Kaskus

Story

initial.0Avatar border
TS
initial.0
Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi
Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi

Matinya Mimpi di Tanah Surgawi
Sebuah Karya Sederhana oleh : initial.0

Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi


“Den kamu klo ntar sukses jangan lupakan kami ya...”
Pagi itu aku tiba-tiba terbelalak, terbangun dari tidur, waktu itu jam di meja masih menunjukkan waktu 04.04. Suara Khotimbegitu terngiang dan nyata, membangunkan tubuh ini dari mimpi tentang teman-teman SD ku. Membawaku pada kenangan 20 tahun yang lalu. Pagi masih sepi, tapi aku memutuskan untuk bangun sambil menantikan adzan subuh sembari mengingat kenangan bersama teman-teman semasa SD.

Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi

Kami merupakan siswa SD di suatu Desa bernama Rogojembangan, sebuah Desa di kaki gunung yang jauh dari pusat kota. Jangan membayangkan adanya keramaian di Desa ini, bahkan mobil pun masih jarang yang melintas. Bagi kami melihat mobil seperti truk dan bus besar yang sedang melintas di satu-satunya jalan di desa ini merupakan hiburan yang sangat menarik. Tak jarang kami mengabadikannya dalam sebuah coretan di buku kami. Bahagia bagi kami itu sangat sederhana. Bermain bola plastik atau kasti di depan halaman sekolah, menangkap ikan di selokan belakang sekolah, bermain karet gelang, kartu gambar atau hanya sekedar menggambar dengan kapur tulis berwarna hasil nyolongdi ruang kelas.

Kemiskinan di desa kami memang membuat kami tidak bisa menuntut banyak. Jangankan untuk membeli mainan, membeli sepatu bagi anaknya yang sekolahpun orang tua kami harus jungkir balik setengah mati. Tak ayal dari kami ber-enam, hanya aku dan Rudin yang memakai sepatu. Sebenarnya teman sekelas ku dari mulai kelas 1 hingga 6 SD berjumlah 18 orang. Namun yang cowok hanya berjumlah 6 orang termasuk aku, mereka adalah Rudin, Khotim, Tumar, Hadnan, dan Basuki. Merekalah yang menjadi sahabatku, teman bermain, teman disaat duka dan gembira. Oya namaku sendiri adalah Deni.

Jumlah kami yang cuma berenam menjadikan kami sahabat yang sangat akrab. Sering kami saling berkunjung dan bermain ke rumah yang lain. Meskipun hanya sekedar menikmati segelas air putih ataupun jika beruntung dapat makanan berupa nasi jagung dengan lauk ikan asin dan sayur seadanya. Selepas pulang sekolah biasanya kami menghabiskan waktu di halaman belakang sekolah untuk bermain, atau terkadang membantu orang tua kami berladang dan mencari rumput untuk ternak kami. Yah lumayan bisa bermain sekaligus membantu orang tua. Desa kami merupakan desa yang subur, dari sinilah sayuran segar diperoleh, dari mulai cabe, kentang, kubis, jagung dan lainnya. Hasil pertanian di desa kami nantinya disalurkan ke kota-kota sekitar, bahkan ada yang sampai ke ibukota Jakarta. Sayang, cengkraman para tengkulak menyebabkan petani di desa kami tidak dapat berkembang dan meraih kesejahteraan sesuai harapan.

Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi

Kami menempuh pendidikan dasar di Sekolah Dasar satu-satunya di Desa kami. SD Negeri Rogojembangannamanya. Sekolah kami dipimpin oleh Bu Endang sebagai Kepala Sekolah. Meskipun bangunan sekolah kami sudah tua, namun masih cukup kuat dan aman untuk dipakai beraktivitas sehari-hari. Bangunannya pun sangat sederhana, hanya terdiri dari 7 ruangan yang dipakai sebagai ruang kelas sebanyak 6 ruangan dan sisanya digunakan sebagai ruang guru. Bahkan toilet pun tidak ada. Para pengajar kami yang ingin ke belakang terpaksa harus numpang di rumah dinas Bu Endang yang berada tidak jauh dari sekolah kami. Sedangkan siswanya kencing sembarangan di halaman belakang sekolah yang kebetulan ada selokannya.

Seperti sekolah SD pada umumnya, guru killer pun ada di sekolah kami. Pak Royo namanya. Beliau merupakan guru di kelas 5. Beliau selalu membawa penggaris dari kayu dengan ukuran 1 meter sebagai ciri khasnya. Seakan siap dihempaskan ke tubuh anak yang bandel, dengan kumis tebal di atas bibirnya semakin menambah kesan horor saja. Rasanya merinding ketika kami hampir menyelesaikan pendidikan di akhir kelas 4, karena sebentar lagi kami akan bertemu dengan Pak Royo ini. Bahkan terkadang sampai dibawa ke mimpi. Ternyata kekhawatiran kami tidak terbukti, Beliau memang sangar namun Beliau hanya akan menggunakan penggaris kayunya kepada anak-anak yang sudah kelewat bandel. Kalo cuma melakukan kesalahan sedikit ya minimal kena jewerannya saja. Selebihnya dibalik sifat beliau yang tegas, beliau hanya ingin anak didiknya menjadi pribadi yang disiplin dan tidak malas-malasan. Bagi Beliau disipilin dan pantang menyerah adalah kunci sukses. Banyak motivasi yang disampaikan kepada kami agar kami dapat meraih cita-cita setinggi langit. Dari mulai menjadi guru, dokter, pilot dan lainnya.

Bagi kami apa yang disampaikan Pak Royo dalam setiap motivasinya adalah mimpi-mimpi yang indah. Dalam hati terdalam, ingin sekali kami menggapai cita-cita tersebut, tapi kemiskinan jualah yang meruntuhkannya. Seakan menjadi tembok yang amat tinggi menjulang yang tidak mungkin kami taklukan. Bagaimana mungkin kami menggapai cita-cita tersebut, bahkan untuk meneruskan ke jenjang pendidikan selanjutnya (SMP) saja kami tidak mampu.

Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi

“Eh kalian mau nerusin di SMP apa MTS?’’tanyaku pada teman-temanku saat istirahat kala itu.
‘’Boro boro Den mau nerusin, nyari duit buat makan aja susah”, jawab Rudin diaminin oleh semuanya.
‘’Kan nanti bisa nyari beasiswa’’, jawabku singkat.
‘’Susah Den, orang tua kita gak bakal ngijinin, daripada buat sekolah mending buat makan duitnya, paling ntar kita diminta di rumah saja bantu mereka nyari duit’’, jawab Basuki.
‘’Sebenernya sih kita pengen Den ngelanjutin ke SMP tapi kami takut malah menjadi beban orang tua”, Hadnan menimpali.
‘’Apalagi sekarang biaya SMP semakin mahal, belum buat uang saku sama ongkos PP ke SMP sebelah’’, Rudin menambahkan.
‘’Makanya Den, dari kita berenam sepertinya cuma kamu yang bakal ngelanjutin, ntar klo kamu udah sukses jangan lupakan kami ya’’, kata Khotim dengan senyum pasrahnya.
“Amin, semoga kalian diberikan yang terbaik ya’’, jawabku singkat bingung harus menjawab apa lagi.
Percakapan inilah yang selalu teringat di benakku. Sedih rasanya saat mengingatnya. Kebersamaan yang aku inginkan bersama sahabatku di jenjang pendidikan selanjutnya hilang sudah. Aku hanya dapat pasrah mernerima keadaan, ingin rasanya membantu teman-temanku ini tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Untuk biaya sendiri saja orang tuaku harus susah payah untuk mendapatkannya.

Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi

Pendidikan SD yang kami lalui akhirnya berakhir. Dan benar saja, dari kami berenam, hanya aku saja yang beruntung mencicipi pendidikan selanjutnya. Selebihnya Tumardan Basuki membantu orang tuanya untuk berladang, Khotim dan Hadnan menggembala ternak sedangkan Rudin membantu orang tuanya berdagang. Tidak hanya itu, bahkan dari teman sekelas pun hanya aku saja yang melanjutkan pendidikan. Teman-teman ku yang perempuan juga tidak bisa berbuat banyak, sebagian besar dari mereka membantu orang tuanya berladang atau memilih untuk menikah di usia yang sangat muda.

Mengingat masa-masa dulu membuat aku selalu bersyukur sekaligus merasa miris dan sedih. Bersyukur karena aku dapat melanjutkan pendidikan hingga Perguruan Tinggi meskipun dengan pontang-panting dari mencari beasiswa hingga menjual ladang milik Ibu yang tidak seberapa luasnya. Di lain sisi teman-teman ku hanya dapat terus bermimpi tanpa dapat menggapai cita-citanya. Sedih rasanya, padahal mereka memiliki potensi untuk terus berkembang menjadi anak bangsa yang cerdas. Saat ini mereka kebanyakan telah berkeluarga, dengan pekerjaanya sebagai petani, peternak dan ada juga yang menjadi sopir. Seandainya mereka diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, mungkin nasib mereka akan lain. Bisa saja sekarang mereka telah menjadi guru, dokter ataupun pengusaha yang sukses.

Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi

Saat ini aku tinggal di Jakarta dan bekerja di sebuah instansi Pemerintah. Jarak yang jauh dari kampung halamanku menyebabkan kami jarang berkumpul kembali. Setidaknya sekali dalam setahun ketika Lebaran saya dapat kembali ke kampung halaman. Tak lupa ku sempatkan untuk mengunjungi teman-teman SD, tak hanya sekedar sebagai ajang silaturahmi tetapi juga untuk memberikan motivasi kepada temanku agar dapat memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anaknya. Sehingga apa yang kami alami dulu tidak terus berulang, apalagi saat ini Pemerintah sudah banyak menggratiskan biaya pendidikan. Yah meskipun terkadang masih ada juga iuran-iuran yang harus dibayarkan kepada pihak sekolah.

Kisah ini merupakan potret kecil yang terjadi di tanah air kita tercinta. Negara yang begitu kaya raya namun warganya masih terbelenggu dengan kemiskinan. Harapanku semoga hal ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Bersyukurlah bagi kalian yang masih diberi kemudahan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Emban amanat dari orang tua dengan penuh rasa tanggung jawab, serta manfaatkan pendidikan dengan sebaik mungkin. Karena masih banyak di sana teman-teman kita yang tidak seberuntung kita.

Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi

Adzan telah berkumandang, dan menyadarkan aku dari lamunan. Aku pun bergegas mengambil air wudhu dan bersiap ke masjid. Sebelum itu aku sempatkan untuk melihat foto usang yang ku simpan di album foto ku. Sebuah foto kelulusan yang menjadi kenangan terakhir bersama mereka.

‘’Teman, terimakasih telah menjadi sahabat terbaikku, semoga kalian selalu dalam lindungan Allah SWT’’.Ucapku dalam hati.

Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi

### TAMAT ###

Matinya Mimpi Di Tanah Surgawi
Diubah oleh initial.0 01-02-2018 22:59
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
1.4K
8
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.7KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.