Kaskus

Story

azizahnoorqolamAvatar border
TS
azizahnoorqolam
Merajut Asa
Merajut Asa

Merajut Asa
Quote:


“Mas, kita kembalikan saja uang tabungan anak-anak.” Saranku

“Kita punya uang dari mana?” Hendri bertanya dengan nada tinggi.

“Kemarin kan Mas minjem uang ama Pak Saepulloh,” Aku terus meyakinkannya, “ kasihan Mas, kayaknya dia sangat membutuhkan uang itu.”

“Kamu ini! Uang ini kan, mau aku gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kita mau makan apa, kalo uang ini diberikan padanya? Heh, Ayo jawab!” Hendri memegang daguku dengan kasar.

Aku hanya diam. Sekuat tenaga menahan air mata yang hampir menetes dari sudut mata.

“Daripada kamu banyak ngomong. Lebih baik kamu selesaikan proposal ini!” Hendri melemparkan setumpuk kertas ke hadapanku.

Aku menggambil setumpuk kertas itu. Dan berlalu menuju tempat kerja Hendri. Kemudian menyalakan komputer dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh suamiku. Baru saja jariku akan menyentuh Keyboards. Tiba-tiba, Aldi dari kamar menangis sangat keras. Hendri yang mendengarnya langsung ikut berteriak mengalahkan suara tangisan Aldi.

“Nay....Anakmu tuh nangis!”

Dengan tergopoh-gopoh, aku langsung pergi ke kamar dimana Aldi berada. Penuh kasih sayang aku menggendong Aldi, lalu mengajaknya ke teras rumah. Hendri mengambil alih pekerjaanku. Wajahnya terlihat sangat marah. aku mau mendekati suamiku. Namun aku mengurungkan niat itu.
...

Aku termenung sendiri di beranda rumah. Angin malam melambai-lambai menerpa jilbab lebarku. Bulan begitu bersemangat memancarkan cahayanya. Bintang berkerlap-kerlip menghiasi langit yang gelap gulita. Ditambah suara jangkrik yang sangat merdu. Menemani hatiku yang terluka. Kebahagiaan yang aku dapat hanya sekejap mata. Setelah itu, duka dan derita menghiasi hidupku. Hendri, laki-laki yang telah menjadi pendamping hidupku, kini berubah menjadi sosok yang tidak aku kenali.

2 Tahun yang lalu...
Quote:

Merajut Asa

Di kampus, aku terkenal sebagai seorang aktivis di berbagai bidang. Kepandaianku dalam berorasi, menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa. Tak hanya itu, dalam bidang akademik pun aku selalu mendapat nilai yang memuaskan. Banyak para Ikhwan yang berusaha untuk berkenalan. Namun diantara sekian banyak kumbang. Hendrilah yang terpilih. Pertemuan antara ia dan Hendri terjadi di sebuah tempat wisata di Bandung.

Mataku memandang lurus hamparan air. Sengaja aku mengasingkan diri dari teman-temanku. Tanpa aku sadari, seorang pria tanpa permisi duduk di sampingku.

“Situ ini indah sekali ya?” tanya pria itu sambil melihat luasnya situ.

“Ya, Maha Besar Allah yang telah menciptakannya.” Ucapku tanpa menoleh..

“Nama ku Hendri. Bolehkan kita kenalan?”

“Oh ... boleh. Nama saya Nayla.” Aku memberikan senyuman termanis padanya.

“Kamu ke sini bareng ama temen-temenmu, ya?”

Aku hanya menganggukkan kepala.

“Kenapa nggak gabung ama teman-temannya?”

“Lagi pengen sendiri aja. Merenungi alam ciptaan-Nya.”

“Hmm...gitu, ya!”

Pertemuan itu tak akan pernah aku lupakan. Hendri yang baik, sopan dan perhatian. Meski pekerjaannya banyak, tapi Hendri selalu menyempatkan menelponku.

Kedekatanku dan Hendri semakin serius. Hingga pada akhirnya kami pun menikah.
Quote:

...

Aku tersadar dari lamunan masa lalu. Sudah hampir setengah jam aku menghabiskan waktuhanya untuk memutar slide-slide masa-masa indah itu. Hendri berubah dengan sangat drastis. Ia menjadi sosok yang menakutkan. Emosinya yang kadang meledak. Tak ayal membuat jantungku shock. Kadang ia melempar apa yang ada disekitarnya. Hendri sering menyuruhku untuk melakukan hal-hal yang diluar keinginan hati. Memalsukan identitas, menipu orang, dan merampas harta orang lain. Aku berada dalam dilema besar. Antara Hendri dan ketenangan batin. Aku tak ingin Aldi diberi makan dari hasil yang tidak halal. Yang mungkin akan berdampak negatif pada putraku.

Penat dengan pikirannya, aku beranjak dari beranda rumah. Kemudian melangkahkan kaki dan masuk ke dalam rumah.
Malam makin lama semakin larut, aku masih asyik terhanyut dalam interaksi dengan Rabb-nya. Airmata terus menetes bak air bah.

“ Wahai Rabb penjaga hati. Tenangkanlah hati hamba-Mu yang lemah ini. Hamba tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi suami hamba, ya Rabb? Hamba bingung. Ia selalu menyuruh hamba melakukan hal yang tak bisa diterima oleh hati hamba. Kenapa dia berubah secepat itu? Kenapa? Apa yang harus hamba lakukan? tindakannya sudah sangat keterlaluan. Apa hamba harus diam melihat semua ini? Sedangkan hamba sama sekali tak punya keberanian untuk melawannya. Hamba lemah sangat lemah. Apa hamba harus berpisah dengannya? Hamba takut, jika terus bersamanya hamba akan terseret lebih jauh lagi. Jauh, jauh dan semakin jauh. Mantapkanlah keputusan hamba. Mudah-mudahan ini yang terbaik. Hamba memutuskan ini karena-Mu. Hamba lebih memilih Engkau dari pada dia. rengkuh hamba dalam kasih-Mu. Selamatkan hamba dari laknat-Mu.” Nayla menangis dan terus menangis. Ini keputusan akhir. Semua ini harus diakhiri. Ia ingin membersihkan noda yang telah menodai putih dan bening hatinya. Lebih baik ia membesarkan Aldi seorang diri dengan rizki yang halal. Dari pada dibelenggu dengan hal yang bertolak belakang dengan kebenaran hati.
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
1.1K
3
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.9KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.