- Beranda
- Berita dan Politik
SMI : Penyesuaian Negara Berkembang Tidak Cukup Cepat Menghadapi Tekanan Global
...
TS
EconomicHitman
SMI : Penyesuaian Negara Berkembang Tidak Cukup Cepat Menghadapi Tekanan Global
Pasar negara berkembang sedang berjuang untuk menyesuaikan diri dengan kenaikan suku bunga global dan meningkatnya tensi perang dagang, yang berujung meningkatnya ketidakpastian di dunia, Kata Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati.
Tidak seluruh ekonomi negara berkembang dapat menyesuaikan dengan baik dan dengan cepat terhadap perubahan ini, kata Sri Mulyani Indrawati dalam interview di London di hari selasa dengan Guy Johnson dan Tom Keene dari Bloomberg Television.
Indonesia adalah salah satu negara yang terdampak dimana investor asing menarik uangnya dari pasar saham dan pasar obligasi Indonesia. Rupiah sendiri telah melemah 2,6% sepanjang tahun ini.
Investor dapat berkontribusi pada gangguan tersebut ketika pasar keuangan di Indonesia kembali dibuka minggu ini setelah ditutup sejak 11 Juni untuk menandai akhir bulan suci Ramadhan. Sepanjang waktu penutupan tersebut, The Fed telah menaikkan suku bunganya untuk yang kedua kali sepanjang tahun ini dan cenderung untuk menaikkan suku bungannya hingga akhir tahun. ECB mengumumkan akan mengurangi program membeli surat berharganya di akhir kuartal tahun ini.

Sri Mulyani mengatakan The Fed dan ECB telah mengkomunikasikan arah kebijakannya sejak awal dan perekonomian negara berkembang harus siap menyesuaikan diri pada "new normal". Pada saat yang sama dia mengatakan bahwa ekonomi di asia lebih siap dalam menghadapi tekanan global dibandingkan ketika krisis keuangan 1997-1998 dan 2013 Fed "Taper Tantrum".
Perekonomian di Asia Tenggara sejak saat itu mengadopsi kebijakan nilai tukar mengambang (floating exchange rate) dan dia menambahkan bahwa Indonesia telah memperbaiki defisit neraca perdagangan (dibandingkan periode sebelumnya) sebagai penyangga tambahan. Sri Mulyani mengatakan Indonesia akan menghadapi tantangan kedepan tidak melalui "kebijakan pelonggaran" tetapi melalui "memperbaiki kebijakan investasi, menciptakan lingkungan bisnis yang lebih baik" untuk menarik lebih banyak investasi yang sifatnya tetap.
Pasar negara berkembang juga mempertimbangkan ketegangan perang dagang US-China, yang sudah memanas dimana China bersumpah akan membalas, terhadap ancaman presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan mengenakan tariff untuk tambahan impor senilai 200 Milliar USD dari China. Sri Mulyani mengatakan implikasi yang paling penting dari kebijakan dan retorika Amerika Serikat dalam perdagangan adalah ketidakpastian dalam hal bagaimana menyelesaikan perselisihan tersebut dalam skala global.
Sri Mulyani juga membicarakan kebangkitan China, dia mengatakan Ekonomi lainnya perlu untuk beradaptasi terhadap peran China yang baru.
sumber
catatan pentingnya adalah pendekatan yg digunakan tidak mengikuti negara berkembang lain,
yg bahkan ada yg mau intervensi Bank Sentral untuk turunin suku bunganya

Bravo, Ibu !
0
1.2K
12
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.5KThread•59.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya