- Beranda
- Berita dan Politik
Balada Surat Terbuka dari Para Pembenci
...
TS
vidya08
Balada Surat Terbuka dari Para Pembenci

Entah seperti apa jalan pikiran para pembenci. Mereka melalui hari-hari dengan kebencian yang selalu memuncak di ubun-ubun.
Tanpa sedikitpun menyisakan adil, tanpa sedikitpun rasa apresiasi dalam ruang pikirannya. Semuanya serba hitam putih.
Anehnya, hal itu dipelihara dan berusaha disebarluaskan melalui media sosial. Memanfaatkan medium teknologi itu untuk memupuk permusuhan dan kegaduhan secara massal.
Perasaan benci itu pun akhirnya semakin berkibar setelah bercampur dengan bara politik. Setiap mereka yang berseberangan dengan posisi politiknya selalu dicap salah dan sesat.
Apalagi kepada tokoh politik yang menjadi musuh bebuyutannya. Apapun yang dilakukannya tak ada yang benar sedikitpun, bahkan bernafas pun mungkin dianggap kesalahan. Dan, propaganda penuh kebencian seperti itu sangat banyak di media sosial.
Semisal, melalui surat-surat terbuka di media sosial kepada Presiden Jokowi. Bisa jadi dari para pembenci seperti Sulung Nof.
Ia menuliskan secara acak kebenciannya yang dibungkus dalam kritikan. Dari kenaikan harga BBM, Presiden nonton film, kasus narkoba, hingga banjir dan tanah longsor di beberapa daerah. Semuanya ditimpakan kepada satu nama, yaitu Presiden Jokowi.
Bila dibahas satu persatu, kita bisa dengan mudah mematahkan argumennya. Karena dia pun juga tak membangun argumennya dengan logis dan masuk akal. Namun, yang pasti aroma kebencian itu sangat terasa di dalam tulisannya.
Misalnya, tak ada kaitan yang jelas antara kenaikan BBM dengan kegiatan presiden yang menonton film. Kenaikan BBM-non subsidi adalah kewenangan bisnis Pertamina, sedangkan menonton film adalah aktivitas sehari-hari. Keduanya tak saling terkait dan tak perlu dikait-kaitkan.
Soal narkoba, sudah sangat jelas bila aparat keamanan kita sudah cukup tegas dengan menerapkan hukuman mati bagi para bandar. Namun tetap saja, presiden yang mendapatkan limpahan kesalahan dari aktivitas para pengedarnya. Tentu saja itu sebuah logika yang melompat.
Termasuk soal bencana di beberapa daerah, itu tak ada kaitannya dengan pribadi presiden kita. Mungkin bila ada nyamuk mati pun, para pembenci itu juga akan menyalahkan para pemimpinnya.
Mereka para pembenci, bukanlah warga yang kritis. Beda. Antara kritis dan membenci keduanya terdapat perbedaan yang signifikan.
Bila tuduhan yang dilempar berupa fitnah atau upaya cocokologi fakta untuk menggiring opini negatif, itu bukan kritikus dalam arti yang positif. Melainkan penyebar fitnah kepada pemerintahan yang sah.
Surat terbuka dari Sulung Nof di atas, contohnya. Itu bukanlah tulisan kritik, namun lebih tepat disebut propaganda politik hitam yang berusaha menyudutkan Presiden Jokowi di hadapan publik.
Biarkan saja mereka yang mengeksploitasi isu negatif untuk bahan nyinyiran tanpa makna. Tak perlu hiraukan dan tak perlu kita sebarkan ulang.
Akan lebih baik bila kita tampung, untuk kemudian dibuanh ke tempat sampah. Itu lebih menyehatkan jiwa kita, menyehatkan linimasa media sosial kita.
0
1.9K
16
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
696KThread•59.4KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya