- Beranda
- Stories from the Heart
Rembulan bercerita [1]
...
TS
hernilost
Rembulan bercerita [1]
Rembulan bercerita [ 1 ]
Namaku Rembulan, panggil saja aku bulan. Iya, namaku memang aneh. Dan aku tidak tahu mengapa mama dan papa menamai aku dengan nama tata surya. Bukannya aku menghina bintang yang mengelilingi bumi itu hanya saja, nama itu puitis sekali, terlalu cantik untuk anak perempuan seperti aku.
Aku masih duduk di bangku SMA kelas sekelas semester satu. Dan aku baru selesai makan malam saat hujan tiba-tiba turun di luar sana,
membuatku senang tentu saja. Bahkan kalaupun langit masih sanggup menumpahkan bebannya ke bumi selama seminggu, aku tak apa, aku baik-baik saja. Hujan tidak pernah mengecewakanku. Tidak seperti mereka.
Aku mengintip di antara birai tangga menuju kamarku, mengintip mama tiri yang genap satu bulan ini tinggal di rumah. Dia sedang membereskan piring kotor dan lekas mencucinya sendiri, karena setelah makan tadi aku langsung pergi ke kamar tanpa basa-basi. Mungkin aku terdengar tidak sopan, tapi aku tidak mau memulai pembicaraan lebih dulu. Aku tidak bisa bersikap menyenangkan seperti kucing tetanggaku yang diam-diam menyelinap ke kamar dan numpang tidur. Begitupun dengannya, mama tiriku jarang sekali menegur atau menyapaku, dia pun tidak pernah berpura pura baik di depan papa. Entahlah apa yang dia pikirkan tentangku. Yang jelas hanya satu, aku tak suka berlama-lama dengannya.
Setelah puas menonton mama mencuci piring dan melihatnya bergerak ke ruang tv, aku pergi ke kamar dengan hati tak karuan. Seperti hari-hari sebelumnya selama dua tahun ini. Setelah mama kandungku meninggal, aku jadi punya kebiasaan on sosmed. Yang awalnya aku anti-sosmed kini menjadi maniak-sosmed, tentu saja tanpa nama asliku yang di pajang disana. Dan kau harus tahu, di dunia nyata ini aku tak memiliki seorang teman. Teman yang bisa ku ajak berbagi, teman yang bisa ku ajak bercanda seperti Raya dan Tania teman sekelasku yang sering berjalan sambil bergandengan tangan, atau Deni cs yang sering kumpul di belakang kelas sambil bergosip. Dan yang paling membuatku iri adalah Sani dan Jeje, mereka mungkin tidak berjalan sambil bergandengan tangan, mungkin tidak pernah bergosip, dan mereka tidak sekelas, tapi di luar jam pajaran mereka selalu bersama. Setiap aku melihat mereka, di bawah pohon yang tumbuh rindang di depan ruang lab fisika sambil membaca buku bersama atau makan bersama. Mereka tampak akur dan solid. Yah, kudengar mereka berpacaran. Tapi tidak terlihat seperti berpacaran, biasa saja. Dan aku tidak peduli apakah mereka pacaran atau tidak, yang pasti aku senang melihat mereka.
Saat aku membuka aplikasinya, ku temukan list account milikku yang nyaris tak terhitung. Itu adalah akun sosial mediaku. Semuanya memakai nama samaran. Aku memilih akun pertama ku buat, karena akun itulah yang memiliki pemberitahuan paling banyak. Di akun ini pula, aku membuat diriku segarang mungkin. Photo yang kupakai pun itu photoku, hanya saja dengan tampilan berbeda. Tampilan yang sengaja ku buat gotic. Karena aku ingin seperti itu, berani, tangguh dan memiliki jiwa berontak. Namun kenyataannya, aku ini hanya seorang introvert yang tidak memiliki teman. Hanya bisa menghayal dan ngobrol dengan laptop terbuka di atas meja.
Terkadang aku berpikir untuk sok kenal sok dekat pada teman sekelasku, namun tak pernah terjadi. Karena sebelum aku melakukannya mereka terlebih dahulu menyapaku. Sayangnya, image yang selama ini ku bangun rupanya tak mau mengalah. Aku tetap bersikap ketus pada mereka dan akhirnya mereka tak menyapaku lagi.
Sebetulnya mataku sudah tidak mau kuajak berjalan-jalan di depan monitor, rasa kantukku menyerang lebih cepat. Mungkin efek dari minyak yang terdapat pada tumis kangkung buatan mama, padahal aku harus menunggu papa pulang sampai jam sepuluh. Aku tidak bisa tidur tenang jika papa masih berada di luar rumah, alasannya? aku takut terjadi sesuatu padanya saat aku tidur. Seperti saat mama meninggal, dan aku sedang tidur. Aku datang kerumah duka dengan memakai baju tidur bermotif bunga-bunga, sendirian. Itu sangat menyebalkan, mama meninggal di waktu yang tidak tepat. Maksudku, mengapa di saat aku tertidur?
Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, atas kematian mama. Mama pergi memang sudah takdir, suatu saat aku pun akan meninggal. Hanya menunggu waktu, dan kuharap di waktu yang tepat. Agar orang yang kehilangan diriku bisa menangis sepuasnya. Tak seperti aku, yang bingung harus berbuat apa, selain mengucek mata beberapa kali dan akhirnya menangis sebentar. Lalu aku tak begitu mengingat apa yang terjadi selain terakhir kali aku melihat sosoknya. Aku dianggap tak berperasaan oleh adik mama, karena aku tidak menangis terus. Kata papa, aku tidak terlihat kehilangan mama, aku tidak terlihat sedang berduka. Mungkin papa benar, tapi papa salah. Aku sangat kehilangan mama. Sangat kehilangan melebihi siapapun, dia ibuku yang melahirkan aku, selalu mengkhawatirkan aku. Dan aku tidak bisa menangis, hatiku memang sakit karena kepergiannya. Tapi hidup harus terus berjalan, aku tidak mungkin menangisinya terus menerus. Aku hanya bisa berdoa, semoga mama ditempatkan di surga.
Namaku Rembulan, panggil saja aku bulan. Iya, namaku memang aneh. Dan aku tidak tahu mengapa mama dan papa menamai aku dengan nama tata surya. Bukannya aku menghina bintang yang mengelilingi bumi itu hanya saja, nama itu puitis sekali, terlalu cantik untuk anak perempuan seperti aku.
Aku masih duduk di bangku SMA kelas sekelas semester satu. Dan aku baru selesai makan malam saat hujan tiba-tiba turun di luar sana,
membuatku senang tentu saja. Bahkan kalaupun langit masih sanggup menumpahkan bebannya ke bumi selama seminggu, aku tak apa, aku baik-baik saja. Hujan tidak pernah mengecewakanku. Tidak seperti mereka.
Aku mengintip di antara birai tangga menuju kamarku, mengintip mama tiri yang genap satu bulan ini tinggal di rumah. Dia sedang membereskan piring kotor dan lekas mencucinya sendiri, karena setelah makan tadi aku langsung pergi ke kamar tanpa basa-basi. Mungkin aku terdengar tidak sopan, tapi aku tidak mau memulai pembicaraan lebih dulu. Aku tidak bisa bersikap menyenangkan seperti kucing tetanggaku yang diam-diam menyelinap ke kamar dan numpang tidur. Begitupun dengannya, mama tiriku jarang sekali menegur atau menyapaku, dia pun tidak pernah berpura pura baik di depan papa. Entahlah apa yang dia pikirkan tentangku. Yang jelas hanya satu, aku tak suka berlama-lama dengannya.
Setelah puas menonton mama mencuci piring dan melihatnya bergerak ke ruang tv, aku pergi ke kamar dengan hati tak karuan. Seperti hari-hari sebelumnya selama dua tahun ini. Setelah mama kandungku meninggal, aku jadi punya kebiasaan on sosmed. Yang awalnya aku anti-sosmed kini menjadi maniak-sosmed, tentu saja tanpa nama asliku yang di pajang disana. Dan kau harus tahu, di dunia nyata ini aku tak memiliki seorang teman. Teman yang bisa ku ajak berbagi, teman yang bisa ku ajak bercanda seperti Raya dan Tania teman sekelasku yang sering berjalan sambil bergandengan tangan, atau Deni cs yang sering kumpul di belakang kelas sambil bergosip. Dan yang paling membuatku iri adalah Sani dan Jeje, mereka mungkin tidak berjalan sambil bergandengan tangan, mungkin tidak pernah bergosip, dan mereka tidak sekelas, tapi di luar jam pajaran mereka selalu bersama. Setiap aku melihat mereka, di bawah pohon yang tumbuh rindang di depan ruang lab fisika sambil membaca buku bersama atau makan bersama. Mereka tampak akur dan solid. Yah, kudengar mereka berpacaran. Tapi tidak terlihat seperti berpacaran, biasa saja. Dan aku tidak peduli apakah mereka pacaran atau tidak, yang pasti aku senang melihat mereka.
Saat aku membuka aplikasinya, ku temukan list account milikku yang nyaris tak terhitung. Itu adalah akun sosial mediaku. Semuanya memakai nama samaran. Aku memilih akun pertama ku buat, karena akun itulah yang memiliki pemberitahuan paling banyak. Di akun ini pula, aku membuat diriku segarang mungkin. Photo yang kupakai pun itu photoku, hanya saja dengan tampilan berbeda. Tampilan yang sengaja ku buat gotic. Karena aku ingin seperti itu, berani, tangguh dan memiliki jiwa berontak. Namun kenyataannya, aku ini hanya seorang introvert yang tidak memiliki teman. Hanya bisa menghayal dan ngobrol dengan laptop terbuka di atas meja.
Terkadang aku berpikir untuk sok kenal sok dekat pada teman sekelasku, namun tak pernah terjadi. Karena sebelum aku melakukannya mereka terlebih dahulu menyapaku. Sayangnya, image yang selama ini ku bangun rupanya tak mau mengalah. Aku tetap bersikap ketus pada mereka dan akhirnya mereka tak menyapaku lagi.
Sebetulnya mataku sudah tidak mau kuajak berjalan-jalan di depan monitor, rasa kantukku menyerang lebih cepat. Mungkin efek dari minyak yang terdapat pada tumis kangkung buatan mama, padahal aku harus menunggu papa pulang sampai jam sepuluh. Aku tidak bisa tidur tenang jika papa masih berada di luar rumah, alasannya? aku takut terjadi sesuatu padanya saat aku tidur. Seperti saat mama meninggal, dan aku sedang tidur. Aku datang kerumah duka dengan memakai baju tidur bermotif bunga-bunga, sendirian. Itu sangat menyebalkan, mama meninggal di waktu yang tidak tepat. Maksudku, mengapa di saat aku tertidur?
Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, atas kematian mama. Mama pergi memang sudah takdir, suatu saat aku pun akan meninggal. Hanya menunggu waktu, dan kuharap di waktu yang tepat. Agar orang yang kehilangan diriku bisa menangis sepuasnya. Tak seperti aku, yang bingung harus berbuat apa, selain mengucek mata beberapa kali dan akhirnya menangis sebentar. Lalu aku tak begitu mengingat apa yang terjadi selain terakhir kali aku melihat sosoknya. Aku dianggap tak berperasaan oleh adik mama, karena aku tidak menangis terus. Kata papa, aku tidak terlihat kehilangan mama, aku tidak terlihat sedang berduka. Mungkin papa benar, tapi papa salah. Aku sangat kehilangan mama. Sangat kehilangan melebihi siapapun, dia ibuku yang melahirkan aku, selalu mengkhawatirkan aku. Dan aku tidak bisa menangis, hatiku memang sakit karena kepergiannya. Tapi hidup harus terus berjalan, aku tidak mungkin menangisinya terus menerus. Aku hanya bisa berdoa, semoga mama ditempatkan di surga.
nona212 dan anasabila memberi reputasi
2
908
4
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya