Kaskus

News

venomwolfAvatar border
TS
venomwolf
Dolar Terus Menguat, Kontraktor Rawan Langgar Hukum
Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Makin menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah ikut membebani sejumlah proyek infrastruktur yang memiliki bahan baku impor.

Pengusaha kontruksi atau kontraktor pun kena imbasnya. Ditambah lagi kebijakan pemerintah yang belum jelas membuat kontraktor semakin menjerit.
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gabungan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Gapeksindo) Sulsel, Andi Troy Martino yang dihubungi Kamis (4/10/2018) menuturkan, kontraktor melihat ini sangat mengkhawatirkan, bahkan perlu dianggap permulaan krisis.

"Untuk yang concern akan hal ini, jangan hanya pelaku konstruksi yang berteriak, tetapi pemerintah perlu concern juga," katanya.
Mengapa? "Karena hal ini akan menimbulkan efek domino. Tidak hanya itu, tidak adanya kebijakan yang jelas dari pemerintah memungkinkan kontraktor akan melakukan inovasi dalam tanda kutip," katanya.
Inovasi tersebut berpotensi melanggar kesepakatan kerja atau melanggar hukum di sektor konstruksi.
"Jangan tunggu korban dari pelaku, penyedia jasa, maupun pengguna jasa, karena tidak ada sensitivitas akan hal ini," ujar Troy sapaannya.

http://makassar.tribunnews.com/2018/10/04/dolar-terus-menguat-kontraktor-rawan-langgar-hukum

Rupiah Haus ‘Obat Kuat’

Sumedang Media, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis pagi, bergerak melemah dalam kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor.

Mata uang garuda berada di Rp15.133. Artinya, rupiah melemah 0,3% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.

Ekonom Institute For Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan saat ini rupiah membutuhkan 'obat kuat' untuk menstimulus pergerakan nilai tukar yang lebih positif.

Salah satunya lewat 'obat kuat' suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 Day Reverse Repo Rate yang terus dikerek naik.

"Suku bunga acuan BI sebenarnya jadi penentu dari bunga yang ditawarkan surat utang pemerintah," kata Bhima kepada Sumedang Media, di Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Menurut dia, BI semestinya lebih responsif dalam menaikkan suku bunga acuan, untuk mencegah pelemahan rupiah. Untuk itu, BI harus berani mendahului dengan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi, bukan menunggu Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menaikkan bunga acuan, Federal Fund Rate (FFR), lebih dahulu.

ia bilang, saat ini, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun mencapai 8,22%, sedangkan yield US-Treasury menyentuh 3,05%. Artinya, yield spread SBN 10 tahun dan Treasury tenor yang sama sebesar 5,17%.

"Kalau hanya 5,17% ya mending investor masuk ke surat utang AS dari pada beli SBN Indonesia. Idealnya yield spread diatas 7% untuk kompensasi resiko investor memegang surat utang Indonesia. Dengan begitu artinya ada space sampai 200 bps kenaikan bunga acuan, tapi resikonya ekonomi bisa macet," ucapnya.

"Jadi perlu dicari opsi lain selain utak atik bunga. Investor yang melihat fundamental ekonomi biasanya lebih perhatian ke kebijakan jangka menengah, defisit transaksi berjalan dan stabilitas regulasi jelang pemilu. Tiga faktor itu bisa lebih utama ketimbang mengejar bunga tinggi. Karena setinggi apapun bunga efeknya belum tentu ampuh menahan penguatan dolar hingga 2020," tambah Bhima. [jin]

https://warta.sumedang.info/ekonomi-bisnis/120692-rupiah-haus-obat-kuat/



-1
1.3K
23
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695.4KThread59.1KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.