alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b64a7d1d675d4fe068b4567/quotada-monyet-di-bianglalaquot
Lapor Hansip
04-08-2018 02:06
"ADA MONYET di BIANGLALA"
Past Hot Thread
"ADA MONYET Di BIANGLALA"
Sumber foto dikasih


SALAM kenal ya Gan/Sist.... Dari dulu Ane pengen banget ngepost cerita di mari, tapi baru bisa caranya dua hari kemarin emoticon-Malu (S) . Maklum, Ane orangnya so sibuk dan sedikit gaptek emoticon-Cool


Jangan tanya ini cerita diambil dari kisah nyata atau enggak ya. Tar juga kalau udah baca pasti bakalan tau ini beneran terjadi atau cuma ngarang aja.


Quote:YANGnamanya rindu, dari mulai Albert Einsten, Hitler hingga Jullius Caesar pun bohong rasanya kalau nggak pernah ngalamin. Mereka orang besar. Apalagi Ale yang hanya seorang reporter dan pemain drumer cabutan.

Lantas di mana monyetnya? Ya, nanti juga si monyet bakal ketemu di dalem cerita ini.

20 % Komedi

40 % Romantis

37,5% Absurd

2,5 % Zakat




Maafin ya kalau kata asing, lirik lagu dll belum sempet ane bikin miring kaya gitu. Jadi kalau baca bagian itu, mohon kepala agan/sista aja ya yang dimiringin, okayyy.. Selamat Membaca emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S)



Maafin... engga bisa bikin indeks, salah mulu... Klo aja ada yang rela bantuin bikinnya ane bakalan bilang terimakasih sekali...emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S)







Boy Adhiya
Diubah oleh bigmee
profile-picture
firjy memberi reputasi
3
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 6
10-04-2019 20:31
Biar sembuh ajah dulu kang,kalem weh soal apdet mah,klo udah sehat mah nanti juga murudul, hahaha..
Gws kang..
-1
10-04-2019 21:16
moga cepet sehat lagi ya gan..
0
13-04-2019 15:31
Mejikuhibiniu (23)

Quote:PELANGIgak pernah berjanji akan selalu datang setelah hujan pergi. Tapi pelangi selalu membagi tujuh warna yang bisa dilihat oleh mata normal manusia. Itu pasti! Adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Tapi apa jadinya bila ada satu warna yang pudar? Misalkan biru, warna yang disukai Rara. Atau ungu, favoritnya Ale.

Hmmm... mungkin estetikanya gak lengkap lagi, mirip banget dengan perasaan Ale saat ini. Terasa ada yang kurang ngejalanin hidup ini. Kurang ganteng. Bisa jadi.

Yang pasti, Ale kangen banget ngeliat Rara terbahak. Tapi akhir-akhir ini gak ada kesempatan buat berbagi cerita konyol bareng Rara lagi. Justru Romi yang rajin bikin Rara tertawa. Seperti di ruang tamu Bianglala sore tadi.

Bagaimanapun, sekarang terasa ada jarak antara Rara dan Ale. Ada rasa canggung saat keduanya beradu mata. Ada yang mengganjal saat akan hendak bicara.

"Mau kemana Le?" tanya Rara sementara Ale ngiket tali sepatu di depan kamarnya.

"Biasa Ra... manggung,"

"Oh... di mana?"

"Tame Cafe,"

"jam-nya?"

"Jam sembilan," terang Ale siapa tau Rara mau dateng.

***

Main band ibarat antianalgetik alami bagi Ale. Sedikit mengobati hatinya yang lagi patah. Tapi efeknya cuma sementara. Ale tau obat patah hati sejatinya adalah Rara. Sayangnya udah abis di apotek, diborong Romi.

"Le... itu ada yang nyariin," ucap Dimas si pemain bass usai mainin beberapa lagu di sesi pertama.

"Hah?" Ale heran.

"Cepetan... dia nungguin tuh."

"Siapa sih?"

"Gak tau. Awewe (perempuan) siahhh."

"Bohong ya? huh," Ale gak percaya, tapi langsung cari cermin, memastikan gak ada bulu idung yang nongol. Kan malu kalo ketemu cewe.

"Asliii, geulis (cantik) euy... cepet itu nungguin, keburu pergi." Malah Dimas yang lebih antusias.

Buat persiapan sesi kedua, Ale naik ke atas stage membetulkan set drumnya. Budget terbatas sih, jadi gak bawa crew, terpaksa segala sesuatunya dilakukan sendiri.

Rupanya Ale penasaran juga sama omongan si Dimas. Mata Ale kini lincah nyari wanita itu. Nyatanya di sini cewek banyak sekali meskipun didominasi kaum Adam. Malam ini dia manggung di acara nonton bareng sepak bola. Kebanyakan pake jersey berwarna biru dongker dengan corak garis merah. Dan sisanya pake jersey garis-garis perpaduan putih dan hitam. Di antara mereka ada yang ngibarin bendera tim idolanya masing-masing. Di sini juga ada yang bawa bendera lambang kupu-kupu. Entah bendera apa. Sepertinya itu lambang salah satu grup band kondang.

"Ale!!!" seorang wanita memanggil di antara gemuruh suara supporter tim sepak bola.

"Rara?" tebak Ale dalam kepalanya.

"Ih, kirain bukan band kamu yang main," ternyata dia perempuan pemilik suara cadel yang udah hampir satu bulan ini gak ada kabar.

"Dis? Kok? Kamu Nonton bola? gak salah?"

"Iya aku diajak temen, seru-seruan aja."

"Oh... sama siapa??"

"Itu temen aku pada duduk di sana," Adisti nunjuk lima temennya, di meja barisan paling pojok, "Ke sana ayo Le, aku kenalin," ajak Adisti.

Untuk kali pertama Ale dikenalin sama temen-temen Adisti di luar kantor. Kalau sama orang kantor sih kayanya gak perlu dikenalin deh ya.

Di meja paling pojok ini ada juga Putra, cowok yang ngajak Adisti ke Punclut tempo hari. Dulu Ale penasaran sama Putra, tapi sekarang sih udah biasa aja. Ale gak bakal penasaran lagi sama siapapun yang ngajak Adisti jalan. Termasuk cowok berambut tipis yang sedang ngejabat tangannya ini.

Selain Putra, Ale dikenalin juga sama Heru. Lalu ada Ratih, Tiar dan Nanda. Dua cewe terakhir dandannya memang heboh banget. Adisti juga sama sih. Alisnya aja yang beda. Punya Adisti gak dilukis setebal mereka.

"Tuh kan kata aku juga apa. Aku kenal sama pemain drumnya," ucap Adisti bangga di depan teman-temannya.

"Hai... Ale kapan manggung lagi? Nanti kasih tau kita dong," sahut Nanda.

"Siapa tadi namanya? Ale ya? Aku Tiar. Kenalan lagi yu biar afdol," Tiar ngajak salaman untuk kedua kalinya sama Ale.

Sedangkan Ratih tetep fokus ngeliat layar. Sepertinya dia satu-satunya cewek di meja ini yang asli doyan sepak bola.

"Jangan genit deh," timpal Adisti ke Nanda dan Tiar sambil gelandotan di tangan Ale.

"Iya nanti dikasih tau kalau manggung lagi," ucap Ale senyum.

"Aku minta nomor hape dong," pinta Nanda.

"Gak boleh ahh!" malah Adisti yang jawab.

"Ih... kenapa sih Dis?" tanya Tiar.

"Iya ya, heran deh," giliran Nanda yang bicara. Tiar pun angguk-angguk sambil manyun.

"Ya gak boleh aja," ucap Adisti. Sementara Ale cuma nyengir kepaksa.

"Tapi kalau band kamu main lagi kita mau dateng ya Le? Kasih tau kita," pinta Tiar.

"Iya, nanti aku kasih tau deh. Eh, aku tinggal dulu ya. Makasih ya," Ale pamitan mau mentas lagi sesi kedua bertepatan pertandingan sepak bola udah mau masuk waktu istirahat.

"Nanti beres manggung duduk di sini lagi ya Le," Adisti merajuk.

"Iya ke sini lagi ya," sahut Nanda sementara Tiara senyum sambil angguk. Sedangkan Ratih lagi cemberut, tim kesayangannya baru kebobolan. Kalau Putra sama Heru sih gak tau kemana. Udah pindah duduk kali.

Malam ini jadi yang pertama buat Ale manggung ditonton sama Adisti. Tapi rasanya biasa saja. Gak bikin Ale semringah juga. Mungkin bakal beda kalau yang dateng Rara. Harus tanpa Romi tapi ya... catet.

Beres manggung Ale langsung pulang, gak nunggu pertandingan sepak bola usai. Ale juga gak pamitan sama Adisti, karena dia pikir memang gak perlu.

"Ale... udah nyampe kostan?" tulis Adisti lewat chat. Ale gak balas. Hapenya ditinggalin di kamar. Dia lagi ngelamun di Halaman Belakang. Sendiri.

***

Setelah bertemu di acara nonton bareng, Ale sama Adisti memang gak pernah jalan lagi. Ale juga udah lama gak dateng ke kantor. Tapi Adisti kembali gencar nelepon Ale. Seperti pagi ini.

"Kok aku gak pernah dibawa ke kostan kamu?" tanya Adisti lewat telepon.

"Aku emang belum pernah bawa cewe ke kostan Dis."

"Kenapa sih?"

"Ya mau bawa siapa coba? Lagian mau ngapain juga di kostan."

"Tapi aku pengen Le. Di Bianglala kan ya?

"Iya Bianglala. Emang kamu tau?"

"Tau lah. Dulu ada sodara juga yang nge-kost di situ," kata Adisti.

"Oh... siapa?"

"Helmi, kamu tau?"

"Gak tau Dis," memang gak ada yang namanya Helmi di Bianglala.

"Kalau aku ke situ tapi boleh kan?" tanya Adisti.

"Sok aja sih. Tapi mau ngapain di sini. Gak rame juga."

"Kamu mau kemana Le hari ini?" sanggah Adisti.

"Mau di kostan aja Dis, badan pada gak enak. Pegel-pegel."

"Aduh gimana dong? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Jangan sakit ya Ale. Istirahat, jangan terlalu cape kamunya," ceritanya Adisti perhatian. Tapi Ale jadi bingung. Soalnya dulu gak seperti ini.

***

Empat jam setelah ngobrol lewat telepon, Ale menangkap bayangan dari pintu kamarnya yang sengaja terbuka lantaran gerah. Ada Adisti yang tiba-tiba nongol di situ. Dia langsung masuk tanpa permisi masih pake sepatunya. Padahal lantainya baru aja dipel.

"Hei," sapa Adisti.

"Loh?"

"Keganggu ya Le? Ya udah aku pulang lagi aja deh."

"Enggak kok. Eh, kita ke halaman belakang yuk? Gak enak sama Pak Ali nih kalau di kamar."

"Siapa Pak Ali?"

"Yang punya kostan Dis,"

"Ohh... emang galak ya?"

"Iya, suka makan orang," jawab Ale asal.

"Kok kamu belum dimakan Le."

"Pait, jarang mandi. Yuk di belakang aja," ajak Ale.

Adisti baru tau kalau tempat paling indah di kostan ini adalah Halaman Belakang. Katanya, jadi pengen ngekost di sini. Tapi kayanya cuma basa-basi doang.

"Kok tau kamar aku sih?" tanya Ale.

"Dikasih tau itu sama cewek yang lagi benerin mobil di depan," ungkap Adisti.

"Rara," Ale bisa nebak itu Rara. Ya, Rara memang sering otak-atik mesin mobil CJ7-nya walaupun gak rusak.

"Rara? Kejora itu ya?" tanya Adisti.

"Iya."

"Kok aneh sih?"

"Aneh kenapa ya?" tanya Ale.

"Dia kan cewe kok mau-maunya benerin mobil sendiri. Ih repot."

"Ya Rara emang gitu."

"Belepotan oli loh itu Ale, jorok ih."

"Dis... Rara itu mandiri dan berani," ucap Ale.

"Maksud kamu aku gak mandiri sama berani?" Adisti mengeryitkan keningnya. Terus manyun.

"Kamu itu berani tapi gak mandiri."

"Aku juga bisa mandiri kok!" tandas Adisti, "Dari SMA aku sering loh ditinggalin Bunda sama Ayah kalau mereka ke luar kota. Bahkan pernah sampai tiga hari. Jadinya aku cuma berdua sama si Bibi di rumah," Adisti ngomong lagi.

"Iya... kamu mandiri banget," kata Ale biar cepet.

Semakin dalam masuk ke kehidupan Adisti, Ale jadi semakin yakin kalau Rara yang paling layak ada di hatinya. Tapi telat.


----


Quote:Di Halaman Belakang Bianglala, seorang gadis dengan sweater biru muda yang lengannya kedodoran mendekap cangkir putih. Sore ini, korneanya mengamati tetesan air pertama yang jatuh dari langit mendung.

Coklat hangat yang diseduh Rara gak kunjung habis. Tak seperti biasanya, dia meneguk sangat jarang. Rara terlalu asik melamun sendiri. Entah memikirkan apa.

"Ra," suara bernada bariton memanggilnya.

Rara menoleh ke belakang. Pria ini lekas mendekati Rara.

"Eh... Le?" kata Rara sedikit canggung.

"Boleh aku duduk di sini?" Ale pengen duduk di depan Rara.

Meski berhadapan, namun mulut keduanya terkunci. Kedua retinanya pun gak bertemu. Rara masih melihat tetesan air yang memantul di tanah. Sedangkan Ale tertunduk, memperhatikan gurat meja kayu pinus di Halaman Belakang ini.

"Boleh aku nanya?" Ale mendongakan kepalanya.

"Mau nanya apa Le?"

"Romi bisa manjain kamu?"

"Aku gak minta buat dimanjain," ucap Rara.

"Dia selalu ada buat kamu?" Ale nanya lagi.

"Dia sibuk. Tapi selalu nyempatin waktu buat ngasih kabar."

"Satu lagi Ra."

"Apa Le."

"Kamu rindu sama dia?"

Rara diem sejenak. Dia kembali memandang tetesan hujan sambil meraba sejauh mana perasaannya pada Romi.

"Ya, aku rindu dia Le," kata Rara, bibirnya tersenyum sambil melihat ke samping kiri bawah, "Romi selalu berusaha bikin aku tersenyum dengan kejutan-kejutannya," Rara menambahkan pengakuannya, kali ini dia memandang kuku telunjuk Ale.

"Ra... kamu baek-baek ya. Jaga diri kamu." Ale mandang mata Rara, sangat dalam.

"Kok bilang gitu sih?"

Ale gak jawab apa-apa, hanya mengusap kepala Rara sambil senyum. Lalu pamit masuk ke dalam kamar.

Memang, gak bisa menyatu walaupun saling menyayangi itu lebih nyesek daripada cinta bertepuk sebelah tangan. Ale sadar, suatu saat perhatian Rara kepadanya akan benar-benar terkikis. Apalagi jika ternyata Romi lebih bisa membeli hatinya dengan sikap-sikap yang indah.

Dimulai dari rasa rindu, lambat laun akan berkembang menjadi rasa sayang. Sialnya, kini Rara sudah merasakan rindu pada Romi. Suatu hari pasti minta dinikahi. Itu yang berkecamuk di pikiran Ale saat ini.

Ale sadar, sekarang udah menjadi orang asing di kehidupan Rara. Wanita yang benar-benar dia sayanginya ini menjadi pelit membagi cerita senang maupun sedih. Hanya ada rasa panas di hatinya ketika melihat Rara berdua dengan Romi. Karena Ale tau, pasti bakalan ada canda-canda yang membuat kaduanya semakin intim.

Ale cuma berharap Romi bukan tipikal cowok pelupa. Cukup Ale saja yang pelupa. Cukup Ale aja yang menitipkan kunci motor sama karcis parkir pada Rara. Seperti waktu itu, di lokasi atraksi lumba-lumba.

***

Hujan belum reda, matahari sudah sepenuhnya mengungsi ke belahan dunia lain. Bulan pun berpendar, tidak leluasa berbagi cahaya, lantaran berlapis awan kelabu menghalangi pandanganya menuju bumi.

Ale Menembus gemericik hujan, tancap gas pergi meninggalkan Bianglala. Ya, sekaligus menjajal fungsi jas hujan baru warna ungu polkadot yang baru dibeli. Diam di kostan cuma bisa bikin Ale nyesek, karena ada Romi di Halaman Belakang lagi diguntingin kukunya sama Rara.

Makanya, Cafe Oya-Olala jadi tempat peraduan Ale yang sedang benci sama dirinya sendiri, karena gak pernah peka sama sikap pedulinya Rara. Gak ada Adisti sama sekali di benaknya. Hanya Rara yang menguasai lamunannya saat menatap layar handphone ini. Dia hapus percakapan chat dengan Rara.

Bila saja tak ada air yang menetes di atas meja, Ale tak akan menyadari ada seorang wanita yang basah kuyup, berdiri tapat di depannya.

"Sendirian Le?" tanya wanita ini.

Ale mendongak, terkejut ada yang manggil namanya, "Loh, Mbak Mona? Mbak Dari mana?"

Ale segera membagi tempat duduknya. Dia memandang iba, lantaran air benar-benar menyerap seluruh pakaian Mona.

"Tadi aku ngeliat kamu masuk ke sini, jadi ya aku samperin. Sekalian ikut neduh," Mona bicara cepat, agar terdengar jelas karena dia menggigil.

"Kok basah kuyup gini Mbak?" tanya Ale pada wanita yang menggunakan kemeja merah muda ini.

"Sengaja Le... mumpung ujan jadi sekalian mandi," Mona senyum.

"Sekalian sikat giginya gak?"

Selama ini, Ale memang enggak pernah banyak ngobrol sama Mona. Dia baru tau kalau wanita yang jarang keluar kamar di Pondok Bianglala ini ternyata punya selera humor yang bagus.

"Eh, kamu umurnya berapa sih?"

"Aku sekarang 24 Mbak. Kenapa nanyain umur?"

"Oh... 24 ya, panggil Mona aja lah. Kita cuma beda dua tahun kok."

"Emang Mbak 26?"

"Iya 26 juga belum, masih tiga bulan lagi.. Mona aja ya, jangan panggil Mbak lah. Kesannya tua banget."

Ale berdiri dari kursi, ngasihin jaket bomber biru motif tartan ke Mona. Soalnya dari tadi puluhan pasang mata lelaki di cafe ini dengan otak beringas menjelajah ke kemeja yang nyeplak di tubuh Mona. Masalahnya, mata Ale juga takut ikutan nakal.

