- Beranda
- The Lounge
Saya tidak pilih Prabowo atau Jokowi, saya hanya pilih ulama!
...
TS
wardhani427
Saya tidak pilih Prabowo atau Jokowi, saya hanya pilih ulama!

Kelompok Islam saat ini menggantungkan harapan mereka pada Prabowo-Sandi. FPI, sebagai salah satu penggerak kelompok Islam, tak henti-henti melakukan berbagai cara untuk terus meningkatkan massa. Pilpres tentu merupakan kompetisi strategi politik, maka tak ada yang salah bila kedua kubu menggunakan berbagai cara, memproduksi berbagai isu, dan membangun narasi apa pun. Tapi, kubu mana saja harus ingat satu hal: apapun strategi yang dipakai, jangan hanya untuk kepentingan pemenangan calon yang didukung saja, tapi pertimbangkan juga nasib bangsa ini ke depan. Artinya, jangan lakukan strategi politik yang dapat memecah-belah, menumbuhkan prasangka, membangkitkan tragedi lama, menghina agama tertentu. Bagaimana pun juga, keutuhan bangsa lebih penting daripada sekedar pemenangan Pilpres.
Tapi, entah mengapa, FPI kembali melakukan tindakan yang tidak menyenangkan. Saya kecewa dengan FPI. Beberapa waktu lalu Novel Bamukmin FPI mengatakan bahwa untuk masuk sorga harus meminta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan Prabowo-Sandi. Sebagai umat Islam, saya jujur bahwa saya terganggu dengan strategi politik yang dijalankan oleh FPI untuk mendukung calon presiden mereka. Bagi saya, umat Islam boleh memilih siapa saja. Hak politik setiap orang harus kita hargai. Negara ini menjamin kebebasan untuk berafilisasi dengan kelompok manapun, sejauh tidak melanggar dasar negara. Begitu juga FPI, berhak untuk berjuang untuk Islam. Dan FPI punya hak untuk menjadi pendukung Prabowo-Sandi. Tapi, tolonglah, jangan rendahkan agama kita, agama Islam. Kalau mau mendukung Prabowo ya silahkan saja. Saya tidak persoalkan mau dukung siapa, tapi sekali lagi, agama kita janganlah dimain-mainkan jadi serendah itu. Janganlah masyarakat dibodoh-bodohi hanya demi calon bisa menang.
Bagi saya, mau Prabowo ataupun Jokowi, ya terserah saja. Siapa pun presidennya nanti, saya akan tetap menjadi orang Islam. Siapapun Presiden nanti saya akan tetap berjuang untuk Islam. Perjuangan saya untuk Islam tidak tergantung siapa Presiden. Perjuangan saya untuk agama saya adalah untuk bakti saya pada Sang Pencipta yang Abadi, bukan untuk Pilpres yang fana ini. Jadi, kepada FPI atau kelompok manapun, tolonglah bersikap cerdas dan elegan dalam membawa-bawa isu Islam dalam politik. Saya tidak alergi dengan politik Islam. Bahkan bagi saya umat Islam itu harus sadar politik. Ustad Abdul Somad juga sering berkata bahwa umat Islam harus sadar politik agar jangan jadi alat politik. Tapi, lagi-lagi, saya kecewa ketika FPI hanya menjadikan umat sebagai alat politik. Tolonglah, jaga kesakralan agama kita, jangan diinjak-injak dengan isu-isu murahan seperti itu. Letakkan sesuatu pada tempatnya. Agama itu harus dijunjung lebih tinggi dari apapun. Jangan hanya karena mendukung Prabowo, agama kalian letakkan agama di bawah kaki. Maafkan saya saudaraku di FPI. Sejak kalian klaim bahwa masuk Surga harus meminta pada Prabowo-Sandi, saya tidak bisa ikut cara kalian. Agama kita lebih penting.
Tentu saja Kubu Jokowi tidak semua baik. Mana ada politik yang bebas dari kebobrokan. Tapi, bila misalnya Jokowi terpilih, setidaknya wakilnya adalah ulama. Bagi saya ini lebih penting. Ada daya tawar yang bisa kita beri pada politik negara ini nantinya. Paling tidak, setiap keputusan Jokowi nanti, sudah dapat restu ulama. Tentu ulama tak akan sembarang memberi restu. Semenjak KH Abdulrahman Wahid jadi Presiden, baru kali ini ulama punya kesempatan untuk jadi orang penting di negara ini. Ulama kita selama ini hanya jadi “pemberi restu” saja dalam Pilpres atau orang belakang layar saja. Tidak selamanya posisi belakang layar itu baik. Ada saatnya ulama kita maju ke depan memegang kendali negara.
Kini, berkat perjuangan yang panjang, akhirnya ada ulama kita yang bisa naik ke kursi calon Wakil Presiden. Dan yang lebih penting, Kyai Ma’ruf Amin ga pernah jualan surga untuk ngiming-ngimingi umat milih mereka. Kita tak perlulah menjual surga demi Pilpres ini. Surga itu keabadian, sementara pilpres cuma lima tahunan. Satu-satunya yang harus kita lakukan adalah mendukung agar kursi wapres diduduki oleh Ulama. Ini adalah momen berharga untuk dibiarkan terbuang.
Tapi sekali lagi, Pilpres ini fana. Agama lebih penting. Bila Jokowi-Ma'ruf kalah, bagi saya juga tidak apa-apa. Bila Prabowo-Sandi menang, bagi saya juga tak apa-apa. Saya tak akan menjadikan Pilpres sebagai berhala. Siapa saja terpilih nanti, saya tidak akan berhenti jadi pejuang Islam. Namun, selagi saya bisa memilih, saya lebih memilih agar Kyai Ma’ruf mendapatkan peluang besar ini.
Tapi, entah mengapa, FPI kembali melakukan tindakan yang tidak menyenangkan. Saya kecewa dengan FPI. Beberapa waktu lalu Novel Bamukmin FPI mengatakan bahwa untuk masuk sorga harus meminta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan Prabowo-Sandi. Sebagai umat Islam, saya jujur bahwa saya terganggu dengan strategi politik yang dijalankan oleh FPI untuk mendukung calon presiden mereka. Bagi saya, umat Islam boleh memilih siapa saja. Hak politik setiap orang harus kita hargai. Negara ini menjamin kebebasan untuk berafilisasi dengan kelompok manapun, sejauh tidak melanggar dasar negara. Begitu juga FPI, berhak untuk berjuang untuk Islam. Dan FPI punya hak untuk menjadi pendukung Prabowo-Sandi. Tapi, tolonglah, jangan rendahkan agama kita, agama Islam. Kalau mau mendukung Prabowo ya silahkan saja. Saya tidak persoalkan mau dukung siapa, tapi sekali lagi, agama kita janganlah dimain-mainkan jadi serendah itu. Janganlah masyarakat dibodoh-bodohi hanya demi calon bisa menang.
Bagi saya, mau Prabowo ataupun Jokowi, ya terserah saja. Siapa pun presidennya nanti, saya akan tetap menjadi orang Islam. Siapapun Presiden nanti saya akan tetap berjuang untuk Islam. Perjuangan saya untuk Islam tidak tergantung siapa Presiden. Perjuangan saya untuk agama saya adalah untuk bakti saya pada Sang Pencipta yang Abadi, bukan untuk Pilpres yang fana ini. Jadi, kepada FPI atau kelompok manapun, tolonglah bersikap cerdas dan elegan dalam membawa-bawa isu Islam dalam politik. Saya tidak alergi dengan politik Islam. Bahkan bagi saya umat Islam itu harus sadar politik. Ustad Abdul Somad juga sering berkata bahwa umat Islam harus sadar politik agar jangan jadi alat politik. Tapi, lagi-lagi, saya kecewa ketika FPI hanya menjadikan umat sebagai alat politik. Tolonglah, jaga kesakralan agama kita, jangan diinjak-injak dengan isu-isu murahan seperti itu. Letakkan sesuatu pada tempatnya. Agama itu harus dijunjung lebih tinggi dari apapun. Jangan hanya karena mendukung Prabowo, agama kalian letakkan agama di bawah kaki. Maafkan saya saudaraku di FPI. Sejak kalian klaim bahwa masuk Surga harus meminta pada Prabowo-Sandi, saya tidak bisa ikut cara kalian. Agama kita lebih penting.
Tentu saja Kubu Jokowi tidak semua baik. Mana ada politik yang bebas dari kebobrokan. Tapi, bila misalnya Jokowi terpilih, setidaknya wakilnya adalah ulama. Bagi saya ini lebih penting. Ada daya tawar yang bisa kita beri pada politik negara ini nantinya. Paling tidak, setiap keputusan Jokowi nanti, sudah dapat restu ulama. Tentu ulama tak akan sembarang memberi restu. Semenjak KH Abdulrahman Wahid jadi Presiden, baru kali ini ulama punya kesempatan untuk jadi orang penting di negara ini. Ulama kita selama ini hanya jadi “pemberi restu” saja dalam Pilpres atau orang belakang layar saja. Tidak selamanya posisi belakang layar itu baik. Ada saatnya ulama kita maju ke depan memegang kendali negara.
Kini, berkat perjuangan yang panjang, akhirnya ada ulama kita yang bisa naik ke kursi calon Wakil Presiden. Dan yang lebih penting, Kyai Ma’ruf Amin ga pernah jualan surga untuk ngiming-ngimingi umat milih mereka. Kita tak perlulah menjual surga demi Pilpres ini. Surga itu keabadian, sementara pilpres cuma lima tahunan. Satu-satunya yang harus kita lakukan adalah mendukung agar kursi wapres diduduki oleh Ulama. Ini adalah momen berharga untuk dibiarkan terbuang.
Tapi sekali lagi, Pilpres ini fana. Agama lebih penting. Bila Jokowi-Ma'ruf kalah, bagi saya juga tidak apa-apa. Bila Prabowo-Sandi menang, bagi saya juga tak apa-apa. Saya tak akan menjadikan Pilpres sebagai berhala. Siapa saja terpilih nanti, saya tidak akan berhenti jadi pejuang Islam. Namun, selagi saya bisa memilih, saya lebih memilih agar Kyai Ma’ruf mendapatkan peluang besar ini.
1
1.2K
10
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•109.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya