- Beranda
- Stories from the Heart
Keresahan Seorang Introvert
...
TS
riaharjani
Keresahan Seorang Introvert
Matanya terus menatap layar monitor yang menampilkan halaman kertas kosong. Sudah lebih dari dua jam ia tidak berhasil menemukan satu kata pun untuk menjadi awalan ceritanya.
Perlahan langkahnya berjalan menjauh. Meninggalkan huru – hara di belakangnya, bahkan untuk sekedar menoleh pun ia enggan. Wajahnya terus menunduk seakan jemari kakinya lebih indah daripada jalanan di depan sana. Ini bukan musim dingin, tetapi ia terus mendekap tubuhnya yang dibalut dengan mantel hangat. Setiap orang yang bertemu dengannya akan merasa gerah walau hanya melihat apa yang ia kenakan.
Apa yang ia lalui tidaklah mudah. Terkadang ia ingin seperti yang lain, bergurau dan tertawa hingga lelah. Tapi, sisi lain dalam dirinya berkata sebaliknya. Hanya satu dua teman yang ia percayai untuk mendengarkan ceritanya. Temannya yang lain, ia anggap seperti orang asing yang baru mengenal jika mereka telah bertemu dan saling bertukar nama. Di kelas, ia lebih senang duduk di pojok belakang. Datang lebih awal demi mendapatkan bangku kesayangannya. Selang beberapa lama, segerombolan teman kelasnya datang. Suara – suara mereka selalu terdengar nyaring di kepalanya, sisi lainnya merasa terganggu, tetapi ia berusaha tak mengindahkannya. Telinganya ia tutup dengan earphone kesayangannya.
Hari ini, salah satu temannya mengajak untuk makan di restoran di sebuah mall. Dengan berbagai alasan ia menolaknya. Selalu seperti ini. Walaupun ia sendiri sangat ingin merasakan masakan mahal itu. Dengan berbagai cara, akhirnya ia berhasil tiba di restoran itu. Masih dengan penampilan yang sama. Kaos dengan jaket sebagai pelindungnya. Mereka duduk di salah satu deretan bangku yang terletak di tengah restoran itu. Sisi lain dalam dirinya mulai merasa tidak nyaman. Namun, ia berusaha untuk mengalahkan rasa itu. Untuk menghilangkan rasa tidak nyamannya, ia mulai bercerita panjang lebar dengan temannya. Teman yang ia percayai selama ini. Teman yang selalu membuatnya nyaman dan jauh dari rasa khawatir.
Perlahan, matanya mulai menangkap sesosok lelaki yang pernah dilihatnya. Ya, ia pernah melihatnya di depan kelas. Teman – temannya nampak akrab berbincang dengan orang itu, walau ia tahu, lelaki yang kini tengah dipandanginya bukan dari kelas yang sama dengan mereka. Terkadang ia ingin mendekat dan berbincang dengannya, tetapi sisi lain dalam dirinya melarang. Meski perasaan itu semakin lama semakin tumbuh. Ia mulai merasakan ada hal lain ketika bertemu dengan pujaan hatinya, begitu ia menyebut dalam setiap cerita yang ia tulis. Tanpa ia sadari, bibirnya perlahan menyunggingkan senyum kagum. Kagum pada sosok yang kini tengah bergurau dengan teman – temannya. Lelaki itu tak perlu tahu bahwa ada seseorang yang mengaguminya dalam diam. Seseorang yang hanya berani menuliskan kisah mereka dalam sebuah cerita. Cerita khayalan.
Mataku terus menatap layar monitor yang kini hampir penuh dengan tulisan – tulisan imajinasiku. Bergurau dan tertawa bersama teman – teman hingga lelah. Berkawan dengan orang baru tanpa merasa khawatir. Dan berbincang dengannya tanpa takut salah ucap. Semua itu terlihat begitu sempurna tanpa ada sisi lain dalam diriku yang menolaknya. Begitu indah hingga aku ingin menjadi diriku dalam tulisanku sendiri. Namun, ketika aku menatap ke luar melalui celah jendela, aku kembali pada diriku dengan membawa sisi lain dalam diriku yang nyaman dengan kesendirianku. Masalah aku merindukannya, aku bisa berteman dengan tulisan – tulisan ini dan menjadikan mereka patuh kepadaku.
Perlahan langkahnya berjalan menjauh. Meninggalkan huru – hara di belakangnya, bahkan untuk sekedar menoleh pun ia enggan. Wajahnya terus menunduk seakan jemari kakinya lebih indah daripada jalanan di depan sana. Ini bukan musim dingin, tetapi ia terus mendekap tubuhnya yang dibalut dengan mantel hangat. Setiap orang yang bertemu dengannya akan merasa gerah walau hanya melihat apa yang ia kenakan.
Apa yang ia lalui tidaklah mudah. Terkadang ia ingin seperti yang lain, bergurau dan tertawa hingga lelah. Tapi, sisi lain dalam dirinya berkata sebaliknya. Hanya satu dua teman yang ia percayai untuk mendengarkan ceritanya. Temannya yang lain, ia anggap seperti orang asing yang baru mengenal jika mereka telah bertemu dan saling bertukar nama. Di kelas, ia lebih senang duduk di pojok belakang. Datang lebih awal demi mendapatkan bangku kesayangannya. Selang beberapa lama, segerombolan teman kelasnya datang. Suara – suara mereka selalu terdengar nyaring di kepalanya, sisi lainnya merasa terganggu, tetapi ia berusaha tak mengindahkannya. Telinganya ia tutup dengan earphone kesayangannya.
Hari ini, salah satu temannya mengajak untuk makan di restoran di sebuah mall. Dengan berbagai alasan ia menolaknya. Selalu seperti ini. Walaupun ia sendiri sangat ingin merasakan masakan mahal itu. Dengan berbagai cara, akhirnya ia berhasil tiba di restoran itu. Masih dengan penampilan yang sama. Kaos dengan jaket sebagai pelindungnya. Mereka duduk di salah satu deretan bangku yang terletak di tengah restoran itu. Sisi lain dalam dirinya mulai merasa tidak nyaman. Namun, ia berusaha untuk mengalahkan rasa itu. Untuk menghilangkan rasa tidak nyamannya, ia mulai bercerita panjang lebar dengan temannya. Teman yang ia percayai selama ini. Teman yang selalu membuatnya nyaman dan jauh dari rasa khawatir.
Perlahan, matanya mulai menangkap sesosok lelaki yang pernah dilihatnya. Ya, ia pernah melihatnya di depan kelas. Teman – temannya nampak akrab berbincang dengan orang itu, walau ia tahu, lelaki yang kini tengah dipandanginya bukan dari kelas yang sama dengan mereka. Terkadang ia ingin mendekat dan berbincang dengannya, tetapi sisi lain dalam dirinya melarang. Meski perasaan itu semakin lama semakin tumbuh. Ia mulai merasakan ada hal lain ketika bertemu dengan pujaan hatinya, begitu ia menyebut dalam setiap cerita yang ia tulis. Tanpa ia sadari, bibirnya perlahan menyunggingkan senyum kagum. Kagum pada sosok yang kini tengah bergurau dengan teman – temannya. Lelaki itu tak perlu tahu bahwa ada seseorang yang mengaguminya dalam diam. Seseorang yang hanya berani menuliskan kisah mereka dalam sebuah cerita. Cerita khayalan.
Mataku terus menatap layar monitor yang kini hampir penuh dengan tulisan – tulisan imajinasiku. Bergurau dan tertawa bersama teman – teman hingga lelah. Berkawan dengan orang baru tanpa merasa khawatir. Dan berbincang dengannya tanpa takut salah ucap. Semua itu terlihat begitu sempurna tanpa ada sisi lain dalam diriku yang menolaknya. Begitu indah hingga aku ingin menjadi diriku dalam tulisanku sendiri. Namun, ketika aku menatap ke luar melalui celah jendela, aku kembali pada diriku dengan membawa sisi lain dalam diriku yang nyaman dengan kesendirianku. Masalah aku merindukannya, aku bisa berteman dengan tulisan – tulisan ini dan menjadikan mereka patuh kepadaku.
anasabila memberi reputasi
1
1.2K
4
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•1Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya