alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd94059a2d195376627b811/hattatukar-papua-dengan-malaya-dan-borneo-utara
Lapor Hansip
13-05-2019 17:00
Hatta:Tukar Papua dengan Malaya dan Borneo Utara
Past Hot Thread
Sukarno dan Yamin ingin Papua menjadi bagian Indonesia Raya. Sementara Hatta lebih cenderung ke Malaya.
Martin Sitompul
 
09 May 2019
Hatta:Tukar Papua dengan Malaya dan Borneo UtaraYamin, Sukarno, dan Hatta bersilang pendapat dalam sidang BPUPKI mengenai wilayah Papua. Ilustrasi: Gun Gun/Historia.

PAPUA, wilayah di ujung timur negeri ini kerap memantik silang pendapat sejak dulu hingga sekarang. Ketika para pendiri bangsa merancang luas wilayah Indonesia, debat alot bergaung saat membahas Papua. Rekaman perbincangan ini tercatat dalam dalam rapat BPUPKI pada 10—11 Juli 1945.
Suara yang menyetujui masuknya Papua ke dalam wilayah Indonesia didahului oleh Kahar Muzakkar, wakil dari Sulawesi Selatan. Pendapat Kahar Muzakkar dilandasi pertimbangan pragmatis. Namun, dia tetap menghargai rakyat Papua apabila ingin bergabung, bergabunglah secara sukarela.
“Biarlah yang tinggal di Papua (yang) agak lebih hitam-hitaman sedikit daripada kita, akan tetapi tanah Papua itu pula menjadi sumber kekayaan kita. Janganlah sumber kekayaan yang diwariskan nenek moyang kita hilang dengan sia-sia belaka,” kata Kahar tercatat dalam Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 29 Mei 1945—19 Agustus 1945.

Mohammad Yamin, salah satu anggota yang lain, menguraikan pendapatnya yang cukup panjang. Dia merumuskan konsep Indonesia Raya yang terbentang meliputi wilayah bekas Hindia Belanda, Borneo Utara (Sabah dan Sarawak), Malaya, Timor Portugis (kini Timor Leste), hingga Papua. Menurut Yamin, secara historis, politik, dan geopolitik, wilayah-wilayah tadi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Soal Papua pun demikian. “Papua adalah wilayah Indonesia,” kata Yamin.
Menurut Yamin, posisi Papua sebagai pintu gerbang kawasan Pasifik sangat menentukan secara geopolitik. “Sehingga untuk menyempurnakan daerah yang berarti kuat dan abadi, perlulah pulau Papua seluruhnya dimasukan ke dalam Republik Indonesia,” ujar Yamin. Yamin yang seorang ahli hukum dan pakar sejarah itu juga mengikat Papua dengan gagasan historisnya. Bahwa di masa lalu, Papua merupakan vassal (daerah penaklukkan) kerajaan Tidore di Maluku.
“Sebahagian dari pulau Papua adalah masuk lingkungan dan adat kerajaan Tidore, sehingga dengan sendirinya daerah itu benar-benar daerah Indonesia,” kata Yamin. Dengan dalil itu, maka jelas sudah alasan untuk memasukan Papua ke dalam kekuasaan negara Indonesia.

Keesokan harinya, sidang masih berlanjut dengan agenda pembahasan yang sama. Mohammad Hatta memajukan usulan yang berlainan dengan konsep Yamin. Gagasan “ilmiah” Yamin agak kurang masuk akal bagi Hatta. Khusus untuk Papua, Hatta tidak sepakat memasukan wilayah ini ke dalam Republik Indonesia. Menilik kesamaan etnis yang serumpun Melayu, Hatta lebih memilih Malaya dan Borneo Utara bersama dengan bekas wilayah Hindia Belanda sebagai keseluruhan Indonesia.
“Sekiranya bagian Papua itu ditukar dengan Borneo Utara, saya tidak berkeberatan, malah bersyukur,” kata Hatta. “Karena, seperti saya katakan dahulu, saya tidak minta lebih dari pada tanah air Indonesia yang dulu dijajah oleh Belanda.”
Mengenai Papua, Hatta mengatakan bahwa orang Papua berasal dari bangsa Melanesia, berbeda dengan Indonesia yang Melayu. Menurut perhitungannya, pemerintah Indonesia kelak masih belum cukup mapan mendidik rakyat Papua menjadi bangsa yang merdeka. Sehingga bagi Hatta, adalah lebih baik menyerahkan masa depan Papua kepada rakyat Papua sendiri atau biar ditangani saja oleh Jepang.
Sukarno lalu datang menyampaikan suara yang senada dengan gagasan Yamin. Menurut Sukarno, wilayah Indonesia yang terbentang dari Sumatera hingga Papua adalah karunia Tuhan. Mengutip kitab Negarakertagama (yang dibuat cendekiawan Kerajaan Majapahit, Mpu Prapanca pada 1365), Sukarno menyatakan bahwa sejatinya kekuasaan Kerajaan Majapahit melebar hingga ke pulau Papua.   

Gagasan Yamin dan Sukarno tampaknya mendapat banyak dukungan dari kebanyakan anggota. Silang gagasan pun tidak terhindarkan. Tokoh senior, Agus Salim, dari kalangan Islam dan Soetardjo yang mantan anggota Volksraad prihatin menyaksikan perdebatan. Mereka mengingatkan agar persoalan Papua jangan sampai jadi bahan pertikaian pendapat.
“Pada hari yang lain kita boleh membicarakan soal Papua, tetapi untuk sekarang, untuk sementara waktu, hendaknya kita tunda saja soal Papua. Tuan Ketua, satu kali terlepas dari tangan kita, nanti Papua itu menjadi benda pertikaian menjadi benda perselisihan antara saudara-saudara,” kata Soetardjo. Pun demikian dengan Alexander Maramis, anggota dari Manado, yang menganjurkan agar menunggu sikap penduduk Malaya, Borneo Utara, Timor, dan Papua untuk bergabung dengan Indonesia.
Untuk memecahkan kebuntuan, Ketua BPUPKI, Radjiman Wedyodiningrat mengadakan pemungutan suara. Ada tiga opsi untuk dipilih sebagai wilayah negara Indonesia: (1) seluruh Hindia Belanda; (2) Hindia Belanda ditambah Malaya, Borneo Utara, Timor, dan Papua; (3) Hindia Belanda ditambah Malaya dan Borneo Utara minus Papua. Hasilnya, dari 66 peserta sidang, opsi nomor 1 memperoleh 19 suara, opsi nomor 2 memperoleh 39 suara, opsi nomor 3 memperoleh 6 suara, blangko 1 suara, dan lain-lain 1 suara.
Pada akhirnya, gagasan kesatuan Yamin dan Sukarno memperoleh suara terbanyak. Konsep ini lah yang kemudian diterima sebagai wilayah Indonesia Raya, dari Sabang sampai Merauke. Sementara usulan Hatta dimentahkan dalam forum karena mendapat suara paling sedikit.  
Menurut sejarawan Belanda Pieter Drooglever, penentuan masa depan Papua yang dirembug dalam forum BPUPKI bukanlah wadah yang representatif. Pasalnya, tiada seorang pun wakil dari Papua yang menyampaikan suaranya di sana. Dilibatkan pun tidak. Wakil Papua baru tampil sebagai delegasi setahun kemudian dalam Konferensi Malino- perundingan yang diselenggarakan pihak Belanda.   

Mayoritas para anggota BPUPKI berasal dari Sumatera dan Jawa. Satu-satunya wakil dari kawasan paling timur adalah Johanes Latuharhary yang berasal dari Ambon. Kepentingan kaum Republikan sangat mendominasi. Hatta merupakan satu-satunya tokoh yang bersikap rasional soal Papua.
“Semua ini merupakan pilihan-pilihan yang interesan, yang di dalam dasawarsa mendatang tetap akan membuat gejolak dalam percaturan politik di Asia Tenggara. Akan tetapi, untuk sementara hasilnya sedikit saja,” tulis Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri.
Mufakat pendiri bangsa dalam BPUPKI itu nyatanya tetap menyisakan debat di kemudian hari. Ketika Indonesia merdeka, Latuharhary ditunjuk sebagai Gubernur Maluku, yang wilayah ampunya sampai ke Papua. Namun Latuharhary tidak pernah berada di Papua menjalankan pemerintahan. Belanda keburu datang untuk berkuasa kembali. Belanda tetap bercokol di Papua bahkan setelah pengakuan kedaulatan pada 1949. Sengketa panjang Belanda dengan Republik Indonesia pun dimulai.  

https://historia.id/politik/articles...ge_source=home


seandainya usulan bung Hatta yg dikabulkan:
- Indo memiliki batas darat langsung dgn Thailand
- Singapore gak mungkin berdiri
- Indo yg ngadepin keras kepalanya Brunei dlm mempertahankan sumber daya minyaknya, alih2 Malaysia
- Federasi Raja Malay gak mungkin berdiri
- Leftenan Adnan & pejuang Malay lain ikut diangkat jg jd Pahlawan Nasional
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kriuksereal dan 27 lainnya memberi reputasi
26
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 14
13-05-2019 19:39
Dikabulkan siapa ?

Memang inggris mau ?

Quote:Menurut sejarawan Belanda Pieter
Drooglever, penentuan masa
depan Papua yang dirembug
dalam forum BPUPKI bukanlah
wadah yang representatif. Pasalnya, tiada seorang pun wakil
dari Papua yang menyampaikan
suaranya di sana. Dilibatkan pun
tidak. Wakil Papua baru tampil
sebagai delegasi setahun
kemudian dalam Konferensi Malino- perundingan yang
diselenggarakan pihak Belanda.

Wakil dari papua ingin gabung atau tidak ?

Wakilnya berapa orang ?

Siapa yang memilih perwakilan dari papua ?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ariwanas dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Lihat 2 balasan
Lapor Hansip
14-05-2019 04:05
Balasan post kanggelandaftar
.....
Diubah oleh dragonroar
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
1
14-05-2019 07:07
Quote:Original Posted By dragonroar
kl Zionis ngediriin negara di Holy Land emang ada perwakilan Palestin pas Deklarasi Balfour ? emoticon-Shutup

kl Mojopahit nguasain Kalimantan, Sumatera, Sulawesi emang ada perwakilan luar Jawa pas sumpah Palapa ? emoticon-Shutup

kl Alexander the Great nguasain Persia & India emang ada perwakilan Persia & India pas masih di Makedon ? emoticon-Shutup


Dibandingi dengan penjajah israel, majapahit, alexander ?
Jadi papua dijajah indo ?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kolollolok dan 8 lainnya memberi reputasi
9
14-05-2019 16:52
caplok2 wilayah gk ada bedanya dengan bangsa penjajah. gk bersyukur banget udah dapat wilayah hasil taklukan belanda aja masih mau nambah malaysia sama timor leste. majapahit aja gk semua wilayah indonesia (modern) dikuasai
profile-picture
profile-picture
profile-picture
EvraeLeonheart dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Lihat 1 balasan
14-05-2019 17:20
Nah kalau Malaya masuk Indonesia, nanti ada tumpang tindih kekuasaan antara Inggris dan Belanda
profile-picture
profile-picture
48y24rd dan extreme78 memberi reputasi
2
18-05-2019 08:43
klo gak salah ane dulu ada juga trit yg bahas soal malaysia dan brunei hampir masuk wilayah indonesia, cuma ane lupa sebab apa yg bikin gak jadi. emoticon-Hammer2

mantap gan inpohnya emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ariwanas dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Lapor Hansip
18-05-2019 08:44
Balasan post tiyorahmat
itu bukan caplok wilayah gan, justru ngajak merdeka dr penjajahan tepatnya. emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
anita.sutanty dan extreme78 memberi reputasi
2
18-05-2019 09:21
Quote:Original Posted By eMRidho
itu bukan caplok wilayah gan, justru ngajak merdeka dr penjajahan tepatnya. emoticon-Cool


bukan. itu alih tangan penjajah. lepas dari inggris, malaysia jadi wilayah indon begitu kan maunya? yg dilihat reaksi rakyat kalo memberontak berarti cuma alih tangan penjajah sama keq timles, kelompok fretilin bergejolak terus sampe akhirnya harus referendum.

"pembebasan" itu bahasa halus dari penjajahan. istilah itu hanya berlaku khusus untuk khilafah/ottoman, dan chauvinis negeri ini
Diubah oleh tiyorahmat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
reid2 dan 13 lainnya memberi reputasi
10
Lihat 3 balasan
Lapor Hansip
18-05-2019 09:34
Balasan post tiyorahmat
gak itu namanya memperjuangkan kemerdekaan bersama gan.

khusus buat Timtim ane juga bingung, gabungnya kan belakangan. gejolak politik apa yg bikin timtim jd privi si ke 27 waktu itu ane jg gak tau.
tapi klo malaysia & brunei, dulu ada trit yg bahas ini.
tokoh2 dari malaysia dan brunei sudah merencakan kemerdekaan bersama indonesia (bagian dr Indonesia).
tp karena ada sesuatu hal(ane lupa), gak jadi.
akhirnya Indonesia merdeka duluan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ariwanas dan 6 lainnya memberi reputasi
5
18-05-2019 09:56
Quote:Original Posted By eMRidho
gak itu namanya memperjuangkan kemerdekaan bersama gan.

khusus buat Timtim ane juga bingung, gabungnya kan belakangan. gejolak politik apa yg bikin timtim jd privi si ke 27 waktu itu ane jg gak tau.
tapi klo malaysia & brunei, dulu ada trit yg bahas ini.
tokoh2 dari malaysia dan brunei sudah merencakan kemerdekaan bersama indonesia (bagian dr Indonesia).
tp karena ada sesuatu hal(ane lupa), gak jadi.
akhirnya Indonesia merdeka duluan.


siapa aja tokoh malay dan brunei yg mau gabung indo?
profile-picture
profile-picture
kaiharis dan extreme78 memberi reputasi
2
Lihat 1 balasan
18-05-2019 19:10
Buat gua sih rada aneh aja Papua gabung ke Indonesia..... Banyak faktor dan alasan yg akan panjang lebar klo gua jelasin disini.

emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
profile-picture
comrade.frias dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Lihat 1 balasan
18-05-2019 19:11
dan akhirnya sekarang menjadi masalah..😁
profile-picture
profile-picture
profile-picture
goldluck14 dan 2 lainnya memberi reputasi
1
18-05-2019 19:12
Mirip2 kyk trit yang ane baca tentang kalimantan gan kejadiannya. Dari orang kalimantan sendiri disuruh milih gabung indo atau bikin negri sendiri.
profile-picture
profile-picture
48y24rd dan extreme78 memberi reputasi
2
18-05-2019 19:15
ini bneran? Ad bukti sejarah nya ga? buku apa kek gt biar gw baca
profile-picture
profile-picture
mifardli21 dan extreme78 memberi reputasi
2
18-05-2019 19:15
secara gk langsung emang papua, timor timur kan "jajahan" indo dg bahasa yg di perhalus, bahkan indo sempet mau ngambil singapura smpe konfrontasi sama malay
profile-picture
profile-picture
profile-picture
48y24rd dan 2 lainnya memberi reputasi
1
18-05-2019 19:17
kalo papua ga gabung indonesia , presiden kuwi gabisa manfaatin freeport buat cari muka 51% saham pas mau pilpres dong
Diubah oleh arisentris
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akubik dan 28 lainnya memberi reputasi
-21
Lihat 1 balasan
18-05-2019 19:17
masih ada pejwan emoticon-sudahkuduga


Soal malaya dan borneo.
Ane lebij frever ke borneo jadi semua pulau full indonesia.

Dan papua bisa nyusul setelahnya. emoticon-sudahkuduga
Diubah oleh yunda.me
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mifardli21 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
18-05-2019 19:19
wahh ...
trit mangstap ini penuh dgn debat dan adu wawasan....ane nyimak aja di pojokan emoticon-Matabelo
0
18-05-2019 19:22
Nyimeng emoticon-Malu
0
Lapor Hansip
18-05-2019 19:22
Balasan post davinof
Quote:Original Posted By davinof
Buat gua sih rada aneh aja Papua gabung ke Indonesia..... Banyak faktor dan alasan yg akan panjang lebar klo gua jelasin disini.

emoticon-Ngacir


klu merdeka nasibnya g beda jauh sm papua new guinea
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mifardli21 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Halaman 1 dari 14
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.