- Beranda
- Heart to Heart
Berhentilah di Sini Sebentar Saja!
...
TS
watowuantino
Berhentilah di Sini Sebentar Saja!
:Kepada perempuan seberang pulau guratan ini saya labukan. Sebelum semuanya layak untuk dilupakan, lebih baik saya ceritakan.

Kita hanyalah dua orang asing. Terpisah sekat jarak dan waktu. Sebelum akhirnya saling menyapa dalam setiap obrolan. Entah angin apa yang menarik tangan sembari menggoda saya untuk meminta dikonfirmasi sebagai teman dalam daftar pertemanan di sebuah media sosial. Bisa saja ada konspirasi alam semesta di dalamnya. Saya tidak tahu persis kapan itu terjadi. Lebih tepatnya lupa. Yang saya ingat setelah itu, entah kenapa saya menjadi sering menunggu kabar. Kendati sebatas ucapan selamat pagi, siang, sore, atau pun malam. Entah bagaimana dengan mu.
Sejak hari itu, semuanya mengalir seperti air, apa adanya. Saling bertukar pikiran, bertukar kisah, sesekali saling memberi motivasi. Tak jarang saling menanyakan hal-hal yang sebetulnya reme teme. Semisal, sedang apa, sudah makan atau belum, dan perihal cemen lainnya seperti kebanyakan orang-orang di luar sana. Begitu seterusnya. Serasa kita pernah saling jumpa rupah dan telah lama berteman. Padahal sebatas dalam medium maya, pun baru seumur jagung.
Saat kata-kata seolah gagu terurai dalam bilik obrolan medium maya, telepon seluler sering menjadi penyambung lisan. Sekedar memastikan kabar, sekaligus saya pun ingin mendengar syahdu dan lembutnya suaramu, perempuan seberang pulau. Ada kalanya panggilan saya tak digubris. Ada kalanya percakapan hanya beberapa menit sebelum telepon dimatikan dengan menyodorkan alasan. Bermaksud menghindar, atau apalah. Itu tak masalah bagi saya. Tak ada maksud mencurigai. Namanya juga orang asing yang baru saja tiba-tiba hadir dalam kehidupanmu. Lagi pula, belum mengetahui secara pasti maksud kehadiran dan tetek bengek lainnya. Lalu bisa saja menduga bukan-bukan. Semua orang tentu berfikir demikian. Kemudian menjadi enggan dan waswas.
Di lain sisi, mungkin saja sedang sibuk dengan tugas sekolah. Maklumlah, sebagai guru honorer yang belum lama ini diterima sebagai tenaga pengajar, tentu selalu fokus dengan pekerjaan. Atau tak ingin digangggu waktu luangnya bersama keluarga dan para sahabat. Mungkin juga sedang asyik memikirkan kisah lampau yang menyenangkan. Atau sedang murung memeluk segala harapan yang pernah diruntuhkan oleh realitas yang ingkar. Ataukah hanya ingin menikmati waktu sendiri, dan tak ingin bersama orang-orang baru. Sebagaimana yang saya ketahui dari beberapa percakapan. Saya hanya dapat menebak dengan insting yang agak lemot ini. Bisa benar, bisa juga meleset.
Hingga kini kita masih saja terus bertutur sapa. Kadang selang beberapa hari, bahkan pernah hitungan bulan, kemudian baru saling menghubungi lagi. Kadang obrolannya terputus begitu saja tanpa pamit. Namun tetap saja akan kembali saling menghubungi. Entah apa pasal. Obrolan pun masih sebatas itu-itu saja. Belum menukik menyentuh level yang lebih jauh. Maksudnya, sebatas tukar pikiran seperti yang kau tahu, bukan? Atau adakah pikiran lain yang bergelantungan di kepalamu? Barangkali sama seprti saya. Terkadang kewalahan menepis begitu banyak hal yang menggerogoti otak. Mungkin karena keseringan menunggu kabar dari balik gedget mini, juga balasan pesan yang terkadang diabaikan itu. Dan entah kenapa, belakangan ini kabarmu seolah dingin membeku.
Menulis perihal ini pun merupakan satu cara efektif untuk mengatasi segala yang berserakan di kotak pikir, selain melati diri menulis seperti yang biasa saya lakukan. Saya tidak berharap banyak agar tulisan ini dapat kau baca dengan sungguh. Tapi bagaimana pun juga harus saya akui, karenamu saya menulis ini. Selanjutnya saya tak mau menebak, apalagi mendahului kenyataan untuk mengartikan segalanya sesuai nalar saya yang belum mampu menjangkaui isi kepalamu, pun hatimu. Biarlah semesta yang bekerja dan mengartikannya sendiri. Selayak air yang mengalir menuju pada muaranya. Begitulah kira-kira.
Dari sini saya hanya berharap dirimu tetap baik-baik saja. Berhentilah mengerutu atas apa yang telah dan sedang terjadi di dalam hidupmu. Sebagaimana yang terselip dalam beberapa potong obrolan tempo hari. Biarkan berlalu, bila itu hanyalah kisah usang yang memilukan. Hanya akan memperlambat langkah dan impian yang laju. Dan bila ada lagi orang asing yang tiba-tiba hadir, atau mungkin yang sedang dekat denganmu, ada baiknya tak usah terlalu cepat mengambil keputusan menaruh kepercayaan. Bukan berarti mereka tidak baik. Akan tetapi setiap hal yang dilakukan dengan tergesa-gesa terkadang berakhir menyakitkan.
Dirimu terlalu berharga untuk sekedar dibuat patah dan luruh sekali lagi, bahkan berulang kali. Hanya karena rasa kekosongan di dalam dadamu yang telah lama tak terisi. Butuh penjajakan yang tidak hanya dengan waktu sehari dua hari saja. Seperti saya yang sedang membacamu berulang kali, dan masih saja ingin membacamu sampai pada suatu hari nanti. Entah kapan waktunya. Satu hal lagi, dirimu masih sangat dibutuhkan oleh anak didikmu, orang sekitarmu, terlebih keluargamu. Soal ini saya tak bermaksud sedikit pun untuk menggurui. Saya percaya, kau salah satu perempuan yang tidak mudah tunduk terhadap setiap godaan yang datang. Perempuan yang tetap tegar mengepal prinsip.
Barangkali bagimu ini hanyalah tulisan receh bin kacangan, yang entah berasal dari makhluk lebay bin aneh pelanet mana. Namun atas ini, saya mesti memohon maaf telah dengan sadar menyeretmu ke dalam deretan huruf-huruf. Kau boleh saja merasa risih plus geli, dan kesal. Boleh jadi merasa mual-mual, atau apalah setelah membacanya. Bahkan dalam hati mengatakan ini adalah pekerjaan orang-orang sinting bin mengong. Tak masalah. Itu dosamu.
Sekali lagi, mohon maaf telah lancang menulis ini. Meskipun sebelumnya pernah meringkus, lalu memenjarahkanmu dalam beberapa puisi yang telah diterbitkan pada rubrik sastra beberapa media online tanpa sepengetahuanmu. Ya, diam-diam kau pernah saya jadikan sebagai tajuk utama dalam beberapa helai puisi yang terangkai di setiap jeda waktu melepas penat. Mau marah silahkan, mau senyum juga silahkan. Itu urusanmu.
Jika berkenan, berhentilah di sini sebentar saja, di kepala ini, kalau tak ingin lebih lama lagi. Lalu izinkan saya membacamu lebih jauh, sebelum menulisnya lebih lanjut. Jika tidak, kau sama saja mematahkan jemari, sekaligus membunuh niat saya untuk melanjutkannya. Tapi itu pun tak masalah. Setidaknya saya sedang belajar menulis dan berusaha mendekatkan diri dengan bahasa-bahasa perasaan, lagi sungguh tanpa ada manipulatif, kendatipun sebatas maya. Sembari berharap dapat didengar telinga jiwamu.
Terima kasih telah menjadi topik tulisan ini. Kendati terbata-bata membaca wajah ayumu dalam kantong imaji berulang kali agar dapat meneteskan butir-butir embun kekata di atas android mini. Membuat saya menguras otak yang agak lamban ini untuk belajar mencari diksi-diksi yang tepat. Jujur, mulai baris pertama hingga hampir terakhir ini, saya sedang senyum-senyam sendiri, bahkan separu waras diabaikan, sambil menyeruput kopi yang nyaris tak terasa telah menyisakan ampas.
Di balik itu, ada harapan satu hari nanti, entah kapan, kita dapat duduk satu meja yang sama. Menyeruput bersama dalam satu bibir cangkir yang sama. Lalu sama-sama saling mengurai kisah pahit manisnya hidup, bak kopi yang sedang kita seduh bersama. Ini hanyalah sebuah harapan, tanpa terlalu banyak berharap. Agar jika kelak tidak menjadi nyata, saya dapat mengiklaskannya. Akhinya, kepada mu guratan ini saya labukan.
