- Beranda
- Stories from the Heart
#SFTHChallenge : Percayalah, Hidup Ini Ajaib!
...
TS
mukamukaos
#SFTHChallenge : Percayalah, Hidup Ini Ajaib!

Spoiler for Sekelumit Cerita Untuk Kalian Semua:
Quote:

“Mas, mau jual diri nggak?”Pertanyaan edan itu tiba-tiba terlontar dari mulut seorang anak kecil bermata sipit yang sejak tadi duduk di sampingku. Keningku mengerut samar, coba mencerna perkataan tak berdasar dari anak yang bahkan tidak aku kenal. Aku? Mau jual diri? Setan brengsek macam apa yang tega meracuni pikiran bocah ini? Yang kalau kutaksir bahkan usianya tidak lebih dari 12 tahun!
Aku menarik napas dalam-dalam. Tenang. Selow. Santai. Cuma anak-anak. “Kamu namanya siapa?” tanyaku.
“Bima.”
Aku terhenyak. “Loh, kok, sama?”


Bima. Itu namaku. Tiada nama belakang. Hanya Bima. Jarang ada yang tahu alasan di balik namaku, yang mirip salah satu tokoh pewayangan itu. Ayahku adalah seorang koki di restoran yang ia kelola sejak belasan tahun lalu. Ratusan resep sudah dia ciptakan demi memajukan usaha tunggalnya.
Lantas, apa hubungannya dengan namaku? Jika kalian pikir arti nama Bima sama dengan salah satu tokoh wayang dalam serial Mahabarata, kalian salah besar! Nama Bima yang diwariskan Ayah untukku merupakan akronim dari nama-nama makanan favoritnya; Bebek, Ingkung, Mie, Ampela = B.I.M.A. Kupersilakan kalian mencemooh. Karena jauuuh di lubuk hati, aku masih bersyukur namaku bukan Bambang Bala-Bala atau Sri Penyet.
Aku memiliki seorang kakak perempuan. Tidak, namanya bukan berasal dari singkatan-singkatan kreatif sepertiku. Namanya Dewi. Tentu tanpa embel-embel nama depan apalagi belakang. Entahlah, aku pun tak mengerti mengapa Ayah tidak mau repot-repot memberi bonus ekstra nama kepada dua anaknya.
Hobiku adalah melamun. Mengamati suasana resto ayah yang tidak pernah sepi. Oh, aku sampai lupa bilang. Nama rumah makan milik Ayahku adalah “Resto Ayah”, tertulis segede gaban di plang depan rumah makan, dihiasi aneka gambar menu andalan resto. Dan jangan tanya mengapa namanya “Resto Ayah”.
Setahuku, melamun bukan kegiatan yang mengganggu orang lain. Kau cukup diam dan membiarkan pikiranmu berimajinasi. Melanglang buana menuju dunia tanpa batas. Bukankah begitu? Tapi tidak bagi Dewi. Kuberitahu, Kakakku yang satu itu bukanlah perempuan ideal idaman banyak pria. Apapun yang dianggapnya aneh harus dibenahi.
Termasuk menghadapi kebiasaanku melamun. Hal ini membuatku...


Suatu siang, di tengah makan siang bersama Ayah yang nyaman, tahu-tahu Dewi ngomong, “Dad, kayaknya Bima ketempelan.”
Aku tak mengerti maksudnya. Tapi dapat kulihat kening Ayah sedikit mengerut sambil melirikku. “Ketempelan? Maksudnya?”
Ya. Aku juga ingin tahu maksudnya.
“Ketempelan itu maksudnya, si Bima tuh diikutin makhluk halus, Dad. Jadi ada makhluk halus yang ikutin Bima kemanapun! Parahnya, ‘sosok’ yang ngikutin Bima bisa bawa pengaruh buruk!” Dewi menjelaskan sungguh-sungguh. Belum pernah aku lihat Dewi seserius itu.
“Masa, sih? Dad lihat, Bima biasa aja, tuh. Kamunya saja yang lebay,” sahut Dedi.
Ya. Ayah benar. Dewi memang lebay.
Dewi mendengus kesal. “Dad, serius! Masa Dad nggak tahu sih? Bima itu suka melamun di pojok resto; ketawa-ketiwi kayak orang gila; kadang suka ngomong sendiri––“
“Hei, aku nggak pernah ngomong sendiri tauk! Fitnah!” seruku membela diri. Kulirik Ayah, mengharap bantuan.
Sia-sia.

Sore berikutnya, Dewi menyeretku ke tempat salah seorang kenalannya yang––katanya––bisa ‘membersihkanku’. Dengan niat ala kadarnya, kuikuti ke mana Dewi melangkah.
Perlu kalian tahu, Dewi tidak seperti aku atau Ayah yang jarang ke gereja. Yah, jarang di sini maksudnya cuma pas natal doang (itu pun kalau tidak bangun kesiangan). Sedang Kakakku yang satu itu, beuuh, jangan ditanya. TIDAK PERNAH SAMA SEKALI! Malesna… ieuh, euweuh dua! (malasnya tiada dua!). Tapi perilakunya akan beda 180 derajat, jika berhubungan dengan hal-hal mistis – atau gaib. Kakakku yang edan itu akan berubah jadi zombi. Fans fanatik garis keras. Sekeras ini...

Setengah jam kemudian, kami tiba di taman samping sebuah masjid besar. “Kak, kok kita ke sini? Emang boleh?” tanyaku sambil menowel-nowel lengannya. Dewi tak menggubris. Matanya sedikit memicing dan beredar mencari-cari sesuatu. Beberapa detik kemudian dia berseru, “Hoi!” memanggil seorang cowok berpeci yang baru saja keluar dari masjid.
“Jadi ini yang bakal kita bersihin?” tanya mas-mas yang dipanggil Dewi, sesaat setelah menghampiri kami. Dewi mengangguk. Aku menelan ludah banyak-banyak.
Dibawalah aku dan Dewi ke sebuah bangunan mirip gudang di belakang masjid, Di ruangan yang digelari beberapa tikar memanjang itu duduk beberapa mas-mas bersarung dan berpeci. Mereka memandangiku dengan tatapan ramah campur heran. Heran karena Dewi membawa adiknya ke sini, bukannya ke gereja atau ke persekutuan doa. Percayalah, Kakakku yang satu itu memang rada terguncang.
Aku didudukkan di tengah-tengah gerombolan mas-mas bersarung. Sebelum acara dimulai, salah satu dari mereka memintaku berdoa pada Tuhan agar roh-roh jahat yang menempel pada pergi. Baiklah, Proses pembersihan atau ––yang baru kutahu–– disebut ruqyah, dimulai. Mas-mas di sekelilingku komat-kamit membaca ayat-ayat suci. Beberapa di antara mereka ada yang sambil geleng-geleng. Menghayati betul. Tak berapa lama, salah seorang mas-mas mendekatiku dan meletakkan tangannya di atas kepalaku. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian diembuskan kuat-kuat. Konsentrasi full.
“Bismillahirahmanirahim, wahai setan-setan yang terkutuk! Keluarlah kamu dari tubuh anak ini, jangan ganggu dia, dan kembalilah ke tempat yang seharusnya!” katanya tegas dengan tangan menekan kepalaku kuat-kuat. Aku hanya kedap-kedip, tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Tiba-tiba sesuatu terjadi. Sesuatu yang belum pernah terbayang. Sesuatu yang membuatku ingin tertawa, sekaligus kasihan di saat bersamaan. Dewi tiba-tiba kerasukan, Teman-Teman! Dia berteriak-teriak histeris sambil menjambak-jambak rambutnya seperti orang gila. Puas berteriak, dia menggeram dan bertingkah seperti anjing. Kedua matanya jelalatan entah menatap apa.
Tanpa dikomando, rombongan yang tadi mengerumuniku gantian mengerumuni Dewi. Mereka kembali komat-kamit melantunkan ayat-ayat suci. Kali ini dengan heboh. Dan mas-mas yang tadi memegang kepalaku, sekarang mendekati Dewi. Belakangan aku tahu namanya Agus.
“Kamu siapa?” tanya Mas Agus, kalem.
Dewi menggeram.
“Kamu siapa?”
Dewi masih menggeram.
“Jawab pertanyaan saya, atau saya suruh orang-orang di sekeliling kamu buat musnahin kamu dengan nama Allah! Jawab pertanyaan saya. Kamu siapa?”
Dewi (atau roh yang masuk dalam tubuhnya) akhirnya menjawab dengan suara nge-gas, “Aing oge teu nyaho aing saha!”(Gua juga nggak tahu gua siapa!).
Muncul jeda hening. Semua orang berhenti membaca doa. Saling bertatapan dengan kening berkerut. Semua orang bingung. Aku juga. Baru kali ini kulihat ada setan lupa diri.
Mas Agus menggeleng cepat, berdehem, bertanya lagi dengan sopan namun tegas, “Jangan main-main dengan saya. Kamu siapa?”
“Aing teu nyaho! Tong cucungah siaaa!” (Gua nggak tahu! Elu jangan kurang ajar!)
Mas Agus menunduk sejenak dalam diam. “Astaghfirullah, Dewi, apa salah dan dosa kamu sampai-sampai dirasuki roh jahat plus bodoh kayak–“
“Aing teu baik, nyet! Tong cucungah ka aing, yeuh!” (Gua nggak bodoh, nyet! Jangan kurang ajar ke gua ya!)
Mas Agus menatap Dewi. Prihatin. Mungkin baru kali ini dia me-ruqyah orang kerasukan setan yang lupa identitas.
Karena tidak berhasil mengorek info dari sang setan, akhirnya Dewi dibacakan doa-doa sedemikian rupa. Dia kembali berteriak-teriak histeris dan menggelinjang hebat sampai-sampai kaki-tangannya harus dipegangi. Dan yang tidak bisa kulupakan, selama proses ‘pembersihan’ kakakku yang satu itu terus meneriakkan, “Aing saha?! Aing saha?! Aing sahaaaa?!!!” (Gua siapa? Gua siapa? Gua siapaaaaa?) berkali-kali sampai si setan keluar dengan sendirinya.
Ajaibnya, setelah kejadian horor itu, Dewi jadi rajin ke gereja. Menerima sakramen tobat, sering-sering mengaku dosa, dan aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja. Positif memang. Namun sayangnya, lama-kelamaan sisi positifnya itu berubah menjadi teror. Sama halnya dengan gula yang jika terlalu banyak masuk dalam tubuh akan menimbulkan penyakit. Tiga bulan aktif dalam kegiatan gerejawi, Dewi jadi gencar mempromosikan ayat-ayat injil dan kuasa Yesus ke orang-orang yang lewat. Dengan cara apapun. Tak peduli mereka seiman atau bukan. Tak peduli bahwa yang dilakukannya 11:12 dengan orang yang kurang waras. Kurang lebih seperti ini...

Jujur, kejadian itu sudah lama sekali. Mungkin 11 sampai 13 tahun lalu. Aku lupa persisnya. Karena waktu itu kami sama-sama masih mengenyam bangku SD. Saat ini Dewi telah berkeluarga. Syukurlah, ada manusia yang mau-maunya mempersunting Kakakku.

Pengangguran, tinggal di rumah gedongan, dan duit warisan dari Ayah mulai cekak. Itulah nasibku sekarang, sepeninggal Ayah 2 tahun lalu akibat serangan jantung. Penyakit laknat itu memaksa hidupku berubah, dalam arti yang kurang baik. Apalagi Dewi dengan bejatnya angkat kaki dari rumah, melepas tangan sebagai penanggung jawab tunggal resto gara-gara tanggal kimpoiannya dipercepat. Aku yang tidak mengerti akan kehidupan nyata tak siap menerima semua cobaan ini.
Satu per satu karyawan Ayah keluar hingga akhirnya Resto Ayah hanya tinggal kenangan. Tempat yang dulu ramai dikunjungi orang, kini ramai dikunjungi kotoran. Mungkin kalau arwah Ayah bisa mengintip ke dunia, kujamin dia akan terkena serangan jantung untuk kedua kalinya akibat melihat usaha yang ia rintis belasan tahun lenyap bahkan kurang dari 2 tahun.
Tidak. Jangan salahkan Dewi sepenuhnya. Dewi adalah contoh wanita produk negeri dongeng, di mana sang tokoh utama hanya memikirkan akhir yang bahagia, tanpa pikir panjang apa yang bakal dia lakukan setelah tujuannya itu tercapai? Mati, mungkin? Sayang sekali dia tidak mati-mati, Pemirsa!

Salahkan saja semuanya padaku. Aku, yang tak pernah mau tahu bagaimana usaha Ayah berjalan. Aku, yang terlalu bodoh karena tak tahu bagaimana caranya mengontrol bisnis padahal aku lulusan mahasiswa jurusan bisnis dan manajemen. Aku, yang… ah, sudahlah, aku saja malu mendiskripsikan diri yang terlalu… adakah kata yang lebih buruk dari bodoh?


Baru kutahu ternyata memiliki ijasah dengan IPK di atas 3 di jaman sekarang tak menjaminmu mendapat pekerjaan yang layak. Ehm, iya, deh. Ralat. Pekerjaan yang kerjanya enteng tapi gajinya gede. Aku tidak naïf, tidak munafik. Semua orang kepingin kerja begitu. Namun itu hanyalah mitos. Hasil mahakarya lamunan yang terlampau luar binasa.
ARGH! Cukup! Aku mesti bangun! Lihatlah! Aku ini ada di dunia nyata! Dunia yang membutuhkan action agar bisa bertahan hidup. Kalau pengin duit, ya, kerja! Kalau pengin kaya, ya, usaha!
Sebentar. Usaha?Hm, kenapa enggak?
Coba pikirkan ini. Apa yang bisa dilakukan seorang ex-mahasiswa kupu (kuliah-pulang) yang kebetulan dapat IPK lumayan, wajah yang ––katanya–– ganteng, tubuh gagah, dan pandai masak? Mari kita pikir. Uh, yeah, aku manggut-manggut sambil tersenyum licik. Benar banget. Kenapa enggak kepikiran dari dulu? Cuma ada satu job yang cocok dengan kriteria yang kuucapkan. Kerjanya mudah, enak, disayang-sayang dapat duit: JUAL DIRI!
Betul?


Puji Tuhan, pada akhirnya aku tidak jadi jual diri. Meski kepingin, namun Tuhan selalu menunjukkan kuasa agar umatNya senantiasa berada dalam jalan yang baik.
Waktu itu, aku memang ngebet banget kepingin jual diri. Bahkan, gilanya, aku sudah nongkrong di tempat-tempat yang selama ini kucurigai sebagai tempat para penjaja diri kerap menawarkan jasanya. Berbekal sedikit informasi dari internet, kuikuti beberapa aturan dasar bagaimana menggaet ‘pelanggan’. Sial, bukan Hawa yang didapat, melainkan kaum sejenis. Tidak hanya satu, tapi 3 sekaligus! TIGA! BATANG SEMUA! Bayangkan!
Jangan tanya bagaimana kelanjutannya, pastilah aku kabur.
Lantas, apakah aku menyerah begitu saja setelah percobaan pertamaku gagal? Oh, jangan panggil aku Bima kalau gampang menyerah.
Pindah tempat pun tidak membantu banyak. Malam itu ternyata ada razia satpol PP! Apa jadinya bila aku tertangkap, lalu dikumpulkan bersama para waria dalam satu tempat, dan cuma aku doang yang ‘normal’? Hrrr. Namun yang membuatku ngeri adalah kalau-kalau sampai Dewi tahu. Mau ditaruh di mana mukaku? Dalam benakku langsung tergambar tawa jahat, bengis dan menggema keluar dari mulutnya seharian. Meledekku tanpa ampun. Aku bergidik jijik membayangkannya.

Malam itu, hampir saja aku ditangkap oleh seorang petugas satpol PP. Demi Tuhan, Teman-teman, larinya kencang betul! Di tengah kepanikan, aku melihat tenda warung makan dan tanpa pikir panjang masuk ke sana. Berpura-pura jadi pegawai dengan sok-sokkan memasak. Kebetulan, salah seorang pelanggan memintaku membuat susu jahe. Mengabaikan pandangan karyawan lain, kubuat saja sambil harap-harap cemas tidak ada petugas yang masuk ke mari.
Jantung ini kembali berdetak normal sewaktu kudapati petugas yang mengejarku, berlari menjauh melewati tenda tempatku bersembunyi. Fiuh! Terima kasih Tuhan, hamba janji nggak bakal nakal lagi!

Daaan, kejadian dikejar satpol PP itu juga sudah berlangsung lama sekali. Hehe, maafkan daku yang menjebak kalian ke dalam cerita yang belum berujung. Namun akan kuberitahu satu hal, Teman. Hidup tidak pernah memilih mereka-mereka yang hanya diam menunggu takdir. Dunia tidak membutuhkan orang-orang seperti itu, kecuali jika engkau memang memilih mati perlahan dengan cara semenyedihkan itu.Ah, aku jadi ingin tertawa...

Sama denganku. Sewaktu sekolah, kupikir hidup dapat berjalan semulus imajinasiku. Merencanakan ini-itu sesukanya. Meyakinkan diri bahwa khayalan akan selalu jadi nyata. Bagus memang. Tapi tak pernah sekalipun aku melihat dari sisi lain bahwa, actionuntuk mewujudkan itu rupanya berkali-kali lebih keras.
Setelah berpikir panjang, tercetus ide kenapa tidak membuat usaha saja dari hobi? Karena aku hobi dan pandai memasak (terima kasih Ayah, bakatmu memang luar biasa!), kuputuskan mengembangkan apa yang selama ini aku nikmati sendiri.
Tak mudah memang. Jatuh-bangun, susah-senang, suka-duka kulalui dalam mengembangkan usahaku. Aku cukup pe-de berjualan minuman susu buatanku. Kuawali perjuangan ini dari nol. Jualan dari pintu ke pintu, sekolah, kampus, hingga akhirnya aku mampu beli truk mini dan kumodifikasi sedemikian rupa untuk sarana berdagang.
Di setiap langkah dalam hidup ini selalu ada kerikil yang menyakiti. Dan salah satu kerikil terbesar dalam hidupku ialah Dewi. Kakakku yang satu itu hobi betul menjatuhkanku dengan kalimat-kalimat sengaknya lewat telepon. Namun aku tidak pernah ambil pusing. Karena, andai kalian mengenal Dewi seperti aku, sejujurnya dia hanya tidak ingin kalah saing dengan adik yang selama ini dianggap tak pernah bisa apa-apa. Tapi terkadang kata-katanya itu membuatku bertanya-tanya. Apakah...

Kini, akan kubuktikan bahwa omongannya tidak sepenuhnya benar. Entah harus menunggu berapa lama, namun akan aku buktikan usahaku pasti berhasil! Jika bukti itu nyata di depan mata, akan kusumpal mulutnya dengan prestasi.
Aku adalah salah satu orang yang percaya bahwa setiap individu dapat bertransformasi total. Dari ulat menjadi kupu-kupu, dari telur jadi ayam, atau ayam yang makan ulat dan kupu-kupu.
Tinggal kita mau pilih yang mana, bukan?
Aku adalah salah satu orang yang percaya bahwa setiap individu dapat bertransformasi total. Dari ulat menjadi kupu-kupu, dari telur jadi ayam, atau ayam yang makan ulat dan kupu-kupu.
Tinggal kita mau pilih yang mana, bukan?

Percayalah, hidup ini ajaib!


Kutatap anak kecil bermata sipit yang sejak tadi tidak kunjung beranjak dari duduknya. Permen batang yang sejak tadi ia emut pun juga belum habis. “Kamu nggak pulang? Udah mau malem, nih. Orang tua kamu nggak khawatir apa?” tanyaku.
Anak itu menggeleng.
“Loh, emang kenapa?”
“Soalnya aku kepingin coba jual diri, Mas. Kerjanya gampang, enak, disayang-sayang dapet duit. Bye!” Anak kecil itu berjalan pergi, meninggalkan aku sendiri yang sedang memasang ekspresi...


Sumber gambar : gugel
Referensi cerita : "Petir" karya Dee Lestari (favorit ane! No Copas)
Diubah oleh mukamukaos 07-02-2018 20:49
anasabila memberi reputasi
1
1.6K
Kutip
5
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya