alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5c00b3efdac13e68748b4567/reinkarnasi-jiwa-jiwa
Lapor Hansip
30-11-2018 10:52
Reinkarnasi Jiwa-Jiwa
Past Hot Thread
#Interlude

Langit ketujuh merupakan tempat yang sangat indah dan diterangi cahaya berlipat ganda. Di sini, ia menyaksikan malaikat tingkat tinggi seperti Tahta, Kerubim, Serafim, Ofanim dan Archangel Agung. Ia juga melihat pasukan langit berkobar api tentara para Archangel. Para malaikat ini sujud disebuah singgasana, melantunkan kidung pujian. Malaikat pembimbing lalu meninggalkannya pada perbatasan langit ketujuh sehingga ia terjatuh dan merasa ketakutan. Untungnya, Gabriel segera muncul menangkapnya dan membawanya ke lapisan langit selanjutnya. Tidak banyak informasi tentang dua lapisan langit ini. Langit kedelapan disebut dengan Miuzaloth. Di sini, ia melihat “pergantian musim dan dua tanda zodiak”. Langit kesembilan (Kuchavim) merupakan tempat tinggal dua belas zodiak. Malaikat Michael mengantarkan ia ke langit ke sepuluh, dimana ia melihat Tahta yang sangat agung dan besar dan tidak dibuat oleh tangan siapapun, bukan oleh pasukan kerubim dan serafim, maupun lantunan kidung mereka.

Di langit ini, apa yang manusia bumi kemudian sebut sebagaiTuhan memerintahkan Michael untuk menanggalkan pakaian duniawi ia dan mengurapinya dengan minyak manis dan memakaikannya pakaian keagungan. Tuhan lalu memanggil malaikat Vrevoil untuk mencurahkan semua pengetahuan langit dan bumi pada ia, yang tidak lain adalah cucu Adam.Vrevoil memberikan kitab dan pena pada ia untuk menulis. Vrevoil mengajarkan rahasia kosmos selama 30 hari 30 malam tanpa henti. Dan selama itu, ia menuliskannya dalam 366 kitab. Ia menceritakan penciptaan semesta, Kejatuhan manusia, bahwa dunia manusia akan berakhir pada hari kedelapan penciptaan (setelah 8000 tahun) pasca Adam turun ke bumi. Dari 366 catatan yang kemudian disebut kitab, baru satu saja yang berhasil ditemukan, dan itupun baru setengah isinya yang berhasil diterjemahkan ribuan tahun kemudian, yang ternyata dilarang peredarannya di abad pertengahan masehi. Namun sebuah duplikat salinan itu kemudian menghebohkan karena beredar di abad 19 dalam bentuk terjemahan. Dimanakah sisa salinan lainnya, serta sisa kitab lainnya yang diyakini berjumlah 366 kitab.

#Henokh Reinkarnasi Jiwa-Jiwa
1
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
Lapor Hansip
11-01-2019 22:53
Quote:Original Posted By cindurmato
cerita tentan BHALAM si raja Alantisnya mana kang?


Bhalamin masih ada sampai sekarang emoticon-Big Grin
0
Lapor Hansip
11-01-2019 22:54
Quote:Original Posted By wbros
mantap gan


Makasih gan
1
Lapor Hansip
12-01-2019 08:20
Mantap gan ceritanya terima kasih udah mo berbagi sama yang masih awam jadi pengetahuan untuk ane...lanjut lagi gan kisah kisah lainnya yang luar biasa ini
0
Lapor Hansip
12-01-2019 08:29
berat nih bacaannya, tapi ane demen untuk belajar emoticon-Big Grin
0
Lapor Hansip
12-01-2019 11:00
Sungguh nambah wawasan emoticon-heart
1
Lapor Hansip
12-01-2019 12:49
Bagian 1
2 September 2012.
Pukul delapan malam.
Setengahnya, kehidupan itu seperti sorot lampu taman yang temaram.

Di atas langit, bulan terlihat utuh memamerkan kecantikannya, di sebuah dimensi bernama bumi di mana manusia berada, nampaklah seorang anak kecil berusia sepuluh tahun sedang berdiri merapat ke dinding dalam kamarnya menghadap jendela yang terbuka lebar, sehingga memberinya ruang gerak untuk mengamati lukisan keindahan alam semesta. Bianglala. Cakrawala.

Adalah Guruh, kulitnya putih kemerahan, rambutnya coklat, keturunan Eropa, mungkin juga Belanda, setidaknya begitu. Anak itu sedang asyik mengamati hamparan langit menggunakan teleskop. Malam itu rasanya hangat. Terpaan hembusan angin sepertinya membawa hawa yang membangkitkan gairah. Seperti Guruh yang larut dalam kesukaannya. Anak sekecil itu sudah senang mengamati bintang-bintang. Seperti ada rasa penasaran dan kekuatan besar yang menggerakkan, hingga membuat kemampuan otaknya bekerja tidak seperti kebanyakan anak-anak lain yang seusia dengannya.

Pengamatan yang kerap dilakukan Guruh tak ubahnya seorang ilmuwan. Ia memutar-mutar bagian yang berfungsi untuk membesarkan jangkauan tangkapan obyek pada teleskop yang dipegangnya dengan lihai itu hanya untuk mendapat bidikan tepat. Dan targetnya adalah bulan purnama yang tengah terjadi, hingga ia mendapatkan pemandangan yang diinginkannya, dengan tambahan kemampuan penglihatannya yang ia miliki sejak masih sangat kecil. Ada banyak kawah yang tercipta karena hantaman benda langit semacam komet, atau meteor. Kawah-kawah itu berlubang dan menjorok ke dalam. Ada gua-gua berukuran kecil seperti sarang burung liar kosong dan melompong karena sama sekali tidak ada kehidupan. Tak berpenghuni. Benarkah?

Teleskop yang diarahkan Guruh untuk memperhatikan bulan purnama itu tiba-tiba terfokus pada salah satu kawah, dan mendadak sesuatu yang janggal terjadi, Guruh mengalami kontraksi, seperti ada koneksi. Wajahnya sekejap berkeringat bukan karena hembusan angin yang membawa hawa gairah, melainkan karena apa yang terlihat melalui teleskop itu dengan tambahan kemampuan penglihatannya. Tubuh anak kecil itu merinding sejadi-jadinya, dan gemetaran hebat, namun aneh karena kondisi tak wajar itu justru tidak membuatnya takut. Sama sekali Guruh tidak gentar. Kemudian ada hembusan melesat keluar dari gua kecil yang terlihat. Hembusan itu berwarna hitam, dan rasanya semacam kelam. Betapa ganjil karena bukankah di bulan tidak ada kehidupan, tidak ada udara dan juga air. Hanya hampa. Tanpa rasa. Serupa baka.

Hembusan Serupa Senyawa Yang Berjiwa itu melesat bebas bak bayangan. Tak ubahnya mahluk astral yang kemudian gentayangan. Dan, sesuatu berkekuatan besar yang bersarang dalam tubuh Guruh seperti berkontraksi karena adanya interaksi dengan koneksi tingkat tinggi, semacam telepati. Serupa Senyawa Yang Berjiwa itu melesat meninggalkan ruang hampa udara lalu menembus lapisan atmosfer. Dan dalam waktu kurang dari setengah jam, Serupa Senyawa Yang Berjiwa dengan mudahnya mencapai bumi.

Mendadak angin berhembus sangat kencang menerpa apapun itu yang menghadang. Dalam sekejap suasana alam kota Bandung dilanda kepanikan. Pohon-pohon yang menjulang tinggi bertumpu pada kekuatan akar-akarnya, daun-daun kering yang berserakan di atas tanah berterbangan tak tentu arah. Gedung-gedung pencakar langit bertahan pada pondasinya. Beragam jenis kendaraan yang memadati jalanan mengurangi kecepatan karena peristiwa yang tak terduga itu untuk menghindari tabrakan beruntun. Dan, orang-orang yang sedang berlalu lalang berusaha merapat, bersembunyi menyelamatkan diri dalam ketakutan karena dilanda kecemasan yang mendalam.

Hembusan angin yang menerpa seperti digerakkan dinamo besar berkekuatan mega watt. Berkecepatan mencapai 100 km/jam. Angin yang perputarannya mendekati skala angin puting beliung itu tak terdeteksi Badan Meteorologi dan Geofisika. Dan keanehan lain pun terjadi. Aliran listrik mendadak mati. Ada korsleting luar biasa yang menyebabkan jutaan lampu yang menerangi alam kota Bandung menjadi padam. Tak ada cahaya dari dalam rumah-rumah, hotel-hotel, pusat perbelanjaan, rumah sakit, sepanjang jalan raya, taman-taman kota, gedung perkantoran, gedung pemerintahan, markas kepolisian dan lainnya. Ketakutan yang dirasakan sebagian besar masyarakat menimbulkan beragam bentuk kengerian.

Setengah jam merajam pukul delapan malam.
Kota Bandung disergap hawa mencekam.

Guruh tak lagi menggunakan teleskopnya untuk mengamati bulan purnama. Baginya kegelapan yang meranggas begitu menciptakan keheningan yang mendamaikan, oleh karenanya di dalam kamarnya sama sekali tak ada penerangan. Yang ada hanya sepasang lilin dalam wadah dan tak pernah sekalipun dinyalakan. Benar-benar kebiasaan anak kecil yang aneh. Dan bagi Guruh, malam adalah kehidupan yang kerap diselaminya seorang diri. Ia menciptakan dunianya sendiri. Bermain dalam ruang yang gelap. Menggambar bintang-bintang, planet dan bulan, juga bentuk bumi yang tidak lazim karena cenderung datar, di atas kertas. Terkadang juga melukis gumpalan awan yang melemparkan kilatan petir, guyuran air hujan, dan gelombang air dilautan lepas yang menghempas bebas. Terkadang, karena larut dalam hobinya itu, Guruh kerap terbawa suasana dan larut dalam gelombang frekuensi otak ke alam theta, alam bawah kesadaran, sehingga sesuatu yang halus dalam dirinya melesat melalui jalur yang berpararel dan terkoneksi dengan apa yang digambarnya, itulah mengapa Guruh kerap berada di bulan, di sebuah planet, bahkan alam dimana yang ia lihat hanya sekumpulan cahaya halus berkilau bernama Ruh.

Dalam keadaan tak terduga yang sangat mencekam itu terdengarlah lolongan anjing melengking-lengking yang entah dari mana datangnya. Anjing itu berada di luar halaman sebuah rumah yang luas di kawasan jalan Dago. Kondisinya gelap gulita karena mendadak terjadi aliran pemadaman listrik berskala lokal. Anjing bertubuh besar berbulu hitam legam dengan sorot mata yang tajam itu kemudian menjadi saksi ketika Serupa Senyawa Yang Berjiwa melayang-layang menciptakan siluet-siluet berkelebatan yang mengerikan. Seperti ada fenomena lain alam semesta yang keberadaannya tak pernah ternalar. Semacam aktivitas supranatural.

Dengan perlahan Guruh meletakkan teleskopnya di atas lantai tak beralas. Ia berjalan mundur meraih salah satu mainannya, Oujia, sebuah papan ramal. Papan yang biasa digunakannya untuk merangkaikan kata-kata karena sejak awal ia terlahir tidak bisa berbicara. Dan begitu ia memegang papan ramal dan alat berbentuk segitiga yang berlubang di tengahnya, semacam fungsi mouse pada komputer, sesuatu kemudian merasuk ke dalam kamarnya. Itulah Serupa Senyawa Yang Berjiwa, yang beberapa saat lalu terlihat melesat bak bayangan dari dalam gua kecil di atas penampakkan bulan purnama.

Terjadilah residual energi. Dua kekuatan berkomunikasi. Antara kekuatan alam yang bersemayam di dalam tubuh Guruh dan kekuatan yang berasal dari Serupa Senyawa Yang Berjiwa itu kemudian saling meretas beragam informasi untuk menyamakan identitas. Guruh yang dikendalikan oleh sesuatu yang bersarang dalam jiwanya itu kemudian cepat berkomunikasi. Rambut coklatnya tersapu angin melambai-lambai. Sekujur tubuhnya memanas dan mendadak basah berkeringat. Wajahnya memerah karena terpacunya aliran darah. Sorot matanya memvisualisasikan sepasang mata yang bersarang dalam jiwanya. Mulutnya perlahan terbuka dan menganga. Seperti ada rencana persekutuan yang hendak dilakukan. Atau mungkin juga perdebatan.

Fenomena berbasis kekuatan energi yang mencekam itu kemudian terdeteksi seseorang tak jauh dari arah luar kamar Guruh. Ia bernama Genta, seorang somah, pangaula, laki-laki berusia dua puluh empat tahun yang tengah sibuk menenangkan seisi penghuni Rumah Bawah Tanah yang dilanda kepanikan akibat padamnya aliran listrik, ditambah gejala alam tak terduga yang menghantamkan angin dengan kecepatan mendekati puting beliung. Genta berhasil menghidupkan penerangan karena di dalam rumah bergaya bangunan zaman Belanda itu terdapat sebuah genset (alat yang berfungsi untuk menampung aliran listrik) berkemampuan highlinder.

Dan, ketika lampu-lampu dalam rumah besar penuh perabotan mewah dan berkesan antik itu kembali menyala, keistimewaan berupa indera keenam yang dimiliki Genta bekerja secara otomatis karena ia terlahir indigo, sebuah warna nila yang memancar dari cakra ajna, nila adalah aura dasar manusia yang berbakat dalam bidang spiritual dan supranatural yang ditunjang dengan kecerdasan intelektual. Detik itu juga, sisi sensitifnya merasakan adanya pergerakkan berkekuatan besar yang tak kasat oleh mata. Secepatnya pula dengan keistimewaan indera keenamnya, ia menembus kegelapan malam. Hasilnya menjurus pada arah belakang bangunan di mana ia berada, yaitu kamar yang dihuni Guruh, anak yang setahun lalu ditemukannya ketika sedang melakukan perjalanan spiritual.

Apa yang dirasakan Genta juga ternyata dirasakan Sulanjana. Sosok bersahaja, berwibawa dan berkharisma atas warisan prestisius berupa darah biru karena merupakan keturunan menak Sunda itu sedang berada dalam ruang perpustakaan, di lantai dua yang menjadi bangunan utama rumahnya. Detik-detik sebelum hembusan berkecepatan menyerupai angin puyuh itu menerpa, Sulanjana sudah merasakan hadirnya kejanggalan yang bernuansa astral. Sulanjana yang juga terlahir indigo itupun lalu merespon sesuatu berkekuatan besar sedang mendekat dan dirasakan mengancam. Ketika mendadak hembusan angin dari dimensi alam astral seolah berbaur dan menyerang tersamarkan dengan kekuatan alaminya yang bersetubuh dengan alam dimensi manusia, Sulanjana sontak terperangah karena mencium bau serupa kematian. Seperti menyusupnya gas beracun yang terselubung dalam partikel oksigen. Sulit diuraikan karena dua senyawa itu telah bercampur aduk, terikat, dan bekerja di jalur udara, juga di alam manusia.

Sulanjana langsung menutup buku fenomenal berjudul Bumi Manusia, buah karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulis beliau ketika masih menjadi tahanan politik di pulau Buru. Sebuah buku berseting zaman pemerintahan kolonialisme Belanda kisaran tahun 1898 hingga 1918, dengan rangkuman kejadian konflik politik dan sosial yang sedang dibaca ulang itu diletakkan di atas meja. Sulanjana pernah berkesimpulan, bahwa Bumi Manusia adalah buku yang membuka kegelapan bagi pembacanya karena bercerita tentang betapa pentingnya umat manusia untuk belajar.

Dengan refleks Sulanjana bangkit dari duduknya dan langsung mendekati jendela. Tirai berwarna cokelat muda berupa batik tulis dengan motif Wayang Semar itu dibukanya dengan cepat. Ia pun terperangah dan tercengang hebat. Detik itu juga pandangan sepasang matanya mengarah pada bulan purnama. Dan seiring pandangannya, ia tergerak untuk mengalirkan energi dari hatinya, atau cakra anahata, untuk menambah ketajaman cakra ajna, namun salah satu kemampuan istimewanya itu gagal dilakukan, seolah alam semesta tidak mengijinkan jika kemampuan spiritual supranatural yang dimilikinya dipergunakan melebihi batas kewajaran sebuah derajat penciptaan, mengingat bulan adalah benda langit yang diciptakan di luar jarak jangkauan bumi di mana ia berpijak.

Tapi, bukankah bulan diciptakan oleh bangsa Niranthea? Sesosok tak kasat mata kemudian berbisik pelan menggetarkan batin Sulanjana, lalu ia terdiam. Dan bulan berada di dalam bumi, bukan di luar angkasa, kata sesosok tak kasat mata itu kembali berbisik, dan Sulanjana makin terdiam, dengan sendirinya ia bungkam.

Reinkarnasi Jiwa-Jiwa
Diubah oleh djendradjenar
0
Lapor Hansip
12-01-2019 12:55
Malam itu Sulanjana mengenakan kemeja lengan panjang berbahan sutera berwarna merah menyala, bermotif Naga dan Mega Mendung yang dibuat dengan metode batik tulis itu dihiasi kancing-kancing perak bulat besar mengkilat, kemeja yang dipakainya dipadukan celana berbahan Chino hitam ketat yang melekat. Sepatu pantofel hitam merk Prada limited edition menambah nilai elegan menak Sunda itu yang nampak setengah berlari menuruni anak tangga dalam bangunan utama menuju ruangan lain yang berada di luar bangunan utama, dengan perasaan tak karuan. Dengan cepat Sulanjana sampai di ruangan besar di mana penghuni Rumah Bawah Tanah terlihat berkumpul. Dari kejauhan ia melihat wajah-wajah penuh ketegangan para penghuni yang diranggas perasaan ketakutan. Sepertinya suasana genting masih menyelimuti karena hembusan angin kencang masih menghantui. Salah satu dari penghuni yang menjabat sebagai ketua kelas kemudian mendapati sosok Sulanjana, sang kepala, pemilik, sekaligus pembina Rumah Bawah Tanah yang sedang berjalan mendekat. Kemudian, ketua kelas bernama Ramdani itu beranjak dan segera keluar ruangan.

“Selamat malam, Adang.” Kata si ketua kelas sambil menyatukan kedua telapak tangan dan meletakkannya hingga sebatas dada dengan kepala menunduk.

“Iya, Ramdani, apa semua baik-baik saja? Apa semua penghuni berada dalam ruangan?” Sulanjana bertanya penuh rasa panik.

“Saya pastikan semuanya baik-baik saja. Kami hanya kaget. Sepertinya ada badai yang datang tiba-tiba. Saya masih mencari informasi melalui Televisi dan Radio mengenai semua ini. Maaf, Adang mau ke mana?” Tanya si ketua kelas dengan rasa cemas.

“Genta. Apa kamu melihatnya?” Jawab Sulanjana cepat.

“Iya, Adang. Kak Genta menuju halaman belakang. Mungkin ke kamarnya, atau ke kamar Guruh.”

“Terima kasih. Jaga semua penghuni. Jangan ada yang beranjak keluar sebelum keadaan menjadi tenang.” Perintah Sulanjana.

“Baik, Adang.” Jawab si ketua kelas singkat sambil melakukan sikap dan gerakan tangan untuk penghormatan dengan menundukkan kepalanya, sama persis seperti sesaat lalu ia melakukannya.

Menak Sunda itu tak ingin membuang waktunya lebih lama lagi. Ia bergegas menuju halaman belakang, menuju sebuah bangunan sederhana namun bermakna filosofis yang terbuat dari sebagian kayu dan bilik, sementara atapnya dari ijuk. Di situlah Genta mempunyai ruang tersendiri dan menjadi privasi bagi keistimewaan kehidupannya. Sulanjana setengah berlari sambil memperhatikan lukisan langit. Secara kasat mata sama sekali tak ada keganjilan yang terhampar. Tak ada gumpalan awan yang melintas. Kilauan bintang begitu gemintang. Dan bulan purnama enggan beranjak. Sulanjana mengernyitkan kedua alisnya ketika menatap wajah benda langit yang katanya, menurut ilmu pengetahuan barat berfungsi sebagai satelit bumi itu. Sepertinya ada yang aneh, namun tak terdeteksi karena tidak mampu berkonsentrasi karena ingin segera bertemu dengan Genta, dan begitu sampai di halaman belakang, sosok yang dicarinya berada dalam jangkauan pandangannya.

“Genta!” Sulanjana setengah berteriak.

Merasa namanya dipanggil seseorang, Genta yang mengenakan kemeja putih polos semi sutera dan celana hitam berbahan Drill itupun menghentikan langkah kakinya yang mengenakan sandal selop semi kulit warna hitam. Ia cepat memalingkan wajahnya mencari arah suara. Sedetik kemudian ia mendapati seseorang itu dan bergegas menemuinya. Bentuk penghormatan sebagai tanda kesopanan pun dilakukannya, persis seperti apa yang dilakukan si ketua kelas Rumah Bawah Tanah beberapa saat yang lalu.

“Adang, kenapa keluar?” Tanya Genta dengan cepat.

“Aku mencarimu. Sepertinya ada yang aneh.” Jawab Sulanjana sambil memandang ke atas langit. “Ada hal gaib yang menghantam kota ini, tapi aku tak mampu meretasnya. Ajnaku tak mampu menembusnya.” Ucapnya lagi dengan sedikit geram.

“Ah, Adang juga merasakannya. Aku rasa juga begitu.” Balas Genta lagi.

Sulanjana yang berwajah tegang menghembuskan napasnya. Sama halnya dengan Genta.

“Adang, kedalaman naluri dan instingku seolah lumpuh. Sepertinya ada hubungannya dengan fenomena bulan purnama ini.” Ucap Genta dengan wajah sengit sambil menatap langit.

“Dampak bulan purnama tak mungkin sejauh ini. Aku merasakan adanya hawa kebangkitan yang mengerikan.” Sulanjana menghembuskan napasnya dengan perasaan tak karuan.

Bulan purnama hanya diam. Namun wajah dinginnya malam itu menghunjam kejam. Seolah ingin mengatakan, bahwa ada sesuatu yang kelam dari masa silam datang mengancam. Dan lolongan anjing kembali melengking-lengking. Sulanjana dan Genta mendadak saling berpandangan. Mereka keheranan mendapati beragam keganjilan bernuansa gaib yang terjadi secara bersamaan.

“Adang, lolongan anjing di luar sana menyeramkan. Itu pertanda tidak baik!” Ucap Genta geram.

“Lolongannya seperti serigala saja. Sekarang aku yakin pasti ada yang tidak beres.” Sulanjana mengepalkan kedua telapak tangannya.
Tiba-tiba Genta teringat pada tujuan semula yang ingin melihat keadaan Guruh. Mendadak ia pun memalingkan wajahnya mengarah pada kamar anak kecil itu. Kecemasan yang sama kemudian dirasakan Sulanjana yang akhirnya kembali bersuara.

“Apa dia baik-baik saja? Ayo kita lihat ke dalam.” Ajak Sulanjana dengan cepat.

“Ayo, Adang.” Jawab Genta sambil menganggukkan kepalanya.

Keduanya langsung berjalan cepat menuju kamar Guruh dengan perasaan tak karuan. Pintu kamar yang tak pernah di kunci itu di buka oleh Genta. Suasana gelap langsung hinggap. Ada bau kengerian tercium. Bau bernapas kesesatan yang tak bisa dijelaskan.

“Guruh? Sedang apa kamu di dalam?” Tanya Genta sambil beranjak masuk ke dalam kamar yang gelap gulita itu.

Ada penerangan yang masuk dari celah-celah bilik dari balik kamar Genta yang memang bersebelahan. Sulanjana pun ikut melangkah masuk. Hawa panas begitu terasa padahal di luar sana angin berhembus begitu kencang. Pandangan Genta menyorot tajam dalam keremangan. Hatinya sangat yakin kalau anak kecil itu ada di salah satu sudut dalam kamar yang sedang dijelajahinya bersama majikannya.

“Guruh, kamu di mana?” Sulanjana mempertegas suaranya.

“Itu dia. Duduk di bawah jendela yang terbuka.” Tiba-tiba Genta merasa tenang.

Dalam keremangan yang sunyi itu Guruh terpaku di bawah jendela yang beberapa waktu lalu dibukanya lebar-lebar untuk mengamati kemegahan bulan purnama dengan teleskop hadiah pemberian Sulanjana yang memperlakukannya sebagai penghuni istimewa Rumah Bawah Tanah karena anak kecil itu terlahir berbeda. Dengan cepat Genta mendekati Guruh. Ia duduk setengah jongkok lalu meraih tubuh anak kecil itu dan menggendongnya. Rasanya seperti kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Tubuh anak kecil itu dirasakan panas. Detak jantungnya berdegup kencang. Genta meletakan sebelah tangannya pada kening Guruh. Basah dan berkeringat. Begitu juga dengan tubuhnya yang terasa lengket. Kondisinya seperti habis berlari-lari mengelilingi kamar berulang kali.

“Badannya panas dan berkeringat. Entah apa yang dilakukannya.” Ucap Genta setengah berbisik.

“Mungkin ia mendapatkan reaksi yang sama dengan kita.” Sulanjana merasa yakin sambil berjalan mendekat. “Sini, biar aku yang menggendongnya. Kamu tolong nyalakan lilin.” Katanya lagi.

“Baik, Adang.” Jawab Genta singkat.

Sulanjana kemudian mengambil alih Guruh dari pangkuan Genta, dan apa yang diucapkannya tentang kondisi anak kecil itu ternyata benar. Sulanjana diam dan berusaha menetralisir tubuh dipangkuannya. Dengan sedikit analisa, ia merasakan adanya bekas tanda-tanda residual energi yang telah terjadi. Namun tak ada saksi. Yang terasa hanya sisa-sisa reaksi. Genta kemudian menyalakan lilin-lilin kecil yang tersusun dalam wadah yang berjajar dan menyatu yang tersimpan di atas meja mecil, ada laci kecil yang hanya berisi korek api dan beberapa lilin cadangan. Genta menarik laci itu dan meraih korek api, lalu meraih batang korek dan menggaretkannya pada pinggiran bungkus korek. Dalam sekejap kamar itu pun mendapatkan penerangan. Sulanjana terperangah ketika Guruh memeluk tubuhnya lebih kencang. Sepertinya ada ketakutan ketika lilin-lilin kecil itu mendadak dinyalakan. Seolah anak kecil itu berusaha mencari perlindungan. Kepalanya tenggelam dalam dada Sulanjana dengan mata terpejam.

“Ah, Oujia, papan itu…” Kilah Genta ketika sepasang matanya tiba-tiba terpusat setelah dapat melihat jelas seisi ruangan.

“Papan ramal. Mungkin ia sedang bermain-main dengan papan ramal ketika terjadi badai angin itu.” Timpal Sulanjana sambil berjalan ke ujung kamar.

Sulanjana kemudian duduk di atas karpet bergambar bintang-bintang berwarna merah. Di atasnya ada spring bed lebar yang biasa digunakan Guruh untuk tidur. Tubuh anak kecil itu hendak direbahkan namun ternyata menolak karena tak mau melepaskan rangkulan kedua tangannya yang melingkar di punggung Sulanjana.

“Guruh, kamu kenapa? Tidak usah takut. Sekarang ada kakak di sini.” Ucap Sulanjana sambil mengusap-usap kepala anak kecil itu.
Anak kecil itu dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya yang tenggelam dalam pelukan Sulanjana. Reaksi itu mengartikan adanya ketakutan yang menimbulkan kengerian. Dan tidak seperti biasanya Guruh bersikap seperti itu. Genta berjalan mendekat dan membawa papan ramal beserta alat berbentuk segitiga yang berfungsi sebagai alat penunjuk. Kini, pangaula itu bertatapan dengan majikannya berharap ada semacam petunjuk yang bisa memberikan penjelasan atas terjadinya beragam keganjilan. Dan Genta yang lebih memahami kondisi Guruh karena ada kepedulian besar untuk merawat anak kecil itu langsung duduk di pinggiran spring bed. Ia mengambil alih kembali untuk menggendongnya.

“Adang, biarkan Guruh tenang dulu. Mungkin ia sedang shock.” Ucap Genta pelan.

“Aku tahu, tapi ini bukan sikap seperti biasanya. Seperti ada yang mempengaruhinya. Dan itu membuatnya takut.” Timpal Sulanjana.

“Iya, Adang. Akan aku cari tahu. Biarkan ia sejenak merasakan kenyamanan dulu.” Kata Genta dengan bijaksana.

Sulanjana mengiyakan.

Menak Sunda itu beranjak dan berjalan menuju arah jendela dalam kamar itu yang masih terbuka lebar. Berharap ajnanya bisa meretas visualisasi apapun karena sejak memasuki kamar Guruh, ia merasakan adanya bekas residual energi. Sepasang matanya kemudian kembali menatap tajam bulan purnama yang seolah menjauh. Tidak seperti pada menit-menit sebelumnya yang terlihat membengkak dan membesar. Namun setelah beberapa saat, tak ada penjelasan apapun terhadap sisa-sisa kontraksi yang baru saja dialami oleh Guruh. Yang dilakukan Sulanjana kemudian hanyalah berjalan mondar-mandir dalam kebisuan yang menghidupkan beragam pertanyaan. Hal yang sama pun dirasakan Genta. Ia menyeka kening Guruh yang bersimbah peluh. Lalu mengusap-usap pipi kanannya. Ketika melakukan itu Genta merasa bahwa suhu tubuh anak kecil dalam pangkuannya sudah kembali normal. Ia pun berpikir bahwa waktunya sudah tepat untuk melayangkan pertanyaan.

Genta yang duduk bersila pelan-pelan mendudukkan Guruh dipangkuannya. Dan anak kecil itu diam saja pertanda rasa aman dan nyaman sudah menyelimuti dan menghangatkan jiwa raganya. Sulanjana menghentikan aksi berjalan mondar-mandirnya ketika melihat Genta mengambil papan ramal yang tadi ditaruh di sampingnya, dan kini memberikannya dengan cepat pada Guruh. Papan ramal itu diletakan pada paha Guruh. Untuk sesaat menak dan somah itu saling berpandangan. Ada ketegangan baru yang kemudian muncul dan meranggas keheningan dalam kamar yang dindingnya dipenuhi gambar bintang-bintang, bulan dan gumpalan awan yang melemparkan lecutan petir itu.

“Guruh, apa yang kamu rasakan ketika terjadi badai angin tadi?” Tanya Genta sambil memberikan alat segitiga yang berlubang di tengahnya.

Guruh meraih alat segitiga itu dengan tangan kanannya. Sesaat kemudian tangan kirinya ikut memegangi alat itu. Sulanjana berjalan mendekat lalu ikut duduk bersila di samping kanan Genta yang sedang memangku Guruh. Sorot mata anak kecil itu menajam. Lalu ada semacam ritual bernama konsentrasi yang otomatis dilakukannya, dan mendadak pula hadir hembusan angin dari arah luar jendela. Angin yang dingin. Dan seolah menggemerutukkan tulang. Guruh pun mulai beraksi. Anak kecil itu menggerakkan kedua tangannya yang bertumpu pada alat segitiga yang berlubang di tengahnya. Genta dan Sulanjana merasakan adanya sentuhan kehadiran senyawa tak kasat mata yang tak terdeteksi ajna. Suasana di dalam kamar mendadak mencekam hingga bulu kuduk berdiri dan keduanya merinding. Kedua tangan Guruh kemudian bergerak menuju sebuah huruf “S”, lalu digeser hingga bertahan pada huruf “E”, Genta menelan ludah dan menghembuskan napasnya sementara Sulanjana terpaku dan sesuatu melintas dalam benaknya, apakah yang hadir dalam kepalanya itu akan sama dengan apa yang akan dikatakan Guruh melalui papan ramalnya itu.

Jantung Sulanjana kini berdegup kencang. Betapa ia sangat tak sabar membaca keseluruhan rangkaian huruf yang dibahasakan satu persatu melalui huruf-huruf itu. Kedua tangan Guruh terlihat gemetaran. Ada kegetiran yang mendalam yang tercipta dengan sendirinya. Huruf ketiga yang di tunjuk oleh segitiga kayu itu adalah “S”, lalu “A”, dan berakhir pada huruf “T”. Sulanjana dan Genta terbelalak dan tersentak kaget. Huruf-huruf itu merangkaikan kata “SESAT”, sesuatu yang rasanya mengerikan, membutakan, juga persekutuan terlarang yang mengandung dosa tak termaafkan. Sulanjana menghembuskan napas yang berat. Apa yang sejenak melintas dibenaknya ternyata tidak seutuhnya sama dengan apa yang dibahasakan Guruh melalui papan ramal, namun ternyata mempunyai benang merah yang justru sangat menyeramkan. Sulanjana geram, dan ia pun mendadak bangkit dan berdiri berjalan ke arah jendela, dan untuk ke sekian kalinya menatap hamparan langit.

“Apa maksud dari ini semua? Sesat? Apa yang sesat? Apa diluaran sana sedang terjadi ritual yang berbau kesesatan?!” Sulanjana berucap dengan nada keras.

“Adang, tenanglah.” Genta berusaha menenangkan.

“Ini berbahaya.” Sulanjana mengepalkan kedua tangannya. “Artinya, di luaran sana ada seseorang menggunakan kekuatan Setan, Iblis, Demon, Dark atau apapun sebutannya untuk ritual kesesatan.” Hati Sulanjana menyalak.

Genta dengan cepat merebahkan Guruh. Papan ramal dibiarkannya tergeletak di samping anak kecil itu. Ia lalu berdiri dan berjalan mendekati majikannya.

“Adang, kita akan selidiki lebih dalam.” Genta memberikan ide. “Kita harus melakukan perjalanan untuk mencaritahu siapa yang membangkitkan kekuatan Iblis itu untuk melakukan ritual sesat.” Kata pangaula itu lagi.

“Kita harus waspada malam ini. Aku takut sesuatu terjadi meski aku tidak tahu itu apa, aku merasa tidak enak hati.” Timpal Sulanjana sambil membalikkan tubuhnya.

“Iya, Adang.” Jawab Genta singkat.

Genta kemudian menggerakkan kedua tangannya berkomunikasi kepada Guruh.

Gerakan kedua tangan itu membahasakan kalimat-kalimat yang bisa dimengerti oleh Guruh yang terlahir bisu. Namun anak kecil itu mempunyai kepekaan dan daya nalar yang tinggi untuk mempelajari sesuatu, dalam dunia psikologis, mereka menyebutnya intuisi. Seperti bahasa tangan yang entah dipelajarinya di mana. Tak ada identitas apapun tentang anak kecil yang terlihat menganggukkan kepalanya setelah Genta membahasakan, “beristirahatlah dan selamat malam,” melalui gerakan tangan. Lalu Genta menutup jendela rapat-rapat dan menarik tirainya. Sebelum keluar dari kamar itu ia pun meniup lilin yang tadi dinyalakan lalu berjalan menyusul Sulanjana.

Keduanya dihinggapi beragam pertanyaan atas segala fenomena alam dan keganjilan terbalut nuansa kegaiban yang belum sepenuhnya mendapatkan jawaban. Seiring dengan langkah pasangan menak Sunda dan pangaulanya yang menjauh, di dalam kamarnya Guruh kembali berkontraksi. Serupa Senyawa Yang Berjiwa yang sesaat lalu merasuk ke dalam tubuh anak kecil itu perlahan menyeruak keluar melalui rongga mulut. Ada kesakitan terlukis dari wajah Guruh ketika hal mengerikan itu terjadi. Serupa meregang nyawa menuju kematian, entahlah. Setelahnya, kekuatan hitam itu melayang ditengah kegelapan menyebarkan benih-benih kesetanannya yang bertanduk. Menjijikan. Juga menyeramkan.

Reinkarnasi Jiwa-Jiwa
0
Lapor Hansip
12-01-2019 12:57
Pukul sebelas malam.
Pemandangan tak lagi seram bak hunian makam.

Aliran listrik berjalan normal kembali. Hembusan badai angin berlalu entah ke mana. Alam kota Bandung kini diserang hawa dingin mencekam yang membuat warganya ingin berlindung di balik tebalnya selimut untuk mendapatkan kehangatan. Bisa dipastikan tak ada seorang pun yang ingin melewatkan malamnya di luar sana. Dan di keheningan malam itu sayup-sayup terdengarlah suara nyanyian bersimfoni yang lantunanya menimbulkan rasa ngeri. Nyanyian itu menjelma seruan-seruan, ajakan-ajakan dengan cara membisiki, menyentuh dan merangkul jiwa-jiwa muda yang hampa, tersiksa, tersingkirkan, dan teramat kehausan hingga tak sabar untuk segera mereguk serupa anggur kenikmatan.

Di hamparan cakrawala. Bulan purnama masih menggantung sempurna menerangi puluhan jiwa muda berlabel street punk yang berjalan sendiri-sendiri mengikuti bisikan-bisikan bernada simfoni yang indah. Dan ya, hanya merekalah yang mampu mendengar nada-nada bernuansa hampa itu. Nada-nada berupa seruan, ajakan dan bisikan yang dengan mudahnya mendapatkan uluran tangan jiwa-jiwa muda itu untuk kemudian bangkit dari tidurnya dan bergerak menuju satu tempat yang merupakan penyamaran kegelapan yang dipersiapkan dengan nyaman.
Lolongan anjing-anjing yang menyerupai raungan serigala kembali terdengar melengking-lengking. Jalanan kota Bandung yang sunyi dan sepi itu kemudian ditapaki, dijejaki langkah gegap gempita jiwa-jiwa muda di mana satu sama lain saling mengenal karena kesamaan identitas.

Jiwa-jiwa muda itu telah percaya pada satu keyakinan, yaitu nyanyian bersimfoni yang membangkitkan kedamaian, meski sebenarnya jika ditelusuri lantunan itu adalah distorsi yang merasuk menggelapkan hati, kesesatan. Jiwa-jiwa muda bermunculan lebih banyak lagi. Mereka berpakaian ala punk yang serba ketat dan berwarna hitam keluar dari rumah di daerah pemukiman padat penduduk, dari balik hunian triplek setengah seng di pinggiran rel kereta api, dari kolong-kolong jembatan layang, dari perempatan-perempatan jalan, dari taman-taman kota, dan juga kos-kosan murah yang hanya bersekat papan di pinggiran kali yang penuh sampah. Jiwa-jiwa muda yang kerap menyerukan bahwa mereka adalah komunitas street punk, komunitas yang secara batin tersatukan oleh kesamaan nasib tentang kehidupan jahanam kaum yang terpinggirkan, kaum yang terpaksa atau dipaksa keadaan menjadi sekumpulan minoritas itu gentayangan di jalanan kota Bandung yang dirasuki hawa dingin mencekam.

Betapa pemandangan yang terlihat sangat memilukan. Mereka berpenampilan kasar dan bertingkah sangat tak wajar. Sosok-sosok berkehidupan liar yang acapkali berkelakuan beringas. Mereka seperti prajurit kematian yang diarahkan Iblis, atau anak buahnya menuju alam baka. Wajah-wajah itu kemudian pucat pasi, beraura kosong, tak berpandangan keyakinan, tak mencerminkan sosok harapan bangsa karena kehidupan masa muda yang di anggap laknat dan keparat. Iring-iringan tak ubahnya pawai karnaval ala zombie itu bergerak perlahan menuju satu tempat di mana energi negatif berkekuatan besar sedang disinergikan, dan dikendalikan seseorang dari balik tembok kegelapan, sebuah penjara.

Jiwa-jiwa muda berlabel street punk terus bergerak bak rombongan pengerat menuju sisa-sisa bangkai binatang untuk kemudian meninggalkan tulang, tak ubahnya tikus berdasi menggerogoti kemiskinan, tak ubahnya lintah darat menghisap darah kemanusiaan meninggalkan kelaparan, tak ubahnya taburan suku bunga rentenir yang mencekik leher-leher kaum terpinggir. Dan lebih parahnya, jiwa-jiwa muda itu kian lama kian menyerupai rombongan anjing-anjing Setan yang lelah bergentayangan dan memutuskan untuk kembali pada tuannya, Sang Iblis. Cikal bakal api yang menghidupkan tempat penyiksaan di akhir zaman. Neraka, katanya.

Ritual sakral sesat yang dikendalikan dengan “Kekuatan Pikiran” melalui tehnik Spirit Conjuring itu ternyata mampu menghidupkan puluhan mahluk bertubuh mungil, berambut panjang, dan berkuku kasar tak terawat serta berwajah menakutkan karena terlihat rusak tak karuan, mahluk itulah yang di kenal dengan julukan, Jenglot. Mahluk sisa-sisa kezaliman ilmu hitam di masa silam itu seolah dibangkitkan untuk dipulihkan dari perjalanan ratusan tahunnya yang menyiksa karena langit dan bumi tak menerima keberadaan jiwa raganya yang teramat kotor. Juga nista. Konon, di percaya bahwa Jenglot adalah orang-orang berilmu sakti beraliran sesat yang hidup di zaman kerajaan-kerajaan pernah mengalami kejayaan. Jenglot berjumlah puluhan mulai merangkak di antara tanaman liar, ilalang, bebatuan dan tanah yang basah. Mereka muncul dari dalam gua-gua, dari akar-akar pohon beringin, dari celah-celah kayu pepohonan, dari makam-makam kuno tak terawat yang angker.

Suara rintihan terdengar menakutkan di malam yang mencekam. Kesakitan yang pedih dan perih terlihat pula dari raut wajah-wajah yang menyeramkan. Kepulan asap hio dan dupa meliuk-liuk bak tarian erotis menyebar ke mana-mana menjadi panggilan yang teramat disesalkan jika dihiraukan. Selain itu, beragam sesajen yang tersaji juga punya andil yang kuat untuk mendatangkan para pengikut Setan yang kehausan dan kelaparan. Puluhan Jenglot itu seolah akan mendapatkan kekuatan yang bisa mengembalikan kesaktian mereka seperti sedia kala. Apapun pasti dilakukan hanya untuk pulih kembali meskipun kebangkitan yang didambakan itu mengharuskan mereka untuk menjadi budak.

Puluhan Jenglot bergegas dan beringas menyisir semak belukar. Langkah-langkah terengah-engah itu bersemangat untuk terus mendekati lokasi ritual sakral berbau kesesatan yang sedang dilangsungkan di alam terbuka. Sementara itu, di atas langit berwajah sengit, Serupa Senyawa Yang Berjiwa yang berasal dari alam astral melayang-layang menikmati kebebasannya dengan arogan karena di summon seorang Conjuring Spirit. Kehadirannya secara tak kasat mata memaksa dan menghidupkan lengkingan lolongan-lolongan anjing yang entah datangnya dari mana itu, seolah menyoraki kedatangan sang “Master” setelah sekian lama ditinggalkan. Dari atas langit pula, sosok berkekuatan besar beraura hitam itu tertawa puas melihat puluhan jiwa muda berlabel street punk yang bergerak menuju medan kematiannya sendiri. Betapa aura yang memancar dari sosok Serupa Senyawa Yang Berjiwa itu mampu menyesatkan akal pikiran serupa pencucian otak dengan telak.

Langkah anjing-anjing Setan yang awalnya bergerak masing-masing itu kini membentuk barisan dengan sendirinya, seperti ada yang memimpin untuk berposisi tak ubahnya prajurit perang. Dan, medannya adalah gejolak berkecamuk dalam batin melingkupi hati dan nurani yang harus mereka lawan dengan sendirinya. Antara yang baik dan yang jahat, antara yang putih dan yang hitam. Seperti simbol Yin dan Yang. Namun nyatanya mereka kalah sebelum berperang, mereka bukannya kehabisan perbekalan amunisi, tapi karena sejak awal tidak memiliki pondasi kekuatan yang berdasarkan keyakinan. Oleh karenanya ruang kosong dalam relung jiwa-jiwa muda itu dengan mudahnya dirasuki kehampaan yang sangat disukai oleh Setan untuk kemudian memanfaatkan dan menguasai, seperti robot yang kemudian bergerak karena dikendalikan remote control.

Suasana di sekitar lokasi ritual sakral bernuansa kesesatan itu kini diranggas total pesona alam astral. Pohon-pohon disekitar Gunung Puntang kini terlihat menyeramkan. Dahan-dahannya menjelma bak tangan-tangan Setan yang mengulurkan bantuan menuju alam kematian, untuk kemudian menyesatkan. Serupa Senyawa Yang Berjiwa berkelebatan. Sosok menyerupai asap berwarna hitam itu bak bayangan tembus pandang. Kekuatannya memancar kuat dan dirasakan oleh sesosok Jiwa yang sedang melakukan perjalanan astral, yang raganya berada di dalam penjara. Serupa Senyawa Yang Berjiwa melayang-layang. Dan lokasi itu kini benar-benar berubah menjadi apapun itu yang menghidupkan beragam kutukan bagi siapa saja yang melihatnya karena bertentangan dengan kepercayaan yang berpondasi pada satu keyakinan. Kelebatan-kelebatan itu menjelmakan sepasang tangan berkuku panjang yang memperlihatkan kegaiban menyeramkan ketika kepala kambing itu diposisikan di ujung teratas kelebatan yang menjadi pangkal, dan menunjukkan kekuatan identitasnya menyerupai wujud Iblis klasik dalam banyak kitab di masa silam. Baphomet.

Di jalanan pinggiran kota Bandung, puluhan jiwa muda berlabel street punk hampir sampai menuju lokasi ritual sakral. Puluhan jiwa muda yang merangkak di atas kakinya masing-masing itu tak memperdulikan kondisi raga yang basah kuyup. Batin mereka kian lapar hingga jeritan menjalar dengan liar mencari makanan yang menunya sama sekali tak ternalar. Yaitu kedamaian dalam lingkungan kesesatan, di mana sebuah pengabdian adalah harga yang harus di bayar mahal karena merupakan sebuah mahar. Langit malam yang menghitam menjadi saksi mencekam kesakralan menyatunya kekuatan ilmu hitam. Dan, detik-detik penuh fenomena gaib yang tak ternalar itu mengalirkan beragam kekuatan lain hingga auranya terasa menggerayangi dan secara membabi buta bak merajam godam, memperkosa seluruh penjuru alam kota Bandung tepat pada tengah malam. Seperti munculnya cahaya menyilaukan yang berpendar ke segala penjuru di wilayah itu. Cahaya itu menghantarkan aura-aura negatif yang berpencar tak karuan namun jelas mempunyai tujuan nyata.

Seperti percikan bunga api yang kemudian berterbangan tak ubahnya binatang mencari majikan berkelakuan jalang. Dan percikan-percikan itu melesat bak kilat berkolaborasi dengan nyanyian bersimfoni. Percikan-percikan serupa Ruh beraura hitam dan berenergi negatif itu kemudian mendekati langkah-langkah jengah sekumpulan jiwa muda berlabel street punk lalu merasuk bebas tanpa pernah mereka sadari hingga jiwa-jiwa muda itu kemudian dengan mudah terkuasai. Sungguh reaksi yang menakjubkan. Dan sesaat sebelum merasuk, percikan-percikan beraura hitam itu berkelebatan menyerupai sosok reptil. Ular berwarna hitam. Benar-benar seram.

Reinkarnasi Jiwa-Jiwa
0
Lapor Hansip
12-01-2019 13:05
Di sebuah rumah mewah bergaya kuno.

Sulanjana si menak Sunda kembali merasakan sesuatu yang keparat tengah terjadi. Tubuhnya kembali berkontraksi. Ada pergolakan antara kemampuan indigonya sebagai penyeimbang alam yang aplikasinya sudah dikuasainya dengan energi negatif tak dikenal, yang dirasakannya datang dari arah eksternal. Sulanjana yang hanya mengenakan celana dalam Calvin Klein itu bangkit dari duduknya. Tubuh atletisnya nampak sempurna dengan sinkronnya keseimbangan tujuh titik cakra. Otot-ototnya seperti tempaan baja yang menandakan kejantanan, seolah memang dipersiapkan untuk menjadi kesatria peperangan. Harum parfum Channel masih melekat di badannya, dimana energi hasil olah meditasinya sudah berulang kali bertransformasi. Sekilas ia melirik jam Rolex warisan ayahnya yang melingkar di tangan kiri. Pukul dua dini hari. Sepertinya banyak gangguan bagi Sulanjana pada malam itu hanya untuk membaca ulang novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia.

Beberapa saat lalu Sulanjana membaca buku fenomenal yang menceritakan tentang sosok Minke, anak pribumi yang mampu bersekolah di HBS (Holland Burger School ) yang penjualannya best seller itu di perpustakaan pribadinya. Sulanjana menutup buku yang mengalami cetak ulang berkali-kali itu yang sedang dibacanya dengan menyelipkan pembatas halaman pada bab empat. Kali ini ia merasakan kembali kedatangan energi berhawa negatif yang memancar dengan sangat kuat yang ia sendiri tidak tahu entah dari mana datangnya. Baginya, energi negatif yang mendadak bertubrukan dengan aura dan hawa energi prana miliknya itu seolah sedang melakukan penyerangan namun dilakukan dengan cara yang lembut dan tersamarkan.

Sulanjana memakai sandal capit hitam Esprit yang biasa digunakannya di dalam kamar lalu kembali membuka tirai jendela yang bergambar Wayang Semar. Tirai yang sama dengan tirai yang berada di perpustakaan serta ruangan khusus meditasi. Dari balik jendela di lantai dua dalam kamarnya itu ia seolah mendapat instruksi dari naluri yang bekerjasama dengan relung hati, serta intuisi, hingga kekuatan serta kepekaan insting menggerakkannya untuk kembali menatap tajam hamparan langit yang menghitam itu di waktu dini hari. Tetesan air yang tak tertahankan terlihat tumpah meruah. Sepertinya hujan sedang mengguyur kotanya, kemudian Sulanjana refleks menyimpulkan, ia merasa yakin sejak awal bahwa ada kejanggalan di balik kejadian alam itu karena olah rasa dalam hatinya menghidupkan insting supranaturalnya, meretas adanya kejadian luar biasa yang berhubungan dengan ilmu hitam, dan energinya berasal dari luar bumi. Sulanjana pun bergidik, ia masih tak paham atas hukum sebab akibat dengan fenomena alam yang sedang terjadi. Ada banyak hal yang kemudian ia takuti. Tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk dari arah luar. Lalu terdengar suara seseorang dari balik pintu. Suara itu terdengar seperti sedang menahan kekhawatiran dan kegetiran yang mendalam. Suara Genta si pangaula. Ia masih mengenakan pakaian yang sama. Kesibukannya pada malam itu menyita waktunya hingga tak sempat mengganti pakaian.

“Permisi, Adang.” Sahutnya.

Menak Sunda itu membalikkan tubuhnya. Dengan cepat ia meraih kimono sutera dari atas ranjang kuno yang terdapat tiang-tiang di keempat sisinya menyerupai pilar yang menahan selembar kayu lebar penuh ukiran yang secara simbolis berfungsi untuk melindungi, dan dari atasnya menghampar sebuah kelambu berwarna putih. Sebuah ranjang bernuansa tradisional yang kental. Juga feodal. Sulanjana lekas mengenakan kimono lalu berjalan membuka pintu. Dengan perasaan yang berkecamuk ia pun segera membuka pintu. Wajah Genta yang berkeringat menjadi pemandangan mengkhawatirkan dan menambah kecemasan.

“Silahkan masuk.” Jawab Sulanjana sambil menghembuskan napas yang berat.

“Terima kasih, Adang.” Ucap Genta sambil memberikan penghormatan. Namun kedua tangannya terlihat gemetaran.

Sulanjana kembali berjalan ke arah jendela. Kembali ia menatap hamparan langit yang kini benar-benar lebat mengguyurkan hujan namun tetap saja ada hawa yang terasa panas membara.

“Ini berbahaya, Adang. Sesuatu terjadi di luaran sana. Ada energi hitam yang sedang dipergunakan dan dikerahkan. Aku merasakannya. Firasatku mengatakan demikian. Ini tidak mungkin salah. Hanya aku tidak tahu siapa pelakunya, dan di mana lokasinya, namun sepertinya dekat. Ya, dekat sekali.” Genta memaparkan kegelisahannya.

“Aku juga merasakan hal yang sama. Ini pertama kalinya aku bereaksi seperti ini. Kekuatan hitam itu tak terbatas. Auranya memancar kuat. Seperti sedang bergentayangan. Dari luar bumi. Aku takut sesuatu mengancam kota tercinta kita ini. Aku tidak mungkin tinggal diam.” Jawab Sulanjana dengan geram.

Mendadak terdengar gelegar halilintar. Cambuk-cambuk bertenaga listrik itu membelah bumi dengan kilat cahaya yang sangat menyilaukan. Sangat jarang dijumpai jika sehabis fenomena bulan purnama lalu mendadak turun hujan disertai kilatan halilintar.
Sulanjana dan Genta terperangah.

Mendadak merasuklah perasaan jengah.

“Ini sangat tidak biasanya bukan?!” Sulanjana kembali bersuara sambil menunjuk ke hamparan langit.

“Iya, Adang.” Genta menimpali sambil menatap ke luar jendela, berharap ada kode alam yang bisa diretas sebagai pencerahan.

Keduanya lalu diam tak bergeming, namun keheningan itu diranggas oleh sesuatu yang mendebarkan jantung dan mendidihkan darah Sulanjana hingga membangkitkan semangat untuk melakukan penelusuran guna mencaritahu apa yang tengah terjadi.

“Aku akan melakukan perjalanan mengitari kota Bandung. Aku akan mencaritahu dengan mendeteksi aura energi negatif yang sedang terasa kuat ini. Mungkin saja pusatnya akan kutemukan.” Ucap Sulanjana dengan penuh keyakinan.

Genta tersentak. Kedua matanya membelalak. Mendadak hatinya pun menyalak.

“Sekarang juga, Adang? Sebaiknya tunda sampai besok. Kita belum tahu dengan pasti, jangan sampai nanti Adang terluka.” Apa yang diucapkan Genta berusaha untuk menahan majikannya agar tidak bertindak gegabah.

Kedua pasang mata Genta berkedip-kedip. Bahasa tubuh itu mengartikan dirinya sedang berusaha mencari akal untuk menahan kepergian majikannya. Telapak tangan kanannya dikepalkan. Sementara Sulanjana si menak Sunda membusungkan dadanya pertanda bahwa ia memang tidak takut terhadap apapun itu yang berhubungan dengan dunia ilmu hitam.

“Aku bisa menjaga diri, Genta. Ya, tenang saja, aku tidak akan melakukannya sekarang. Besok malam aku akan menemui guru untuk membicarakan hal ini. Aku yakin, ia juga merasakan apa yang kita rasakan ini.” Kata Sulanjana lagi dengan ekspresi wajah yang masih terlihat jengah.

Pangaula itu merasakan sedikit kelegaan mendengar ucapan majikannya. Lalu ia pun cepat menimpali.

“Aku rasa besok waktu yang tepat. Biar suasana mencekam ini mereda dulu, karena aku rasa kekuatan hitam itu tidak akan digunakan untuk melakukan semacam kejahatan pada malam ini juga.” Karena merasa sangat yakin Genta pun menganggukkan kepalanya.

“Kenapa kamu begitu yakin?” Sulanjana mengernyitkan alisnya pertanda ia sedang berusaha mencari jawaban.

“Iya, Adang.” Kata Genta yakin. “Tentu saja, siapapun pelakunya yang sedang membangkitkan kekuatan ilmu yang aku sendiri belum tahu jenisnya ini akan kehabisan tenaga dalamnya karena terkuras deras hanya untuk menyatukan ilmu hitam yang dibangkitkannya, lalu dimasukkan ke dalam tubuhnya. Aku yakin, karena ini bukan ilmu hitam biasa. Auranya saja memancar begitu kuat. Itu artinya si pelaku membutuhkan energi yang besarnya luar biasa. Aku juga sangat yakin, kalau pelakunya pasti sudah menanti saat-saat ini terjadi. Si pelaku bukan orang biasa, ia pasti telah lama menimba ilmu langka semacam ini. Dan malam ini adalah puncaknya untuk menguji seberapa besar tingkat keilmuannya.”

Genta menjelaskan metode dengan database seadanya yang dengan cepat dikumpulkannya untuk mengindentifikasi kejanggalan yang sedang terjadi itu dengan apa yang dirasakannya karena mempunyai keistimewaan indera keenam, yang salah satu fungsinya adalah meretas beragam informasi pasti mengenai hal-hal gaib yang sedang terjadi, itulah psikometri dengan bantuan intuisi. Sulanjana dengan cepat memahami apa yang baru saja dijelaskan dengan akurat oleh Genta. Ia pun menghembuskan napasnya. Berusaha untuk lebih tenang karena dalam wilayah supranatural ucapan Genta terdengar begitu masuk di akal.

“Kalau begitu pasti ada semacam ritual untuk melakukan ini semua. Ah, aku ingat papan ramal Guruh, tadi dikamarnya ia merangkaikan huruf-huruf, dan kata yang terangkai adalah SESAT.” Ucap Sulanjana yang mendadak merinding. Bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya berinteraksi dengan apa yang dirasakannya.

“Itu benar, Adang. Ada ritual penuh kesesatan yang sedang berlangsung. Kini semuanya jelas. Tinggal mencaritahu siapa pelakunya, dan untuk alasan apa ia melakukannya.”

“Ah, kamu benar. Ini semua berhubungan. Beragam kejanggalan ini menemukan titik terang. Kini aku yakin jika fenomena bulan purnama yang beberapa saat lalu terjadi adalah sebagai titik yang mengawalinya.” Sulanjana dengan sigap membalikan tubuhnya. Kini kedua matanya menerawang kegelapan malam yang disertai guyuran air hujan.

“Sebaiknya besok aku ikut dengan Adang.” Kata Genta dengan penuh harap. Selain itu ia juga memang mencemaskan majikannya jika bepergian seorang diri, terlebih lagi karena perjalanan itu mempunyai sebuah misi. Dan itu bukan sembarangan misi karena berhubungan dengan dunia supranatural.

Si menak Sunda menatap tajam sosok pangaula di hadapannya itu. Dan tatapan Sulanjana itu menghunjam membuat batin Genta tersentak.

“Sebaiknya jangan, besok biar aku pergi sendirian. Sebaiknya kamu berjaga di sini.” Kilah Sulanjana sambil menatap ke arah sebuah meja.

“Aku tidak sabar lagi menunggu hari esok. Bagaimana aku bisa tidur dalam keadaan mencekam begini.” Sulanjana mengepalkan kedua tangannya. Ada amarah yang sedang ditumpahkannya.

Genta menghembuskan napasnya. Ia berusaha untuk tenang. Ia sangat kenal dengan watak majikannya yang gampang tersulut emosi jika sesuatu, apapun itu, meranggas kenyamanannya, terlebih lagi konsentrasinya.

“Aku mengerti, Adang. Mungkin saat ini tidak tepat bagi kita untuk meretas segala sesuatu yang tengah terjadi. Ini di luar kendali keilmuan yang kita miliki. Atau mungkin saat ini kita memang tidak siap untuk menghadapi semua ini.” Genta berkata dengan nada yang terdengar pelan.

Sorot mata menak Sunda itu mendadak melotot. Ia tidak suka dengan ucapan pangaulanya yang sebenarnya terdengar begitu bijaksana.

“Genta, kenapa kamu berbicara seperti itu?” Sulanjana berucap dengan nada ketus.

“Maaf, Adang.” Ucap Genta sambil menundukkan kepalanya. “Aku tidak bermaksud meremehkan segala keilmuan supranatural yang Adang miliki, aku hanya berpikir dari sisi yang lain. Mungkin saja alam semesta tidak ingin kita bertindak gegabah. Oleh karenanya, kita, terutama Adang, tidak dibiarkan meretas apapun itu yang tengah terjadi.”

Sulanjana membalikkan tubuhnya dan kini berposisi membelakangi Genta. Menak Sunda itu diam seribu bahasa. Ia sangat tahu kalau pangaula kepercayaannya memang pandai berkata bijak. Genta memang lebih mudah untuk bersikap sabar dan menelaah serta mencerna segala sesuatunya secara lebih mendalam. Mungkin itulah salah satu kelebihan atas sifat yang dimilikinya karena terlahir indigo, salah satu keistimewaan kekuatan supranatural yang merupakan pemberian atas kepercayaan alam semesta kepadanya.

“Mohon Adang untuk mengerti!” Ucap Genta lagi dengan suara yang terdengar lirih namun berkesan tegas.

Sulanjana menundukkan kepalanya. Ia berusaha meredam emosinya. Apa yang kemudian dirasakan Sulanjana bukan karena tersinggung atas ucapan yang keluar dari mulut Genta, namun atas ketidakmampuannya untuk mengetahui beragam informasi pasti tentang beragam kejanggalan bersifat gaib yang tengah terjadi. Sulanjana berusaha untuk mengalah. Ia sadar, bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.

“Baiklah, aku mengerti. Sekarang tinggalkan aku sendiri. Malam ini sudah larut sekali. Aku akan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok.” Ucapnya tegas.

“Iya, Adang. Aku permisi. Selamat malam.” Sahut Genta sambil berlalu keluar dari dalam kamar majikannya setelah memberikan penghormatan.

Lalu hening. Dan parahnya, hening itu tetap saja berbalut kengerian yang masih bergeming. Sulanjana berjalan mendekati jendela setelah mendengar pangaula kepercayaannya menutup pintu. Dengan cepat ia menarik tirai bergambar Wayang Semar untuk menutupi jendela karena tak sudi melihat langit menghitam yang sedang menangis itu. Dan malam pun dilewati pasangan menak Sunda dan pangaula itu di masing-masing kamarnya dengan perasaan yang tak karuan.

Sulanjana kemudian mencoba menenangkan diri. Ia merebahkan dirinya di atas ranjang dan kembali melanjutkan membaca buku yang sedang dibacanya ulang. Sementara itu, dalam kamar setengah bilik yang di dominasi ornamen kayu-kayuan kemudian Genta melepaskan penat. Kaos oblong dan celana pendek berwarna putih membungkus tubuh idealnya. Penerangan dari sepasang lampu petromax memberikan kesan sederhana kehidupan tempo dulu. Alas tidurnya hanya berupa dipan yang digelari anyaman samak polos kecoklatan. Beberapa buah bantal menghias menambah kenyamanan.

Ada lemari jati kaca model kuno berisi Wayang hasil pahatan kayu berukuran sedang. Di jajaran atas ada Pandawa Lima dalam kisah klasik Mahabharata. Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Di bagian tengah entah kenapa Genta hanya menyusun Semar dan Togong yang terpajang berdampingan. Sementara Gugunungan sengaja dipajang di bagian atas lemari. Wayang, yang ratusan tahun silam sejak dimulainya peralihan Hindu ke Islam sejak zaman kerajaan hingga lahirnya para Sunan digunakan sebagai media syiar dan dakwah penyebaran agama itu hingga kini masih menjadi lalakon yang dipertontonkan dan tetap mendapatkan tempat dihati masyarakat pulau Jawa pada umumnya. Salah satu warisan budaya bangsa dan negara di masa lampau yang nyatanya mendunia itu di era modern ini kerap dijadikan beberapa pihak sebagai mediator untuk mengkritik kinerja pemerintahan.

Benar-benar warisan yang tak lekang oleh zaman. Bahkan kisah-kisah bersejarah dalam pewayangan mampu mewakili masalah sosial, ekonomi dan politik di masa sekarang. Mungkin karena Wayang mempunyai nilai estetika seni yang tinggi, bagi sebagian kalangan, pewayangan adalah cermin flashback roda kehidupan. Beberapa tokoh dan karakternya sangat dipuji dan dihormati, di tanah Jawa, salah satunya adalah Semar, yang juga menjadi simbol pusaka, masyarakat yang percaya menjulukinya, Keris Semar. Pewayangan dalam pagelarannya pun selalu diawali dengan beragam ritual bernuansa sakral. Ada estetika tentang nilai mahal yang terlihat begitu kental.
Menjelang dini hari itu, Genta berusaha menyibukkan dirinya dengan menyelesaikan karyanya berupa lukisan Soekarno, Presiden pertama RI yang juga ia kagumi. Kolaborasi yang ia padupadankan dengan bahan cangkang telur asin, cangkang telur pindang dan juga cangkang telur puyuh, juga telur ayam biasa. Sebuah karya penuh semangat yang gagah dan unik di mana bahan-bahannya merupakan sampah yang ia daur ulang dengan sendirinya.

Cangkang-cangkang telur itu dipecahkan menjadi kepingan-kepingan kecil, lalu disusun sedemikian rupa pada kanvas yang biasa digunakan sebagai bahan untuk melukis sesuai keinginannya, sesekali ia juga menambahkan polesan cat air. Hasil akhirnya setelah dibingkai dengan figura dan kaca bisa bergambar pemandangan pedesaan, lautan, pusaka-pusaka daerah atau tokoh-tokoh nasional serta Wayang. Itulah salah satu kehebatan Genta yang mempunyai bakat dalam bidang seni. Beberapa hasil karyanya terpajang pada dinding-dinding bilik kamarnya. Beberapa lainnya menghias dinding-dinding bangunan utama rumah majikannya. Beberapa yang lainnya lagi ia lempar ke pasaran melalui pameran dengan harga yang lumayan.

Prestasi yang baginya luar biasa itu untuk ukuran seorang pangaula tidak lain adalah hasil proses belajar karena ingin membuktikan bahwa ia tidak jauh berbeda dengan anak-anak muda yang seumuran dengannya. Bahwa siapapun berhak untuk berprestasi. Bahwa ia pun ingin memiliki impian dan harapan. Impiannya adalah berkarya lewat seni. Dan harapannya adalah kehidupan yang layak, dalam pengertian, kelak ia ingin menciptakan dunia di mana kenyamanan yang di dapat adalah hasil kerja keras yang dengan sendirinya ia perjuangkan.

Reinkarnasi Jiwa-Jiwa
0
Lapor Hansip
12-01-2019 13:08
Selang tiga puluh menit melompati pukul tiga dini hari.

Serupa Senyawa Yang Berjiwa telah bersarang di dalam tubuh seorang Pemuda melalui perjalanan Jiwa sesaat lalu sebagai mediasi penjemputan. Puluhan Jenglot telah dipulihkan dari sakitnya selama ratusan tahun ke belakang, dan kini telah resmi menjadi anak buah dukun sakti keparat itu yang berjalan meninggalkan lokasi ritual sakral bernuansa kesesatan yang sejak lama telah dipersiapkannya. Alam sekitar Gunung Puntang yang menjadi lokasi penuh kejadian laknat itu perlahan berubah dari suasana mencekam dan meninggalkan noda yang kini terasa kelam. Dan ritual yang dilakukan Pemuda yang punya kemampuan meraga sukma dan perjalanan astral dari balik penjara itu hanya mencemarkan kenaturalan alam. Tanpa disadarinya, kekuatan masa silam yang dibangkitkannya membawa dampak luas yang besar secara negatif bagi beberapa penghuni alam astral.

Aura Serupa Senyawa Yang Berjiwa ternyata memberikan asupan semacam nutrisi pada tubuh hingga menghasilkan dan membentuk kekuatan yang baru. Salah satu penghuni alam astral yang mendapatkan asupan secara gratis itu adalah sesosok menyeramkan yang mendadak berkelebatan di atas langit. Ratu Ular bertanduk dengan dada menggelayut dari dimensi dunia bawah tanah yang dikuasai oleh Hades, Dewa Kematian. Sosok dengan tubuh bersisik hitam nan legam itu kemudian menampakkan wujud tak ubahnya serupa Hawa di hadapan jiwa-jiwa muda berlabel street punk yang telah sampai di daerah setengah hutan bernama Gunung Puntang. Jiwa-jiwa muda itu terperangah mendapati sosok cantik nan rupawan. Mulut menganga dan mata terbelalak puluhan anak muda itu berkolaborasi dengan saraf-saraf otak menghidupkan pikiran negatif.

Birahi.

Ratu Ular mendesah. Suaranya seperti sedang ingin disesah. Tubuh sintal berbuah dada busung itu hanya terlapisi selembar kain tipis dengan motif serupa jenisnya. Ular. Namun segumpal daging yang teronggok terlihat segar. Juga bugar. Membuat jiwa-jiwa muda tak kuasa ingin berkelakuan liar. Bak binatang buas melahap mangsa buruan karena lapar. Kemudian terdengar bisikan-bisikan seumpama kenikmatan yang menyesatkan. Jiwa-jiwa muda itu telah buta. Yang ada hanyalah haus dan lapar sekumpulan jiwa dalam banyak raga. Ratu Ular yang menjelma wujud serupa Hawa itu perlahan menari-nari. Gemulai. Melenggak dan melenggok. Seolah ada lantunan serta untaian nada indah yang membuatnya mampu menciptakan gerakan sensual, dan bagi siapa saja yang melihatnya begitu ampuh untuk melupakan segala macam keluh karena posisinya digantikan keinginan berpeluh.

Sungguh ramuan mujarab yang tak beradab. Juga biadab. Jiwa-jiwa muda yang terhipnotis tarian erotis berkerumun dan membentuk lingkaran. Yang kemudian terjadi adalah aktivitas nakal serta garangnya dalam bentuk bahasa tubuh untuk mengimbangi tarian erotisme Ratu Ular yang meliuk-liuk di tengah lingkaran. Jiwa-jiwa muda berlabel street punk mendadak menjelma serupa sekumpulan algojo bersenjatakan sebongkol godam yang terlumuri racun birahi bernama mazi.

Terdengarlah lolongan anjing melengking-lengking. Mungkin berkerumun dari balik pepohonan rindang. Entah berapa pasang mata anjing-anjing itu, namun sorotannya mampu menembus kegelapan dengan tatapan begitu jalang. Puluhan pasang tangan jiwa-jiwa muda itu diangkat ke atas. Jari-jemari menggerayang dalam bayang. Gerak kaki perlahan menghentak menopang tubuh berlumpur noda yang semenjak puber sudah kecanduan miras berjenis arak. Kemudian terdengar sorak. Lalu tawa terbahak. Dan antara sadar dan tidak sadar, karena pola pikir serta kesucian hati nurani sudah keruh, satu persatu mengantri dan melenguh. Meneteskan bercak-bercak kesetanan yang melepuh, tak peduli pula dengan peringatan kumandang adzan subuh. Mereka, jiwa-jiwa muda itu hanya ingin menghilangkan kolaborasi rasa haus dan lapar jiwa raga dengan bersetubuh.

Detik demi detik berestafet merangkai pukul lima pagi, dan hari baru menunjukkan diri. Tengah malam selesai bermarathon dan kini menjelang pagi hari. Usai hujan tak ada pelangi yang sudi untuk berseri. Yang ada hanya kepergian rasa ngeri. Berlari menghindari kemunculan sinar matahari, meski jika dihitung dalam satuan detik hal itu masih lama terjadi. Tanah basah itu telah menjadi ladang percabulan. Meski sebelumnya, mungkin sejak zaman penjajahan sudah digunakan sekumpulan pasukan perang yang berang sebagai ajang melepas bujang dengan meninggalkan begitu saja gadis-gadis pribumi yang menangis dalam keadaan telanjang. Tidak ada yang tahu persis karena begitu banyak fakta alur sejarah yang terbuang. Ke dalam hunian alam astral, Ratu Ular itu kemudian melebur, sementara puluhan jiwa muda berlabel street punk tertidur, dan sebagiannya mendengkur.

Lelaki yang terdampar dalam sel tahanan itu sempat dijuluki Setan Malam.

Ada yang lain dengan sorot kedua matanya yang menajam. Ia sedang berusaha mengingat mimpi indah yang baru saja dialaminya setelah meraga jiwa, dan secara bersamaan ia juga sedang berkontraksi. Ada sebentuk kehidupan lain yang berhasil menguasai tubuhnya. Ada sebentuk kemenangan senyawa yang bersemayam di dalam jiwanya yang kenyang dengan perasaan hampa dan merana. Dalam mimpinya semalam, di sebuah pegunungan, ia di datangi Serupa Senyawa Yang Berjiwa, yang menawarkan kebebasan, juga kekuatan untuk melampiaskan dendam kesumatnya. Sebuah dendam yang selama ini terpaksa ia redam. Setelah mengalami mimpi indah itu, laki-laki bertubuh kurus yang juga beranting di kedua kupingnya itu seolah mendapatkan durian runtuh, keberuntungan. Ia telah menerima apa yang ditawarkan Serupa Senyawa Yang Berjiwa itu dengan satu syarat. Bahwa ia ingin membalaskan dendamnya pada teman seangkatannya ketika berada di jalanan yang telah menyingkirkan posisinya sebagai “ketua umum” komunitas street punk karena pamornya yang bengal dan ugal. Teman yang demi seorang perempuan, telah menjebaknya dengan sebuah konspirasi picisan hingga terpaksa terdampar di sel tahanan ini. Dan ini adalah tahunnya yang kelima, tahun terakhirnya menjalani masa hukuman.

Kemudian muncul sesosok Ratu Ular yang mewakili energi Succubus dihadapannya, sosok reptil dari alam astral itu kemudian mengajaknya bersenggama, padahal beberapa saat lalu Ratu Ular itu baru saja mereguk mazi sekumpulan Street Punk.

“Apa kamu mampu memenuhi syarat saya? Apa kamu mampu, hah?!” Tanya laki-laki itu dengan geram.

Serupa Ular itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Itu hal yang mudah, wahai anak muda.” Jawab serupa Ular itu sambil menjulur-julurkan lidahnya.

“Jangan main-main, Setan!” Hardik si laki-laki itu kemudian dengan wajah beringas.

Serupa Ular itu diam tak bergeming, namun wajahnya mengganas.

“Anak muda, apa kau tidak ingat, bangsa Setan yang kau sebut itu berhasil mengusir Adam dan Hawa dari surga.” Kilah serupa Ular itu dengan sorot matanya yang menyala bak bara api neraka.

Laki-laki itu entah kenapa kemudian tersenyum. Dan mendadak tertawa lepas hingga terbahak-bahak. Apa yang terjadi kemudian adalah perjanjian mengikat sumpah. Dan perjanjian telah disepakati.

“Aku mau merokok dulu, setelah itu aku akan meraga jiwaku untuk bisa bersenggama denganmu.” Kata laki-laki itu yang mendadak membuka bajunya, dan melemparkan baju itu ke samping kiri, dimana terdapat beberapa buku usang yang begitu digemarinya, diantaranya berjudul Filosofi Bhapomet, Tradisi Kabbalistik dan Okultisme, dan Paham Paganisme.

Berpencarnya percikan bunga api yang memancar dari kekuatan Serupa Senyawa Yang Berjiwa berhasil menghasut laki-laki yang sedang mendekam dalam sel tahanan itu ke dalam kesesatan. Laki-laki yang kini sedang menyulut sebatang rokok. Laki-laki yang tak beranjak dari posisinya karena begitu menikmati setiap hisapan rokoknya itu tak sabar menanti kebebasannya yang tinggal menghitung hari. Dan hal pertama yang ingin dilakukannya adalah balas dendam pada seseorang yang bernama Parit. Nama yang aneh. Terdengar lain. Dan entah dengan alasan apa orangtuanya menamainya begitu. Bisa jadi ia adalah anak yang dibuang disekitar parit, dan orang yang menemukan lalu memutuskan untuk merawatnya, menamai anak itu sesuai dengan lokasi di mana ia ditemukan.
Entahlah.

Reinkarnasi Jiwa-Jiwa

Diubah oleh djendradjenar
0
Lapor Hansip
12-01-2019 21:57
Lanjutkeun
0
Lapor Hansip
15-01-2019 16:26
Gan, membuka rahasia langit ini bolehkah?
Karena beberapa teman indigo yang mau bercerita sama saya memilih diam ditengah jalan cerita.
katanya ada yang melarang, biarlah rahasia tetap menjadi rahasia.
Gw agak yakin ini cerita asli karena temen Indigo gw pernah ngomong kalau Zeus itu asli, dia orang yang pandai dan tekun bermatiraga sehingga diberi kemampuan khusus, atau disebut Kang Brata dan ada nama lainya tergantung daerah mana menyebutnya.
Perihal Atlantis kata temen gw lagi memang ada betulan dan masih ada sampai sekarang, dan temen gw memakai bahasa "disembunyikan sama Tuhan, karena peradbanya sangat maju dan melebihi kondisi sekarang (temen gw cerita di tahun 2013)".
Diubah oleh assasin.loki
1
Lapor Hansip
15-01-2019 17:07
Kitab Barnabas/Injil Barnabaskah?
0
Lapor Hansip
15-01-2019 18:59
Rahasia langit sebenarnya banyak dijelaskan dalam beberapa kitab suci hanya memakai bahasa metafora, yang paling terbuka ada di kitab henokh, sebenarnya saya tidak membuka sih, cuma menceritakan saja pengalaman dikasih lihat sedikit dalam waktu singkat. Benar Zeus itu ada, dan sosoknya sama aja baik di India, Mesir, Cina, bahkan Nusantara, yang beda penyebutan nama saja, kenapa beda-beda karena visual sosok tergantung budaya setempat dan siapa yang mampu melihat.
0
Lapor Hansip
15-01-2019 20:08
cerita lu selalu bagus Gen, mantap..
namun di awal2 gw masih belum bisa paham dengan kemampuan awam gw karena skala waktunya luas banget sampai ratusan ribu tahun..
trus masa nabi adam turun sejaman dengan masa Atlantean-Lumerian ya?
0
Lapor Hansip
15-01-2019 20:26
Kalo menurut pemahamanku, Nabi Adam tidak seperti yang dikisahkan di banyak kitab suci, dia kan Bapak yang membangun peradaban di bumi dan planet planet lainnya, dia manusia super, lintas dimensi, sementara di kitab cuma disebut khalifah, terus bersalah karena makan buah terlarang lalu dihukum dibuang ke bumi, heemmm
0
Lapor Hansip
15-01-2019 20:28
Lemuria itu nama Benua, Atlantis itu nama kota super canggih di Lemuria, sezaman dengan Nabi Nuh...
0
Lapor Hansip
15-01-2019 21:03
owh i see..
sekarang masuk akal maksud film.serial Legion yang menyebut Air Bah masa Nabi Nuh itu kata kiasan untuk memperlembut kejadian sebenarnya.
Ditunggu updatenya lagi Gen,mantap...
Diubah oleh assasin.loki
0
Lapor Hansip
15-01-2019 21:18
Ya pada saat itu yang diingat manusia yang selamat yang kemudian menyebar ke daratan tinggi itu cuma mengisahkan Banjir Bah, mereka belum mengenal istilah Tsunami, padahal yang terjadi itu meletusnya gunung gunung purba raksasa kayak gunung purba toba, gunung sunda, gunung tambora secara bersamaan, lalu gempa dahsyat menimbulkan tsunami, makanya Nusantara jadi kepulauan kayak sekarang, kita tinggal di daratan tinggi atau daratan puncak puncak gunung purba sebenarnya, daratan sudah jadi lautan, peninggalan kuno pastinya di dasar laut, atau terkubur tanah. Ribuan tahun kosong Nusantara ini karena menyebar ke daratan kayak Cina, Mesir, India, Timur Tengah, bahkan Amerika, di masing masing wilayah itu mereka membangun peradaban baru yang contohnya mereka lihat di Nusantara dulu yang sebagian besar tenggelam
1
Lapor Hansip
16-01-2019 10:14
mantab, numpang mampir di trit keren
0
Halaman 2 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.