"Pake ini Mbak."

"Mona, jangan panggil Mbak."

"Iya... Mona pake ini cepetan."

"Kamu laki banget ya?"

"Bukan laki banget, tapi aku ikut malu kalau badan Mbak ada yang liatin."

"Heh, panggil Mona aja, jangan Mbak," Mona mendelik lagi saat menyelendangkan jaketnya Ale.

"Iya... iya Mona."

Bertahun-tahun satu tempat kostan sama Mona, Ale baru tau kalau wanita yang hobi senam kalau minggu pagi ini adalah dokter gigi. Pantesan giginya putih dan rapi.

"Dokter kok ngekost sih?"

"Emang gak boleh ya?"

"Ya boleh sih..."

Ale masih membiasakan diri bicara dengan Mona. harus adaptasi sambil memperhatikan cara komunikasi Mona yang ternyata ceplas-ceplos. Dia baru tau.

"Eh Le... kok kamu gak pernah keliatan bawa cewe ke kostan. Suka cewe kan?"

"Ya suka lah... Lagian mau ngapain di kostan juga?"

"Kan anak muda biasanya gitu. Kamu jomblo ya?" tebak Mona sadis, "Mau aku jodohin gak?" Mona bicara lagi sambil ngelap ponselnya pake tisu.

"Gak usah Mon, bisa cari sendiri kok," kata Ale lantas nyeruput kopi.

"Yahhh.... padahal ada yang lagi cari pacar sih ini. Mau liat fotonya dulu gak?" tawar Mona.

"Hmmmmm... ya udah kalau kamu maksa, mana liat," ucap Ale gengsi, tapi berdiri dan tangannya bertumpu pada meja mendongak pada ponsel Mona.

Mona ngasih liat layar ponselnya. Ada foto close-up cewe di situ. Lucu memang, halisnya tebal seperti disablon. Tapi itu Alami. Cewe ini lagi nempelin ujung rambutnya di antara hidung dan mulut. Mirip kumis. Dan matanya dibikin juling sambil manyun.

"Mau gak sama dia??" tanya Mona.

Ale menatap wajah Mona. Membandingkan dengan raut wanita di foto itu, "Ini kan foto kamu? Iya kan?"

"Hahahah, iya.... Mau gak?"

"Ahhhhh becandaaaaa."

"Ya udah kalau gak mau." Mona langsung nyimpen kembali hapenya ke dalam tas warna navy red.

Di luar hujan belum reda. Aroma roti fresh from the oven menyentil hidung Ale berkali-kali. Mona masih duduk di depannya, kali ini sambil nyeruput jus wortel. Katanya biar gigi sama matanya sehat.

"Mon, kamu tuh aslinya dari mana sih?"

"Planet Bumi."

"Ye ditanya serius."

"Abisnya, tadi dijodohin gak mau." Mona ngedumel.

"Serius Mon.... Kamu bukan asli Bandung kan?"

"Iya aku dari Arab."

"Kok idungnya gak lancip?"

"Kebanyakan bersin, jadinya agak bulet."

"Eh serius."

"Aku dari Sulawesi Le. Sulawesi Selatan."

"Makassar??"

"Iya..."

"Serius? Ayah aku juga lagi di sana sekarang."

"Ya Makassar, tapi aku suku Bugis. Emang Ayah kamu orang Makassar?"

"Bukan Mon... Sunda."

"Sami atuh jeung abdi (sama kaya saya dong)," canda Mona pake logat Sunda yang maksa.


Ale nyeritain kalau Ayahnya mau nikah sama orang Makassar Minggu depan. Mona juga jadi tau kalau Ale udah gak punya Ibu. Dia banyak nanya sih.

"Minta alamatnya Le. Nanti aku dateng deh ke nikahan ayah kamu," rencananya Mona memang mau pulang kampung minggu depan.

"Aku juga pengen sih ke sana. Tapi belum ada duit nih."

"Gimana sih... Ayah mau nikah kok kamu gak dateng. Kalau kamu nikah mau gitu kalau Ayah gak dateng?"

"Hmmm...." Ale jadi kepikiran buat cari duit. Mumpung masih ada waktu satu minggu. Lagian, dua hari lagi juga Ale gajian kok. Mudah-mudahan gak ditunggak kaya bulan lalu deh.

Kini kondisi alam tak jauh berbeda. Hujan memang belum tuntas. Selimutan di kostan bakal nikmat banget andaikata suasana hati Ale tidak sedang seperti ini.

"Le, kamu masih mau diem di sini? Aku ke kostan duluan ya... Hujan gini susah reda."

"Kamu mau naik apa??"

"Aku lari aja biar cepet."

"Serius Mona..."

"Hehe, paling panggil ojek."

"Ya udah bareng aja.... Ayo." Ale berdiri dari kursinya. Tapi dia langsung mematung sambil menuduk seperti yang menahan nyeri.

"Kamu kenapa Le?" tanya Mona.

"Semutan," Ale jinjit dan megang paha kanannya sendiri.

Bikin Mona menatap cemas ikut meringis, "Tapi bisa jalan?" ucapnya.

"Bisa... bisa kok."

"Ya udah.... nanti kita jalan yuk, berdua."

"Apaan sih Mon?"

"Becanda Le... becanda," air muka Mona jadi judes.

Tetes hujan memang masih tetap konstan berjatuhan ke tanah. Walaupun jarak Cafe ini ke Bianglala gak jauh, tetep aja gerombolan air dari langit ini bisa bikin basah kuyup dan masuk angin kalau kurang asupan vitamin C. Tadinya Ale ngajak Mona buat diem dulu di Cafe. Tapi Mona tetep keukeuh pengen segera ke Bianglala. Katanya belum ngasih makan ikan koki di kamarnya.

Akhirnya, Ale membelah hujan dengan motor kesayangannya. Ada tangan melingkar di perut Ale. Bukan tangan Rara juga bukan Adisti. Tapi tangan seorang wanita yang katanya suka suasana Bandung saat sedang hujan. Kecuali kalau diiringi petir. Tapi Mona takut jatoh, makanya meluk.

"Kurang kenceng Le..." teriak Mona malah minta Ale semakin membesut Vespa-nya.

