- Beranda
- Stories from the Heart
I WANT LIFE FOREVER
...
TS
ayudanu
I WANT LIFE FOREVER
I WANT LIFE FOREVER
Seperti biasa, kala sinar sang surya mulai menyadarkanku dari hal paling indah dalam hidup ku. Mencoba bangkit untuk memulai hari-hari yang melelahkan dan membosankan, hari-hari yang memaksaku untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang ‘katanya’ penting untuk masa depanku. Dan pertanyaanku, masa depan macam apa? Yang meninggikan gengsi? Masa depan yang membahagiakan orang lain? Atau masa depan yang membosankan dengan dasi melilit di kerah? Bagiku masa depan itu hanya buaian semata dari dunia ini. Tidak ada kebahagiaan yang membuat tubuh ini selalu mengucap syukur, tidak ada kebahagiaan hanya dengan jutaan dollar di dompet dan rekeningku, tidak ada kebahagiaan saat semua orang mendekatimu hanya karena kau orang terpandang. Dan sampai saat ini masih kucari masa depan apa yang akan membuatku benar-benar merasa hidup.
BAB 1
“Namaku Sella. Usiaku 7 tahun. Hobiku minum jus tomat, gangguin kakak, dan bernyanyi. Kakakku adalah seorang laki-laki. Ganteng, tinggi, rambutnya pendek rapih, tangannya halus, badannya hangat kalau di peluk, kakak juga punya mata coklat yang indah. Aku dan kakak selalu main di halaman belakang rumah, main apa aja. Kalo malem kakak selalu di loteng rumah sambil dengerin lagu, dan aku selalu nemenin kakak sampe ngantuk. Oh, iyah kakak juga atlit basket loh temen-temen, banyak pialanya sama piagam di rumah. Kakaku hebat, aku sayang kakak.”
Sejenak adikku diam seribu bahasa di hadapan teman-temannya saat pertama kali masuk sekolah. Aku mengerutkan dahiku, dan tersenyum ke arahnya. “ayo lanjutin” bibirku bergerak menyesuaikan pada kalimat yang telah ku utarakan. Tapi dia hanya menggelengkan kepalanya. Aku hanya bisa pasrah dengan senyuman bangga padanya.
“Aku Cuma bisa jelasin tentang hobi dan kakakku aja bu Dian. Maaf. Sella gabisa ceritain apapun tentang mamah dan ayah. Sella juga jarang banget ketemu mereka. Pasti nilai Sella kecil yah bu?”
Sekejap kepalaku dengan otomatis mendongak ke arahnya setelah tertunduk menahan tawa karna tingkah adiku tadi. Aku terkejut dengan ucapannya, mataku tak henti menatap ke arah adiku yang berada di depan kelas. Kakiku gemetar, wajah bingung menyelimutiku. Adiku masih di depan dengan wajah bingung. Menyapu seisi ruangan yang tertawa karna ucapannya, tidak terkecuali bu Dian, wali kelas kelas 1 b SDN sentosa. Adiku tidak bisa menahan tawa juga karna semuanya tertawa, dia tertawa terkekeh tipis walaupun aku tau hatinya menangis karna tingkah kedua orang tuaku yang gila harta. Ya, semenjak ibuku membuka cabang di 3 kota sekaligus dia jadi jarang sekali di rumah. Dan ayah yang mendapatkan promosi menjadi direktur setelah atasannya tewas karna terbunuh. Mereka lupa memiliki 2 anak yang sedang berkembang.
Namaku Yohan Kurama Nugraha Usiaku kini 15 tahun, aku baru masuk SMA.Aku seoarang remaja laki-laki yang tidak terlalu peduli dengan penampilan sehingga tidak sedikit yang menjauhiku tanpa mereka tau aku anak dari keluarga kaya.
Aku seorang atlit di sekolah dan dikotaku. Dalam usiaku yang masih dini ini, tinggi badanku mencapai 179cm. Itu akan membuatku sangat mudah bersaing dengan mereka yang lebih dewasa. Aku menjadi salah satu pemain yang di andalkan dalam tim.
Beberapa prestasi telah kuraih, terutama prestasi pribadi yang sudah menggunung di lemari kaca ruang tamuku. Ya memang sejak kecil aku sangat menyukai olahraga ini. Aku selalu melihat aksi Chris Paul dengan seragam hitam merah bertuliskan HOUSTON di dada. Ya, Houston Rockets adalah tim impianku sejak kecil, aku rela membuang minggu siangku hanya untuk melihat aksi mereka berlari dan melompat. Sampai akhirnya aku berada dalam jalur yang benar untuk mencapai mimpiku bermain di Amerika Serikat.
Karna prestasi nonakademikku itu, aku jadi lebih mudah di kenal guru, teman-teman sebaya dan kakak tingkat. Ini sepeti menjadi popular secara instan.
Menginjak usiaku yang ke16, aku semakin popular, terutama oleh adik kelas yang memang memuja kakak kelas yang dikenal ratusan siswa, seperti aku.Sombongku semakin memuncak saat aku menjalin hubungan khusus dengan seorang wanita paling di kenal di sekolahku. Seorang wanita tinggi dengan rambut hitam yang diikat, mata semi sipit hitam yang cerah, dengan senyum bibir tipisyang indah di wajahnya, lesung pipit yang menambah perfect tampilannya, dan tubuh yang subhanallahmembuat mata siapapun yang melihatnya akan terbelalak hingga hampir melompat keluar. Rossalina DwiSafitri, siswi pindahan dari Bandung. Baru datang namun mendapat sorotan oleh anak laki-laki di sekolahku, dan gilanya sekarang dia berpacaran denganku.
Beberapa bulan berlalu, kami menjalani hari yang menyenangkan, ternyata dia orang yang sangat periang. Kami lewati setiap harinya dengan canda tawa. Dia selalu setia menungguku berlatih, mengajakku makan siang, ke XXI setiap hari sabtu, dan kepuncak di hari minggu untuk menenangkan diri.Udara sejuk di dataran tinggi kini menjadi special karnanya.
Singkat cerita, kini aku tau beberapa sisi buruknya. Dia terlalu posessif, penjilat, dan pembohong yang ulung. Tidak bisa di pungkiri bahwa aku sangat menyukainya, meskipun beberapa teman mengatakan bahwa dia berselingkuh, whatever! I just falling in love. Bagiku dia selalu sempurna dimataku. Jutaan keburukan dan kesalahannya dapat kumaafkan hanya karena dia rupawan. Bodoh memang namun jika perasaan yang berkata logika hanya ilusi.
Hari demi hari berlalu, bulan berganti bulan, tepat pada saat perlombaan basket bergengsi di kotaku. Tujuanku mencetak poin sebanyak mungkin dan menjadi pemain yang paling di kenal.Aku tergila-gila dengan pujian hingga membutakan kerja sama. Aku tidak peduli dengan itu semua, selagi penonton meneriakan namaku, aku akan tetap berlari.
Tim kami unggul jauh di babak final, seakan kemenangan hanya tinggal menunggu waktu, penghargaan di depan mata dan pujian akan berdatangan. Teriakan penonton yang mengelu-elukan namaku membuatku lupa diri, lupa pada kerja sama, dan lupa pada batasan fisik manusia. I don’t care,I just want to be a winner and be a hero. Dan inilah saat yang kunanti-nanti selama hidupku, aku akan menjadi orang paling di kenal di kotaku, dan……
--------
aku merasa ada seseorang yang memegang erat lenganku, hangat, nyaman dan seakan aku tidak ingin dia pergi dari hidupku bahkan sebelum aku bisa membuka mataku.
Percakapan samar terdengar di gendang telingaku yang masih belum bisa menerima suara apapun. Seorang laki-laki dan wanita bertatapan dengan seorang pria berpenampilan serba putih. Otot di kelopak mataku bergetar, berusaha untuk membuka. Semakin jelas bahwa wanita itu menangis di pelukan laki-laki di sebelahnya, saat si pria berpakaian putih itu pergi. Kubuka mataku perlahan, sepertinya aku mengenali mereka.
Aku paksakan membuka mata ini dengan kekuatan yang tersisa dan aku merasa ada sebuah benda asing yang menancap di tangan kiriku. Aku tersadar sedang terbaring di rumah sakit. Saat aku tau bahwa 2 sosok makhluk di hadapanku yang sedang menangis adalah orang tuaku, dan yang menggenggam tangan kanan ku adalah Sella.
“Apa yang terjadi sebenarnya?Kenapa aku disini?”Tanyaku pada mereka dengan tatapan bingung penuh harap. Mereka masih berdiri di dekat pintu keluar, dan perlahan mendekatiku walau dengan air yang membasahi pipi mereka.
“Apa sekolahku juara?Siapa yang menjadi pemain terbaiknya?Aku kan?”Kembali pertanyaan keluar dari mulutku sebelum mereka menjawab.
Aku menggerakan tubuhku, mencoba untuk bangkit. Dengan bantuan Sella yang mencengkram erat tangan dan pundaku, aku berhasil duduk dengan sandaran bantal yang di benarkan posisinya oleh ibuku.“han, sekolahmu juara, dan kau terpilih menjadi pemain terbaiknya.”Puas, bahagia dan ingin berlari sekencang mungkin. Mataku kembali cerah, seakan semua rasa sakit yang barusan aku rasakan lenyap tertiup angin.
Tapiada yang salah dari senyum ayahku. Wajahnya menampakan kebohongan yang sangat terlihat, matanya gelap bagaikan sedang terjadi hujan badai di matanya.
“tapiSaat menit-menit akhir kamu roboh han, jadi kami bawa kamu kesini.”Ucap ayahku yang membuat aku bingung. Aku mengerutkan keningku dengan mata terbelalak.
Terkejut dan bingung menggerogoti pikiranku saat itu juga.Aku menatap tajam pada mata ayah, seakan kebohongan yang barusan di tunjukan olehnya telah lenyap dan keyakinan dalam matanya sangat terlihat nyata. Ayahku masih terlihat gugup, dengan kepalan di kedua tangannya, mengindikasi penyesalan, amarah dan bingung akan suatu hal
“kamu anak yang hebat, Kamu sudah boleh pulang Yohan. Jaga kesehatanmu, dan jangan bermain basket dulu saat ini yah” ucap dokter sebari merangkul ayahku.
Polling
0 suara
KAPAN SAYA MANDI?
anasabila memberi reputasi
1
556
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya