Kaskus

News

sumzineAvatar border
TS
sumzine
Gubernur Riau Ajak Masyarakat Salat Gerhana Bulan Berjamaah
Gubernur Riau Ajak Masyarakat Salat Gerhana Bulan Berjamaah

Fenomena alam super blue blood moon, yang akan terjadi pada Rabu (31/1/2018) malam ini mendapat perhatian dari semua kalangan, termasuk juga Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman.

Orang nomor satu di Riau ini pun mengajak seluruh umat muslim di Provinsi Riau untuk melaksanakan salat gerhana bulan.
Yang mana, berdasarkan data astronomi pada hari Rabu tanggal 31 Januari 2018 atau bertepatan dengan tanggal 14 Jumadil Awal 1439H mulai pukul 15:46 wib di Indonesia akan terjadi gerhana bulan total .
Puncak gerhana sendiri akan terjadi pada pukul 20:29 dan berakhir pada pukul 22:11 wib.

“Umat muslim di Riau kami imbau untuk melaksanakan salat sunah gerhana berjamaah bertempat di Masjid An Nur Pekanbaru. Sekaligus beristhigfar dengan berdoa bersama untuk keselamatan bagi bangsa ini,” ungkap pria yang akrab disapa Andi Rachman ini di Pekanbaru, Rabu siang.

Cek link asli ke TKP gan

Kapan dan di mana fenomena ini bisa diamati?
Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), gerhana bulan akan dimulai pada pukul 18:48 WIB dan mencapai puncaknya pada 20:30 WIB. Gerhana diperkirakan berlangsung sekitar empat jam.
Fenomena ini bisa diamati di seluruh wilayah Indonesia, dan sebagian besar permukaan bumi.
Masyarakat di Pulau Jawa bagian timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua dan sekitarnya bisa menyaksikan seluruh tahapan gerhana; sementara sisanya hanya melihat fase total dan parsial saja. Sedangkan mereka yang berada di Amerika Selatan dan Afrika tidak bisa melihatnya sama sekali.

Bagaimana cara melihatnya?
Fenomena 'super blue blood moon' dapat diamati dengan mata telanjang. Bulan purnama akan terlihat berwarna merah dan lebih besar dari biasanya.
Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menerangkan, mula-mula hanya sisi timur dari bulan purnama akan kelihatan; kemudian Bulan tampak penuh pada fase total sekitar pukul 19:52 WIB sampai 21:08 WIB. Proses gerhana berakhir dengan lepasnya purnama dari bayangan Bumi pada pukul 22:11 WIB.

Apa dampaknya terhadap Bumi?
Menurut kepala Lapan Thomas Djamaluddin, pada 31 Januari efek Bulan purnama terhadap Bumi akan jauh lebih kuat dari biasanya.
Gravitasi bulan dan matahari memengaruhi pasang air laut. Ketika terjadi gerhana bulan - yang mana posisi Bumi berada di tengah matahari dan bulan - ditambah jarak bulan yang sangat dekat dengan bumi, pasang air laut akan mencapai maksimum.
Dampak ini dapat dirasakan di daerah pantai yang landai, seperti di beberapa daerah di pantai utara Jawa. "Jika terjadi cuaca buruk di laut yang menimbulkan gelombang tinggi, banjir rob akan melimpas semakin jauh ke daratan," kata Thomas.
Ia menambahkan, dampak lainnya yaitu jika terjadi banjir akibat hujan lebat di daratan, banjir akan lama surutnya karena dampak pasang maksimum.

Apa yang dilakukan para ilmuwan untuk memanfaatkan fenomena langka ini?
Bagi para ilmuwan di badan antariksa Amerika Serikat NASA, gerhana pada 31 Januari menjadi kesempatan untuk mengamati apa yang terjadi ketika permukaan Bulan mendingin dengan cepat.
Ketika gerhana bulan, penurunan temperaturnya begitu drastis seakan-akan permukaan Bulan berubah dari sepanas oven menjadi sedingin freezer hanya dalam beberapa jam.
Hasil pengamatan dalam kondisi ini akan membantu mereka memahami karakteristik regolit — yaitu campuran tanah dan batuan di permukaan Bulan — dan perubahannya dari waktu ke waktu.
Selama gerhana, para ilmuwan juga akan mengamati Bulan dengan menggunakan kamera termal, mempelajari wilayah yang biasanya tak terlihat.
Sementara di Indonesia, gerhana bulan lebih dijadikan sarana edukasi.
Lapan membuka fasilitasnya bagi masyarakat yang ingin melihat gerhana lewat teleskop di beberapa daerah antara lain Bandung, Sumedang, Garut, Pasuruan, Biak, Pontianak, dan Bukittinggi.
Di Jakarta, Planetarium Taman Ismail Marzuki dan Taman Mini Indonesia Indah juga akan khusus dibuka di malam gerhana.
Thomas mengatakan, dahulu gerhana bulan sering dimanfaatkan untuk penelitian kualitas udara; contohnya ketika gunung Tambora meletus pada 1815. Tapi sekarang para ilmuwan menggunakan metode lain yang lebih mangkus untuk mengukur kualitas udara global.

Quote:
0
1K
7
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
696.2KThread•59.5KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.