"Meluknya longgarin, sesek tau." kata Ale. Padahal malu, ada seonggok benda asing nempel dipundaknya.

Tiba di Bianglala, Ale udah gak liat mobil Romi. Cuma ada seorang wanita dengan raut resah duduk di kursi depan sambil megang handuk putih. Ketika Ale menepi dari guyuran hujan, wanita ini berdiri dari tempat duduknya. Sekujur tubuh Ale benar-benar basah kuyup, karena jas ujannya dipake Mona.

"Ra... kamu ngapain di depan sini?" tanya Ale pada Rara yang mukanya ditekuk ini.

Tapi Rara gak jawab. Malah langsung ngelemparin handuk putih ke wajah Ale lantas ngeloyor ke dalam.

"Kenapa Rara ya?" Mona juga ikut bingung. Ale cuma geleng-geleng kepala.


Diubah oleh bigmee
profile-picture
andrian0509 memberi reputasi
2
13-04-2019 15:35
Quote:Original Posted By yuri2629
Biar sembuh ajah dulu kang,kalem weh soal apdet mah,klo udah sehat mah nanti juga murudul, hahaha..
Gws kang..



Cieee murudulll.... Kaya bulu aje ang...

0
13-04-2019 15:37
Quote:Original Posted By joyanwoto
moga cepet sehat lagi ya gan..


Makasih ya gannn... Agan juga tetep sehat ya. Pokoknya yang baca cerita ini kudu sehat..
1
13-04-2019 22:00
again again.. kocak bet.. hahaha
0
13-04-2019 22:33
Hahaha lanjut kang lah masih panasaran kenapa si kejora jadi jutek,terus kenapa si mona jadi agresip!bisa jadi bukan becanda omongan dia teh..!pokoknya judulnya panasaran!!!
0
14-04-2019 18:47
Quote:Original Posted By fanda232086
again again.. kocak bet.. hahaha


Siap....siappp...pasti again deh
0
14-04-2019 18:49
Quote:Original Posted By yuri2629
Hahaha lanjut kang lah masih panasaran kenapa si kejora jadi jutek,terus kenapa si mona jadi agresip!bisa jadi bukan becanda omongan dia teh..!pokoknya judulnya panasaran!!!


Pasti judul lagu dangdut ya? Sabar ang... Nanti dilanjut
0
23-04-2019 22:52
Learn To Fly (24)

Quote:Pipikanan Ale terasa hangat oleh pijar matahari pagi. Kaca mata hitam rayban diselipkan di kerah flanel tartan merah yang tidak terlihat norak di kulitnya yang gak putih ataupun hitam.

Kini Ale memalingkan wajah ke kanan, ke arah jendela berbentuk oval. Matanya terbelalak. Batinnya memuji luas lautan dari atas sini. Pasti ada ikan kakap di bawah situ. Ikan kesukaan si Ayah.

"Mas... sabuknya dipasang," seorang wanita dengan dress batik merah marun tersenyum manis. Mengingatkan Ale kalau pesawat akan segera mendarat.

"Iya Mbak."

"Kalau yang duduk di sebelah Mas tadi ke mana ya?"

"Tuh dia," Ale nujuk wanita yang menggunakan jaket hodie hijau muda plus celana denim hitam dengan rambut dicepol berjalan menghampiri.

"Cuma sebentar kan kata aku juga... cuma dua jam udah sampe," ucap wanita yang baru dari WC ini sambil meletakan pantatnya di kursi.

Kini sabuk pengaman telah melingkar di perut para penumpang. Pesawat Maung Air mulai melakukan descent, bergerak turun dengan kecepatan konstan. Mulut Ale kumat-kamit, matanya terpejam. Perlahan kecepatan pun berkurang, terasa miring tiga derajat ke depan.

Sejurus kemudian pantat Ale terasa sedikit memantul dari kursi empuk ini. Mungkin roda pesawat udah menapaki tanah, kemudian melaju mengikuti garis kuning. Kecepatan semakin pelan hingga akhirnya benar-benar berhenti.

Ale membuka matanya dimulai dari yang kiri. Di sampingnya, Mona menatap dari tadi sambil meringis kesakitan.

"Le...." ucap Mona.

"Kita sampe kan?" Ale memastikan, lalu perlahan membuka kedua matanya.

"Jangan dilepas ya," kata Mona sambil melihat jemarinya, yang sedang dicengkram tegang oleh Ale.

"Apaan sih," Ale langsung mengangkat tangan kirinya ini dari kulit halus telapak tangan Mona.

"Basah banget sih?" Mona meperin tangannya ke bahu Ale.


***

Untuk kali pertama kaki Ale menapaki tanah Sulawesi Selatan. Di Bandara Sultan Hasanudin ini dia memandang takjub miniatur perahu kayu berwarna putih dengan layar berwarna biru.

"Ini miniatur kan? Tapi kok gak mini sih?" tanya Ale ke Mona.

"Itu Pinisi Le, keren yah..."

"Iya lebih keren dari Titanic." Ale pengen megang tapi takut dimarahin security.

"Emang kamu pernah liat Titanic?"

"..." Ale cuma geleng-geleng kepala.

"Yeee.."

Matahari di sini memang lebih beringas daripada Bandung. Ale kepayahan, bulir keringat tampak berkilau di keningnya. Mona inisiatif memberikan Ale tisu basah biar sedikit segar dan gak kucel.

Ya, tiga hari lagi alias hari Minggu nanti si Ayah menikah. Ale sengaja gak bilang datang ke Makassar, biar surprise. Rencananya, sebelum hari H dia mau cari penginapan yang murah aja. Ale gak mau repotin si Ayah sama calon Ibunya.

"Kenapa gak tidur di rumah aku aja sih? Ayah kamu kan nikah di Sungguminasa." Mona nawarin Ale nginep di rumahnya aja.

"Emang deket dari tempat kamu?"

"Rumah aku di Maros."

"Di mana itu?"

"Ya... ini kita di Maros. Tinggal belok kanan di ujung sana udah sampe. Jalan kaki juga bisa. Yuk jalan..." ajak Mona sambil nepuk bahu Ale.

Seperti kena hipnotis, Ale pun mengikuti langkah Mona dari belakang. Selama dua tahun ini dia manggil Mona dengan sebutan ’Mbak’. Itu bikin Ale senyum-senyum sendiri sepanjang jalan.

Mona emang lebih keliatan dewasa. Ya itu kalau dibandingin sama Rara yang kiyut. Kalau ngeliat Mona, Ale jadi inget sama wajahnya Audy di video klip ’Satu Jam saja’. Bener-bener mirip. Yang ngebedain cuma jumlah bulu idungnya doang. Mungkin.


***

Masih berjalan di belakang Mona, sekarang Ale ngerasain lututnya udah mulai letoy. Sedangkan Mona masih berjalan konstan. Mentang-mentang doyan olahraga.

"Mon pelan-pelan lah," Ale gak nyangka stamina sahabatnya ini bener-bener kuat.

"Balap ya.... satu... dua... tigaaaaaa!!!" Teriak Mona

"Ye, dia malah lari..." ucap Ale pasrah ngeliat pantat Mona semakin menjauh.

Dengan susah payah Ale ngejar Mona. Akhirnya Mona bisa ke kejar. Itupun karena Si Dokter Gigi yang sementara tutup praktek itu diem dulu di warung Es Palu Butung.

"Mon masih jauh gak?"

"Ada sih jalan tikus. Lebih cepet. Mau lewat situ?"

"Iya lewat situ aja," Ale pengen cepet-cepet rebahan.

Setelah menghabiskan Es Palu Butung satu mangkok berdua, mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini Mona berjalan pelan. Karena dia takut Ale pingsan. Gotongnya bakal berabe.

Kenyataanya jarak bandara ke rumah Mona itu gak deket. Bahkan sampai saat ini, hampir setengah jam mereka berjalan namun belum sampai juga. Ditambah matahari di Makassar seolah gak pernah redup. Ale ngedumel.

Gak berapa lama, Mona berdiri di depan selokan. Ale punya firasat jelek ketika Mona mendelik ke belakang dan tersenyum kepadanya.

"Hati-hati ya," ucap Mona, seketika wajahnya serius.

Mona lantas naik ke atas jembatan yang lebih mirip penggaris kayu di sekolah SD. Jembatan mini ini satu-satunya akses buat nyebrangin selokan.

"Duhh," Ale mendengus kesal. Emang sih panjangnya cuma sekitar tiga meter, tapi kalo jatoh bisa berabe.

Dengan hati-hati, Akhirnya jembatan kayu sukses disebrangi. Namun, masih aja ada rintangan di depannya. Kali ini kaki Mona menapaki gundukan batu. Ale mau gak mau harus ikut juga. Sejurus kemudian, Mona menarik nafas dalam sambil melebarkan tangannya. Itu setelah matanya menangkap ilalang di ujung sana yang menari tersibak angin.

"Hmmmm. Aku selalu kangen tempat ini," ucap Mona pada angin yang menerpa wajahnya.

"Udah sampai?" tanya Ale girang.

"Belum," muka Mona datar dan lanjut jalan membelah pematang sawah.

Ale melemaskan otot bahunya, mengikuti Mona yang lihai menapaki jalan setapak. Burung-burung bertebrangan, ke sana ke mari ketika Mona dan Ale melangkah. Dari kejauhan terlihat beberapa bangunan. Ale gak mau terlalu berharap kalau rumah Mona ada di antara bangunan itu.

Keduanya terus berjalan, hingga akhirnya berhenti oleh tembok yang menghalangi langkahnya. Tembok ini membatasi sawah dan kawasan perumahan.

"Loh kok ilang," Mona tampak kebingungan sambil melihat ke kiri dan kanan.

"Nyari apa Mon?"

"Terakhir ke sini masih ada tembok yang jebol. Kok sekarang udah gak ada ya Le?"

"Jadi? Kita harus balik lagi nih?"

"Ale, maafin aku. Bener-bener gak tau ini, ternyata temboknya udah ditambal," Mona megang telapak tangan Ale sambil menatapnya.

"Yahh udah. Yuk, Mon gak apa-apa. Kita balik lagi," kata Ale yang tiba-tiba pengen nangis sambil gigit sendal.

"Eh tunggu Le," Mona tiba-tiba berlari ke samping kiri.

"Ada apa Mon?"

"Tuh, yang di sana temboknya gak begitu tinggi," ucap Mona. Ternyata ada tembok pembatas yang hanya setinggi dua jengkal dari kepala orang dewasa.

"Manjat?"

"Iya... gak apa-apa kan?" raut wajah Mona masih menyiratkan permintaan maaf.

"Ayo... kita manjat aja Mon," Ale pengen segera sampai tujuan. Gak kuat pengen mandi juga.

"Le... tapi aku gimana naiknya?"

Ale menyarankan Mona melompat agar tangannya bertumpu pada pangkal tembok. Namun gak tergapai. Akhirnya Ale memeluk lutut Mona, lalu sekuat tenaga mengangkatnya agar sahabatnya ini bisa menggapai pucuk tembok. Akhirnya tangan Mona pun bisa mengenggamnya. Dibantu dorongan dan doa oleh Ale, dengan susah payah Mona bisa duduk di atasnya.

Ketika giliran Ale yang manjat, gak perlu susah payah. Karena udah biasa, waktu SMP dulu kalau kabur jam pelajaran suka manjat seperti ini. Walaupun saat ini keahliannya itu sudah terkikis oleh usia. Kini, setelah tiga kali usaha, baru bisa naik ke tembok pembatas. Lalu, keduanya duduk sejenak di atas tembok sambil menghadap komplek perumahan.

"Tuh rumah aku," Mona nunjuk sebuah rumah bercat putih dengan ornamen kuning muda di bagian pintu, jendela juga pagar.

Raut Mona tampak serius. Kemudian dia menunduk, melihat kuku telunjuknya sendiri. Seperti yang melamunkan sesuatu. Ale milih turun duluan, biar bisa bantu Mona dari bawah. Dia nyaranin sahabatnya ini mengikuti caranya untuk turun. Tapi tetep, namanya juga wanita. Mona takut jatuh.

"Mon turun pelan-pelan, nanti injek tangan aku ya." Ale tengadah, menyipitkan matanya lantaran banyak sinar matahari yang menembus korneanya.

Dia menunggu Mona menginjak tangannya buat dijadiin tumpuan. Mona turun perlahan membelakangi Ale. Kedua tangannya mencengkram ujung tembok menahan berat tubuhnya. Sementara Ale langsung megang kedua kaki Mona. Tapi apa daya, otot tangan Mona masih lemah walaupun sering senam. Dia meluncur ke tanah lebih cepat dari perkiraan. Ketika Kaki Mona udah menyentuh tanah, terasa ada dada seorang lelaki menempel dipunggungnya. Juga ada tangan melingkar di perutnya.

"Lepasin Le. Nanti di rumah aja kalau mau terusin," ucap Mona.

"Yeeee.... apaan sih." Ale ngelepasin tangannya yang melingkar di perut Mona.

Udah di dalam komplek keduanya lalu berjalan di pinggir tembok biar agak teduh.

"Le... Ale," teriak Mona yang tiba-tiba girang.

"Apa Mon?"

"Ternyata yang jebolnya di situ tuh. Kita tadi salah jalan," sambil berseri, Mona nunjuk-nunjuk sebuah lubang di tembok yang gak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Terus gimana dong Mon?"

"Ya udah sekarang kita manjat lagi, nanti kita masuk dari lubang itu," Mona memperagakan cara manjat dan juga masuk lubang menggunakan tangannya.

"Ogahhh... mana rumah kamu? Ayo cepet," Ale ngegusur tangan Mona sekali jadi.



profile-picture
andrian0509 memberi reputasi
1
24-04-2019 05:43
Aya deui weh karakter yg bikin galauu,da si mona juga lucu kalo di tilik2 mah,makin panasaran ieu sim aing..
0
24-04-2019 23:10
Quote:Original Posted By yuri2629
Aya deui weh karakter yg bikin galauu,da si mona juga lucu kalo di tilik2 mah,makin panasaran ieu sim aing..


Jadi dukung Ale ke siapa nih ang?
0
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
25-04-2019 09:58
Balasan post bigmee
Hehehe susah euy blm keliatan hilalnya!!tp saya mah dukung yg dari pertama udah susah bareng ajah lah kayaknya lebih mangstap..
0
03-05-2019 21:04
Mawar Biru (25)
Quote:RARAbukan tutup mata, hati dan telinga pada perasaan Ale. Dia juga sebenarnya sadar ada api yang memeluk batin Ale setiap kali ngeliat lagi bareng sama Romi. Tapi dia benci, soalnya Ale bener-bener gak peka.

Kalau boleh jujur, nasi kuning tanpa kacang yang selalu disiapin di Minggu pagi itu adalah rasa sayang. Gitu pula obat anti angin yang diam-diam dia masukin ke dalam softcase snare drum Ale setiap mau pergi manggung malam-malam.

Memang, Rara sampat jengkel sama Ale. Ngeliat ujan-ujanan ngebonceng Mona itu rasanya nyesek. Apalagi ketika kedua matanya menangkap ada jas hujan ungu polkadot yang membalut badan Mona. Rara tau itu jas hujan yang baru Ale beli. Tapi dia gak mau mengartikan perasaannya ini sebagai cemburu walaupun pengen nangis.

Yang pasti, Rara gak mau Ale sakit. Termasuk sakit hati. Bohong rasanya kalau Rara gak peduli.

"Kenapa sih harus sama Mbak Mona Bon?"

"Daripada jalan sama cowo Ra. Emang kamu iklas kalau dia jadi menyimpang gara-gara cemburu ngeliat kamu mesra-mesraan sama Romi?"

"Siapa yang mesra-mesraan? Eh, dia jalan sama Mbak Mona pelarian bukan ya Bon?"

"Kalau kamu kenal Ale pasti tau jawabannya Ra."

"Iya sih, dia gak bakalan mungkin kaya gitu. Berarti apa dong Bon? Ale bener-bener suka ya sama Mbak Mona?" Rara boleh jadi ngerasa kerdil. Karena, Mona jauh lebih montok dan lebih tinggi pula. Cuma kulitnya gak seputih Rara.

"Saran aku sih ikutin kata hati kamu Ra."

"Aku gak mau nyakitin Ale, tapi aku juga gak mau nyakitin perasaan Romi."

"Semua juga ada resikonya. Suatu saat kamu bakal kehilangan salah satu di antara mereka."

"Aku gak mau kehilangan Ale."

"Kalau Romi?"

"Iya Romi juga. Aku gak mau kehilangan dia."

****

Suara klakson mobil bikin Ibu Halimah yang baru aja ketiduran di ruang televisi loncat sejadi-jadinya. Pak Ali juga ikut uring-uringan, karena kepeleset di kamar mandi gara-gara kaget denger bunyi klakson juga. Sedangkan Pakde Karso gak banyak bicara, dia ngelemparin bakiaknya ke pintu mobil sedan yang sekarang udah mijit klakson tiga kali ini, "Berisik. Ganggu orang main catur aja," kata Pakde sambil ancang-ancang mau ngelempar kembali. Kali ini ngangkat pot kembang.

Dari dalam Pondok Bianglala seorang wanita terlihat rusuh, menggunakan sepatu slip-on motif camo hijau muda sambil berlari tunggang langgang. Dia menghampiri mobil yang bikin gaduh ini. Kaca mobil perlahan terbuka, ada seorang pria mengetuk-ngetuk jam tangannya sendiri dengan muka jutek menatapnya.

"Maaf... barusan setrika baju dulu," ucap Rara sambil meletakan pantatnya di dalam mobil Romi.

"Jadi kan ke rumah kakak kamu? Keburu macet nih."

"Jadi Rom, Jemi kan mau ikut."

Jalan sama Romi bisa bikin lupa kalau Rara sebenernya punya sedikit rindu buat Ale. Ada sedikit rasa gak enak hati ketika nyuapin Romi roti coklat di dalam mobil. Dulu, Rara selalu ingin melakukan hal ini kepada Ale. Tapi belum pernah tercapai. Soalnya Ale gak punya mobil.

"Sayang, bisa ambilin tas aku gak di belakang?" Romi minta Rara melihat ke kursi belakang.

Rara pun membalikan badan. Matanya menangkap di kursi belakang ada buket bunga mawar warna biru. Dia segera menatap Romi yang sedang menujukkan giginya.

Kata Romi, mawar biru itu lambang rasa cinta yang baru muncul. Tapi juga bisa diartikan sebagai simbol kekhawatiran.

"Aku khawatir kamu pergi dari aku," ucap Romi di antara kemacetan.

"Makasih Rom. Aku gak akan pernah ninggalin rasa nyaman ini. Aku udah nyaman sama kamu."

"Janji?"

"Aku janji."

"Mana tangan kamu?" Romi minta tangan kirinya digenggam.

Kemacetan berhasil dilewati, mereka berdua udah gak pegangan tangan. Rara menatap buket bunga mawar biru yang kini berpindah dipangkuannya. Dia jadi ingat tempo hari saat Ale membeberkan perasaannya. (Baca: Bab 22)

Ya, di bawah bulan yang sedang bulat sempurna itu, ada obeng kembang beraneka ukuran tergeletak di meja. Kata Ale, itu pengganti bunga mawar. Ale tau kalau Rara gak begitu doyan bunga atau kembang yang asli. Tapi, kali ini Rara bahagia dikasih bunga biru dari Romi. Karena itu warna kesukannya.

Sekarang Romi mijit tombol volume tape mobilnya. Dia memasang musik EDM sangat kencang. Telinga Rara gak biasa dengerin musik genre ini. Untungnya Rumah Teh Sandra udah deket. Berapa lama kemudian Mobil Romi udah menepi.

"Yuk, Rom masuk dulu."

"Aku tunggu di mobil aja ya yang," pria yang menggunakan kemeja putih garis-garis biru muda ini senyum.

****

Seorang bocah fokus melihat gambar yang bergerak di layar lebar, mulutnya sibuk mengunyah popcorn hingga kini tersisa setengah cup di pangkuannya. Jemi gak tau bakal diajak nonton ke bioskop. Film thriller-fantasi yang diputar ini memang pilihan Rara. Judulnya ’Zumanzinx’.

"Tukeran duduknya Jem. Om yang duduk di tengah ya," pinta Romi ke Jemi.

Jemi yang diapit Rara sama Romi gak ngomong apa-apa. Dia malah menyeringai sambil pasang kuda-kuda hendak mencakar. Alhasil, Romi harus mengurungkan niatnya biar bisa duduk di sebelah Rara.

"Aunty."

"Apa Jem?" tanya Rara berbisik gak mau ganggu penonton lain.

"Om Ale mana?"

"Gak tau ke mana," jawab Rara sambil nyomot popcorn dari pangkuan Jemi.

"Jemi kangen sama Om Ale."

"Sama, Aunty juga kangen," ucap Rara dalam hati sambil mengusap kepala Jemi.

Film Zumanzinx tuntas ditonton. Rara ngajak Jemi ke arena bermain yang kebetulan ada di Mall ini. Sedangkan Romi ngikut aja kemanapun Rara sama Jemi mau. Tiba di arena bermain, Jemi langsung mencari mobil balap virtual. Dia gesekin sebuah kartu di pinggir kanan, dekat kemudi.

Sejurus kemudian Jemi sekali jadi menghentakan kaki kanannya menginjak gas. Lalu memutar stir hingga badannya ikut miring. Di sampingnya ada Romi yang juga sibuk memutar stir dan menginjak pedal gas. Lima kali balapan, selalu Romi yang menjadi juaranya.

"Ayo dong kalahin Om," ucap Romi sambil nyengir.

"Aunty... aunty... padahal dulu Om Ale kalah sama Jemie loh," ucap bocah ini.

"Kamu balap mobil sama Om Ale? Kapan Jem?" Rara menatap keponakannya sambil mengeryitkan dahi.

Jadi, kapan Ale ajak Jemi main? Inget saat Ale pulang main band jadi pengiringnya Teh Kintan. Sebelum pamit tidur, Ale sempet nanya, "Besok mau ke mana Ra?" kata Ale saat itu. Tapi Rara bilang mau jalan sama Romi. (Baca: Bab 14)

"Ale tuh yang di kosan ya? Yang idungnya gede?" tanya Romi dijawab oleh anggukan Rara.

"Hahahaha... masa sih sama anak kecil kalah. Cemen banget...." Romi menganga ketawa puas.

Rara tau, Ale bukan kalah sama Jemie. Tapi dia sengaja mengalah. Biar Jemi bisa bangga dan lebih percaya diri. Ale memang gitu. Kadang kalau main catur sama Pakde Karso juga suka sengaja mengalah. Kalau menang terus, kepalanya pernah dijitak pake bakiak. Jadinya trauma.

Sebelum nganterin Jemi pulang, mereka bertiga makan di sebuah rumah makan seafood dan mereka foto-foto di situ. Salah satu fotonya Rara pajang di story instagramnya. Dan Ale yang ngeliat pertama.
profile-picture
andrian0509 memberi reputasi
1
03-05-2019 21:09
Quote:Original Posted By yuri2629
Hehehe susah euy blm keliatan hilalnya!!tp saya mah dukung yg dari pertama udah susah bareng ajah lah kayaknya lebih mangstap..


Mangga ang lajengkeun bacana emoticon-shakehand emoticon-shakehand
0
09-05-2019 08:32
Quote:Original Posted By bigmee
Maafin gan/sist ane belon bisa update lg nih... Kemarin-kemarin ane tugas kerja ke luar kota, oleh-olehnya dapet demam. Sekarang sih udah turun panasnya, tp masih lemes. Masih bisa sabar kan ya buat nunggu lanjutannya?


Udah sehat bang?

Quote:Original Posted By bigmee
Mangga ang lajengkeun bacana emoticon-shakehand emoticon-shakehand


Nuhun
0
11-05-2019 00:15
Quote:Original Posted By RetnoQr3n


Udah sehat bang?



Nuhun



Alhamdulillah Gan, harus sehat terus. Agan juga
0
14-05-2019 13:14
Ayok lanjutkan gan ceritanya
0
14-05-2019 19:42
Quote:Original Posted By firjy
Ayok lanjutkan gan ceritanya


Ayola siap. Pasti dilanjut... Sabar yaa... Btw makasih ta'jilnya gan.
0
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
15-05-2019 19:37
Balasan post bigmee
Kasih cendol biar semangat puasa nya
0
Halaman 4 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misteri-kepergian-rio
Stories from the Heart
rahasia-malam
Stories from the Heart
gie
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.