempat melihat jam dinding di ruangan guru piket saat kami melintas dan saat itu sudah jam 1 siang. Gue berjanji akan ke rumah Nia sekitar jam 2. Maka gue langsung buru-buru mengajak Maul dan Ryan untuk segera cabut dari sekolah.

“Halo, Confusion..” Sapa sebuah suara ke kami bertiga yang tentu saja sudah gue hapal iramanya.

“Eh, Trid. Udah ambil raport? Naek kelas ga lo?” Ledek Maul.

“Ya naik lah. Eh kalian pada masuk IPA apa IPS?”

“Gue sih IPA, tau nih kalo mereka berdua.” Jawab Maul.

“Lagu lo IPA, otak pas-pasan aja.” Ucap Ryan menoyor Maul.

“Serius? Gue kirain pada IPS.”

“Kagak lah mana mungkin gue IPA, gue kan anaknya IPS banget.” Jawab Maul

“Emang lo apaan Trid? IPA?” tanya gue ke Astrid.

“Enggak lah, aku mah IPS Gus. Aku Ga sepinter kamu bisa masuk IPA.” Astrid menjawab dengan merendah

“Apaan, gue juga IPS kok.”

“Masa sih? Bukannya kalo 5 besar di tiap-tiap kelas itu otomatis masuk IPA ya?”

“Ya kagak tau, gue juga kan ga 5 besar.”

“Ih apaan sih ngerendah aja. Kan kamu ranking 3 di kelas kamu.”

“Ha? Serius lo? Tau darimana lo Trid?” Maul langsung menyelah dengan wajah kaget.

“Ya tau lah. Apa sih yang gue gatau di sekolah ini. Eh by the way selamat ya Gus.” Ucap Astrid sambil tersenyum kemudian berlalu dari hadapan kami.

Maul dan Ryan langsung menyerang kepala gue dengan pukulan berkal-kali seolah ga terima dengan apa yang diucapkan oleh Astrid tadi. Gue berusaha menahan pukulan mereka sambil membela diri dan mengatakan bahwa gue emang beneran gatau gue dapet ranking berapa. Mereka tetap tidak percaya dan mengatakan bahwa gue menyembunyikan kebenaran dari mereka.

*****


Gue sampai di rumah Nia sekitar hampir jam 3 sore. Karna tadi sempat lama mengobrol dengan Maul dan Ryan. Gue juga sempat mengajak mereka untuk ikut ke rumah Nia untuk main di studio band milik abangnya. Maul tentu saja semangat karna merasa bisa main sepuasnya dengan gratis, namun Ryan entah kenapa malah menolak dan beralasan ingin buru-buru pulang. Padahal saat tadi gue ingin segera langsung ke rumah Nia justru dia menahan gue lebih lama di rumah Maul.

Dirumah Nia, gue disambut oleh Bang Salim. Salah satu asisten rumah tangga di rumah ini. Bang Salim tentu saja sudah mengenal gue karna gue sudah beberapa kali kesini dan bertemu dengannya. Dia mengatakan bahwa sepertinya Nia sedang tidur di kamarnya di lantai 2. Bang Salim menanyakan apakah gue ingin meminta istrinya Bang Salim untuk membangunkan Nia, namun gue mengatakan tidak usah dan memilih untuk merokok dulu di kursi teras rumah Nia bersama Bang Salim. Kemudian Bang Salim meminta istrinya untuk membuatkan kopi untuk gue.

Bang Salim bercerita bahwa dia sudah ikut dengan keluarga Nia sejak pertama kali keluarga ini tinggal di rumah ini. Saat itu Bang Salim baru menikah dengan istrinya dan mengontrak rumah ga jauh dari sini. Kemudian keluarganya Nia yang saat itu belum ada Reani, adiknya Nia, menawarkan Bang Salim dan istrinya untuk tinggal bersama dirumah ini karna kebetulan rumah ini ada kamar yang kosong yang bisa mereka tempati. Bang Salim pun tentu saja menerima tawaran itu. Dan itu artinya kalo menurut hitungan gue udah sekitar 14 tahun Bang Salim bekerja dengan keluarga Nia, karna kini umur Reani saja sudah sekitar 13 tahun dan Bang Salim sudah memiliki sepasang anak yang berusia 10 tahun dan 7 tahun. Namun Bang salim sendiri usianya masih belum genap 35 tahun. Oleh karna itu dia lebih nyaman disapa Bang.

Tak menunggu lama, kopi untuk gue dan Bang Salim diantarkan oleh istrinya. Kami kini jadi asik ngobrol bertiga. Mereka berdua menceritakan banyak hal tentang keluarga Nia yang menurut mereka sangat baik. Bukan pada mereka berdua saja, namun juga pada masyarakat sekitar diluar komplek perumahan ini. Keluarga Nia dikenal sangat baik dan suka membantu. Namun tentu saja dibalik kebaikan sebuah keluarga, tentu ada kekurangan yang tetap dilihat dan dibesar-besarkan oleh orang lain. Hal itu pun tak luput bagi keluarga Nia.

Sejak kepergian Raihan, Abangnya Nia. Keluarga Nia kerap kali menerima omongan-omongan tidak enak dari masyarakat sekitar. Apalagi Bokapnya Nia yang jarang pulang ke rumah, membuat masyarakat sekitar menilai bahwa keluarganya Nia ini adalah ‘keluarga simpanan’ pejabat. Yang dimaksud sebagai pejabat itu adalah Bokapnya Nia. Karna jarang terlihat dirumah namun memiliki kekayaan yang cukup untuk membantu masyarakat sekitar.

Nia juga kerap kali dianggap sebagai seorang yang sombong. Dia memang ga pernah bersosialisasi dengan masyarakat sekitar ataupun tetangga kompleknya. Dia hanya keluar rumah saat akan berangkat sekolah, itupun diantar dengan ojek. Dia hanya terlihat berjalan kaki saat bersama dengan gue kalo lagi pas pulang sekolah dan gue ingin main kerumahnya. Dan ternyata gue pun malah dikait-kaitkan dengan keluarga Nia ini. Banyak omongan orang yang sering melihat gue datang kesini dan menyebabkan penilaian buruk dari orang lain. Yang tentu saja jadi membuat gue sungkan untuk sering kesini setelah mendengar cerita Bang Salim.

“Tapi Mas Bagus, yaa namanya orang mah apa aja diomongin. Ga usah di dengerin.” Ucap Mba Siti, istrinya Bang Salim.

“Orang baik kaya keluarga ini aja masih diomongin. Padahal kalo ada apa-apa, butuh sumbangan atau bantuan, pasti keluarga ini duluan yang selalu diminta bantuannya. Tetangga-tetangga komplek sini ga pernah tuh ada yang mau bantu.”

“Kalian ngomongin apaan sih? Sadar ga sih kalian dengan ngomongin hal itu ke Bagus malah bikin Bagus jadi segan buat main kesini?”

Bang Salim dan istrinya langsung Nampak kaget ketika Nia tiba-tiba muncul dan memotong obrolan kami.

“Eh? Enggak Non, maksud kita juga bukan…”

“Bukan apa? Mba Siti ga liat ya Bagus ga nyaman gitu dengerin omongan Mba Siti dan Bang Salim tadi? Apalagi yang ada bawa-bawa Bagus segala? Kalo besok-besok Bagus ga mau kesini lagi gimana?”

Nia menaikkan nada bicaranya saat memotong pembelaan diri yang coba disampaikan oleh Mba Siti. Dan keadaan ini membuat gue jadi merasa bersalah pada Mba Siti dan Bang Salim yang hanya bisa menunduk saat Nia menaikkan nada bicaranya.

“Ni, tunggu dalem dulu gih. Gue lagi ngerokok ntar lo kena asapnya.” Ucap gue dengan nada selembut mungkin agar ga menyinggung Nia.

“Ini Bang Salim siapa sih yang izinin buat ngerokok-ngerokok disini? Kan Aku pernah bilang kalo ada tamu atau apa jangan dikasih izin ngerokok disini, abunya jadi kemana-mana tau.”

Ternyata niat gue buat mengalihkan pembicaraan malah memancing Nia membahas hal lain dan kembali menyalahkan Bang Salim.

“Apaan sih Ni. Kan gue yang ngerokok. Masa Lo larang juga?”

“Ya kamu mah terserah. Bang Salim pasti ngerokok disitu juga kan?”

“Kagak dia mah. Gue doang kok yang ngerokok. Udah lo masuk dalem dulu gih sana.”

“Yaudah, aku mau mandi dulu.” Ucap Nia sambil kembali masuk ke dalam rumah.

Bang Salim dan istrinya jadi menatap gue dengan wajah merasa bersalah. Seolah mereka sangat bersalah karna terlalu banyak bercerita dan membuat gue ga nyaman mendengarnya seperti yang tadi Nia bilang. Gue berusaha menyampaikan ke mereka bahwa gue ga berpengaruh apapun dengan cerita mereka tadi. Pun meski ada orang lain yang ngomongin gue juga gue sama sekali ga merasa terganggu. Justru gue berterima kasih pada mereka sudah menemani gue mengobrol sampai si nona kecil bangun dari tidur siangnya.

Setelah itu, gue memilih menunggu di ruang tamu karna Bang Salim dan istrinya pamit untuk kembali masuk ke dalam. Gue menunggu di ruang tamu sambil membaca beberapa majalah lama yang ada di bawah meja, tempat tumpukan majalah.

Sekitar setengah jam kemudian, gue mendengar Nia turun dari tangga dan dia langsung duduk disamping gue. Gue sama sekali belum menatapnya namun harum tubuhnya sangat jelas tercium oleh gue. Gue menoleh kesamping gue dimana Nia duduk disana. Dan memperhatikan wajahnya, meski sekilas menyempatkan mata untuk melirik badannya yang lagi-lagi hanya dibalut dengan tanktop.

“Lo mau kemana? Wangi bener.” Tanya gue.

“Ga kemana-mana. Eh tapi tergantung sih, terserah kamu mau ngajak kemana.” Jawab Nia sambil menyenderkan kepalanya di pundak gue bermaksud meledek.

“Males ah. Gue abis maghrib juga balik ntar. Besok aja kalo mau jalan biar gue bawa motor dari rumah.”

“Kamu ga bawa motor emang sekarang?”

“Kagak lah. Kenapa emang?”

“Yaudah aku anter aja ntar pulangnya. Mau ya mau ya?”

“Anter? Naek apaan?”

“Naek mobilku laaah. Sekalian kita muter-muter gitu kemana kek. Cari makan atau apa gitu. Oke oke?” Nia makin menempelkan badannya sampai kini malah jadi memeluk gue dari samping. Gue sih seneng aja di peluk-peluk cewek wangi. Tapi lumayan parno juga kalo tau-tau Reani nongol dan mergokin lagi kaya kemarin, nanti disangka ada apa-apa.

Setelah berdebat soal ketiadaan SIM dan keraguan gue akan kemampuan Nia mengemudi, gue akhirnya mengiyakan ajakannya untuk muter-muter dulu sore nanti sambil menuju kearah gue pulang. Sebenernya perdebatan itu adalah hal yang ga perlu dan ga penting. Namun karna gue tengsin untuk menerima dianter cewek gue sendiri naik mobilnya dan gue yang disetirin karna ga bisa nyetir, maka gue pun sibuk cari alasan untuk menolak. Tapi tetep aja hasilnya Nia ga bisa ditolak jika dia inginkan sesuatu.

Nia langsung mengangkat kedua tangannya kegirangan dan bergegas kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Belum kembali Nia kebawah ternyata sudah masuk waktu adzan maghrib. Gue jadi celingukan sendiri. Ga ngerti apakah dirumah ini ga ada Nyokap dan Adiknya Nia atau ada mereka di ruang keluarga di lantai atas. Maka terjadilah perdebadatan antara setan dan malaikat di kepala gue. Si Setan nyuruh gue nyantai aja ga usah sholat, toh dari tadi subuh emang gue kagak sholat. Lagian ga ada Nyokapnya Nia buat pencitraan, mau ngapain gue pura-pura sholat. Tapi si malaikat meminta gue untuk menanggapi panggilan sholat sebagai bentuk ketaatan. Bukan karna ada atau tidaknya yang melihat.

Saat sibuk dalam perdebatan itu, Nia setengah berlari menuruni tangga karna masih merasa kegirangan akan jalan sore ini sama gue. Dan saat itu juga, si malaikat menyerah kalah karna akhirnya Nia mengajak gue buru-buru berangkat dan melupakan perdebatan soal panggilan sholat.

“Bentar, aku minta Bang Salim keluarin mobilnya dulu.” Ucap Nia sambil menuju ke bagian dalam rumahnya memanggil Bang Salim.

Ga lama kemudian Nia kembali lagi tanpa ada Bang Salim di belakangnya.

“Bang Salim nya lagi sholat ternyata. Eh, kok kamu ga sholat Gus?” Tanya Nia

“Kagak ah, males.”

“Yee sholat dong. Ayok, aku ikut dah.”

“Lo aja gih, gue nitip doa dah.”

“Apa-apaan nitip doa. Ada juga kamu sholat yang bener, terus ajarin aku. Nanti kan kalo jadi suami harus bisa….”

“Ebuset, suami suami, kejauhan lo mikirnya.” Ucap Gue memotong omongan Nia sambil menyubit pipinya.

Nia hanya cengengesan saat gue mencubit pipi kirinya, yang akhirnya membuat gue gemas dan gagal menahan keinginan untuk mencium pipi kanannya yang luput dari cubitan gue.

Sekitar jam 7 malam, gue dan Nia berangkat tanpa tau kemana tujuan awal kami. Nia sebenernya kaya Cuma sekedar mau keluar aja muter-muter naik mobil barunya dan pengen ada yang nemenin. Setelah hampir setengah jam kami di jalan, Nia baru bertanya arah rumah gue kemana, yang kemudian gue sebutkan dan kebetulan malah di arah sebaliknya dari arah yang Nia tuju.

Sambil tertawa dan tetap melanjutkan jalan tanpa tujuannya, Nia kemudian bilang ingin makan di salah satu fast food dengan logo M gede. Katanya udah lama banget dia ga makan disitu dan tiba-tiba lagi kepengen.

“Duh kayanya aku ngidam nih. Soalnya tau-tau kepengen makan M*D gitu Gus.” Ucap Nia sambil memasang wajah sok polos.

“Ngidam palalu. Sejak kapan dicium pipinya doang langsung bikin cewek ngidam.” Saut Gue yang disambut tawa pecah Nia.

Memang di sepanjang jalan kami hanya saling sahut-sahutan meledek. Dan gue baru menyadari, bahwa Nia kalo lagi seneng emang suka ketawa sekenceng-kencengnya sampe liurnya kemana-mana. Sayang aja dia cantik. Kalo kagak juga pasti orang langsung ilfil ngeliatnya.

Gue lupa lagi dalam obrolan apa, tau-tau Nia kembali membicarakan soal obrolan gue tadi bersama Bang Salim dan istrinya. Nia bilang ke gue untuk ga memikirkan apa yang tadi Bang Salim sampaikan. Gue sudah berkali-kali menjawab bahwa gue bahkan sudah lupa sama obrolan tadi dan Nia ga seharusnya membahas kembali namun Nia tetap saja membahasnya, sampai dia malah jadi kesel sendiri.

“Kamu juga, Gus. Aku tuh ga suka kalo kamu bohong buat sok-sokan ngebela orang lain.” Ucap Nia.

“Siapa yang bohong? Dan siapa yang gue belain?”

“Ya kamu lah yang bohong. Bilang Bang Salim ga ngerokok di teras tadi.”

“Ya emang enggak, kan lo liat tadi gue doang yang ngerokok.”

“Tuh kan, Guuusss. Bisa ga sih kamu ga usah bohongin aku buat sok ngebelain orang lain?”

“Gue emang ga ngebelain siapa-siapa.”

Nia menghela napas dan memilih ga melanjutkan perdebatan dengan gue. Dia hanya menoleh sejenak kearah gue dan kembali menatap jalan.

“Aku liat kok tadi Bang Salim ngerokok. Aku dengerin obrolan kalian tuh ada kali lima belas menit dari balik pintu.” Ucap Nia sambil tanpa menatap gue.

Gue yang merasa malu karna udah ketahuan bohong pun hanya diam dan ga lagi berusaha membela diri.

“Padahal kapan hari kamu yang bilang, kalo ada apa-apa tuh diomongin jangan langsung marah-marah. Ini giliran aku ngomongin apa yang aku ga suka, kamu malah bela diri terus. Udah ketauan bohong masih aja bela diri.” Lanjut Nia.

“Ya gue ga bermaksud bohong juga kali, Ni. Tapi ga pantes aja lo tadi bersikap kaya gitu ke Bang Salim.”

“Kok Ga pantes? Kan emang udah sering aku sama Mama bilang ke dia buat jangan ngerokok di teras. Wajar lah aku tegur dia.”

Gue malas mendebati lebih jauh dan memilih diam.

“Tuh kan sekarang malah diem. Jadi sebenernya kalo ada apa-apa aku omongin apa gimana sih kamu maunya?” Lanjut Nia malah makin jadi seakan kaya ada masalah besar aja. Gue pun makin males dan memilih ga memperpanjang obrolan ini.

“Yaudah iya sorry Ni. Gapapa besok-besok kalo ada apa-apa omongin aja, kalo gue yang salah tegor aja. Gue kadang anaknya ga sadar gitu sama salah gue sendiri.” Ucap Gue sambil berusaha memulai bercanda kembali.

“Besok-besok kalo ditanya jawabnya jujur ya.” Ucap Nia sambil sepertinya meladeni candaan gue.

“Iya besok-besok.”

“Jangan besok-besok deh. Mulai sekarang aja. Soalnya aku mau nanya lagi.”

“Nanya apaan?” gue bertanya sambil menoleh ke Nia.

“Astrid itu siapa?” Tanya Nia sambil menatap balik ke gue dengan tanpa ekspresi.
Diubah oleh ucln
profile-picture
profile-picture
nusatya12 dan Rapunzel.icious memberi reputasi
0 2
-2
[Prekuel] Sebelum Karma
17-07-2019 19:31
Quote:Original Posted By senvi.nurc
boleh tuh ya mulusnya astrid..cewek yang manis dan g ngebosenin


Tapi kata sibagus nia yg paling cantik, tapi nia rambut sebahu. emoticon-Hammer
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
18-07-2019 08:54
Quote:Original Posted By ucln


Tapi kata sibagus nia yg paling cantik, tapi nia rambut sebahu. emoticon-Hammer


setuju gan,tp astrid lebih adem kek nya tuh

bedewe instingnya nia tajem banget tuh..dpet laporan dri intel mana?
Diubah oleh senvi.nurc
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
18-07-2019 09:11
mulustrasinya astrid cakep amet
adem banget liatnya 😍
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
18-07-2019 13:26
ranking nya belum terungkap dgn pasti,
Dan masih menanti part makan malam dgn ortu si bags, bakal ada deal2 apa untuk kedepannya.
profile-picture
DanyMartadinata memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
18-07-2019 13:38
Quote:Original Posted By panjang.kaki
Oke ane siapin dulu.

Nah, ini trit yg mana lagi? Yang maren dihapus bukan?
Quote:Original Posted By ucln
Wa aja ntar yak. Biar pake id satu lagi buat prolognya emoticon-Big Grin

Kapan mau dirilis bor? Apa nunggu trit si bags ini kelar dulu?
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
19-07-2019 11:35
Quote:Original Posted By g.gowang

Kapan mau dirilis bor? Apa nunggu trit si bags ini kelar dulu?


Tergantung yg punya cerita gw mah emoticon-Ngakak (S)
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
19-07-2019 19:04
Quote:Original Posted By ucln
Tergantung yg punya cerita gw mah emoticon-Ngakak (S)


Sipp, segera dirilis aja mendingan , nungguin apa cobaemoticon-Ngakak (S)
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
22-07-2019 15:54
ndeprok dulu di trid gan ucln emoticon-Cool
profile-picture
ucln memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
23-07-2019 07:44
masih ada lanjutan ternyata
barusan kmrn udah tamat pas baca ampe bagus nikah
ini cerita jaman sma
gilaaaaaaa....mulustrasinya nia cakepppp banget, kok ya ada yg beningya nggak ketulungan kayak gitu ckckckckc....
kayak bidadari
profile-picture
ucln memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
24-07-2019 00:56
wanjayyyy ditunggu apdetannya
profile-picture
ucln memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
27-07-2019 16:43

Part #25




“Astrid itu siapa?” Tanya Nia sambil menatap balik ke gue dengan tanpa ekspresi atau sekedar senyuman tipis nya.

Gue sebenernya ga perlu merasa kaget dengan pertanyaan Nia ke gue. Karna kalo gue jawab apa adanya, Astrid adalah temen sekolah gue yang bukan temen sekelas, yang sekedar kenal atau saling sapa saat berpapasan. Tapi gue tau betul nada pertanyaan Nia berbeda dari biasanya. Entah mungkin ada rasa curiga dalam pertanyaannya, atau justru seperti bertanya dengan mempersiapkan sebuah dakwaan ke gue.

“Lah? lo kenal Astrid?” Gue memilih bertanya balik sebelum menjawab pertanyaan Nia.

“Ya enggak lah Gus, makanya aku nanya ke kamu dia itu siapa.”

“Terus kok lo bisa nyebut namanya?”

Nia menghela napas. Ia menarik rem tangan mobilnya yang kini tengah berhenti di sebuah perempatan jalan yang agak menurun dengan lampu lalu lintas yang menyalah merah. Nia menatap gue dengan wajah yang lebih seperti memaksa gue segera menjawab pertanyaannya.

“Astrid siapa? Aku Cuma nanya itu tapi kamu malah muter-muter nanya balik.”

“Ya temen sekolah gue. Emang kenapa kok lo tau-tau nanyain dia?”

Nia kembali membuang pandangannya kedepan jalan. Dia menurunkan tuas rem tangan dan bersiap kembali menginjak pedal gas nya karna lampu lalu lintas telah beralih ke warna kuning. Gue pun memilih ga mengatakan apa-apa lagi sampai Nia menjawab kenapa dia bisa dengan tiba-tiba menanyakan soal Astrid jika dia memang ga mengenalnya. Lalu dari mana asalnya hingga dia bisa menyebut nama Astrid?

Gue dan Nia kini malah ditengahi oleh sunyi yang mengalahkan keramaian suara tawa Nia tadi. Gue sendiri ga merasa ada yang perlu dipermasalahkan soal Astrid. Tapi gue sebenernya penasaran bagaimana Nia bisa menyebut nama Astrid. Dan, apakah nada curiga yang ia gunakan saat bertanya tadi adalah karna ia berpikir gue dan Astrid ada sesuatu dibelakangnya?

“Ni, ketawa lagi dong kaya tadi. Sepi nih rasanya.” Ucap gue mencoba mencairkan suasana.

Nia ga menjawab. Ia hanya melirik sejenak ke gue dengan tanpa ekspresi, lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya.

“Lo mikir apaan? Daripada lo pikirin sendiri, mending lo tanya ke gue.” Tanya gue ke Nia.

“Aku ga puas aja sama jawaban kamu.”

“Terus gue harus jawab apa? Dia emang temen sekolah gue.”

“Tapi kok Mama kamu bisa kenal dia?”

Dan kali ini pertanyaan Nia benar-benar mengejutkan gue. Membuat gue seolah dalam sebuah ruang teka teki yang sama sekali ga gue mengerti maksudnya. Ruangan itu mungkin adalah kepala Nia, sedangkan teka teki itu adalah isi didalam kepalanya.

“Kok jadi bawa-bawa Nyokap gue?”

“Ya tadi siang sebelum kamu ke rumah aku yang katanya mau dateng jam 1 tapi sampe jam 2 belom dateng juga, aku telpon ke rumah kamu.”

“Ya kali Ni, ngapain harus nelpon ke rumah?”

“Terus aku mau hubungin kamu kemana lagi? Ke Maul? Nanya-nanya sama dia lagi?”

Kini nada bicara Nia mulai naik. Meski ga terlalu tinggi, namun gue tau dia mulai merasa kesal.

“Terus apa hubungannya sama Nyokap gue?”

“Aku nanyain kamu. Terus kata Mama kamu, kamu belom pulang. Aku tanya-tanya lah gimana hasil nilai raport kamu. Sekalian coba akrabin diri sama Mama kamu..”

Nia menahan ucapannya. Ia seperti sambil berusaha tetap fokus saat bermaksud menepikan mobil. Gue melihat kearah luar jalanan yang sepertinya Nia ingin menepi untuk membeli makan terlebih dahulu. Gue sedikit merasa lega karna artinya Nia ga bener-bener dalam keadaan marah. Kalo dia marah beneran pasti dia ga bakal kepikiran buat menepi dulu untuk makan bersama gue.

“Terus, Mama kamu nanya. 'ini Astrid ya? Yang tadi nyapa tante?’ aku jadi bingung siapa emang si Astrid itu? Kok dia bisa nyapa Mama kamu dan bahkan namanya sampe diinget.”

Gue tertawa kecil sambil menggelengkan kepala mendengar penjelasan Nia bagaimana ia bisa menyebutkan dan mempertayakan nama Astrid ke gue. Ternyata, mungkin tadi di sekolah, Nyokap gue disapa oleh Astrid. Dan mungkin, dari situ juga Astrid bisa tau gue dapet ranking tiga dikelas. Mungkin ia bertanya ke Nyokap gue dan Nyokap gue menjawabnya.

Nia langsung menyubit lengan kanan gue. Dan dari wajahnya terlihat ia sedikit kesal karna malah gue tertawakan.

Gue mencoba menjelaskan semampu gue dan sejujurnya ke Nia. Soal siapa itu Astrid dan bagaimana kemungkinannya sampai Nyokap gue bisa menyangka bahwa Nia itu adalah Astrid. Raut wajah Nia masih terlihat kurang mempercayai penjelasan gue. Namun gue tau, ia hanya sekedar merasa cemburu karna Nyokap gue malah menyangka dia adalah perempuan lain.

“Makanya, kalo lo nelpon ke rumah gue, lo jangan langsung nanyain ada gue apa enggak. Mending lo sapa dulu Nyokap gue...” Ucap gue sambil membuka pintu mobil dan keluar.

“Ya kan aku sungkan..”

“Emang lo pikir gue ga ada rasa sungkan sama sekali pas pertama kali lo kenali ke keluarga lo?”

Nia ga menjawab pertanyaan gue namun gue yakin dia mengiyakan maksud pertanyaan itu. Kami berjalan ke sebuah tempat makan kecil di pinggir jalan yang gue gatau di daerah mana, tapi seharusnya masih masuk wilayah jakarta selatan.

Gue dan Nia duduk dan memesan makanan. Nia kini sudah tau dia akan memesankan dua gelas minuman dan memesankan makanan apapun yang ingin ia pilihkan.

“Aku ga pesen minum ya. Aku pesenin minum buat kamu aja dua gelas.” Ucap Nia setelah memesan makanan.

“Lah? Terus lo minum apa?”

“Ya aku minta minuman kamu aja. Kalo kurang baru pesen lagi.” Jawab Nia yang gue jawab dengan anggukan.

“Tapi, aku bakal dianggap sok akrab ga Gus kalo malah nyapa dan ngajak ngobrol Mama kamu pas aku nelpon?” Tanya Nia bermaksud melanjutkan percakapan kami yang tadi.

“Enggak lah, Ni. Gini ya, rumah gue itu ga kaya rumah lo yang ada orang lain yang bertugas jawab telepon. Dirumah gue, kalo ada telepon masuk, hampir selalu Nyokap gue yang jawab. Jadi, ga ada salahnya sesekali saat lo nelpon, lo sapa Nyokap gue. Basa basi, ngenalin diri, tanya kabar, atau apa lah.”

“Hmm? Ih, ga enak lah masa tau-tau ngenalin diri 'Halo tante, aku Nia, aku pacarnya Bagus.’ Tante apa kabar?”

Gue sontak tertawa melihat Nia mencoba memperagakan basa basi yang gue maksudkan.

“Ya ga gitu juga. Eh tapi tadi pas lo ditanya lo Astrid apa bukan, lo jawab apa?”

“Aku jawab bukan lah. Aku bilang namaku Nia.”

“Nah, kalo gitu berarti seenggaknya Nyokap gue udah kenal nama lo. Lain kali saat nelpon, lo langsung bilang nama lo. Nyokap gue pasti nanggepin kok. Dan yaa setelah itu lo bisa basa basi ngobrol sebentar, baru deh nanyain gue.”

Nia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias. Setelah itu saat pesanan kami datang, kami menikmati makan sambil Nia bertanya-tanya soal keluarga gue.

Malam itu, gue bercerita banyak ke Nia soal diri gue, keluarga gue, sahabat yang telah gue kenal sejak kecil, dan bahkan keseharian gue yang membosankan. Apalagi, beberapa hari kedepan kami akan menjalani libur sekolah sebelum memulainya kembali di jenjang yang lebih tinggi di kelas XI. Gue dan Nia sepakat menyatakan bahwa liburan besok mungkin akan jadi liburan paling membosankan karna akan membuat kami semakin jarang untuk bertemu.

Selesai makan, gue memutuskan untuk naik bis saja buat pulang ke rumah, dan meminta nia untuk mengantar gue ke sebuah jalan dimana bis yang akan gue naiki itu lewat. Nia tentu saja menolak dan memaksa ingin mengantar gue, meski ga sampai ke rumah gue karna merasa sungkan, seenggaknya ia ingin tau dimana kira-kira rumah gue. Namun gue tetap mengatakan akan pulang naik bis dan meminta dia pulang setelah mengantar gue ke jalan yang gue maksud. Dan dengan wajah cemberut yang ia buat-buat, Nia pun menuruti keinginan gue. Sampai di sebuah jalan dimana gue akan menunggu Bis, gue turun dari mobilnya dan berpesan agar dia berhati-hati hingga kemudian kami melanjutkan perjalanannya menuju rumah masing-masing.

Di dalam bis. Gue duduk di kursi panjang paling belakang, sambil tersenyum sendirian membayangkan wajah cemberut Nia tadi yang benar-benar menggemaskan. Gue bahkan sepertinya sampai tertawa kecil saat Nia tadi meminta gue untuk kembali ke rumahnya dan menginap disana. Saking ia ga ingin agar kami segera berpisah dan membiarkan rindu datang lalu kami terjebak bayangan semu soal janji untuk bertemu di lain hari.

Pun sejujurnya, gue sangat berat untuk merelakan waktu memisahkan kebersamaan kami. Satu hal yang baru gue sadari; ketika cinta terasa begitu memabukkan, waktu benar-benar terasa seperti seorang pembunuh berdarah dingin yang tak mengenal belas kasihan - memisahkan raga dengan nyawa, memisahkan cinta dengan kebersamaannya. Meski kami berdua masih terlalu muda untuk berbicara soal cinta dan kebersamaan itu sendiri.




profile-picture
profile-picture
kopral.djonsnow dan medi.guevera memberi reputasi
2 0
2
[Prekuel] Sebelum Karma
29-07-2019 10:29
tumben gan updatenya kok tipis
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
01-08-2019 12:22
waahhh dah panjang aja yeee updetan...

Bor, smangat bor.. bakalan nambah kerjaan lu yee emoticon-Leh Uga
profile-picture
ucln memberi reputasi
1 0
1
Halaman 14 dari 17
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
warna-luka
Stories from the Heart
rasa-yang-tak-pernah-ada
Stories from the Heart
jumiati-itu-adalah-aku
Stories from the Heart
the-marionette
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.