Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
68
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfab7c3ded770a7728b4568/her-sahabat-dan-kekasih-bayanganku
Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.
Lapor Hansip
25-11-2018 21:54

HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku) III T A M A T

Past Hot Thread
Quote:
Halo agan agan & sista penghuni sfth. Sebelumnya semua yang ane ceritain disini pure kejadian yang ane alami sendiri. Sebenarnya dari dulu banyak teman ane yang nganjurin untuk dituangkan dalam bentuk tulisan karena menurut mereka kisah ane ini cukup unik dan absurd untuk dicerna orang-orang yang tentu blm pernah ngalamin. Partnya juga ga akan banyak karena ane cuma tulis intinya plus apa yang ane inget aja. Well, ane sangat terbuka untuk kritik juga saran agar skill nulis ane berkembang dan maaf kalo tritnya sedikit berantakan karena udh lama banget ga nulis trit. Terima kasih untuk yang sudah mampir dan selamat membaca.


HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
Quote:
Sumber gambar : mymodernmet.com



Sebelum mulai silahkan dengerin ini dulu gan biar berasa feelnya emoticon-Big Grin



Quote:“Falling in love is kind of like a form of socially acceptable insanity.”
― Spike Jonze, HER


Quote:1. Sebuah Pesan Yang Terabaikan

Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.

Kali pertama ia datang ialah ketika aku terbangun dari tidur siang yang bahkan belum berlangsung selama 5 menit. Tidak ia tidak datang ke rumahku ataupun secara spontan berada di hadapanku ketika membuka mata, tidak. Kehadirannya justru datang melalui pesan yang aku abaikan, pesan yang tersembunyi dibalik puluhan pesan lainnya dari peringatan masa aktif kartu perdana dari operator telepon selular milikku satu-satunya.

Iya w di rumah nih

Kata di atas adalah salam perkenalan yang tanpa sengaja ia katakan kepadaku. Tidak dikatakan secara langsung, melainkan melalui teks dan tentu tidak ada yang spesial dari tulisan singkat dan berasal dari nomor yang tidak kukenal, maka cukup masuk akal apabila aku abaikan terlebih waktu itu dalam sebulan aku sering mendapati pesan nyasar dari nomor yang tidak tercantum di dalam kontak. Dan kebanyakan adalah pesan penipuan atau “mama minta pulsa”.

Usai membaca kembali aku taruh ponsel murah meriahku di tempat yang asal lalu aku merebahkan badan sembari memijit-mijit kepala untuk meredam kepenatan hariku yang terlanjur terekam di otak. Aku separuh tertidur namun ponselku berdering keras, aku geram dan menyumpah orang yang menghubungi ponselku karena secara tidak langsung telah mengganggu istirahatku.


“Halo, ini siapa?” tanyaku kepada orang di balik saluran telepon dan tentunya tidak kukenal karena namanya memang tidak tercantum di kontak.


“Pake nanya lagi. Lu jadi ke rumah ga!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku terdiam lalu mengeplak jidatku. Sudah ganggu jam istirahat, marah-marah pula lagi.


“Maaf salah sambung, mbak” kataku ramah.


“Oh emang ini siapa?” tanya ia kikuk.


“Ari” jawabku lalu tanpa ia balas sepatah kata langsung ia matikan saluran teleponnya.


Sudah salah sambung, ganggu jam istirahat, ngegertak, main tutup telpon aja, tidak minta maaf pula. Kurang lebih itulah ungkapan kekesalan yang aku ingat kala itu. Aku langsung mematikan ponsel dan beranjak tidur tanpa pernah terpikir bahwa orang sialan itu akan kembali meneleponku pada malam harinya.


Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku berkerja paruh waktu sebagai operator warnet. Ya pekerjaan yang memang dianggap sebelah mata memang, tak jarang pula teman-temanku melontarkan memanggilku dengan sebutan Anwar (as known as Anak Warnet). Walaupun terkadang pekerjaanku itu mendapati cibiran, nyatanya aku tetap menggeluti pekerjaan itu sampai duduk di bangku SMA. Jika berbicara gaji, memang pendapatannya tidak seberapa untuk sebulan dan dapat kukatakan tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang aku pertaruhkan. Akan tetapi, tidak sedikitpun aku menyesal karena merupakan suatu kebanggaan untukku apabila pada umur yang semuda itu aku bisa sedikit mandiri untuk keperluan jajan sehari-hari, terlebih karena bekerja di sana aku jadi mengenal teman-teman baru dari segala usia maupun profesi baik itu anak sekolahan (SD-SMA), anak kuliahan, guru karate, bahkan seorang wartawan dan tentunya beribu kenangan tentang kebersamaan yang aku dapatkan.


Untuk hari biasa aku bekerja dari jam 14.30 – 21.00 WIB sedangkan untuk hari libur aku bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Aku lupa mengenai hari ketika perempuan itu menghubungiku untuk pertama kali, namun yang jelas ia kembali meneleponku usai aku pulang dari warnet sekitar jam sepuluh malam. Awalnya aku tidak ingin mengangkat telepon darinya, akan tetapi semakin aku diamkan nada dering keras bin norak ponselku semakin terngiang di telinga. Aku mulai menyesali perbuatanku yang menyetel musik ala ala metal sebagai nada dering.


“Ya halo, ini mbak yang tadi sore kan ya? Maaf mbak salah sambung lagi” kataku sebab aku menghafal tiga dingit angka nomor ponselnya yang mudah sekali untuk diingat.


“Engga, gue sengaja nelpon lo. Ngomong-ngomong boleh kenalan?” ucapnya, sedangkan aku hanya bergeming. Aku terdiam bukan karena ini adalah kali pertama aku mendapatkan seorang lawan bicara perempuan yang mengajak kenalan dengan frontal, akan tetapi ini adalah pengalaman pertama ada seorang perempuan yang entah darimana, mendapatkan nomorku dari siapa, dan pure salah sambung pula mengajakku kenalan. What the hell mate


“Yah nama gua masih sama seperti tadi sore, ingat kan?” tanyaku.


“Iya ingat kok, btw nama gue Ara” ucapnya kemudian ia tertawa kecil untuk memecah keheningan diantara percakapan awkward malam itu.


“Ngomong-ngomong lu dapat nomor gua darimana?” tanyaku heran.


“Ga dapat darimana-mana, orang gue aja salah sambung. Tadi gue mau telfon teman gue tapi salah satu digit makanya jadi nyambungnya ke elo” jawabnya, namun aku tidak semudah itu percaya.


“Halah, lu jangan-jangan secret admirer gua yah. Ngaku aja udah” jawabku pede, aku bisa mengatakan seperti itu karena memang waktu itu sedang ada perempuan bahkan beberapa perempuan di sekolah yang mengejar-ngejarku secara bergerilya dan membuatku tidak nyaman, akan tetapi aku tidak merespon satupun dari mereka agar tidak merusak pertemanan. Dan kabar buruknya aku sempat diberi label sebagai laki-laki gay karena sampai detik itu aku tidak merespon satupun diantara mereka.


Kemudian percakapan dilanjutkan olehku untuk bertanya mengenai asal sekolah, tempat tinggal, ciri-ciri tubuhku dan yah ditengah percakapan itu aku mulai yakin bahwa kami tidak saling mengenal dan jarak kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Akan tetapi, percakapan pertama kami malam itu benar-benar seperti orang yang sudah mengenal sangat lama sebab seiring detik demi detik berjalan pudar rasa canggung yang ada pada diri kami.


“Telfonannya sampe sini dulu yah, gue udah dipanggil ke bawah sama nyokap” ujarnya.


“Oh oke, gua juga sempet denger kok tadi walaupun agak samar. Gua juga mau mandi dan istirahat” kataku.


“Yaudah besok lanjut ya, bye

Ia menutup saluran teleponnya. Aku mengurungkan niat sejenak untuk mandi, lalu menguntal-nguntal handuk hingga menyerupai sebuah bantal lalu kurebahkan badanku kemudian melihat langit-langit kamar yang mulai berkabang. Pikiranku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku mengusap muka dan memejamkan mata setelahnya. Ara? Siapa sih dia, datang tiba-tiba macam roh yang dipanggil boneka jelangkung aja. 





Polling
14 Suara
Apakah mereka akan bertemu ? 
Diubah oleh fachreal5
profile-picture
profile-picture
someshitness dan anasabila memberi reputasi
10
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 4
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
27-12-2018 10:38
lanjut gan, seminggu 2x emoticon-Bingung
0 0
0
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
27-12-2018 11:18
lanjut gann
1 0
1
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
27-12-2018 16:58
msh sepi ya gan emoticon-Ngacir2
1 0
1
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
27-12-2018 18:52
Quote:Original Posted By papax
lanjut gan, seminggu 2x emoticon-Bingung


maunya sih gitu gan. Tapi seminggu sekali bisa update aja udah syukur emoticon-Big Grin
1 0
1
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
27-12-2018 18:53
Quote:Original Posted By angelcloud
msh sepi ya gan emoticon-Ngacir2


iya neh gan. Bantu ramein dong emoticon-Mewek
1 0
1
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
27-12-2018 23:24
Quote:Original Posted By fachreal5
iya neh gan. Bantu ramein dong emoticon-Mewek


Ku tunggu updatenya gan emoticon-2 Jempol
0 0
0
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
28-12-2018 02:44
Mantap gan ceritanya. Ebat juga itu ari bisa tahan setaun engga ketemu emoticon-Ngakak (S) tapi emang cinta pqs lagi remaja emang paling berkesan emoticon-Malu (S)
1 0
1
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
28-12-2018 09:48
Quote:Original Posted By Hanz21
Mantap gan ceritanya. Ebat juga itu ari bisa tahan setaun engga ketemu emoticon-Ngakak (S) tapi emang cinta pqs lagi remaja emang paling berkesan emoticon-Malu (S)


Iyah gan. Tapi kalo waktu itu ane udh ketemu mungkin ga ane buat story ini gan emoticon-Malu Btw thanks udh mampir dan lemparin cendol ke ane emoticon-Blue Guy Smile (S)
1 0
1
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
28-12-2018 22:08

7. HER

Yang kuat waffer silakan dengerin biar makin syahdu emoticon-Big Grin



Quote:Kalian pernah nonton film HER? Film yang dibuat tahun 2013 dan berkisah tentang seorang pria kesepian bernama Theodore yang jatuh cinta dengan Operating System bernama Samantha. Jika belum ada baiknya kalian tonton film tersebut. Kisahnya unik, begitupun dengan soundtracknya yang memanjakan telinga dan tentunya kisahnya sendiri yang mindblowing. Terhitung sudah 3 kali aku menonton film tersebut, untuk kali pertama aku nonton sendirian, untuk yang kedua bersama teman baikku dan untuk kali ketiga aku nonton bersama pacarku yang sekarang sudah menjadi mantan.

Bagi mereka kisah di film tersebut merupakan fiksi ilmiah luar biasa karena Samantha layaknya seorang manusia di kehidupan Theodore dan tak habis pikir bagaimana bisa seorang manusia jatuh cinta pada sosok yang tidak memiliki fisik, tidak pernah bersentuhan, dan tidak bisa bertemu secara ‘nyata’. Akan tetapi, bagiku kisah yang ada di film tersebut masuk akal sebab mereka tidak mempunyai kisah yang aku sendiri punya. Layaknya Samantha datang ke kehidupan Theodore, Ara juga datang kepadaku tanpa kami bakal menyangka hubungan kami seperti apa.

Setelah Ara mengetahui fisikku yang tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan nyatanya sedikitpun ia tidak menjauh. Aku jadi berpikir, mungkin aku hanya terlalu minderan hingga apa yang nyatanya aku pikirkan tidak sama dengan yang dipikirkan oleh orang lain. Kami justru menjadi semakin intens dari hari ke hari. Tak jarang ia menelponku hanya untuk mengingatkanku untuk beribadah disela waktu yang aku habiskan untuk bersenang-senang, mengingatkanku untuk tidak terlalu sering tidur hingga dini hari hanya untuk menonton drama Boys Before Flower asal negeri ginseng yang kala itu sedang fenomenal dan menjadi bahan perbincangan bahkan dikalangan laki-laki. Terkadang tanpa perlu diminta ia membangunkanku pagi-pagi sekali dengan alibi ia menyukai suaraku yang terdengar sangat berat dan terkadang ngomong ngelantur saking mengantuknya.

“Ari lo ga tidur lagi kan?” tanyanya ditengah obrolan pagi hari. Kelopak mataku sudah tertutup setengahnya dan suaranya semakin samar.

“ARIIII!!! TIDUR LAGI GUE SIRAM LOO!” serunya lantang, aku terbelalak karena jika ia teriak suaranya cempreng sekali.

“Siram aja sini, ehehehe” kataku menggoda walau mata masih sangat mengantuk.

“Dah sana mandi” ucapnya

“Iya, makasih yah udah bangunin” kataku

“Makasih aja?”

“Makasih ya Ara udah bangunin. Muaahhhh” ia tertawa.

Semakin lama hubungan kami semakin membingungkan. Kami saling memberikan perhatian dan peduli satu sama lain layaknya sepasang kekasih hanya saja tidak menyebut kata Aku dan Kamu ketika kami berkomunikasi. Aku mengenal sahabatnya begitupun ia yang mengenal sahabatku, sesekali sahabatku bercengkrama dengannya begitupun sebaliknya bahkan sampai saling bertukar nomor. Terkadang jika dia menelpon dimana disitu ada sahabatku maka aku pasang mode loudspeaker hingga kami mengobrol ramai-ramai, namun nyatanya tidak hanya aku karena terkadang ia melakukan hal yang sama ketika sedang berkumpul dengan sahabatnya. Namun ketika masing-masing dari sahabatku bertanya mengenai status hubungan aku dengannya maka aku hanya tersenyum kikuk dan membiarkan mereka ingin memanggilnya apa.

Di masa itu Ara mungkin adalah satu-satunya orang yang dapat mengertiku dan menemaniku dikala waktu sepi. Ia adalah pendengar setia setiap ceritaku dan hanya kepadanya aku tidak khawatir untuk bercerita mengenai apapun, orang yang mempercayaiku ketika orang lain merasa putus harapan denganku. Aku ingat ketika ia rela mengisi saldo pulsa nya di tengah malam ketika sambungan telepon kami terputus dan keduanya tidak memiliki saldo lagi untuk saling bercengkrama.

“Halo, maaf gue ngilang agak lama. Jam segini susah juga cari konter pulsa” ucapnya, nafasnya sedikit terengah-engah.

“Eh seriusan lo jam segini keluar buat beli pulsa?” tanyaku keheranan

“Iyah, kalo engga. Ga mungkin gue nelpon lo lagi”

“Kan bisa diterusin besok” kataku

“Kalo diterusinnya besok lo pasti bakal lupa. Lagipula lo lagi butuh teman cerita kan? Gue tau lo lagi drop, so ceritain aja hal yang mau lo ceritain. Lo gak harus ngerasa malu toh kan cuma kita berdua yang tahu lagipula cowok yang curhat itu bukan berarti mereka lemah kok dan justru malah bahaya kalo dipendem terus” ujarnya meyakinkan.

“Oke, ngomong-ngomong thanks sebelumnya”

“Its been honor, ri”

“Gue akan selalu ada buat lo. Ingat itu” tambahnya, aku tersenyum.

Tak jarang pula Ara meminta bantuanku untuk berpura-pura sebagai pacarnya apabila ada lelaki lain yang mupeng ingin mengajaknya ngedate atau mengungkapkan rasa suka kepadanya. Bahkan pernah sekali ia memintaku untuk menelpon orang yang tak sengaja ia telpon karena ia mengetik angka yang berbeda satu digit ketika ingin menelponku. Sejujurnya aku sedikit keberatan dan sering menolak permintaan aneh nya itu, akan tetapi ia selalu mempunyai cara untuk membuatku luluh dan bersedia repot untuknya.

“Assalamualaikum, dengan siapa saya berbicara?” ucap seorang pria ramah dibalik sambungan telpon yang tanpa sengaja Ara telpon.

“Ehm, ya halo. Mas, tadi pacar saya nelpon yah? Maaf kalo dia menganggu” kataku kikuk

“Oh iyah mas gapapa. Tadi pacar mas emang telpon saya dan gataunya salah sambung” jawabnya

“Oh oke, dia gak ngomong yang aneh-aneh kan mas?” tanyaku

“Hahaha, sama sekali engga kok mas. Pacar mas juga tadi ngomongnya sopan dan baik-baik aja kok” jawabnya

“Oh hahaha okedeh mas, sekali lagi maaf yah seandainya dia ganggu waktu mas” kataku lagi

“Iyah gapapa kok. Tenang aja” pria itu mengucapkan salam dengan ramah dan telpon ditutup.

*********

“Udah gue telpon ya orangnya” kataku kepada Ara

“Yey, makasih. Lo bilang gimana ke orangnya?” tanyanya penuh ingin tahu

“Ya gue bilang aja kalo gue ini pacar lo” jawabku, ia tertawa renyah.

“Untung orangnya sopan, coba kalo tengil. Bisa berantem kali tuh” tambahku lagi

“Iyah sopan banget. Ampe ngucapin Assalamualaikum juga. Kalo lo mah boro-boro” hardiknya

“Ya kalo gue ucapin Assalamualaikum nanti lo kepanasan lagi” hardikku

“Yee, emang gue setan”

“Ya emang.Apalagi kalo udah ngambek, setan juga minder kali sama lo HAHAHA” jawabku meledek penuh kemenangan

“Ngomong-ngomong lo masih inget ga waktu kita marahan sampe sebulan waktu itu?” tanyanya

“Yang mana yah? Yang gue inget kejadian waktu lo ngambek sampe sebulan” kataku, menyinggung

“Lo ngeledek lagi gue ngambek, beneran” ucapnya serius

“Hahahaha iye iye. So, ada apa emangnya? Gue tau lo kangen guekan selama durasi ngambek lo itu” kataku

“Hmmm.....” Ia menggumam, aku mulai khawatir nenek lampir ini ia akan mengambek lagi

“Jadi, waktu gue sama sekali ngehubungin lo itu sebenernya gue juga lagi deket sama cowok. Kita udah beberapa kali jalan bareng, orangnya baik dan ya bisa dibilang ganteng juga dan jujur gue nyaman sama dia” ujarnya

“Terus?” tanyaku santai tanpa ada perasaan cemburu sedikitpun

“Iya jadi waktu itu dia sempet nembak gue dan.............”

“Gue tolak”

“Eh bentar-bentar kenapa lo tolak? Bukannya cowok ganteng, baik, dan bisa bikin nyaman itu idaman para cewek ya. Dia miskin, cabul, apa gimana ampe lo tolak gitu?” tanyaku penuh keheranan

“Engga bukan. Bukan karena itu” sanggahnya

“Terus kenapa?” tanyaku lagi penuh ingin tahu

“Karena pas dia nembak gue kepikiran lo. Entah kenapa gue kebayang sama lo dan ngerasa disitu ada lo yang lagi merhatiin gue” ujarnya, aku terdiam dan tidak mengucapkan sepatah katapun usai mendengar jawabannya

“Ra, lo terima aja. Gue ini cuma teman bayangan lo. Lo punya pacar pun kita masih berteman kok, beneran” kataku meyakinkan

“Menurut gue lo bukan sekedar teman bayangan ri. Lo itu nyata di kehidupan gue dan gue harap...........” ia terdiam tidak meneruskan ucapannya

“Apa?” tanyaku singkat

“Lo juga ngerasa gue bukan sekedar bayangan di kehidupan lo” ucapnya, aku tersenyum.

“Jadi kapan kira-kira kita bisa ketemu?” tanyanya lagi, aku menghela nafas.

“Nanti, pasti” kataku singkat



To be continued....
Diubah oleh fachreal5
3 0
3
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
29-12-2018 11:33
Ijin nyimak cerianya gan, keep update ye
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
06-01-2019 22:45

8. Could You Be Mine ?

Quote:
Quote:Ketika pertama kali melihatmu. Aku tersenyum dan kamu juga tersenyum kepadaku. Seiring berjalannya waktu perlahan aku mencintaimu dan kuharap kamu juga menyimpan perasaan yang sama kepadaku. Semoga kita tidak akan terpisahkan, bagaikan lagu dengan melodinya.

Kutipan kalimat diatas adalah secercah kepingan surat darinya yang dapat kuingat. Ia tidak mengirimkan surat tersebut ke rumahku hanya saja ia menuliskan surat tersebut untuk tugas sekolah dan mengaku bahwa sejatinya apa yang ia tuliskan pada secarik kertas itu memang tertuju kepadaku. Ketika ia dikte mengenai isi surat tersebut sejatinya aku sempat menulisnya dan masih kusimpan hingga sekarang begitupun dengan mp3 player yang menyimpan kenangan tentang dirinya. Hanya saja aku lupa menaruh kedua benda tersebut dimana namun aku yakin benda itu masih berada disuatu ruang yang aku tempati sekarang.

Dua tahun berlalu semenjak momen perkenalan yang absurd itu dan ya aku masih belum bersedia untuk menemuinya selain dikarenakan tabunganku yang terkuras nyatanya terdapat hal lain yang entah mengapa aku segan untuk menemuinya. Ia sudah menerimaku apa adanya namun entah mengapa selalu ada sesuatu yang mengganjal yang aku sendiri tidak mengerti. Koleksi suaranya nyanyiannya semakin banyak memadati penyimpanan mp3 playerku, namun tidak satupun aku hapus walau ia sendiri memohon untuk menghapusnya apabila suaranya mendadak fals ditengah ia bernyanyi.

Malam itu, hari sabtu sekira pukul delapan malam ia menelponku untuk menceritakan sesuatu mengenai kesehariannya. Aku colok chargeran ponselku sebelum mendengarkan suaranya dari jauh sana, dua tahun mengenalnya membuat baterai ponselku “hamil tua” dan menjadikanku budak colokan apabila ingin mendengarkan ceritanya. Disisi lain aku mulai was was apabila ponselku meledak disela pembicaraan karena waktu itu memang ada berita tentang seseorang yang meninggal seketika karena bertelponan sambil ngecas dan membuat ponselnya meledak. Tapi tak apa karena setidaknya sebelum aku mati aku mendengarkan suara seseorang yang mulai kucintai. Terdengar naif namun memang itulah yang ada dipikiranku saat itu.

Aku disambut dengan suara cempreng dari balik ponsel, ia terdengar bahagia entah karena hal apa. Kami mulai pembicaraan dengan basa-basi sederhana yang topiknya tidak jauh dari keseharian kami berdua, musik hits yang baru dirilis dan tentunya saling menggoda.


Quote:
apalah arti cinta bila aku tak bisa memilikimu
apalah arti cinta bila pada akhirnya takkan menyatu
sesulit inikah jalan takdirku yang tak inginkan kita bahagia
bila aku tak berujung denganmu
biarkan kisah ini ku kenang selamanya
Tuhan tolong buang rasa cintaku
jika tak Kau ijinkan aku bersamanya



Penggalan lirik lagu Apalah Arti Cinta dari grup band SHE adalah lagu yang ia bawakan kepadaku malam itu. Sebelum ia membawakan lagu tersebut sejujurnya aku tidak tahu bahwa lagu tersebut memang ada dan sempat mengira bahwa penggalan lirik serta melodinya adalah buah ciptaannya, aku serta merta tidak mengetahui lirik serta bagaimana cara lagu tersebut dinyanyikan akan tetapi entah mengapa aku juga ikut bernyanyi bersamanya. Ketika ia bernyanyi memang biasanya hal magis dapat terjadi.

Ia berkilah bahwa lagu tersebut mempunyai makna yang berhubungan dengan kami berdua namun aku tidak percaya sebab acapkali ia menyanyikan sesuatu sudah pasti ada maksud tersembunyi yang tidak ia katakan kepadaku dan biasanya akan terjawab di kemudian hari.

“Ngomong-ngomong seandainya gue udah ga ada lo bakal ngerasa gimana?” tanyanya ditengah obrolan dapat kurasakan atmosfir pembicaraan kami menjadi serius

“Ya pasti ngerasa kehilangan dan sedihlah” jawabku

“Kenapa, guekan cuma teman bayangan lo?” tanyanya lagi

“Lo mungkin emang teman bayangan tapi dibanding teman real gue, mungkin cuma lo yang lebih ngerti gue. Yah disisi lain gue masih ga ngerti kenapa tuhan memperkenalkan kita dengan cara yang absurd kaya gini, seriusan gue ga ngerti” kataku sembari mengernyitkan dahi

“Ya mungkin suatu saat akan terjawab makna semua ini” ucapnya. Aku mengangguk “Ya, who knows ra”

“Kalo lo sendiri gimana seandainya gue yang pergi?” tanyaku

“Jawaban gue kurang lebih sama kaya lo kok. Kalo lo pergi udah pasti gue bakal kangen kegiatan kita yang suka ngobrol ngalor ngidul sampe tengah malem, nyanyi bareng, banyolan kita, tingkah lo yang ngeselin dan ya gue pasti bakal kangen ketika dimanjain lo pas gue lagi sakit terutama suara ngorok lo yang dibuat kaya babi ternak demi buat gue ketawa hahaha”

“Oke nanti kalo kita udah ga berhubungan gue kirim aja yah babi ternak ke rumah biar lo bisa terhibur” sahutku, ia kembali tertawa

“Menurut gue lo unik ri and thats why gue takut kehilangan lo” ujarnya

“Ngomong-ngomong telponannya gue jeda dulu ya, gue ada urusan. Oh iyah jangan kemana-mana ya gue bakal nelpon lo lagi karena ada sesuatu yang mau gue omongin”

Sambungan telpon ia matikan, ruanganku kembali sunyi kemudian kuambil buku yang kugunakan untuk menungkan isi surat yang tadi Ara ucapkan. Kusobek lembar kertasnya dan kulipat serapih mungkin lalu kuselipkan di dompet loreng milikku bersama dengan foto dirinya yang sudah jauh-jauh hari aku cuci di percetakan.

Kurebahkan badanku kepada kasur yang pada masa itu masih sangat empuk dan tidak ada kawat yang mencuat keluar tidak seperti sekarang. Aku topang kepalaku dengan kedua tangan, tatapan mataku anteng menatap langit-langit kamar yang kembali berkabang dan cahaya lampu yang semakin temaram hari-kehari. Perlahan aku mulai memikirkan pertanyaan yang ia lontarkan via telpon tadi, pertanyaan yang sampai detik ini tidak aku sukai apabila temanya menyangkut tentang sebuah perpisahan.


Quote:Jika ia pergi mungkin aku akan kembali berkarib dan berceloteh ria dengan teman setiaku yang bernama kesepian.


Suara nada dering ponsel sukses membangunkanku dari lamunan yang muram. Aku cabut chargeran ponselku sebab aku bosan untuk berbincang dibawah colokan. Kujawab panggilan masuknya, namun suaranya tidak seriang tadi. Ia menjadi serius dan aku tidak suka sebab seringkali keseriusannya membuatku bertanya-tanya.

“Hey sorry ya tadi kepotong, ngomong-ngomong kayanya kita gabisa telponan sampe larut nih karena gue masih ada urusan yang perlu dikelarin” ucapnya

“Oke gapapa. So, jadi hal apa yang mau lo omongin?” tanyaku langsung menuju topik bisa kudengar seketika ia menarik nafas panjang dan mendehem sebelum berbicara seakan terdapat sesuatu yang membuatnya ragu.

“Sejujurnya gue ga tau harus mulai darimana” ucapnya, aku semakin serius dan pikiranku semakin dipenuhi pertanyaan pertanyaan yang mengganggu.

“Apapun itu bilang aja ra, kan lo sendiri tadi yang bilang mau ngomongin sesuatu” kataku

“Emmmm........................”

“Mmmmmmmmm...........................................”

(Ia masih bergeming sedang aku tidak bertanya)

“Lo mau gak jadi pacar gue, walau lo sendiri ga pernah ketemu gue” ucapannya sontak membuatku memuntahkan kopi yang tengah kuseruput.

“Fak” umpatku spontan ketika mendapati air kopi menciprati ubin kamar dan baju

“Eh lo ngomong apa deh?” tanyanya usai mendengarkan umpatanku

“Gue gatau harus jawab apa ra” kataku, masih kuingat betul betapa bingung dan dilemanya diriku saat itu

“Kita tuh kenal udah lama tau. Udah dua tahun” ujarnya lagi meyakinkan. Aku mengernyitkan dahi, ragu untuk mengatakan sesuatu.

“Gimana?” tanyanya lagi, aku tarik nafasku dalam-dalam.

“Oke, tapi beneran deh ra ini cukup absurd buat gue cerna” kataku

“Gue sayang sama lo ri” ucapnya singkat namun dapat kurasakan apa yang ia ucapkan berasal dari hatinya. Ya, maaf apabila sok tahu namun kala itu memang seperti itulah penalaranku.

“Gue juga, Ara” balasku

Ia tertawa namun tidak kencang, walau tanpa bertatap muka dapat kurasakan rona kebahagiaannya. Setelah percakapan itu ia tidak banyak berkata-kata begitupun denganku.

“Okay, udahan dulu yah telponannya. Aku mau lanjut ke bawah buat selesain urusan” ucapnya, aku terbelalak ketika mendengarkan kata Aku.

“Ra. Ini langsung pake aku kamu?” tanyaku gelagapan

“Yaiyalah, kan kita udah pacaran” jawabnya

“Ooo.....okeeyyyy” ucapku yang masih berusaha mencerna ke-absurd-an ini

“Yaudah kita lanjut besok yah. Aku udah dipanggil sama mamah. I love you, muachhhh”

Sambungan telpon kembali ia matikan dan meninggalkanku yang tengah dilanda kebingungan. Bagaimana bisa manusia menjalin suatu hubungan khusus tanpa bertatap muka? Aku tak habis pikir bagaimana hubungan ini kedepannya. Walau bagaimanapun memang beginilah kisah yang pernah kualami dan kucoba tulis dengan apa adanya.




To be continued....
Diubah oleh fachreal5
5 0
5
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
06-01-2019 23:49
Jan og,aneh etdaaan nggk pernah pethuk kok jadian emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
2 0
2
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
07-01-2019 11:30
Lucu gan ceritanya. Lanjutin sampek tamat emoticon-Wakaka
1 0
1
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
07-01-2019 12:34
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
2 0
2
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
07-01-2019 17:10
Quote:Original Posted By cakrawala.senja
Jan og,aneh etdaaan nggk pernah pethuk kok jadian emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak


mangkanye gan. Ane aja sampe sekarang masih ter herman herman sendiri emoticon-Hammer2
0 0
0
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
07-01-2019 17:11
Quote:Original Posted By sempak07
Lucu gan ceritanya. Lanjutin sampek tamat emoticon-Wakaka


siyapp gannn emoticon-Cool
0 0
0
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
07-01-2019 17:51
kelihatnya Back Hole masih kecil tuch gan.. Selera ente bgs juga.
1 0
1
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
18-01-2019 21:45

9. Lover Over Phone

Quote:Beberapa tahun yang lalu aku pernah membaca sebuah artikel yang menuliskan bahwa setiap orang yang jatuh cinta pasti memiliki sebuah hawa nafsu yang membuat mereka dapat menyatu. Aku tidak menampik artikel tersebut karena setelah beberapa kali berpacaran dengan orang yang ‘real’ memang aku merasakan sebuah nafsu mengenai fisik orang itu yang membuatku tertarik dan ingin mendapatkan orang tersebut. Namun pertanyaannya bagaimana aku dapat jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan yang spesial dengan orang yang bahkan wajahnya terkadang samar untuk digambarkan dalam pikiranku dan tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Dan bagaimana pula aku bisa nafsu dengan perempuan itu.

Teruntuk kalian yang sudah mengikuti kisahku dari awal sampai sejauh ini mungkin akan bertanya-tanya bagaimana cara kami berpacaran namun tidak pernah bertemu. Namun jika kuboleh berpendapat kisahku dengan Ara mungkin adalah yang paling unik dan dapat kukatakan lebih spesial dibanding kisahku dengan perempuan-perempuan lain yang pernah kukencani, entah kenapa aku bisa berkata seperti itu namun seiring berjalannya waktu perlahan aku mulai paham kenapa hubungan percintaanku dengannya terasa begitu spesial. Jawabannya adalah karena kami tidak saling menuntut dan berusaha untuk mengubah satu sama lain, sebab baik dan buruknya pasangan adalah bagian yang dimana perlu kami terima. Kami saling membimbing untuk menjadi lebih baik namun tiada paksaan untuk merubahnya sesuai dengan keinginan kami masing-masing. Kami menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing apa adanya dan saling mencintai sebagaimana mestinya. Setidaknya itulah inti jawaban yang aku temukan.

Walau pada awalnya aku merasa sangat awkward dengan status kami yang sudah naik kasta melebihi level sahabat, seiring berjalannya waktu aku mulai menerima dan menjalani hubungan tersebut layaknya seorang kekasih yang resmi. Berbagai candaan dan pertengkaran tentu menjadi corak yang mewarnai hubungan kami namun seberapa hebat pertengkaran yang kami alami pada akhirnya kami balik kepada tempat yang sama dan singgah kembali disana.

Biarpun keras kepala nyatanya Ara adalah orang yang pengertian. Ia tidak keberatan apabila jadwal telponan yang sudah dijanjikan harus tertunda karena aku mempunyai kegiatan sosial lain begitupun sebaliknya sebab kami sadar bahwa setiap orang memiliki kehidupan lain di luar sana yang perlu dinikmati. Akan tetapi walaupun aku sangat menikmati hubungan spesialku dengannya terkadang aku minder apabila lingkaran pertemananku sedang membicarakan tentang kekasihnya masing-masing. Biasanya apabila pembahasan itu ingin dimulai maka perlahan aku akan mundur dan berusaha keluar dari topik tersebut sebab mereka memiliki sesuatu yang nyata dan dapat dipamerkan wujudnya, sedangkan aku justru merasa asing dan menggenggam erat ponselku karena di dalam ponsel itulah kekasihku berada. Perlahan aku terasa terasing dan merasa berbeda jika dibandingkan dengan hubungan percintaan manusia normal lainnya. Pun walau begitu aku masih kekeuh untuk tidak menemuinya dulu.

Malam hari apabila kami sedang berkomunikasi biasanya aku menelponnya di teras rumah sedangkan dia di balkonnya dan kami saling menatapi bulan, tempat dimana pertama kali kami dipertemukan. Terkadang kita juga janjian untuk makan dengan menu yang sama, saling suap-suapan ‘goib’ dan mengomentari makanan yang sedang kami cicipi. Aku sendiri sering menyebutnya sebagai dinner goib. Karena apabila ada orang lain yang melihatnya, maka di tempatku hanya ada meja bundar berukuran kecil, dua buah kursi dimana yang satunya untuk kududuki sedangkan satunya tentu kosong karena ditempati oleh sosok Ara yang tengah kuvisualisasi tak lupa juga dengan ponselku yang selalu dalam mode loudspeaker apabila kami sedang dinner.

Adapun jika kami sudah mulai mengantuk untuk melanjutnya pembicaraan maka kami rebahkan tubuh kami ke kasur masing-masing, lalu membayangkan seolah-olah kami berada di ranjang yang sama dan saling bertatap muka satu sama lain.

“Kamu tidur di sebelah mana?” tanyanya

“Di sisi kanan kasur. Kenapa?” sahutku

“Oh oke, kalo gitu aku tidur di sisi kiri yah” ucapnya

“O..okey. Emang kamu mau ngapain deh?” tanyaku yang sedang keheranan

“Lagi ngebayangin seolah-olah kamu tidur di samping aku dengan posisi wajah kamu yang lagi ngeliatin aku” jawabnya, aku tersenyum.

“Oke, sekarang aku juga lagi membayangkan lihat wajah kamu dan elus-elus rambut kamu”

“Thank you for always being by my side until now. Im lucky to know you. I love you” bisiknya

“Me too” balasku

“Ngomong-ngomong kamu pernah cium kening cewek?” tanyanya

“Belum sih. Kenapa?” tanyaku

“Really?” tanyanya terkekeh

“Yup” jawabku

“Cium aku dong” pintanya, sontak mataku langsung terfokus kepada layar ponselku dan dengan polos aku mencium benda tersebut

“Muahhh..... Udah yah” disini logika ku mulai terbangun dan menyadari bahwa apa yang sedang aku lakukan tentu sudah di luar nalar

“Makin lama kita makin keliatan kaya orang gila yah” kataku kikuk, ia terkekeh.

“Yah namanya juga orang lagi jatuh cinta. Hal yang diluar nalar aja terasa masuk akal” jawabnya enteng

“Hahaha iya sih, ngomong-ngomong apa kamu menikmati hubungan kaya gini?” tanyaku

“Ya aku menikmati, sangat menikmati malah walaupun entah suatu saat kita bakal bertemu apa engga yang jelas cerita kaya gini ga semua orang punya dan seandainya suatu saat kamu ceritain hal ini ke orang lain aku yakin mereka ga akan langsung percaya. Cerita kita terlalu aneh untuk orang lain cerna” ucapnya, aku mengangguk kecil dan tanpa terasa aku memeluk guling semakin erat.

Percakapan kami malam itu ditutup oleh sebuah lagu Nyanyian Rindu ciptaan Ebiet G Ade yang kami nyanyikan bersama dan kusudahi sambungan telepon kami ketika ia sudah tidak mengeluarkan sepatah kata kecuali suara nafasnya yang masih dapat terdengar oleh telinga.

“Sleep tight, ra” bisikku, ia sedikit meresponnya dengan lembut lalu setelahnya ruanganku kembali sunyi tanpa suara.

Terkadang apabila logika ku sedang tersadar tak jarang aku tertarik untuk mendekati perempuan menarik dan terlihat nyata yang ada disekelilingku. Namun sejauh apapun niatanku untuk mendekati perempuan lain perasaanku kembali pulang ke tempat yang sama, tempat sama yang pintunya masih terbuka lebar untuk aku singgahi yang bernama Ara.

Kerabat karibku yang mengetahui kami tengah berpacaran semakin gencar menyuruhku untuk menemuinya, sedangkan keluargaku sendiri menganggap bahwa hubungan kami adalah sebuah lelucon. Ingin aku menemuinya akan tetapi tabunganku masih belum cukup terlebih terdapat hal yang selalu mengganjal batinku. Hal yang tidak dapat kujelaskan dan kini menjadi sebuah pelajaran. [/size]


Quote:Hingga pada akhirnya tanpa kusadari apa yang aku khawatirkan sudah memulai perjalannya dan menunggu untuk kusambut apabila ia telah datang. Sebuah kedatangan yang kubenci sampai detik ini dan tidak pernah kuharapkan.



To be continued.......
Diubah oleh fachreal5
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
21-01-2019 14:09
Quote:Original Posted By lanaya41
Lanjuttt gan penasarann


siap gan. Makasi juga udh setia ngikutin story ane emoticon-Shakehand2
1 0
1
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
04-02-2019 23:16

10. Watch Over You

Video musik dibawah ini adalah lagu terakhir yang Ara bawakan pada malam menjelang perpisahan kami.


Alter Bridge - Watch Over You



Quote:Kalau boleh jujur sejatinya bagian terakhir dari kisah ini adalah bagian tersulit untuk aku tulis. Selain karena ingatanku yang mulai memudar untuk merangkai kepingan-kepingan memoriku dengannya yang telah usang dirayapi waktu, nyatanya usai kisahku dengannya berakhir aku memang memilih untuk tidak terlalu mengingat rangkaian memori pahit yang terpaksa ditutup oleh salam perpisahan. Ya, perpisahan adalah sebutan untuk tamu yang tidak pernah kuharapkan kedatangannya dan masih kubenci sampai sekarang.

Kami berpacaran kurang lebih selama satu tahun dan selama waktu tersebut dialah sosok yang menjadi pengisi hari-hariku, yang menjadi penyemangat ketika pagi jua orang yang menyambut hangat usai aku kembali, orang yang senantiasa mendengarkan cerita serta keluh kesahku, teman sharing mengenai mata pelajaran ketika musim ujian serta teman untuk menampung curahan masalah kami masing-masing, teman untuk mendiskusikan hal yang kebanyakan tidak penting, dan tempatku bersandar walau pada kenyataannya aku hanya bersandar pada dinding ketika risau.

Quote:
Menurut kamu yang benar paralon, palaron atau plaron?”

“Palaron” jawabnya

“Salah, yang benar tuh paralon” balasku

“Palaron ih yang bener”

“Paralon tau”

“Palaron!!!”

“Salah. Yang bener tuh palaron!!”

“Tuhkan kamu aja nyebutnya palaron tadi hahaha”

“Lidahku kepleset itu”

“Halah alesan”

“Yaudah deh aku milih plaron aja”


Percakapan kami tersebut adalah salah satu contoh kecil yang menjadi tema diskusi atau debat kami. Tidak penting? Tentu. Akan tetapi justru hal-hal receh seperti itu yang membuat hubungan kami tidak membosankan walau tidak pernah bertemu. Tidak hanya itu, setiap malam kami juga kompak untuk memandangi langit untuk melihat bulan dan rasi bintang lainnya, namun tidak ada rasi bintang lain yang terlihat selain pada pertengahan bulan Juni .

Kala itu menjelang setahun usia’ hubungan spesial’ kami, aku merasakan beberapa perbedaan sikap pada Ara. Terkadang ia menjadi dingin, obrolannya terasa datar, dan pada suatu waktu juga menjadi sangat manja seolah tidak ingin ditinggalkan dan pada masa itu aku merasa ia layaknya sedang bertempur dengan dirinya sendiri. Bertempur antara ingin tetap bersamaku atau pergi dan memulai hidup baru dengan lelaki lain, atau mungkin terdapat pertarungan lain yang pada waktu itu aku tidak ketahui. Ia juga menjadi lebih sering ketiduran ditengah pembicaraan dan tak jarang aku mendapati suaranya yang tengah kelelahan. Untuk lagu yang ia bawakan juga temanya tidak jauh mengenai penyesalan dan perpisahan sebut saja lagu Kesempatan Kedua dari Tangga dan October – nya Evanescence, ia seakan memberikan pesan tersirat kepadaku bahwa ia tidak bisa berlama-lama lagi bersamaku namun aku tak kunjung menyadarinya.

“Seandainya besok aku pergi dan ga pernah balik lagi ke kamu apa yang bakal kamu lakuin?” tanyanya ditengah obrolan kami yang berlangsung pada malam hari, sebelum menjawab aku seruput kopi cappucino miliku yang mulai dingin karena beberapa kali ditiup oleh angin malam di teras rumah

“Pergi nemuin kamu, mikirin kamu, dan ga tertutup kemungkinan aku bakal galau seharian. Kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu?” jawabku

“Dan seandainya kamu galau seharian tapi aku gabisa nemenin kamu lagi apa yang bakal kamu lakuin?” tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu

“Hemmm, yah paling aku bakal mengenang kamu dan dengerin ulang semua suara nyanyian kamu yang udah aku rekam”

“Kalo ternyata hal itu tetap gabisa nolong gimana?” tanyanya lagi serius

“Mungkin aku akan mengenang kamu lebih dalam” jawabku tersenyum

“Ngomong-ngomong kamu belum jawab pertanyaanku” tambahku

“Gapapa, aku selalu berpikir bahwa setiap pertemuan bakal ada perpisahan dan sometimes aku berpikir apa yang bakal terjadi ketika kita gabisa berhubungan satu sama lain lagi. Aku takut ketika udah ga ada kamu maka ga ada lagi orang yang bisa ngehibur aku dan sabar banget ngehadapin aku walaupun pada kenyataannya kamu juga nyebelin” ujarnya kemudian tertawa.

“Every ending is a new beginning, darl. Kamu pasti bakal ketemu orang yang lebih dari aku dalam segala hal dan tentu bener-bener bisa ngejagain kamu. Andai bukan aku, pasti ada orang yang tepat buat kamu yang lagi menunggu ato berjuang buat bahagian kamu” kataku sok bijak

“Kalau bukan aku, aku harap kamu juga menemukan orangnya” balasnya
Malam itu setelah sambungan telpon ditutup ia mengirimkan sebuah pesan singkat kepadaku dimana biasanya tidak ada percakapan lagi usai telepon ditutup.

Quote:
Selamat tidur yah sayang. Love you, muach
Selamat tidur juga. Mimpiin aku yah =)
Uwek


*****


Tidak banyak percakapan penting yang kami lakukan ketika musim ujian. Kami tetap rutin bertelponan pada malam hari namun kebanyakan temanya adalah saling mendikusikan mata pelajaran yang akan menjadi bahan untuk diujikan untuk kenaikan kelas, kurang lebih dua minggu sebelum tamu yang tidak penah kuharapkan datang ia lebih pantas untuk kusebut guru dibandingkan kekasihku terlebih usai ia mengetahui ambisiku untuk mengalahkan nilai mata pelajaran teman dekatku yang duduk sebangku dan mendongkrak rangking ku di kelas.
“Kamu pasti bisa. Aku aja percaya kamu, masa kamu engga” ucapnya menyemangati usai mendengarku mengeluh untuk memahami soal kimia dan soal perhitungan lainnya

Walau begitu apabila sesi diskusi mata pelajaran kami selesai ia tetap bersikap manis dan manja seperti biasanya, hanya saja durasi kami telponan lebih sering kurang dari sejam karena memang kami perlu tidur lebih awal agar tidak bangun kesiangan terlebih belakangan ini dia sendiri sering mengeluh kelelahan karena melakukan suatu kegiatan yang nyaris menghabiskan waktu seharian dimana aku sendiri tidak tahu kegiatan apa yang ia lakukan. Sebab acapkali aku bertanya ia hanya menjawab bahwa energinya terkuras untuk les persiapan ujian kenaikan kelas serta eskul musik di sekolahnya. Tentu aku percaya karena ia memang sempat menceritakan hal itu jauh-jauh hari walau pada akhirnya aku mengetahui bukan itu penyebabnya dan ia sedang menyembunyikan sesuatu untuk menjaga perasaanku.

Mungkin berkat bantuan kecilnya aku dapat melewati ujian kenaikan kelas dengan mulus, nilaiku melonjak naik dibanding semester lalu bahkan sukses mengalahkan skor nilai kimia sainganku walaupun hanya selisih 0,2 namun aku bangga karena ambisiku sejak dipertengahan semester tuntas sudah dan ya itu untuk pertama kalinya juga aku memutuskan rantai salah satu mata pelajaran yang menjadi langganan remedial selain fisika dan matematika. Dapat dikatakan hasil ujianku berhasil sangat mulus bahkan mendapatkan skor tertinggi pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan mengalahkan orang terpintar di kelasku. Walau terkesan norak nyatanya merupakan suatu kebanggan apabila anak yang rutin bertengger pada ranking 20 an berhasil mengalahkan perolehan nilai orang yang betah menduduki singgasana peringkat 1.

Acapkali aku memperoleh nilai yang bagus selalu aku kabari ia ketika bertelponan seraya mengurai rindu dan walaupun ia jauh namun dapat kurasakan rona kegirangan yang dapat didengar melalui suaranya seakan mengatakan bahwa ia bahagia atas keberhasilanku dan usahanya tidak sia-sia untuk membantu.

*****

Quote:Kenapa kamu ga bilang dari jauh-jauh hari?”

“Seandainya aku bilang jauh-jauh hari apa kamu bakal nemuin aku?”


Aku terdiam sedangkan telapak tanganku mengepal lalu memukul tembok dengan keras tanpa sepengetahuannya. Aku benar-benar menyumpahi diriku yang terlampau pengecut waktu itu.

“Maaf sebelumnya, disisi lain aku takut untuk menambah beban pikiran kamu setelah dengar kabar kalau aku akan pergi” ucapnya pelan, aku menghela nafas panjang lalu keluar kamar dan bergegas menuju teras untuk melihat rasi bintang yang hanya terlihat pada bulan Juni.

“Keluar bentar yuk. Malam ini mungkin terakhir kalinya kita bisa lihat bulan bareng-bareng dan rasi bintang yang pernah aku ceritain. Semoga aja kamu bisa lihat rasinya malam ini” pintaku

“Aku masih gabisa lihat rasi bintang yang kamu maksud masa” keluhnya

“Tapi bulannya masih keliatan kan?” tanyaku

“Iyah dan masih terang seperti biasanya” balasnya

Kami saling terdiam beberapa saat dan tidak ada ucapan yang keluar dari mulut kami, bisa kutebak bahwa apa yang ia lakukan pada saat itu ialah sama sepertiku. Yaitu membiarkan diri kami tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari menikmati detik demi detik berlaku dan enggan untuk menyambut esok pagi dengan salam perpisahan yang akan terucap dari mulut kami. Malam itu udara kurasakan lebih dingin dari biasanya dan akan terasa lebih dingin acapkali aku menyadari bahwa sebentar lagi akan ada bagian yang hilang dalam hari-hariku.

Seminggu setelah aku menyambut awal bulan Juni aku terpaksa menerima kabar bahwa ia sekeluarga akan pindah ke negeri seberang, negeri dimana ayah nya berasal dan negeri yang dimana orang Indonesia akrab menyebutkannya dengan nama Australi. Ia turut menambahkan bahwa kesibukannya belakangan ini ditambah oleh kegiatan mengemas dan memisahkan barang-barang pribadinya sebelum dipacking oleh kru freight forwarding dan menikmati sisa waktu disini bersama orang-orang terdekatnya.

“Kenapa sih kamu gapernah mau temuin aku?” tanyanya memecah keheningan dan membuatku sedikit terpukul

“Bukannya gamau”

“Terus apa? Kamu pernah bilang kalo aku penting buat kamu. Seandainya aku emang beneran penting buat kamu udah pasti kamu bakal bela-belain untuk nemuin aku. Aku selalu berharap kamu kamu bakal nemuin aku dan tepatin janji kamu tapi nyatanya sampai aku mau pergipun kamu masih ga ada usaha untuk temuin aku!” ucapnya, suaranya sedikit naik namun setelah itu aku mendengar ia terisak kecil.

“Tolong jawab pertanyaan aku sejujur-jujurnya” tambahnya, aku kembali menghela nafas dan tangan kanan yang kupakai untuk memukul tembok barusan tanpa terasa memaksa untuk kembali mengepal erat walau nyerinya mulai terasa.

“Sejujurnya jauh-jauh hari aku udah mulai nabung untuk nemuin kamu”

“Sebentar-sebentar kenapa kamu harus repot-repot nabung cuma untuk nemuin aku?” potongnya

“Kamukan kalo ngajak ketemuan di tempat yang kesannya mewah terus. Dari semua tempat-tempat yang kamu sebutin sejujurnya aku belum pernah kesana tapi aku tau untuk kesana perlu siapin kocek yang ga sedikit. Apalagi untuk jalan sama kamu yang notabene tingkat sosialnya jauh dari aku” jelasku namun ia tertawa geli usai mendengarnya

“Ya ampun Ari, kamu tuh nyebelin-nyebelin ternyata polos banget yah. Kan kamu bisa pilih tempat yang kamu mau bahkan aku bisa bilang kamu ga perlu repot-repot keluarin uang demi aku. Lucu yah kamu” ucapnya

“Jujur aja aku sebenarnya juga rada minder untuk nemuin kamu. Kamu taulah mungkin dari tingkat sosial aja kita beda” tambahku lagi

“Kenapa harus minder? Kita sama-sama manusia kok dan aku ga pernah nganggap bahwa tingkat sosial kita berbeda. Semua manusia itu
sama dan beneran deh aku ga suka kalo kamu selalu nganggap kamu itu lebih rendah dibanding orang lain. Kamu punya nilai yang orang lain ga punya dan selepas aku pergi tolong kurangin sifat minderan kamu yah, please. Karena kamu ga akan kemana-mana kalo sifat itu masih ada, aku sayang kamu dan aku harap kamu bisa lebih baik lagi setelah ini” ujarnya, aku merasa tertampar akan tetapi apa yang dikatakannya kuakui memang benar

“Iyah, makasih udah ngingetin. Aku akan coba” jawabku tersenyum seraya memandangi bulan

“Ngomong-ngomong beda waktu Indonesia dengan Australia sekitar empat jam yah?” sambungku

“Seingatku sih iya. Kenapa?”

“Yah, kita jadi ga bisa mandang bulan di waktu yang sama lagi dong” keluhku

“Gapapa, karena walaupun kita udah gabisa saling memandang bulan di waktu yang bersamaan. Setidaknya kalo aku kangen dan kepikiran kamu, aku pasti bakal lihat objek yang sekarang ini lagi kita lihat” ucapnya, ia tersenyum dan aku mengetahui itu dari suara kecil yang dikeluarkan dari mulutnya

“Malam ini kita mendramatisir banget yah kayanya” kataku kemudian kami saling tertawa

“Ngomong-ngomong kamu pernah denger lagu Alter Bridge yang judulnya watching over you?” tanyanya, aku mengiyakan walau sebenarnya hanya beberapa kali dengar dan tidak hafal liriknya

“Malam ini aku mau bawain lagu itu untuk kamu. Lagu terakhir dari aku” ucapnya

“Ehm, dengerin yah….”

Quote:
Leaves are on the ground
Fall has come
Blue skies turning grey
Like my love

I tried to carry you
And make you whole
But it was never enough
I must go

And who is gonna save you
When I'm gone?
And who'll watch over you
When I'm gone?

You say you care for me
But hide it well
How can you love someone
And not yourself?

And who is gonna save you
When I'm gone?
And who'll watch over you
................
...........
......

When I'm gone.....


Malam itu adalah hari terakhir aku mendengarkan nyanyiannya dan harus kuakui jauh lebih merdu dibandingkan ketika pertama kali ia menyanyikan lagu My Immortal untukku. Sengaja aku tidak merekam nyanyian terakhirnya sebab setiap untaian lirik dan nadanya terekam jelas pada kalbu. Perasaan senang dan sedih bercampur aduk mejadi satu pada setiap untaian liriknya, aku diam membisu dan tak kuasa berkata-kata sampai akhirnya ia berhenti pada pertengahan liriknya.

“Maaf cuma sampe setengah. Aku takut nangis kalo diterusin sampe habis” ucapnya dan aku membenarkan itu karena sebelum ia berhenti bernyanyi suaranya sedikit parau.

“Makin kesini makin merdu aja nyanyian kamu” kataku memuji

“Tumben muji” candanya, aku hanya tersenyum dan tidak membalas candaannya

“Terima kasih udah mau nyanyi untukku dan terima kasih juga atas ketidaksengajaan kamu untuk datang di kehidupan aku”

“Iyah, terima kasih juga udah ngizinin aku datang dikehidupan kamu” balasnya

Waktu berjalan semakin malam dan tiap detik yang berjalan adalah sesuatu yang tidak ingin aku sia-siakan. Hari itu mungkin adalah rekor durasi terpanjang kami saling bertelponan. Malam itu kami saling merangkum dan merangkai kepingan waktu sejak bagaimana kami secara abstrak diperkenalkan, menertawai hal-hal yang pernah kami debatkan, dan mencoba memahami bagaimana kita bisa saling jatu cinta dengan cara absurd dimana kisah kami hanya akan menjadi lelucon bagi kebanyakan orang.

Waktu tengah malam sudah lewat selama satu jam dan tamu yang tidak pernah kuharap kedatangannya dapat kurasakan tengah berdiri memperhatikanku dari belakang. Waktu kami semakin menipis dan sebelum sambungan telepon ditutup baik kami berdua hanya menyisakan keheningan sebagai buah tangan. Keheningan yang akan terasa panjang untuk beberapa waktu kedepan.

“Jadi hari ini kita putus ya?” tanyaku, ia tidak menjawab lalu kami kompak saling tertawa.

.................

..........

.......

“Besok jangan lupa bawa hape yah. Aku mau telepon kamu sebelum berangkat”

“Oke” kataku singkat kemudian ia matikan sambungan telponnya

Kurebahkan tubuhku ke kasur dan perlahan mulai kurasakan rasa panas di telingaku usai berjam-jam kami bertelponan. Mataku menatap kosong kepada langit-langit kamar dan ogah untuk dipejamkan. Sedangkan pikiranku terlalu ramai untuk diistirahatkan.

*********


Quote:
Hey, bisa aku telpon?


Aku langsung keluar kelas dan meninggalkan ibu serta wali kelasku yang tengah berbicara mengenai nilai di raporku usai menerima pesan dari Ara. Kubalas pesan singkatnya dan tak lama datanglah sebuah panggilan masuk darinya. Aku mendengar samar orang asing yang sedang mengobrol dari tempatnya, bisa kutebak saat ini ia sudah di bandara dan siap untuk berangkat menuju benua baru yang akan ditempatinya.

“Gimana rapor nya?” tanyanya

“Bagus dongs. Kamu sendiri gimana?”

“Bagus juga dongsss” jawabnya sembari tertawa

“Kamu udah di bandara?” tanyaku, ia mengiyakan

Kami sedikit kikuk pada pembicaraan terakhir , mungkin karena disebabkan masih banyak pembicaraan yang ingin kami tuntaskan namun terhalang oleh waktu yang terlampau sempit.

“Maaf, mungkin aku gabisa telpon kamu lama-lama” ucapnya merendah

“Iyah gapapa aku ngerti” jawabku

“Kamu jaga diri baik-baik yah dan sekali lagi terima kasih udah mau berbagi waktu sama aku selama ini”

“Begitupun kamu dan terima kasih juga udah ngajarin aku berbagai hal selama ini” kataku

“Emm emang aku ngajarin apa deh?” tanyanya heran

“Banyak” jawabku singkat

Semilir angin yang masih mengandung sejuk hawa pagi bertiup melewati balkon kelasku yang berada di atas lantai satu. Durasi waktu telepon masih berjalan namun kami diam membisu.

“Apakah kamu bakal telpon aku lagi ketika disana?” tanyaku, ia tak langsung menjawab

“Kalau engga ada telpon masuk lagi dari aku, mungkin kamu memang harus nerusin perjalanan panjangmu walaupun tanpa aku”

“Every ending is a new beginning, right? Kamu pernah bilang begitu dulu” ia menambahkan, aku mengangguk pelan lalu dari kejauhan aku bisa mendengar suara orang yang tengah memanggilnya.

“Oke, mamah udah manggil aku. Telpon aku matiin yah”

“Tunggu! Aku mau ngomong sesuatu” seruku spontan

“Oh yah? Mau ngomong apa?” tanyanya

“Emmm..... I love you,..... Ra” ucapku sembari menahan malu

“I know” balasnya singkat, namun dapat kurasakan rekah senyumannya dari kejauhan

“Good bye ri. Jangan lupain aku ya” ucapnya lalu ia matikan sambungan teleponnya sebelum sempat aku membalas ucapannya.

Quote:I’ll miss you, Ara


Kataku melalui pesan singkat, berharap ia membacanya.



To be continued. See ya on the last chapter....

Diubah oleh fachreal5
2 0
2
Halaman 2 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pernah-berjuang-namun-dibuang
Stories from the Heart
ada-apa-dengan-kamarku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia