Hai para pembaca SFTH, setelah sekian lama bungkam akhirnya ini giliranku untuk bercerita pada kalian. Berbagai kisah yang kubaca mampu menjadikanku bercerita. Semoga kisahku bisa menjadi inspirasi bagi kalian untuk terus berkembang hingga puncak. Happy Reading ^.^
Spoiler for Prolog:
Sebut saja namaku Joko, aku lahir dari keluarga dengan ekonomi kelas menengah kebawah. Sejak kecil, orang tuaku telah membiarkan aku untuk menyentuh komputer. Tidak heran, aku termasuk anak yang tidak memiliki banyak teman. Penampilanku-pun juga terhitung tidak biasa. Seringkali, aku hanya bermain dengan komputer dan internet seadanya untuk menggali sesuatu dari internet. Aku juga memiliki adik dan kakak yang lebih kusayangi daripada diriku sendiri.
*
Tidak sabar rasanya, ini adalah hari dimana aku melakukan tes sebelum masuk ke jenjang sekolah dasar. Aku melihat semua anak nampak gugup, begitu juga denganku. Kelebihan apa yang kumiliki hingga berani bersekolah disini? Seseorang yang nampak tidak normal dan kecil. Tahap demi tahap kujalani dengan semampuku. Hingga pada akhir hari, aku mendengar bahwa ibuku dipanggil untuk masuk ke dalam ruang tes. Dari balik dinding kudengar percakapan mereka,
“Maksud ibu apa!! Mau buat kelinci percobaan?? Dipikir dong bu!! Kasian anak ibu!! Pokoknya saya enggak mau tahu!! Anak ibu tidak akan bisa lolos seleksi masuk ke sini!!” Nada kemarahan tersebut terus terdengar olehku yang masih belum tahu mengenai apapun
Kuperhatikan wajah ibuku ketika keluar dari ruangan.
“Ayo nak kita pulang, nanti ibu belikan minum di jalan.” Dengan senyuman yang dingin.
“Kok langsung pulang?? Terus sekolahku gimana??” Dengan polosnya aku mengucap hal itu sesaat setelah aku ditolak secara mentah – mentah dari sekolah itu.
“Nanti aja, kan hasilnya masih belum keluar”
“Oke” Dengan santainya aku berjalan mengikuti langkah ibuku
Sesampainya di rumah, aku memamerkan minuman yang ibu belikan untukku kepada adikku. Sementara ia langsung masuk ke kamar untuk membicarakanku dengan ayahku. Untuk kedua kalinya dalam hari itu, aku mendengarkan percakapan orang tuaku.
“Udah, nggakpapa... persepsi orang kan berbeda. Besok ajak Joko ke sekolah MI ‘X’ buat ikut pendaftaran susulan.” Dengan santainya ayahku mengatakan hal itu kepada ibuku.
Ketika ibuku sudah keluar dari kamar, ia mengajakku untuk bicara.
“Nak, gimana kalo besok kita jalan – jalan lagi... Nanti kamu bisa ketemu temanmu buat sekolah.”
“Kemana?? Nama temannya siapa?? Lama nggak?? Aku sudah capek” Kujawab pertanyaannya dengan pertanyaan.
“Sebentar kok, kamu cuma harus menghitung sama menulis biar temenmu tau kalo kamu itu pinter” Jawabannya telah memecahkan semua pertanyaanku. Kuikuti dengan anggukan kepala sebagai jawaban selagi kembali bermain dengan adikku.
Keesokan paginya, aku sudah melupakan ucapan kemarin yang walaupun entah kenapa baru teringat ketika beranjak masa remaja. Akupun bangun dengan bermalas – malasan. Ibuku sudah berusaha mendorongku agar melakukan segala sesuatu dengan cepat karena saat itu aku sudah terlambat untuk mengikuti tes.
Singkat cerita, aku telah selesai mengerjakan tes, dan hasilnya adalah 56. Meskipun begitu, aku tetap masuk dan diterima sebagai siswa baru. Dan disinilah tempatku mendapatkan dasar dari diriku yang sekarang ini. Seseorang yang bersifat ambivalen, tetapi mencintai dan mempertahankan keduanya.
oiya.... karena TS ini masih sibuk, update baru dilakukan ketika akhir pekan saja ya...
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 2 suara
Cerita ini mau dilanjutkan apa enggak??
Iya
100%
Nggak Perlu
0%
Diubah oleh portgasdstrife 29-01-2018 17:43
anasabila memberi reputasi
1
642
Kutip
4
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!