Quote:
TRIBUNNEWS.COM, GARUT - Seorang siswa sekolah dasar (SD) berinisial MR (7), warga Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat diduga jadi korban penganiayaan ibu kandungnya sendiri.
Korban yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini, diduga disiksa ibu kandung korban bernama NS (32), dengan cara disetrika di sekujur tubuhnya.
Menurut informasi, kejadian tersebut diketahui, Senin (19/2/2018), saat korban tidak mau mengikuti upacara karena alasan sakit.
Setelah diperiksa, guru tersebut melihat ada luka bakar di sekujur tubuh korban dan menurut pengakuan, korban mengaku disetrika ibu kandunganya sendiri.
Kemudian, pihak guru pun menghubungi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan kemudian dilakukan penindakan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, mengatakan, saat ini pelaku telah diamankan, setelah pihaknya mendapat laporan langsung dari guru korban terkait tindakan penganiayaan tersebut, pada Selasa siang (20/2/2018).
"Korban sebelumnya telah mendapatkan perawatan oleh tim RSU Dr Slamet," kata Budi di Mapolres Garut, Jalan Jend Sudirman, Kabupaten Garut, Selasa (20/2/2012).
Terkait motif pelaku melakukan tindakan penganiayaan, Budi mengatakan, pihaknya sulit mendapat keterangan, karena setelah dilakukan penangkapan, pelaku sulit diajak berkomunikasi.
"Pelaku tidak mengalami gangguan, mungkin kaget setelah kami amankan," kata Budi.
Atas perbuatan tersebut, pelaku dijerat pasal 76C Undang-undang no 35 tahun 2014 tentang tindakan kekerasan terhadap anak.
"Diancam hukuman 10 tahun penjara,"ujarnya.
Menurut pantaun, saat ini pelaku masih diamankan aparat kepolisian di ruangan Unit PPA Polres Garut, untuk dimintai keterangan.
m.tribunnews.com/regional/2018/02/20/seorang-ibu-di-garut-tega-menyetrika-tubuh-anak-kandungya
Penampilan sang ibu kandung saat diamankan pakaiannya biasa saja, rambutnya bukan rambut yang sering melakukan perawatan, serta kulitnya bukan kulit perempuan yang sering melakukan perawatan. Bisa disimpulkan secara ekonomi sang ibu kandung dari golongan sangat sederhana.
Itulah mengapa pernikahan sangat sakral di negara maju. Bukan cuma sekedar nurutin mulut tetangga, bukan sekedar sudah kebelet nganu dan ingin melakukannya secara halal. Pernikahan selain cinta adalah kesanggupan memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan.
Nikah cuma modal cinta. Nikah cuma modal nurutin mulut tetangga. Akhirnya cuma indah di bulan awal doang. Paling kasihan sang anak jadi pelampiasan kesusahan hidup keluarga.
Minta mainan malah dikasih bogem, minta makanan enak malah dikasih toyor, minta jalan-jalan malah dikasih omelan, minta pakaian layak malah dikasih tabok telapak sakti