Kb, 10 Juni 2019
WT

Kita hanyalah dua orang asing. Terpisah sekat jarak dan waktu. Sebelum akhirnya saling menyapa dalam setiap obrolan. Entah angin apa yang menarik tangan sembari menggoda saya untuk meminta dikonfirmasi sebagai teman dalam daftar pertemanan di sebuah media sosial. Bisa saja ada konspirasi alam semesta di dalamnya. Saya tidak tahu persis kapan itu terjadi. Lebih tepatnya lupa. Yang saya ingat setelah itu, entah kenapa saya menjadi sering menunggu kabar. Kendati sebatas ucapan selamat pagi, siang, sore, atau pun malam. Entah bagaimana dengan mu.
Sejak hari itu, semuanya mengalir seperti air, apa adanya. Saling bertukar pikiran, bertukar kisah, sesekali saling memberi motivasi. Tak jarang saling menanyakan hal-hal yang sebetulnya reme teme. Semisal, sedang apa, sudah makan atau belum, dan perihal cemen lainnya seperti kebanyakan orang-orang di luar sana. Begitu seterusnya. Serasa kita pernah saling jumpa rupah dan telah lama berteman. Padahal sebatas dalam medium maya, pun baru seumur jagung.
Saat kata-kata seolah gagu terurai dalam bilik obrolan medium maya, telepon seluler sering menjadi penyambung lisan. Sekedar memastikan kabar, sekaligus saya pun ingin mendengar syahdu dan lembutnya suaramu, perempuan seberang pulau. Ada kalanya panggilan saya tak digubris. Ada kalanya percakapan hanya beberapa menit sebelum telepon dimatikan dengan menyodorkan alasan. Bermaksud menghindar, atau apalah. Itu tak masalah bagi saya. Tak ada maksud mencurigai. Namanya juga orang asing yang baru saja tiba-tiba hadir dalam kehidupanmu. Lagi pula, belum mengetahui secara pasti maksud kehadiran dan tetek bengek lainnya. Lalu bisa saja menduga bukan-bukan. Semua orang tentu berfikir demikian. Kemudian menjadi enggan dan waswas.
Di lain sisi, mungkin saja sedang sibuk dengan tugas sekolah. Maklumlah, sebagai guru honorer yang belum lama ini diterima sebagai tenaga pengajar, tentu selalu fokus dengan pekerjaan. Atau tak ingin digangggu waktu luangnya bersama keluarga dan para sahabat. Mungkin juga sedang asyik memikirkan kisah lampau yang menyenangkan. Atau sedang murung memeluk segala harapan yang pernah diruntuhkan oleh realitas yang ingkar. Ataukah hanya ingin menikmati waktu sendiri, dan tak ingin bersama orang-orang baru. Sebagaimana yang saya ketahui dari beberapa percakapan. Saya hanya dapat menebak dengan insting yang agak lemot ini. Bisa benar, bisa juga meleset.
Hingga kini kita masih saja terus bertutur sapa. Kadang selang beberapa hari, bahkan pernah hitungan bulan, kemudian baru saling menghubungi lagi. Kadang obrolannya terputus begitu saja tanpa pamit. Namun tetap saja akan kembali saling menghubungi. Entah apa pasal. Obrolan pun masih sebatas itu-itu saja. Belum menukik menyentuh level yang lebih jauh. Maksudnya, sebatas tukar pikiran seperti yang kau tahu, bukan? Atau adakah pikiran lain yang bergelantungan di kepalamu? Barangkali sama seprti saya. Terkadang kewalahan menepis begitu banyak hal yang menggerogoti otak. Mungkin karena keseringan menunggu kabar dari balik gedget mini, juga balasan pesan yang terkadang diabaikan itu. Dan entah kenapa, belakangan ini kabarmu seolah dingin membeku.
Menulis perihal ini pun merupakan satu cara efektif untuk mengatasi segala yang berserakan di kotak pikir, selain melati diri menulis seperti yang biasa saya lakukan. Saya tidak berharap banyak agar tulisan ini dapat kau baca dengan sungguh. Tapi bagaimana pun juga harus saya akui, karenamu saya menulis ini. Selanjutnya saya tak mau menebak, apalagi mendahului kenyataan untuk mengartikan segalanya sesuai nalar saya yang belum mampu menjangkaui isi kepalamu, pun hatimu. Biarlah semesta yang bekerja dan mengartikannya sendiri. Selayak air yang mengalir menuju pada muaranya. Begitulah kira-kira.
Dari sini saya hanya berharap dirimu tetap baik-baik saja. Berhentilah mengerutu atas apa yang telah dan sedang terjadi di dalam hidupmu. Sebagaimana yang terselip dalam beberapa potong obrolan tempo hari. Biarkan berlalu, bila itu hanyalah kisah usang yang memilukan. Hanya akan memperlambat langkah dan impian yang laju. Dan bila ada lagi orang asing yang tiba-tiba hadir, atau mungkin yang sedang dekat denganmu, ada baiknya tak usah terlalu cepat mengambil keputusan menaruh kepercayaan. Bukan berarti mereka tidak baik. Akan tetapi setiap hal yang dilakukan dengan tergesa-gesa terkadang berakhir menyakitkan.
Dirimu terlalu berharga untuk sekedar dibuat patah dan luruh sekali lagi, bahkan berulang kali. Hanya karena rasa kekosongan di dalam dadamu yang telah lama tak terisi. Butuh penjajakan yang tidak hanya dengan waktu sehari dua hari saja. Seperti saya yang sedang membacamu berulang kali, dan masih saja ingin membacamu sampai pada suatu hari nanti. Entah kapan waktunya. Satu hal lagi, dirimu masih sangat dibutuhkan oleh anak didikmu, orang sekitarmu, terlebih keluargamu. Soal ini saya tak bermaksud sedikit pun untuk menggurui. Saya percaya, kau salah satu perempuan yang tidak mudah tunduk terhadap setiap godaan yang datang. Perempuan yang tetap tegar mengepal prinsip.
Barangkali bagimu ini hanyalah tulisan receh bin kacangan, yang entah berasal dari makhluk lebay bin aneh pelanet mana. Namun atas ini, saya mesti memohon maaf telah dengan sadar menyeretmu ke dalam deretan huruf-huruf. Kau boleh saja merasa risih plus geli, dan kesal. Boleh jadi merasa mual-mual, atau apalah setelah membacanya. Bahkan dalam hati mengatakan ini adalah pekerjaan orang-orang sinting bin mengong. Tak masalah. Itu dosamu.
Sekali lagi, mohon maaf telah lancang menulis ini. Meskipun sebelumnya pernah meringkus, lalu memenjarahkanmu dalam beberapa puisi yang telah diterbitkan pada rubrik sastra beberapa media online tanpa sepengetahuanmu. Ya, diam-diam kau pernah saya jadikan sebagai tajuk utama dalam beberapa helai puisi yang terangkai di setiap jeda waktu melepas penat. Mau marah silahkan, mau senyum juga silahkan. Itu urusanmu.
Jika berkenan, berhentilah di sini sebentar saja, di kepala ini, kalau tak ingin lebih lama lagi. Lalu izinkan saya membacamu lebih jauh, sebelum menulisnya lebih lanjut. Jika tidak, kau sama saja mematahkan jemari, sekaligus membunuh niat saya untuk melanjutkannya. Tapi itu pun tak masalah. Setidaknya saya sedang belajar menulis dan berusaha mendekatkan diri dengan bahasa-bahasa perasaan, lagi sungguh tanpa ada manipulatif, kendatipun sebatas maya. Sembari berharap dapat didengar telinga jiwamu.
Terima kasih telah menjadi topik tulisan ini. Kendati terbata-bata membaca wajah ayumu dalam kantong imaji berulang kali agar dapat meneteskan butir-butir embun kekata di atas android mini. Membuat saya menguras otak yang agak lamban ini untuk belajar mencari diksi-diksi yang tepat. Jujur, mulai baris pertama hingga hampir terakhir ini, saya sedang senyum-senyam sendiri, bahkan separu waras diabaikan, sambil menyeruput kopi yang nyaris tak terasa telah menyisakan ampas.
Di balik itu, ada harapan satu hari nanti, entah kapan, kita dapat duduk satu meja yang sama. Menyeruput bersama dalam satu bibir cangkir yang sama. Lalu sama-sama saling mengurai kisah pahit manisnya hidup, bak kopi yang sedang kita seduh bersama. Ini hanyalah sebuah harapan, tanpa terlalu banyak berharap. Agar jika kelak tidak menjadi nyata, saya dapat mengiklaskannya. Akhinya, kepada mu guratan ini saya labukan.
Kb, 10 Juni 2019
WT
Diubah oleh watowuantino 29-06-2019 17:19
meuruwachung dan dbaa6pointy memberi reputasi
-2
304
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Heart to Heart
23.3KThread•41.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya