- Beranda
- Stories from the Heart
Bisikan di Telinga Airin
...
TS
salmansharkan
Bisikan di Telinga Airin
Quote:

Quote:
Airin suka Michael. Michael suka Jane. Airin ingin membunuh Jane.
Quote:

Quote:
Michael berjalan mengendap-endap menyembunyikan sebuah kotak di tangannya. Kotak itu sudah dipegangnya sejak pagi tadi. Diputar-putarnya di kelas dengan tidak sabar. Seperti menunggu waktu kapan dia akan menggunakannya. Kotak itu istimewa. Sepertinya Michael sudah menyiapkannya sejak beberapa hari yang lalu. Bentuknya kecil, tidak lebih besar dari ponsel Samsung keluaran terbaru. Warnanya pink dengan pita berwarna biru muda. Ada kartu berbentuk hati yang tergantung di salah satu untaian pitanya. Di dalam kartu itu mengintip tulisan yang sepertinya ditulis tangan olehnya.
Mata Michael tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di pinggir lapangan basket. Wajah gadis itu terlihat lelah dan penuh keringat. Baju olahraganya basah dan sekarang dia sedang berusaha menghabiskan satu botol air mineral yang diberikan oleh salah seorang temannya yang lain yang juga menggunakan seragam tim basket. Michael berniat memberikan kotak itu pada sang gadis. Namanya Jane.
Dari kejauhan Michael sudah memberikan sinyal ke salah satu teman Jane yang duduk tidak jauh darinya. Sepertinya laki-laki berponi tanggung itu sudah mengatur strategi dengan teman Jane, seorang gadis lain yang rambutnya dikuncir kuda. Setelah teman Jane menangkap sinyal Michael, ia berusaha untuk membuat Jane berdiri dan membelakangi arah kedatangan Michael nanti.
Ketua kelas 11-3 itu kini sudah berada kurang lebih satu setengah meter dari Jane. Dia mulai berjalan dengan ujung kakinya. Mendekati Jane dari belakang dengan kotak berpita itu disembunyikan belakang tubuhnya. Dengan sekali sentuhan di pundak, Jane menoleh dan dia langsung tersenyum.
Airin sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia benar-benar tahu. Dia sudah mengikuti gerak-gerik Michael beberapa bulan terakhir. Apa istilahnya? Stalker? Sebut saja seperti itu. Semua media sosial Michael dibaca Airin dengan saksama. Tidak satupun dia lewatkan. Dan beberapa bulan terakhir yang ada di Path-nya hanyalah Jane, Jane dan Jane.
“Menyebalkan!” umpat Airin tanpa sadar. Sedari tadi dia duduk kursi beton di bawah pohon di depan gymnasium. Setelah empat bulan pendekatan, akhirnya Michael memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada Jane.
“Cowok jahat!”kata Airin lagi.
Dada Airin rasanya sesak. Bukan hanya karena dia melihat sendiri adegannya (Michael baru saja memberikan kotak itu kepada Jane dan Jane terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan—“BERLEBIHAN!” umpat Airin cukup keras sampai salah satu anak yang duduk di kursi beton lain di dekat situ menoleh kepadanya) tapi juga karena Airin sudah tahu hal ini akan terjadi sejak lama.
“Tunggu saja, aku akan menjadikan kau milikku!” tulis Michael di akun Twitter pribadinya (yang terkunci dan dibuat untuk diikuti oleh teman-teman dekatnya saja) (Airin tahu ini karena secara tidak sengaja dia berhasil membajak satu akun teman Michael yang sama sekali lupa bahwa dia punya Twitter).
Sejak membaca itu, Airin merasakan kesakitan yang aneh di dadanya. Persis seperti apa yang dirasakannya ketika dia melihat Jane kemudian memeluk Michael setelah mengangguk (yang diartikan Airin sebagai tanda setuju. Ya sekarang mereka sudah resmi pacaran).
“Cih! Cewek jalang itu benar-benar!” dia mengumpat lagi.
“Menyebalkan ya?” tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari sebelah telinga kirinya. Udara di sekitar situ terasa panas tapi aneh.
Airin mengangguk cepat dan menjawab, “Banget!”
“Kalau aku jadi kau, aku sudah menjambak rambut cewek itu. Membenamkan wajahnya ke kloset toilet cewek dan menekan tombol flush,” kata laki-laki itu lagi.
“Itu juga yang ingin aku lakukan sejak kemarin!”
“Apakah kau pernah berpikir untuk membunuhnya? Dengan begitu kau bisa mudah mendapatkan Michael,” nada bicara laki-laki itu terdengar bercanda tetapi kata-katanya sangat serius.
“Entahlah… aku sempat berpikir akan memotong lehernya ketika dia sedang tertidur di gymnasium. Kau tahu kan dia suka sekali tidur, cewek itu maksudku… dia… tukang tidur padahal dia cewek. Tsk.” Airin meremas ujung roknya.
“Lakukan saja. Tidak perlu usaha keras. Sekali gerakan dan tidak ada lagi yang menghalangimu untuk mendapatkan Michael,” Airin tidak berpaling dari Jane dan Michael yang sekarang menerima tepuk tangan dari puluhan orang yang ada di sana. Dia juga tidak melihat bagaimana ekspresi laki-laki itu ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Tapi Airin merasa laki-laki itu mengucapkannya sambil tersenyum.
“Aku menyukai Michael sudah lama. Tapi kurasa dia juga tidak mengetahui keberadaanku. Kau tahu kan, ada jenis manusia yang diidolakan banyak orang, tapi bertingkah seolah dia bukan siapa-siapa dan dia akhirnya tidak menganggap orang lain seistimewa bagaimana orang melihatnya,” timpal Airin lemah.
“Ya sekarang saatnya dia tahu bahwa kau bukanlah cewek biasa yang bisa dia abaikan. Buktikan kalau kau bisa melakukan apa saja demi mendapatkan cintanya.”
Hening sejenak. Pikiran Airin dipenuhi dengan adegan-adegan seru seperti di sebuah film thriller. Bagaimana dia mengendap-endap seperti Michael tadi menuju tempat Jane berada. Bukan membawa sebuah kado melainkan pisau dengan ujung tajam yang siap menikam tenggorokan si cewek. Bagaimana kemudian Michael akan bisa didapatkannya dengan mudah karena sudah tidak ada lagi yang menghalangi. Sejauh yang Airin tahu dari pengalamannya menjadi stalker Michael, laki-laki itu tidak punya ‘cadangan’ kalau Jane misalnya menolak cintanya.
“Aku akan menunggu sampai kau mau,” tulisnya dalam sebuah kesempatan.
Airin tentu bisa saja membunuh Jane. Pikiran itu sudah ada sejak lama. Sejak pertama kali dia tahu Michael naksir anak basket itu.
Tetapi…
“Cinta itu… adalah kebahagiaan,” dia tiba-tiba teringat pada kalimat yang dibacanya dalam sebuah buku beberapa tahun lalu.
“Cinta itu adalah bahagia ketika melihat orang yang kau cintai bahagia… walaupun dia tidak bersamamu atau jadi milikmu,” kata Airin lagi.
“Cinta itu adalah mendukung orang yang kau cintai tanpa henti, tanpa berharap suatu saat dia akan membalasmu dengan cinta juga. Cinta itu…. adalah ketika kau duduk melihat orang yang kau cintai mengutarakan cintanya kepada orang yang dia cintai—dan itu bukan kau—lalu kau tersenyum karena mengingat semua pengorbanan yang ia buat sebelum ia mengutarakan perasaannya.” angin berembus pelan meniupkan ujung rambut Airin.
“Tapi semua itu tidak akan menyenangkan jika kau tidak memiliki orang yang cintai! Kau menghabiskan cewek itu, Michael akan jadi milikmu selamanya,” kata laki-laki itu lagi.
“Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika dia tahu aku hanyalah stalker aneh? Bagaimana jika kemudian dia malah membenciku ketika dia tahu aku yang menghabisi pacarnya? Bagaimana caraku untuk menutupi kejahatanku? Lalu bagaimana jika setelah kekasihnya mati, dia justru sedih dan frustrasi? Bagaimana jika dia juga memutuskan untuk mati juga? Lalu apa yang tersisa untukku?” Airin kini menautkan jari-jarinya dan meremasnya kencang.
“Cinta adalah ketika kau tidak menyakiti orang yang kau cintai dengan perbuatanmu. Cinta adalah membiarkan orang yang kau cintai merasakan kebahagiaan, meskipun kau bukan bagian dari kebahagiaan itu. Dan sebesar itu aku mencintai Michael.”
Airin menghela nafas panjang, menoleh ke kiri dan tersenyum ketika dia tidak melihat siapapun duduk di sana. Ia lalu kembali mengalihkan pandangannya ke Michael dan Jane yang kini berpelukan (untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit terakhir) sebelum bangkit dari kursi beton itu dan kembali ke dalam kelas tepat sebelum lonceng pukul empat berbunyi.
Mata Michael tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di pinggir lapangan basket. Wajah gadis itu terlihat lelah dan penuh keringat. Baju olahraganya basah dan sekarang dia sedang berusaha menghabiskan satu botol air mineral yang diberikan oleh salah seorang temannya yang lain yang juga menggunakan seragam tim basket. Michael berniat memberikan kotak itu pada sang gadis. Namanya Jane.
Dari kejauhan Michael sudah memberikan sinyal ke salah satu teman Jane yang duduk tidak jauh darinya. Sepertinya laki-laki berponi tanggung itu sudah mengatur strategi dengan teman Jane, seorang gadis lain yang rambutnya dikuncir kuda. Setelah teman Jane menangkap sinyal Michael, ia berusaha untuk membuat Jane berdiri dan membelakangi arah kedatangan Michael nanti.
Ketua kelas 11-3 itu kini sudah berada kurang lebih satu setengah meter dari Jane. Dia mulai berjalan dengan ujung kakinya. Mendekati Jane dari belakang dengan kotak berpita itu disembunyikan belakang tubuhnya. Dengan sekali sentuhan di pundak, Jane menoleh dan dia langsung tersenyum.
Airin sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia benar-benar tahu. Dia sudah mengikuti gerak-gerik Michael beberapa bulan terakhir. Apa istilahnya? Stalker? Sebut saja seperti itu. Semua media sosial Michael dibaca Airin dengan saksama. Tidak satupun dia lewatkan. Dan beberapa bulan terakhir yang ada di Path-nya hanyalah Jane, Jane dan Jane.
“Menyebalkan!” umpat Airin tanpa sadar. Sedari tadi dia duduk kursi beton di bawah pohon di depan gymnasium. Setelah empat bulan pendekatan, akhirnya Michael memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada Jane.
“Cowok jahat!”kata Airin lagi.
Dada Airin rasanya sesak. Bukan hanya karena dia melihat sendiri adegannya (Michael baru saja memberikan kotak itu kepada Jane dan Jane terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan—“BERLEBIHAN!” umpat Airin cukup keras sampai salah satu anak yang duduk di kursi beton lain di dekat situ menoleh kepadanya) tapi juga karena Airin sudah tahu hal ini akan terjadi sejak lama.
“Tunggu saja, aku akan menjadikan kau milikku!” tulis Michael di akun Twitter pribadinya (yang terkunci dan dibuat untuk diikuti oleh teman-teman dekatnya saja) (Airin tahu ini karena secara tidak sengaja dia berhasil membajak satu akun teman Michael yang sama sekali lupa bahwa dia punya Twitter).
Sejak membaca itu, Airin merasakan kesakitan yang aneh di dadanya. Persis seperti apa yang dirasakannya ketika dia melihat Jane kemudian memeluk Michael setelah mengangguk (yang diartikan Airin sebagai tanda setuju. Ya sekarang mereka sudah resmi pacaran).
“Cih! Cewek jalang itu benar-benar!” dia mengumpat lagi.
“Menyebalkan ya?” tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari sebelah telinga kirinya. Udara di sekitar situ terasa panas tapi aneh.
Airin mengangguk cepat dan menjawab, “Banget!”
“Kalau aku jadi kau, aku sudah menjambak rambut cewek itu. Membenamkan wajahnya ke kloset toilet cewek dan menekan tombol flush,” kata laki-laki itu lagi.
“Itu juga yang ingin aku lakukan sejak kemarin!”
“Apakah kau pernah berpikir untuk membunuhnya? Dengan begitu kau bisa mudah mendapatkan Michael,” nada bicara laki-laki itu terdengar bercanda tetapi kata-katanya sangat serius.
“Entahlah… aku sempat berpikir akan memotong lehernya ketika dia sedang tertidur di gymnasium. Kau tahu kan dia suka sekali tidur, cewek itu maksudku… dia… tukang tidur padahal dia cewek. Tsk.” Airin meremas ujung roknya.
“Lakukan saja. Tidak perlu usaha keras. Sekali gerakan dan tidak ada lagi yang menghalangimu untuk mendapatkan Michael,” Airin tidak berpaling dari Jane dan Michael yang sekarang menerima tepuk tangan dari puluhan orang yang ada di sana. Dia juga tidak melihat bagaimana ekspresi laki-laki itu ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Tapi Airin merasa laki-laki itu mengucapkannya sambil tersenyum.
“Aku menyukai Michael sudah lama. Tapi kurasa dia juga tidak mengetahui keberadaanku. Kau tahu kan, ada jenis manusia yang diidolakan banyak orang, tapi bertingkah seolah dia bukan siapa-siapa dan dia akhirnya tidak menganggap orang lain seistimewa bagaimana orang melihatnya,” timpal Airin lemah.
“Ya sekarang saatnya dia tahu bahwa kau bukanlah cewek biasa yang bisa dia abaikan. Buktikan kalau kau bisa melakukan apa saja demi mendapatkan cintanya.”
Hening sejenak. Pikiran Airin dipenuhi dengan adegan-adegan seru seperti di sebuah film thriller. Bagaimana dia mengendap-endap seperti Michael tadi menuju tempat Jane berada. Bukan membawa sebuah kado melainkan pisau dengan ujung tajam yang siap menikam tenggorokan si cewek. Bagaimana kemudian Michael akan bisa didapatkannya dengan mudah karena sudah tidak ada lagi yang menghalangi. Sejauh yang Airin tahu dari pengalamannya menjadi stalker Michael, laki-laki itu tidak punya ‘cadangan’ kalau Jane misalnya menolak cintanya.
“Aku akan menunggu sampai kau mau,” tulisnya dalam sebuah kesempatan.
Airin tentu bisa saja membunuh Jane. Pikiran itu sudah ada sejak lama. Sejak pertama kali dia tahu Michael naksir anak basket itu.
Tetapi…
“Cinta itu… adalah kebahagiaan,” dia tiba-tiba teringat pada kalimat yang dibacanya dalam sebuah buku beberapa tahun lalu.
“Cinta itu adalah bahagia ketika melihat orang yang kau cintai bahagia… walaupun dia tidak bersamamu atau jadi milikmu,” kata Airin lagi.
“Cinta itu adalah mendukung orang yang kau cintai tanpa henti, tanpa berharap suatu saat dia akan membalasmu dengan cinta juga. Cinta itu…. adalah ketika kau duduk melihat orang yang kau cintai mengutarakan cintanya kepada orang yang dia cintai—dan itu bukan kau—lalu kau tersenyum karena mengingat semua pengorbanan yang ia buat sebelum ia mengutarakan perasaannya.” angin berembus pelan meniupkan ujung rambut Airin.
“Tapi semua itu tidak akan menyenangkan jika kau tidak memiliki orang yang cintai! Kau menghabiskan cewek itu, Michael akan jadi milikmu selamanya,” kata laki-laki itu lagi.
“Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika dia tahu aku hanyalah stalker aneh? Bagaimana jika kemudian dia malah membenciku ketika dia tahu aku yang menghabisi pacarnya? Bagaimana caraku untuk menutupi kejahatanku? Lalu bagaimana jika setelah kekasihnya mati, dia justru sedih dan frustrasi? Bagaimana jika dia juga memutuskan untuk mati juga? Lalu apa yang tersisa untukku?” Airin kini menautkan jari-jarinya dan meremasnya kencang.
“Cinta adalah ketika kau tidak menyakiti orang yang kau cintai dengan perbuatanmu. Cinta adalah membiarkan orang yang kau cintai merasakan kebahagiaan, meskipun kau bukan bagian dari kebahagiaan itu. Dan sebesar itu aku mencintai Michael.”
Airin menghela nafas panjang, menoleh ke kiri dan tersenyum ketika dia tidak melihat siapapun duduk di sana. Ia lalu kembali mengalihkan pandangannya ke Michael dan Jane yang kini berpelukan (untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit terakhir) sebelum bangkit dari kursi beton itu dan kembali ke dalam kelas tepat sebelum lonceng pukul empat berbunyi.
Diubah oleh salmansharkan 28-01-2018 10:47
anasabila memberi reputasi
1
1.6K
Kutip
4
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•55KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya