- Beranda
- Stories from the Heart
[ POPULER ] JUST YOU, not else
...
TS
firman.tambun
[ POPULER ] JUST YOU, not else
JUST YOU, not else
![[ POPULER ] JUST YOU, not else](https://s.kaskus.id/images/2018/02/28/10064914_201802281111330361.jpg)
Seperti biasanya, Dia terbaring dikasur, meletakkan kepalanya diatas bantal rajut yang empuk dan nyaman, tanpa sekalipun melirikku yang ada disana, diatas sofa merah yang ada didepannya.
Sesekali aku melirik dengan tatapan sedih, tapi tak kunjung ada balasan darinya, hanya terbaring kaku dikasur empuknya.
Kudekatkan diri padanya yang tak kunjung melirikku, ku usap kepalanya yang berambut yang lebat dan lembut. Kuposisikan diriku duduk dilantai sambil menatap dia yang tak kunjung berbicara, tak kunjung membalas sentuhanku, apalagi menciumku seperti biasanya.
Quote:
***
Semua ini bermula pada saat itu, saat dimana aku kembali dari kantorku yang penuh dengan pekerjaan yang melelahkan dan penuh penat. Ketika aku pulang kantor, aku tidak langsung pulang, melainkan mampir ketempat saudara yang berada tidak jauh dari daerah kantor tempatku bekerja.
“Rencana dadakan” itu mungkin ungkapan tepat untuk keadaanku saat ini, karena rencana awalnya aku hanya akan langsung pulang dan berjumpa dengan dia di pelataran atap yang mengarah pada pemandangan sunset yang indah saat menjelang malam hari.
Tapi, sesaat keluar dari kantor handphone berbunyi, telepon dari tanteku, tante Anggi. Tanteku menyuruhku untuk singgah kerumahnya pada saat itu, Tante Anggi memintaku untuk membantunya menyiapkan persiapan untuk acara pernikahan clientnya.
Quote:
***
Aku mengetuk pintu rumah Tante Anggi, tapi tak ada jawaban. Berkali-kali aku ketuk pintu rumah Tante Anggi, namun tak ada jawaban. Hingga akhirnya ketukan terakhirku dengan sedikit memusatkan tenaga pada ujung pertengahan jariku membuahkan hasil, om Bastian, suami Tante Anggi membukakan pintu untukku.
Sesaat om Bastian menyuruh masuk, mataku teralihkan dengan Dia, sosok yang menjadi alasan kemarahan kekasihku. Dia adalah sosok pria yang sangat tampan dimataku, duduk di sofa tepat dibelakang om Bastian. Aku masuk kedalam rumah dan Dia menatapku dengan tatapan yang membuatku bergedup cukup kencang.
Hanya senyum yang bisa kuberikan ketika mata kami saling berpapasan dan saling pandang, kucoba untuk mengalihkan pandanganku dari sorot matanya yang menawan, namun tak berhasil karena tampaknya Dia berhasil mencuri perhatianku.
“ Hay, Tante Anggi, apa kabar ? ”sambil memeluk Tante Anggi, yang baru keluar dari dapur. Tante Anggi dan Om Bastian adalah keluargaku yang dekat denganku dan juga dekat dengan daerah tempat tinggalku, mereka adalah tempatku bersandar dari segala problema kehidupan, saat tersulit bagiku pun kulewati bersama dengan mereka, dan mereka selalu ada untukku.
“ Hey, Dian ! ",( Iya Dian adalah namaku.)
" Dian, kenalin ini Ray! “ Sahut Om bastian memperkenalkan lelaki tampan Yang duduk di sofa itu.
Quote:
Ray mendekatiku dan mengulurkan tangannya, akupun menyambut tangannya dan bersalaman. Dia hanya menatapku dengan tatapan tajam tanpa berbicara sedikitpun, namun dapat aku rasakan tatapan penuh kehangatan darinya yang membuatku gundah.
Hay, Ray, aku Dian!”
Ray tetap diam dan tidak bergemik selain menatapku dengan tajam. Gelisah rasaku dengan reaksi diam Ray, hingga aku lepaskan genggamanku dan memberikan senyum kikuk kepada Ray dan pergi kedapur bersama Tante Anggi.
***
Didapur terlihat banyak persiapan masakan yang akan disajikan pada saat acara pernikahan client Tante Anggi. Tapi pendanganku hanya mengarah pada sebuah Loyang berisi adonan kue yang tampaknya akan menjadi kue pernikahan diacara pernikahan nanti. Tercium aroma khas adonan kue yang kelihatan lezat, dan aku hanya bisa katakan saat itu “yum! Enak banget ni kayaknya tan? ”sambil mengambil adonan kue yang sudah matang dari oven dan menggantinya dengan Loyang yang dipenuhi dengan adonan kue tadi.
“Enak dong, buatan tante gitu!” Tanteku memang hebat, Dia membuat dan menjual kue, dan semua masakan buatannya selalu digemari orang-orang yang memesannya.
“Memang kue bikinan tante itu enak dan semua suka makan kue tante kecuali satu, dia!” Tante menunjuk Ray yang sedang berdiri diruang tengah diantara dapur dan pintu masuk.
Ray, masih saja seperti keadaannya sebelumnya hanya terdiam, namun dia tiba-tiba mengalihkan pandangannya keluar jendela, lalu kembali memandangku lagi.
“ Dia memang seperti itu Dian, tidak banyak ngomong. Sudah bawaan dari kecil ! tapi Ray sebenarnya baik dan hangat kok, bahkan dia bisa menjadi sangat ramah dan romantis kepada orang yang sikuainya loh ! ” Canda Om Bastian yang saat itu mendengar obrolanku dengan Tante Dian.
Canggung rasanya membahas Ray yang punya sifat romantis ditempat ini apa lagi belakangan ini aku sudah lama tidak merasakan keromantisan bersama kekasihku yang sebenarnya..
“Maklumlah hubungan kami sedikit suram.”
Quote:
“ Kenapa kamu tidak suka kue buatan tante,Ray ?” kembali aku bertanya pada Ray yang saat itu sedang melihatku dari ruang tengah. Namun dia tidak menjawab dan hanya bersikap diam sambil kembali melihat keluar jendela.
“ Kue bikinan Tante enak loh, masa kamu gak suka sih! ” kumulai lagi berusaha memulai obrolan agar tidak terlihat kaku, atau mungkin aku memang ingin mengenalnya. Namun tetap saja Ray tidak meresponku. Aku hanya ingin berusaha mengenalnya dan ingin mendengar suaranya, hingga membuat rasa penasaranku ini terpuaskan.
“ Kamu bisu ya ?”candaan yang kukeluarkan yang terdengar sedikit konyol dan keterlaluan. Karena sadar akan kesalahan omonganku, aku segera menutup mulutku sendiri. Namun seperti biasa Ray tidak terpengaruh sama sekali.
Ray duduk kembali ke sofa empuk milik Om Bastian dan Tante Anggi, tanpa memperdulikan kami yang sedang bekerja di dapur. Aku menjadi salah tingkah ketika tatapan Ray selalu mengarah padaku dan tidak pernah teralihkan hanya kepadaku.
“ Aku sering berhadapan dengan orang yang pendiam Ray, tapi dari yang aku tahu diam itu bermakna ganda Ray, ada yang bermakna ketenangan, dan ada bermakna kemarahan. “ sembari berbicara aku mendekati Ray.
Tiba-tiba Ray tertunduk dan kemudian kembali menatapku.
“Kamu termasuk diam yang mana Ray ?” ujarku kembali saat tatap mata Ray tak kunjung ia tarik.
Ray akhirnya berdiri dari sofa itu dan bergerak menuju sampingku yang sedang berdiri didekatnya, kami terlalu dekat karena aku dapat merasakan deru nafasnya diwajahku. Aku mulai panic dengan suasana canggung yang tiba-tiba ini.
Dan sekarang rasanya semakin panik. Wajah Ray semakin dekat dan menatapku dengan penuh kehangatan dan secara tiba-tiba dia menciumku.
Oh tidak ! ini kesalahan, aku ini adalah orang yang sangat mudah jatuh cinta, apalagi dengan pria cool yang tidak banyak bicara dan sangat misterius seperti Ray.Aku langsung meninggalkan Ray pada saat itu dan kembali kedapur ketempat Om dan Tante sedang bekerja.
Kenapa kamu Dian ? kamu gak diapa-apain Ray kan ? Tanya Om Bastian ketika melihatku sedikit panik.
"Gak, kok om! gak ada apa-apa! Aku cuman takut kelupaan kue yang di dalam oven tadi kok om! " Jawabku akhirnya.
“ Ray itu memang sulit ditebak Dian, mungkin karena trauma di masa kecil dulu. Kadang dia suka marah-marah gak jelas, kadang dia diam, kadang dia ceria, kalo sedikit aneh harap maklum aja ya. “ Ujar Om Bastian
Aku hanya mengangguk dan minum air yang banyak seraya menngusir rasa panikku. Rasa bersalah muncul semakin besar ketika air masuk dalam kerongkonganku.
Quote:
Nanti malam kamu kesini ya, kita makan malam bersama, sekitaran jam tujuh kamu datangnya, ya !”ujar Tante Anggi.
Aku mengangguk dan bergegas pulang kerumah ketempat kekasihku berada.
Seperti yang kupikirkan Dia sudah ada didepan pintu saat aku kembali kerumah kami, menungguku dan menyambutku dengan pelukan penuh rasa khawatir darinya.
“Aku pikir kamu kemana Dian, aku takut kamu pergi lagi!”
Barangkali itu adalah kata-kata yang akan keluar darinya saat dia memelukku saat itu.
“ Tante Anggi mengundang kita untuk makan malam dirumahnya nanti jam 7 malam.” Hanya itu omongan yang keluar saat itu seraya aku memeluknya.
Dia membalas pelukanku dan mencium pipiku tepat, ketempat bekas Ray menciumku.
Ciumannya seharusnya lembut dan lama berhenti, namun kali ini tidak, dia mengendus pipiku tepat dimana Ray menciumku. Ia langsung melihatku dengan tatapan yang nanar.
“Mampus, pasti aroma Ray masih membekas dipipi gue!” Hatiku uda getar-getir tak karuan, takut dia akan mencurigaiku. Namun ia melemparkan senyum yang sangat hangat padaku, membuatku terpanah pada senyum hangatnya.
***
Jam menunjukkan jam tujuh kurang, aku dan dia sedang bersiap-siap untuk pergi kerumah Tante Anggi. Sweater Merah kesukaannya dan topi rajut bewarna merah ku siapkan untuk dikenakannya, dia terlihat sangat tampan mengenakan sweater dan topi rajut itu.
“Kamu terlihat sangat tampan” Bisikku sambil kembali menciumnya. Dia kembali tersenyum padaku, senyuman yang selalu mampu membuatku tenggelam dalam angan indahku.
“ayo” kataku seraya kuelus lembut rambut kecoklatannya.
***
Kami pun berangkat kerumah Tante Anggi, sesampainya didepan rumah bercat hijau itu, aku langsung mengetuk pintu beberapa kali dan berharap Ray tidak ada disana. Pintu terbuka
Om bastian dan Ray yang membukakan pintu.
Ray melihatku dengan tatapan tajamya, begitu juga dengan kekasihku. Tanpa diduga Ray langsung menghampiriku dan langsung memelukku seakan kami ini sudah kenal lama, dan anehnya pelukannya berakhir tanpa ada sepata katapun bahkan tak memperdulikan kekasihku yang ada disampingku saat itu.
Ray mengajakku masuk kedalam, menuju ruang makan, dan kekasihku masih berada di pintu memandangiku dengan segala yang dilakukan oleh Ray dengan tatapan nanar dan bingung.
Langsung saja aku pamit pada Ray, dan kembali kepintu seraya mengajak kekasihku masuk kedalam rumah dan mengarah pada meja makan.
“yuk, masuk dear!” bisikku kembali padanya seraya aku kembali memeluknya. Namun sepertinya rasa bingung dan rasa api cemburu mulai memasuki dirinya. Dia memandangiku dengan Ray secara bergantian.
Acara makan malam saat itu berubah menjadi bencana bagiku karena Ray yang tadi siang tidak banyak ngomong atau melakukan apapun selain menatapku, kini berubah menjadi sosok yang sangat romantis padaku. Ray duduk disampingku dan berkali-kali mencoba menyentuh tanganku, bahkan tak segan menciumku didepan kekasihku termasuk om dan tanteku. Serasa tidak ada canggung diperlihatkan Ray, bahkan tampak dia tidak menganggap kehadiran kekasihku disitu.
Tante Anggi dan Om Bastian hanya saling pandang dan menatap segan kearah kekasihku yang duduk kaku ditempat duduknya. Tampak api cemburu mulai berkobar dari sorotan matanya yang melihatku dan Ray.
Makan malam saat itu pun tidak bisa kami selesaikan karena kekasihku memilih pamit pulang, begitu juga denganku.
“ Maafin aku ya dear! Ray itu agak terganggu karena trauma dimasa kecilnya. Dia Cuma bisa akrab terhadap orang tertentu saja, dan aku gak nyangka aku adalah termasuk dalam orang itu. Tadi siang dia itu hanya diam-diam saja, tiba-tiba malamnya jadi begitu! Pecaya dong dear!” mohonku sambil mengelus rambut kecoklatannya.
Dia cium lo kemaren kan, Dian?
Kuartikan Seperti itu, tatapan nanarnya yang mengarah pada pipiku. Endusan dingin dari kekasihku kembali terasa dipipiku. Sepertinya kesedihan mendalam ada padanya saat ini.
“Iya, dia cium aku kemaren! Ciuman yang tiba-tiba juga! Maapin aku ya dear! Pliss!”
Dia tampak tak bergeming.
”Dear, cuman ada kamu kok dihatiku! Gak ada yang bisa gantiin posisimu dihatiku.
Mereka yang mendekatiku hanyalah kuanggap anjing semata yang hanya bisa memberikan rasa yang spontan saja!” ujarku padanya.
"Maapin sikap Ray tadi ya dear! Seperti kataku tadi, dia itu mengalami trauma masa kecil, tolong maklumi kelakuannya ya dear!
Sebagai permintaan maapku aku akan mengajakmu jalan-jalan ketaman besok! "Kembali bujukku padanya.
Quote:
Dia pun kembali mengangkat kepalanya dan menatapku dengan senyum hangatnya yang khas.
Esoknya tampak dia sudah bersiap untuk pergi jalan-jalan ketaman, sesuai dengan janjiku dimalam hari sebelumnya, aku sudah ijin kekantorku untuk sedikit terlambat masuk hari ini.
Dia langsung menghampiriku dengan membawa tali yang biasa melingkar dilehernya jika aku mengajaknya jalan-jalan, dan menyerahkan tali itu padaku.
Aku Cuma cinta samamu dear!Jika ada anjing lain yang deketin aku, anggap aja itu fans aku dear! Kembali aku memeluknya dan menciumnya sambil memasang tali itu dikalung yang ada dilehermya.
Ayo Dear! Kita berangkat sekarang!
WOOOFFF!
Suaranya yang lantang dan penuh semangat.
Dialah anjing kesayanganku. JIMBO.
JUST YOU, not else
Diubah oleh firman.tambun 23-09-2018 13:05
anasabila memberi reputasi
1
2K
14
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya