Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

mendoan76Avatar border
TS
mendoan76
Pengakuan Pedagang Avanza-Xenia Bekas Sepi Penggemar
https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20180928160541-384-334028/pengakuan-pedagang-avanza-xenia-bekas-sepi-penggemar

Pengakuan Pedagang Avanza-Xenia Bekas Sepi Penggemar

Tim, CNN Indonesia
Minggu, 30/09/2018 18:10
Bagikan :

Jakarta, CNN Indonesia -- Beda dari tahun-tahun sebelumnya, pedagang mengaku tahun ini lagi sulit jualan mobil seken. Kondisi itu diperparah kenyataan bahwa sinar duo bintang, Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia, bukan cuma redup di penjualan mobil baru tetapi juga di bursa mobil seken.

Pedagang mengatakan penjualan Avanza-Xenia semakin teduh sejak awal tahun ini. Diakui, cuma segelintir orang yang datang ke dealer, tanya-tanya, lalu beli Avanza atau Xenia.

"Dulu bisa 15 unit satu bulan dan lebih dari lima unit penjualan (berasal) dari Avanza-Xenia. Sekarang Avanza-Xenia cuma dua unit dari 10 unit dalam sebulan," kata Budi, Manajer Global Mobil saat ditemui di dealernya di kawasan Depok, Jawa Barat, Jumat (28/9).

Budi merasa menjual Avanza sudah tidak seperti dulu. Dia bilang sekarang Avanza-Xenia bisa sampai sebulan nongkrong di dealer menunggu peminat.

Budi menggambarkan kondisinya, Avanza varian G produksi 2014 dikatakan seharusnya sangat mudah dijual dengan harga Rp140 juta. Namun pada tahun ini, model yang sama mesti dilego Rp135 juta baru laku.

Potong margin baru salah satu pengorbanan yang harus dilakukan. Biar gampang ditelan konsumen, Budi mengatakan wajib ada iming-iming tambahan misalnya produk aksesori.

"Sekarang jualan Rp135 juta saja susah banget. Padahal udah dikasih tambahan-tambahan," ucap dia.

Dari pandangan Budi ada banyak faktor yang bikin Avanza-Xenia tidak dicari calon konsumen. Paling berpengaruh, kata Budi, yaitu datangnya model baru dari kompetitor, terutama Mitsubishi Xpander.

Sengat Xpander bukan cuma menyosor Avanza-Xenia, sebut Budi. Model lain sekelas Low MPV juga digerus tipis-tipis.

"Tapi bukan hanya Avanza, Ertiga dan Mobilio juga susah sih. Penyebab mungkin dihajar Xpander," kata Budi.

Meski sulit, Budi tetap percaya Avanza-Xenia masih ada peminatnya. Sebab itu dia tidak khawatir menyetok unit karena dirasa pasti laku walau kapan belum tahu.

Pedagang mobil seken lainnya, dari dealer Jati Motor, juga mengaku jualan Avanza-Xenia tak sesimpel dulu.

"Lesu sekarang itu jualan, yang semula bisa 10 unit sebulan, sekarang paling cuma tiga unit sebulan," kata Jati.

Susah Stok

Cerita lain datang dari Tarmuji, pemilik dealer mobil bekas Kiara Mobil. Dia mengungkap bukan soal sulit jual Avanza-Xenia, tapi justru mendapatkan stok kedua model itu langka.

Saat ditemui, Kiara Mobil cuma menawarkan satu unit Avanza.

"Paling terasa September ini. Sudah yang nyari tidak ada, stok pun saya tidak punya sekarang. Kalau dulu jual lima unit tidak sulit bagi saya," ucap Tarmuji.

Tarmuji mengaku tidak paham latar belakang hilangnya minat masyarakat beli Avanza-Xenia. Dia hanya mengatakan, buat mengantispasi jadi mengandalkan model lain seperti Toyota Altis, Honda Freed, dan Toyota Yaris. (ryh/fea)

++++

Kalau Konsumen Rem Konsumsi, Pengusaha Akan Rem Ekspansi

Tim, CNN Indonesia
Minggu, 30/09/2018 16:00
Bagikan :

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku usaha ritel akan menahan ekspansi bisnisnya apabila daya beli konsumen turun. Kekhawatiran daya beli melemah menyusul kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang akan memicu kenaikan bunga fasilitas pinjaman dari perbankan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey memproyeksi sektor perbankan segera menyesuaikan bunga mereka dalam satu kuartal hingga satu semester ke depan.

"Kalau konsumen mengerem konsumsi, pengusaha mengerem ekspansi," ujarnya kepada CNN Indonesia.com, Jumat (28/9).

Roy tidak khawatir sendirian. Ketua Asosiasi Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo juga merasa cemas jika daya beli kembali turun.

Namun, ia lebih mengeluhkan depresiasi rupiah yang masih berlanjut ketimbang kenaikan suku bunga acuan. Toh bunga acuan dirasa belum berpengaruh kepada industri dalam waktu dekat.

Meskipun, momentum Natal dan Tahun Baru 2019 sudah di depan mata. Asal tahu saja, momentun di akhir tahun tersebut biasanya digunakan pelaku usaha untuk menggenjot penjualan.

Jika daya beli terus lesu akibat depresiasi rupiah, dapat dipastikan pelaku usaha akan kehilangan momentum itu. "Kekhawatiran pasti ada, kalau pelemahan rupiah terus terjadi, maka tekanan atas cost (biaya) akan terus naik," terang Triyono.

Berbeda dengan Roy yang cenderung menahan ekspansi, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengungkapkan masih menunggu dan mengamati (wait and see) perkembangan dari industri dan kebijakan pemerintah sebelum memutuskan ekspansi.

Dengan bergulirnya kebijakan moneter, ia melanjutkan, pemerintah harus memberi kompensasi kepada pelaku usaha. Salah satunya terkait pembenahan regulasi perizinan impor yang masih berbelit.

Langkah itu dinilai efektif memberikan efisiensi biaya dan waktu bagi pelaku usaha. "Karena kalau tidak (dilakukan efisiensi), dunia usaha terbebani, mau tidak mau nanti daya saing makin turun dan ujungnya defisit makin bertambah," tandas dia.

https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20180929114555-92-334215/kalau-konsumen-rem-konsumsi-pengusaha-akan-rem-ekspansi
1
3.2K
41
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan PolitikKASKUS Official
671KThread40.9KAnggota
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.