Quote:
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Presiden Prabowo Subianto kembali mengangkat persoalan kemiskinan Indonesia. Dalam pidatonya awal pekan ini, Prabowo berujar perbaikan tingkat kemiskinan RI kalah cepat dibandingkan China dan India, termasuk Vietnam dan Thailand.
"Negara lain sedang bangkit. China, kemiskinan, dalam 40 tahun mereka hilangkan. Vietnam bangkit. Thailand bangkit, India bangkit," ujarnya dalam pidato tersebut.
Menurut dia, salah satu biang keladi lambatnya penurunan kemiskinan Indonesia karena pembangunan sektor industri yang mandek. Bahkan, mengarah ke deindustrialisasi.
Celetukan itu mungkin ada benarnya. Namun, jika membandingkan kemiskinan Indonesia dengan negara lainnya, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal bilang Prabowo perlu kajian lebih dalam. Sebab, kemiskinan suatu negara dipengaruhi banyak faktor.
"Yang saya tangkap, mungkin maksudnya terjadi penurunan jumlah penduduk miskin yang lebih lambat. Sementara, Vietnam dan Thailand turun lebih cepat. Tetapi, ini bukan hanya dari sisi ekonomi saja, jumlah penduduk juga," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/1) malam.
Memang, ia menyebut pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa saja mengerek pendapatan per kapita masyarakat. Ujung-ujungnya, bisa menjauhkan masyarakat dari batas garis kemiskinan.
Namun, pertumbuhan ekonomi pun memiliki banyak variabel yang mempengaruhi. Misal, ekonomi suatu negara dan dunia, aliran investasi, tingkat konsumsi masyarakat, dan lainnya. Perlu dilihat juga bahwa persentase masyarakat miskin suatu negara sangat bergantung pula pada berapa banyak populasi penduduknya.
Terkait lambatnya pertumbuhan industri, Faisal boleh sepakat dengan Prabowo. China, misalnya, sukses menurunkan tingkat kemiskinan dan mengimbangi tingkat pendapatan masyarakatnya yang bejibun karena sukses membangun industri manufaktur.
Pembangunan itu membuat masyarakat memiliki pekerjaan sebagai sumber pendapatan yang lebih pasti dan berkelanjutan ketimbang bergantung pada bantuan sosial semata. "Dampak lanjutannya, pembangunan industri manufaktur tak hanya menyerap tenaga kerja, tapi juga investasi. Lalu, roda industri lebih kencang," jelasnya.
Hal itu dinilai berbeda dengan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yang sangat menggantungkan diri pada bansos pemerintah dalam menekan tingkat kemiskinan. Lihatlah, Program Keluarga Harapan (PKH), dana padat karya tunai, beras sejahtera, hingga jaminan di bidang kesehatan dan pendidikan.
Memang, tingkat kemiskinan akhirnya turun, bahkan mencetak rekor terendahnya sepanjang sejarah, yakni 25,67 juta penduduk atau berkisar 9,66 persen dari total populasi Indonesia pada September 2018.
"Tapi, seharusnya pemerintah memberi lapangan pekerjaan, sehingga masyarakat juga berperan aktif dan mandiri untuk keluar dari kemiskinan. Kalau bansos, kekhawatirannya masyarakat terus-terusan ketergantungan," terang Faisal.
Kekurangan lain dari bansos, ia melanjutkan minimnya pendataan terhadap si miskin yang berhasil naik kelas dari bansos tersebut. Tak heran, penurunan jumlah si miskin setiap tahunnya tak sejalan dengan jumlah penduduk yang menerima bansos.
Ekonom UI Telisa Aulia Falianty berpendapat serupa. Ia menilai penurunan kemiskinan di Indonesia terasa semu karena banyak bergantung pada bansos. Meskipun, hal itu tidak sepenuhnya salah. Memang, pendekatan penurunan tingkat kemiskinan masing-masing negara berbeda-beda.
Hanya saja, seharusnya pemerintah menata lagi peta jalan penurunan tingkat kemiskinan yang lebih mendalam. Khususnya yang fokus pada penciptaan lapangan kerja dan pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sementara, CNNIndonesia.com berusaha membandingkan data-data terkait mengenai tingkat kemiskinan dan pendapatan per kapita masyarakat Indonesia dengan beberapa negara yang disinggung Prabowo.
Berdasarkan data Bank Dunia periode 2016, persentase penduduk Indonesia dengan pengeluaran sebesar US$1,9 per hari sebanyak 6,5 persen dari total populasi yang mencapai 261,1 juta orang. Artinya, ada 16,97 juta orang Indonesia yang berpengeluaran rendah pada 2016.
Sementara pada tahun yang sama, jumlah penduduk Vietnam yang pengeluarannya hanya sekitar US$1,9 per hari ada sebanyak 2 persen dari total populasi 94,6 juta orang atau sekitar 1,89 juta orang.
Meski begitu, tingkat pendapatan per kapita Indonesia lebih tinggi dari Vietnam pada 2016. Tercatat, pendapatan per kapita Indonesia senilai US$3.410 per kapita. Sementara, Vietnam sebesar US$2.060 per kapita. Namun, pertumbuhan ekonomi Vietnam telah mencapai 6,2 persen pada 2016. Sedangkan Indonesia hanya di kisaran 5 persen.
SUMBER
apa yang dikatakan prabowo memang benar
saat ini industri indonesia memang lambat malah makin lama makin lambat
tapi harus di ketahui, penyebab makin lambatnya bukan karena pemerintahan sekarang saja
tapi pembangunan infrastruktur yang kurang menunjang
bagaimana sebuah negara bisa meningkat pesat pada sektor industri jika ga ada sektor infrastruktur yang menunjang?
presiden skrg mulai pembangunan infrastruktur secara masif dan baru akan dirasakan secara maksimal setelah 7 - 8 tahun
ga ada sesuatu yang bisa lgsg selesai
kecuali anda memilih Tuhan (yang ntah ada atau tiada) sebagai presiden indonesia sehingga semua menjadi serba instant
mengenai kemiskinan
itu akan ada dan selalu ada di seluruh dunia
lalu faktor apa yang merupakan penyebab kemiskinan di indonesia?
ya jelas adalah pertumbuhan penduduk
china bisa melangkah sejauh ini karena dulu pernah mencanangkan strategi satu keluarga satu anak
sehingga generasi selanjutnya bisa mendapatkan edukasi yang maksimal dari orang tuanya
sambil menunggu "punahnya" generasi uneducated untuk di ganti generasi baru
generasi baru yang sadar pentingnya pendidikan dan biaya hidup pun akhirnya tidak "jor joran" lagi untuk buat anak
sehingga sistem satu keluarga satu anak pun di lepas oleh pemerintah china
sekaligus menstabilkan jumlah penduduk
apakah orang indonesia mau?
sesuatu yang mustahil, baik bagi golongan kaya maupun miskin
kaya si ga masalah, karena secara persentase kemungkinan jadi berguna bagi masyarakat jelas jauh lebih tinggi
karena pasti mendapatkan edukasi yang cukup untuk bersaing di dunia kerja ataupun dapat modal dari orang tua untuk buka usaha
kalau miskin?
ini yang saya tidak mengerti
secara ekonomi menghidupi diri sendiri saja sulit, tapi maksa punya anak dalam jumlah yang ga main2
alhasil selain anaknya kekurangan gizi untuk pertumbuhan sel otak, juga bakalan susah dapat akses sekolah maupun alat penunjang lainnya seperti buku maupun komputer
dan hal ini berimbas pada negara yang pasti akan subsidi mereka
uang yang bisa di gunakan secara maksimal untuk membangun dan mengejar ketinggalan
harus di sisihkan untuk hal seperti ini
gimana pertumbuhan ekonomi bisa maksimal?
selama pemerintah tidak berani "memaksakan KB"
pertumbuhan ekonomi di indonesia ya pasti bakalan begitu begitu saja
Quote:
negara adalah milik bersama
semakin banyak masyarakatnya yang mandiri, maka negara pun akan semakin mandiri ( tanpa harus impor berlebihan)
begitu pula, jika semakin banyak yang manja menunggu subsidi, bahkan untuk sesuatu yang bisa di kontrol (kelahiran)
maka negara pun akhirnya harus memanjakan kalian (impor pun meningkat) dan tentu disertai subsidi, sehingga tidak hanya bahan pokok tersedia, tapi mampu di beli oleh masyarakat itu
alhasil pembangunan semakin lambat dan tertinggal
