- Beranda
- Stories from the Heart
Kamu Tahu Seperti Apa Rasaku?
...
TS
rahmanhanifan
Kamu Tahu Seperti Apa Rasaku?
Aku yakin kamu masih ingat, waktu itu, kamulah yang datang padaku. Iya, kamulah yang menggodaku untuk mencintaimu. Kamulah yang tawarkan senyum termanis untuk kubalas. Kamulah yang sengaja hilir mudik di sekitarku untuk kunikmati keindahanmu. Lalu kamu pula yang memulai kisah kita. Hadiah ulang tahunku yang ke tujuh belas waktu itu, meski hanya sebuah mobil-bobilan untuk gantungan kunci, bagiku harganya teramat mahal. Sebab kamulah yang membelikannya untukku.
Kisah kita sesungguhnya teramat singkat, meski banyak hal telah kita lewati bersama. Senyum, tawa, lelah, marah, sakit hati, luka, diam, lalu tawa lagi, berulang dan berulang. Jujur aku bahagia. Aku bahagia kamu ada. Meski sesungguhnya tak pernah benar-benar kumiliki kamu. Kamu dan aku sama-sama tak pernah bilang, bahwa kamu kekasihku, atau aku kekasihmu. Tapi rasa di hati jauh melampau kata-kata.
Ya, aku selalu mencintaimu. Meski tak jarang sikapmu melukai egoku. Meski seringkali kamu buat aku tak mengerti. Asal kamu dan aku baik-baik saja, aku rela. Rasa marah, sakit hati, atau peraasaan terluka hanyalah bumbu cinta yang membuatku kian ingin terus bersamamu. Sayangnya tiba pula puncak ketakmengertianku. Rasanya semua baik-baik saja. Rasanya aku telah berusaha menjadi diri yang paling baik buatmu. Aku bersabar, aku berusaha selalu ada untukmu. Hingga sore itu, di puncak kerinduanku, sikapmu telah meruntuhkan jiwaku.
Iya, aku hanya ingin ada untukmu. Makanya aku datang ke rumahmu. Kamu tahu, sepanjang perjalanan, aku telah memikirkan bahagia yang akan bertambah dan bertambah ketika bisa ada di dekatmu, bercengkarama, berbagi cerita, lalu menatap matamu yang bening, juga bibirmu yang.., ah. Aku kian rindu. Tiba di rumahmu, ibumu menyambutku hangat. Lalu dia masuk ke ruang dalam untuk memanggilmu. Aku kian rindu.
Rupanya, bukan kamu yang muncul ke ruang tamu, melainkan bapakmu. Panjang lebar aku berbincang dengannya, sambil menunggu hadirmu. Tapi apa…, kamu tak pernah muncul ke ruang tamu. Kamu justru melipir lewat pintu belakang. Pergi. Jauh, etah ke planet mana.
Kamu tahu seperti apa rasaku? Aih, aku memang bodoh. Tapi rasa cintaku mungkin jauh lebih besar dari kebodohanku. Maka aku kembali datang ke rumahmu. Lagi dan lagi. Sayangnya kamu tak pernah lagi muncul di ruang tamu. Malah bapak ibumu yang selalu menyambutku, bercerita. Meski demi tak melukai hatiku, bapak ibuku tak pernah menyebutkan namamu. Mungkin pada akhirnya, bapak ibumu itu jauh lebih mengenal diri ini dari pada kamu.
Kisah kita berakhir. Singkat, padat. Tanpa kata. Kamu pergi begitu saja. Pergi dari hidupku. Entah untuk mengisi kehidupan siapa? Entah untuk melukai hati siapa lagi? Entah siapa yang akan kamu bikin bingung, kamu bikin rindu setengah mati, kamu bikin perih hati seperih-perihnya, kamu bikin terus berharap, dan pada akhirnya kamu bikin menyerah. Ah, kamu. Tetap saja, orang bodoh ini selalu mencintaimu. Meski kamu hilang.
Kisah kita sesungguhnya teramat singkat, meski banyak hal telah kita lewati bersama. Senyum, tawa, lelah, marah, sakit hati, luka, diam, lalu tawa lagi, berulang dan berulang. Jujur aku bahagia. Aku bahagia kamu ada. Meski sesungguhnya tak pernah benar-benar kumiliki kamu. Kamu dan aku sama-sama tak pernah bilang, bahwa kamu kekasihku, atau aku kekasihmu. Tapi rasa di hati jauh melampau kata-kata.
Ya, aku selalu mencintaimu. Meski tak jarang sikapmu melukai egoku. Meski seringkali kamu buat aku tak mengerti. Asal kamu dan aku baik-baik saja, aku rela. Rasa marah, sakit hati, atau peraasaan terluka hanyalah bumbu cinta yang membuatku kian ingin terus bersamamu. Sayangnya tiba pula puncak ketakmengertianku. Rasanya semua baik-baik saja. Rasanya aku telah berusaha menjadi diri yang paling baik buatmu. Aku bersabar, aku berusaha selalu ada untukmu. Hingga sore itu, di puncak kerinduanku, sikapmu telah meruntuhkan jiwaku.
Iya, aku hanya ingin ada untukmu. Makanya aku datang ke rumahmu. Kamu tahu, sepanjang perjalanan, aku telah memikirkan bahagia yang akan bertambah dan bertambah ketika bisa ada di dekatmu, bercengkarama, berbagi cerita, lalu menatap matamu yang bening, juga bibirmu yang.., ah. Aku kian rindu. Tiba di rumahmu, ibumu menyambutku hangat. Lalu dia masuk ke ruang dalam untuk memanggilmu. Aku kian rindu.
Rupanya, bukan kamu yang muncul ke ruang tamu, melainkan bapakmu. Panjang lebar aku berbincang dengannya, sambil menunggu hadirmu. Tapi apa…, kamu tak pernah muncul ke ruang tamu. Kamu justru melipir lewat pintu belakang. Pergi. Jauh, etah ke planet mana.
Kamu tahu seperti apa rasaku? Aih, aku memang bodoh. Tapi rasa cintaku mungkin jauh lebih besar dari kebodohanku. Maka aku kembali datang ke rumahmu. Lagi dan lagi. Sayangnya kamu tak pernah lagi muncul di ruang tamu. Malah bapak ibumu yang selalu menyambutku, bercerita. Meski demi tak melukai hatiku, bapak ibuku tak pernah menyebutkan namamu. Mungkin pada akhirnya, bapak ibumu itu jauh lebih mengenal diri ini dari pada kamu.
Kisah kita berakhir. Singkat, padat. Tanpa kata. Kamu pergi begitu saja. Pergi dari hidupku. Entah untuk mengisi kehidupan siapa? Entah untuk melukai hati siapa lagi? Entah siapa yang akan kamu bikin bingung, kamu bikin rindu setengah mati, kamu bikin perih hati seperih-perihnya, kamu bikin terus berharap, dan pada akhirnya kamu bikin menyerah. Ah, kamu. Tetap saja, orang bodoh ini selalu mencintaimu. Meski kamu hilang.
anasabila memberi reputasi
1
857
3
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya