- Beranda
- The Lounge
Atlet Dayung yang Kini Menjadi Tukang Sapu
...
TS
User telah dihapus
Atlet Dayung yang Kini Menjadi Tukang Sapu
Penulis: Hilda Julaika - 08 December 2018, 04:05 WIB

MEMBICARAKAN atlet dan bumbu kehidupan di dalamnya memunculkan beragam kisah, mulai bentuk tidak dihargai, prestasi, hingga jaminan di masa depan. Berikut Kick Andy merangkum kisahnya.
Berbekal modal untuk mengadu nasib pada usia 15 tahun, Karni muda memutuskan hijrah ke Jakarta dan menjadi asisten rumah tangga (ART) di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Lantaran tak diberikan gaji selama 5 bulan, Karni memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Blora, Jawa Tengah.
Temannya yang menekuni olahraga dayung mengajak Karni untuk berlatih. Inilah perawalan Karni yang mencemplungkan diri pada cabang olahraga dayung yang mengantarkannya meraih berbagai prestasi. Kini di hari tuanya, Karni konsisten menjalani pekerjaan sebagai tukang sapu dan pengawas kolam renang di Kolam Tirto Nadi, Blora.
Berawal dari ajakan temannya tersebut, Karni memulai untuk berlatih sebagai atlet dayung. Kebetulan Karni dan temannya merupakan warga Tempuran, di sana terdapat waduk yang kerap dijadikan latihan untuk cabang olahraga dayung. Meski begitu, ia tetap bekerja sebagai tukang sapu sembari menjalani kariernya sebagai atlet dayung.
Selama karier mendayungnya, Karni sudah mengikuti berbagai kompetisi baik nasional maupun internasional, di antaranya, Pekan Olahraga Nasional (PON), Sea Games, dan kejuaraan dayung internasional.
Pada 1996 dan 1997 Karni berhasil meraih kejayaan pada ajang Kejuaraan Dayung Internasional di Hong Kong dan Singapura dengan menyabet 3 medali emas dan 1 medali perak. Karni juga memperkuat tim Sea Games pada 1997 dan berhasil merebut 3 medali emas dan 1 medali perak untuk Indonesia.
“Mulai lomba itu tahun 1988 mewakili Blora. Lalu ikut Kejurnas, PON 3 kali. Waktu Sea Games itu 3 emas, 1 perak. Yang perak itu dapet uang Rp500 ribu. Sementara yang emas itu, dapet uang Rp15 juta. Waktu tahun 1997 itu dikasih Rp3 juta lalu sisanya dikasihkan pada 2003 sebesar Rp12 juta,” cerita Karni.
Setelah mengalami masa keemasan dalam kariernya sebagai atlet, Karni harus pensiun pada 2002. Hal itu disebabkan perlu adanya regenerasi pada tubuh tim dan karena usia Karni yang dianggap sudah harus berhenti. Ia pun tetap meneruskan pekerjaannya sebagai tukang sapu yang telah dilaluinya semenjak 1998.
Medali yang dimilikinya sekarang pun sudah terlihat usang dan tidak lengkap lagi jumlahnya. Bagi Karni, medali-medali itu tidak memiliki arti yang banyak dalam hidupnya. Menurutnya, medali tersebut tidak terlalu memiliki harga sehingga memang kerap ada yang hilang. Pernah ia mengalami kejadian hendak mengambil bonus atas perolehan medalinya tersebut, seharusnya tanda tangan dan mendapatkan Rp1 juta, tetapi di lapangan hanya mendapatkan Rp500 ribu.
Sempat ditawari untuk menjadi seorang pelatih, Karni menolaknya. Baginya ia ingin menjadi sosok pelatih yang membela kepentingan anak didiknya. Namun, menurutnya ada kepentingan orang lain yang mungkin timbul, dan Karni tidak ingin itu merusak hubungannya dengan rekannya. Ia pun memutuskan tetap menjadi tukang sapu dengan penghasilan per bulan sebanyak Rp1.350.000.
Karni berpesan kepada para juniornya, sebagai atlet untuk tetap rendah hati. Meskipun sekarang dinilai sudah terhitung terjamin dengan bonus, tidak boleh menyombongkan diri. Karni dengan kesederhanaannya berhasil meluluskan anak semata wayangnya untuk sekolah tingkat STM dan mendidiknya seorang diri.
My comment:
This is a story from the forgotten hero in this morning...
P.s: kalo ada yang posting berita ini sebelum gue, mohon dihapus ya...

MEMBICARAKAN atlet dan bumbu kehidupan di dalamnya memunculkan beragam kisah, mulai bentuk tidak dihargai, prestasi, hingga jaminan di masa depan. Berikut Kick Andy merangkum kisahnya.
Berbekal modal untuk mengadu nasib pada usia 15 tahun, Karni muda memutuskan hijrah ke Jakarta dan menjadi asisten rumah tangga (ART) di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Lantaran tak diberikan gaji selama 5 bulan, Karni memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Blora, Jawa Tengah.
Temannya yang menekuni olahraga dayung mengajak Karni untuk berlatih. Inilah perawalan Karni yang mencemplungkan diri pada cabang olahraga dayung yang mengantarkannya meraih berbagai prestasi. Kini di hari tuanya, Karni konsisten menjalani pekerjaan sebagai tukang sapu dan pengawas kolam renang di Kolam Tirto Nadi, Blora.
Berawal dari ajakan temannya tersebut, Karni memulai untuk berlatih sebagai atlet dayung. Kebetulan Karni dan temannya merupakan warga Tempuran, di sana terdapat waduk yang kerap dijadikan latihan untuk cabang olahraga dayung. Meski begitu, ia tetap bekerja sebagai tukang sapu sembari menjalani kariernya sebagai atlet dayung.
Selama karier mendayungnya, Karni sudah mengikuti berbagai kompetisi baik nasional maupun internasional, di antaranya, Pekan Olahraga Nasional (PON), Sea Games, dan kejuaraan dayung internasional.
Pada 1996 dan 1997 Karni berhasil meraih kejayaan pada ajang Kejuaraan Dayung Internasional di Hong Kong dan Singapura dengan menyabet 3 medali emas dan 1 medali perak. Karni juga memperkuat tim Sea Games pada 1997 dan berhasil merebut 3 medali emas dan 1 medali perak untuk Indonesia.
“Mulai lomba itu tahun 1988 mewakili Blora. Lalu ikut Kejurnas, PON 3 kali. Waktu Sea Games itu 3 emas, 1 perak. Yang perak itu dapet uang Rp500 ribu. Sementara yang emas itu, dapet uang Rp15 juta. Waktu tahun 1997 itu dikasih Rp3 juta lalu sisanya dikasihkan pada 2003 sebesar Rp12 juta,” cerita Karni.
Setelah mengalami masa keemasan dalam kariernya sebagai atlet, Karni harus pensiun pada 2002. Hal itu disebabkan perlu adanya regenerasi pada tubuh tim dan karena usia Karni yang dianggap sudah harus berhenti. Ia pun tetap meneruskan pekerjaannya sebagai tukang sapu yang telah dilaluinya semenjak 1998.
Medali yang dimilikinya sekarang pun sudah terlihat usang dan tidak lengkap lagi jumlahnya. Bagi Karni, medali-medali itu tidak memiliki arti yang banyak dalam hidupnya. Menurutnya, medali tersebut tidak terlalu memiliki harga sehingga memang kerap ada yang hilang. Pernah ia mengalami kejadian hendak mengambil bonus atas perolehan medalinya tersebut, seharusnya tanda tangan dan mendapatkan Rp1 juta, tetapi di lapangan hanya mendapatkan Rp500 ribu.
Sempat ditawari untuk menjadi seorang pelatih, Karni menolaknya. Baginya ia ingin menjadi sosok pelatih yang membela kepentingan anak didiknya. Namun, menurutnya ada kepentingan orang lain yang mungkin timbul, dan Karni tidak ingin itu merusak hubungannya dengan rekannya. Ia pun memutuskan tetap menjadi tukang sapu dengan penghasilan per bulan sebanyak Rp1.350.000.
Karni berpesan kepada para juniornya, sebagai atlet untuk tetap rendah hati. Meskipun sekarang dinilai sudah terhitung terjamin dengan bonus, tidak boleh menyombongkan diri. Karni dengan kesederhanaannya berhasil meluluskan anak semata wayangnya untuk sekolah tingkat STM dan mendidiknya seorang diri.
My comment:
This is a story from the forgotten hero in this morning...
P.s: kalo ada yang posting berita ini sebelum gue, mohon dihapus ya...
0
748
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya