- Beranda
- Stories from the Heart
Darel: Anak Kecil Lucu Yang Bikin Baper
...
TS
faiztapora
Darel: Anak Kecil Lucu Yang Bikin Baper
Lupa kapan tepatnya. Sore itu, sepulang dari kampus, aku sempatkan membeli makan siang (yang sudah kesorean) di warung makan dekat kosanku. Anak kosanku biasa menyebut pemilik warung dengan panggilan-akrab, Budhe. Sudah lama aku tidak memasak sendiri makananku. Semenjak semester dua lalu. Ah, aku pun rindu masakan Ibuku.
Budhe punya seorang cucu lelaki. Namanya Darel. Umurnya kisaran 2 tahunan lebih. Rambutnya lurus, warnanya merah kekuningan. Bermata agak sipit, dengan pipi bulat bakpao. Kulitnya Kuning khas Asia. Hingga kukira punya keturunan Jepang. Darel lucu dan pandai bicara. Meski bicaranya masih sedikit belum jelas. Ingat tokoh kartun tweety? Kira-kira begitulah gayanya bicara. Kental dengan kecerewetan.
Anak ini cukup pemberani. Tak takut orang asing, yang baru pertama kali jumpa. Dia pandai mengambil hati orang lain. Dulu, saat pertama jumpa dengannya. Sekonyong-konyong, ia menyalamiku. Mengecup punggung tanganku takzim. Seraya menanyakan namaku.
Kambuhlah ke-Jepang-anku. Maklum sedang senang-senangnya belajar bahasa Jepang. Dan kebanyakan menonton film anime Jepang.
Belum kujawab tanyanya. Saat itu ia langsung lari mengejar ayam. Aku membulat. Darel namanya. Unik, cuma cucu budhe yang namanya begitu. Aku terkekeh sendiri.
Entahlah, bagiku semua anak kecil menyenangkan. Menatap, mendengar, dan bersama mereka selalu menyenangkan. Tak peduli sekalipun bahkan aku dikata menyebalkan dan cerewet buat mereka. Setidaknya aku selalu menyukai mereka. Kalian pernah memperhatikan mata anak kecil? Polos, bening. Aku selalu suka. Seperti ada sesuatu dari mata mereka yang masuk ke mataku saat aku menatapnya, tenang, menyejukkan… makhluk-makhluk tanpa dosa…
Sayang tidak dijual di toko terdekat. Andai ada, pasti kubeli sepasang. Kuganti mataku dengan mata-mata yang indah itu.
***
Hari itu darel memakai topi entah milik siapa. Terlihat kebesaran. Ah, dasar anak kecil, selalu saja mau cepat jadi besar. Ia duduk di warung neneknya, sedang mengusili seorang mas-mas yang sedang makan. Aku yang merasa suntuk dan sedikit kelaparan sepulang kuliah, terhibur menyaksikan kelakuan anak lucu itu. Darel terus mencoba menarik perhatian mas-mas itu. Yang aku sayangkan adalah si mas-mas itu malah cuek. Kejamnya dia, diam dan acuh. Padahal Darel kan anak kecil. Baik-baik mencoba mengajaknya berbicara. Ah, si mas ini. Padahal aku selalu suka digoda dan menggoda anak kecil seumuran Darel. Tapi dia? Sungguh.. T-E-R-L-A-L-U!
Setelah kuterima nasi bungkus pesananku, dan membayarnya. Aku pulang sambil terus memikirkan kejadian tadi. Kenapa mas-masnya harus cuek? Tak bisakah sekedar melirik dan tersenyum. Hei, lihatlah! Darel begitu manis dan menggemaskan. Anak kecil lugu yang tulus.
Belakangan aku tahu, si mas-mas itu tidak lain Mas Wija. Dia ngekos bersebelahan rumah denganku. Dan gara-gara kejadian itu, aku sering mencuri pandang ke kosan cowok di rumah sebelah. Sampai-sampai teman sekosan sering meledekku. Menyebut nama lengkapku dengan menyangatkan intonasi. Putri W-I-J-A-yanti.
Aku hanya tersipu. Lebih tepatnya berpura-pura malu saja.
Darel sayang… kadang hidup memang sedikit kejam. Tapi yang jelas kau tak boleh berhenti. Kau harus tetap ramah menyapa orang-orang yang datang. Darel harus tetap baik. Sebagaimanapun mereka memperlakukanmu. Secuek apapun mereka. Menghempaskan perasaan bocahmu. Rasa ingin bersahabatmu. Kau tak boleh berubah. Apalagi membenci. Tak boleh, sedikitpun tak boleh. Bahkan banyak yang datang ke warung nenekmu hanya sekedar modus untuk bisa bertemu dan mendengar ocehanmu. Ya, aku salah satunya. Bila nanti engkau besar, tetaplah menjadi Darel yang seperti itu. Ramah dan ceria. [fz]
Budhe punya seorang cucu lelaki. Namanya Darel. Umurnya kisaran 2 tahunan lebih. Rambutnya lurus, warnanya merah kekuningan. Bermata agak sipit, dengan pipi bulat bakpao. Kulitnya Kuning khas Asia. Hingga kukira punya keturunan Jepang. Darel lucu dan pandai bicara. Meski bicaranya masih sedikit belum jelas. Ingat tokoh kartun tweety? Kira-kira begitulah gayanya bicara. Kental dengan kecerewetan.
Anak ini cukup pemberani. Tak takut orang asing, yang baru pertama kali jumpa. Dia pandai mengambil hati orang lain. Dulu, saat pertama jumpa dengannya. Sekonyong-konyong, ia menyalamiku. Mengecup punggung tanganku takzim. Seraya menanyakan namaku.
Quote:
Kambuhlah ke-Jepang-anku. Maklum sedang senang-senangnya belajar bahasa Jepang. Dan kebanyakan menonton film anime Jepang.
Quote:
Belum kujawab tanyanya. Saat itu ia langsung lari mengejar ayam. Aku membulat. Darel namanya. Unik, cuma cucu budhe yang namanya begitu. Aku terkekeh sendiri.
Entahlah, bagiku semua anak kecil menyenangkan. Menatap, mendengar, dan bersama mereka selalu menyenangkan. Tak peduli sekalipun bahkan aku dikata menyebalkan dan cerewet buat mereka. Setidaknya aku selalu menyukai mereka. Kalian pernah memperhatikan mata anak kecil? Polos, bening. Aku selalu suka. Seperti ada sesuatu dari mata mereka yang masuk ke mataku saat aku menatapnya, tenang, menyejukkan… makhluk-makhluk tanpa dosa…
Sayang tidak dijual di toko terdekat. Andai ada, pasti kubeli sepasang. Kuganti mataku dengan mata-mata yang indah itu.
Spoiler for ilustrasi anak kecil:
***
Hari itu darel memakai topi entah milik siapa. Terlihat kebesaran. Ah, dasar anak kecil, selalu saja mau cepat jadi besar. Ia duduk di warung neneknya, sedang mengusili seorang mas-mas yang sedang makan. Aku yang merasa suntuk dan sedikit kelaparan sepulang kuliah, terhibur menyaksikan kelakuan anak lucu itu. Darel terus mencoba menarik perhatian mas-mas itu. Yang aku sayangkan adalah si mas-mas itu malah cuek. Kejamnya dia, diam dan acuh. Padahal Darel kan anak kecil. Baik-baik mencoba mengajaknya berbicara. Ah, si mas ini. Padahal aku selalu suka digoda dan menggoda anak kecil seumuran Darel. Tapi dia? Sungguh.. T-E-R-L-A-L-U!
Setelah kuterima nasi bungkus pesananku, dan membayarnya. Aku pulang sambil terus memikirkan kejadian tadi. Kenapa mas-masnya harus cuek? Tak bisakah sekedar melirik dan tersenyum. Hei, lihatlah! Darel begitu manis dan menggemaskan. Anak kecil lugu yang tulus.
Belakangan aku tahu, si mas-mas itu tidak lain Mas Wija. Dia ngekos bersebelahan rumah denganku. Dan gara-gara kejadian itu, aku sering mencuri pandang ke kosan cowok di rumah sebelah. Sampai-sampai teman sekosan sering meledekku. Menyebut nama lengkapku dengan menyangatkan intonasi. Putri W-I-J-A-yanti.
Aku hanya tersipu. Lebih tepatnya berpura-pura malu saja.
Darel sayang… kadang hidup memang sedikit kejam. Tapi yang jelas kau tak boleh berhenti. Kau harus tetap ramah menyapa orang-orang yang datang. Darel harus tetap baik. Sebagaimanapun mereka memperlakukanmu. Secuek apapun mereka. Menghempaskan perasaan bocahmu. Rasa ingin bersahabatmu. Kau tak boleh berubah. Apalagi membenci. Tak boleh, sedikitpun tak boleh. Bahkan banyak yang datang ke warung nenekmu hanya sekedar modus untuk bisa bertemu dan mendengar ocehanmu. Ya, aku salah satunya. Bila nanti engkau besar, tetaplah menjadi Darel yang seperti itu. Ramah dan ceria. [fz]
Diubah oleh faiztapora 11-01-2018 14:51
anasabila memberi reputasi
1
2.1K
7
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya