Beberapa game online sangat populer di Indonesia dan memiliki banyak pemain, sebut saja game seperti DOTA 2, Point Blank dan Ayo Dance. Setiap datang ke warnet atau
internet cafe, kita akan disuguhi dengan pemandangan bilik-bilik yang diisi oleh orang yang bermain salah satu dari game tersebut.
Thread ini akan membahas tiga game online yang populer di luar negeri namun justru melempem (kurang populer) di Indonesia.
League of Legends
Quote:
League of Legends (LOL) sudah dirilis sejak 2009. Sama seperti DOTA 2, leluhur dari game ini adalah mod Warcraft 3 berjudul DotA All Star.
Jika bicara statistik, LOL punya pemain aktif bulanan sekitar 90 juta pemain dengan puncaknya mencapai 100 juta pemain. Angka ini sebenarnya jauh diatas DOTA 2 yang memiliki angka rata-rata pemain aktif bulanan dibawah 20 juta pemain. Namun, untuk urusan hadiah kompetisi, DOTA 2 tentu jauh unggul dibandingkan LOL.
Beberapa alasan LOL kalah populer di Indonesia adalah karena game ini 'telat' untuk masuk ke pasar Indonesia. Dimana LOL baru punya server Indonesia pada 2013 sementara DOTA 2 sudah tersedia secara global sejak 2011. Ditambah kurangnya marketing yang dilakukan oleh Garena selaku publisher LOL di Indonesia dan Asia Tenggara.
World of Warcraft
Quote:
World of Warcraft (WoW) adalah MMORPG paling populer di Indonesia dan sudah berusia lebih dari 10 tahun. Pemainnya di dominasi oleh region Eropa dan Amerika Utara, namun pemainnya juga berasal dari seluruh dunia dengan jumlah pemain mencapai 100 juta akun.
Alasan mengapa WoW kurang populer di Indonesia adalah karena game ini menggunakan sistem berlangganan bulanan, sesuatu yang belum umum untuk sebagian besar gamer Indonesia. Ditambah, Blizzard tidak pernah fokus untuk menembus pasar Indonesia.
Warframe
Quote:
Warframe, sebuah game 'indie' gratis dengan komunitas yang sangat besar bahkan sanggup menyelenggarakan konvensi bernama TennoCon.
Ketidakpopuleran Warframe di Indonesia sebenarnya merupakan hal yang aneh:
Pertama, tidak seperti WoW, game ini sepenuhnya gratis dan microtransaction yang dimilikinya sepenuhnya hanya untuk kosmetik semata.
Kedua, game ini tersedia untuk PC dan konsol dan sama-sama gratis. Konten game ini pun terus bertambah setiap tahunnya.
Ketiga, learning curve untuk game ini pun tidak sesulit DOTA 2. Tidak ada banyak item yang harus dikuasai dan game ini bisa dimainkan hanya untuk sekedar senang-senang.
Namun, perlu diingat bahwa Digital Extreme sebagai developer dan publisher dari Warframe tidak punya banyak sumber daya, jadi tidak heran jika mereka memilih untuk tidak membakar uang hanya untuk menembus pasar Indonesia dan memperkenalkan Warframe pada pasar Indonesia.

Temukan artikel lainnya di kawista.id
Facebook: fb.com/kawistaid