Kaskus

News

albetbengalAvatar border
TS
albetbengal
Jualan Orde Baru Dinilai Strategi Antiklimaks di Lingkungan Prabowo
Jualan Orde Baru Dinilai Strategi Antiklimaks di Lingkungan Prabowo
Merdeka.com - Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia kembali seperti zaman Soeharto. Apakah hal itu akan berdampak ke capres nomor urut 02 Prabowo Subianto?



Partai Berkarya yang dipimpin Hutomo Mandala Putra, anak bungsu Soeharto ini menjadi salah satu parpol pendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menilai pernyataan tersebut bisa menjadi antiklimaks bagi kubu Prabowo-Sandi. Jualan Orde Baru akan sulit diterima para milenial, pemilih terbesar pada Pilpres 2019 nanti.

Tujuan mereka adalah melalui inilah mencoba untuk menghapus masa kelam Orde Baru dengan membuat seolah-olah masa Orde Baru itu lebih nikmat, impor minim dan lain sebagainya. Jadi targetnya sebetulnya keluarga. Bukan target untuk naikkan elektabilitas Pak Prabowo. Kalau bagi Pak Prabowo ini antiklimaks, kontraproduktif. Mereka nyasarnya kelompok milenial tapi malah isunya Orde Baru," jelas Ray di D'Hotel, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (21/11).

Ray mengatakan berdasarkan berbagai hasil survei, tak ada masyarakat yang ingin kembali seperti masa Orde Baru. Bahkan dari berbagai survei, banyak yang menolak Soeharto ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Para pemilih milenial juga tak akan memilih untuk kembali ke zaman Orde Baru. Apalagi para milenial memiliki informasi cukup terkait kiprah Seoharto selama 32 tahun menjadi presiden dan bagaimana keterlibatan anak-anaknya di dalam bisnis.

"Kalau diberi informasi bagaimana bisnis-bisnis anaknya (Soeharto) berkembang sedemikian rupa. Kalau ditotal kekayaannya juga minta ampun, ya enggak akan kena di anak-anak milenial sekarang ini," jelasnya.

"Itu yang saya bilang tadi ini strategi antiklimaks di lingkungan Pak Prabowo. Tapi tepat bagi keluarga Pak Harto. Dan dugaan saya mereka ngejarnya itu, keluarga Pak Harto itu, bukan ngejar elektabilitas, menaikkan elektabilitas Pak Prabowo," lanjutnya.

Nostalgia Orba, menurutnya, tepat untuk menyasar pemilih yang berusia 60 atau 70 tahun. Tapi jumlah pemilih usia tersebut sangat sedikit, sekitar 4 persen. Sementara pemilih milenial sekitar 40 persen.

"Masak mereka mau korbankan milenial yang sampai 30 persen, 40 persen? Itu bukan dalam rangka mereka mau naikkan elektabilitas Prabowo, memang mereka mau kampanye kan masa lalu yang dinyatakan buruk dengan seolah olah di zamannya Pak Harto itu baik semua," kata Ray.



https://m.merdeka.com/politik/jualan...n-prabowo.html

Maklum wowo ga pernah klimaks
Jualan Orde Baru Dinilai Strategi Antiklimaks di Lingkungan Prabowo
0
1.8K
22
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
692.9KThread57.7KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.