Quote:
Liputan6.com, Udumalpet - Enam orang dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan pria India yang berasal dari kasta Dalit pada 2016. Dalit sering kali dianggap komunitas yang "untouchable" alias "haram" untuk disentuh. Keberadaan mereka tak dianggap dalam masyarakat tradisional India.
Korban bernama Sankar itu diserang hingga tewas di jalanan yang ramai dan dilakukan pada tengah hari. Setelah pemuda berusia 22 tahun tersebut tewas, para penyerang kemudian kabur dari tempat kejadian dengan menggunakan sepeda motor.
Menurut polisi, Sankar dibunuh karena menikahi perempuan yang berasal dari kasta lebih tinggi. Pasangannya turut terluka dalam serangan tersebut.
Dikutip dari BBC, Rabu (13/12/2107), ayah mertua Sankar menyerahkan diri dan mengaku melakukan serangan tersebut. Ia menjadi satu di antara enam orang yang dijatuhi hukuman mati.
Sebelas orang diadili dalam kasus tersebut. Selain enam orang yang dihukum mati, satu orang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, sementara lainnya dibui lima tahun penjara. Tiga orang lainnya, termasuk ibu mempelai wanita, dibebaskan dari semua tuduhan.
Pada 2011, Mahkamah Agung mengatakan bahwa mereka yang melakukan pembunuhan atas nama kehormatan harus menghadapi hukuman mati.
Rekaman CCTV yang disiarkan di saluran televisi India memperlihatkan Sankar dan pasangannya, Kausalya, sedang berjalan di sebuah jalanan ramai di kota Udumalpet, Tirupur, saat mereka diserang oleh tiga orang bersenjata tajam.
Sebuah foto yang memperlihatkan Kausalya duduk di ranjang rumah sakit dan bersimbah darah, sempat menjadi perbincangan di India.
Kekerasan yang dialami oleh kasta Dalit bukan kali ini saja terjadi. Pada Oktober 2017, seorang pria dari kasta yang sama tewas setelah dipukuli.
Hal itu berawal saat Jayesh Solanki tengah menonton konser Garba, sebuah tarian tradisional. Ia yang datang bersama sepupunya, Prakash, tiba-tiba didekati seorang pria.
Dalam surat keterangan polisi seperti yang diungkapkan oleh Prakash, pria itu menghardik Solanki dan dirinya.
"Beraninya kalian datang ke sini," kata si pria itu.
"Kami bilang kepadanya bahwa kami menonton Garba karena saudara perempuan dan anak-anak perempuan kami turut serta dalam pertunjukan tersebut. Namun, pria itu justru menghina kami," terang Prakash.
Pria itu kemudian pergi meninggalkan mereka berdua, tapi kembali lagi dan membawa tujuh lainnya. Salah satunya menempeleng Prakash.
Solanki mencoba membela sepupunya itu. Namun, ia justru ditarik oleh delapan pria dan dipukuli.
Para pria itu kemudian melempar tubuh Solanki ke dinding hingga tak sadarkan diri. Alih-alih berhenti, mereka terus memukulinya bertubi-tubi.
Solanki kemudian dibawa ke rumah sakit, tapi setiba di sana, dokter menyatakan ia telah meninggal.
Polisi melindungi keluarga Solanki. Pihak keamanan khawatir, mereka diserang kasta yang lebih tinggi karena melaporkan insiden tersebut kepada pihak berwenang.
Sumber
Itulah pentingnya Semar
Tokoh Semar adalah terjemahan dari pemahaman masyarakat Nusantara bahwa ada kekuatan magis paling tinggi di alam semesta yang menaungi kehidupan di dalamnya.
Dalam bentuk kekuatan magis paling tinggi di alam semesta bernama Ismaya. Saat kekuatan magis itu ber-inkarnasi menjadi manusia dinamakan Semar. Saat menjadi manusia, Semar terlahir di golongan kasta paling bawah.
Kehadiran Semar merubah total susunan kasta yang tadinya vertikal dari atas kebawah, menjadi melingkar.
Kenapa melingkar?
Karena paling atas adalah penguasa jagad raya bernama Ismaya, sedangkan kasta paling bawah adalah Semar. Ismaya dan Semar adalah satu Personal tapi dengan wujud yang berbeda.
Hal itulah yang membuat kasta-kasta atas tidak bisa menginjak rakyat kecil dan orang tertindas karena dengan menginjak-injak rakyat kecil dan tertindas sama saja melawan Sang Penguasa Jagad Raya.
Nah, Orang India tidak mengenal konsep pemikiran tentang Semar. Itulah mengapa masyarakat India tradisional masih menganggap kasta paling bawah adalah hina. Bahkan sampai dibunuh seperti yang diberitakan di atas.