alexa-tracking
others
Batal
link has been copied
Pengumuman! KASKUS mau ada event baru! Isi survey ini dan dapat badge!
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a2bd1eba2c06ef27d8b4567/the-chruysantemum-princess
Lapor Hansip
09-12-2017 19:07
The Chruysantemum Princess
Seperti yang kalian tahu, Jepang adalah salah satu monarki tertua di dunia, dan satu-satunya monarki di dunia dimana status kekaisaran masih digunakan. Dan hal ini tidak akan pernah luntur, mengingat Chrysantemum Throne, atau koi, memiliki kedudukan yang kuat seperti monarki Inggris Raya di barat.

Sejarahnya, koi sudah ada sejak 660 SM oleh Kaisar Jimmu. Kaisar sekarang, Akihito adalah urutan ke-125 dalam tahta Jepang. Posisi Kaisar yang dipegangnya sejak 1989 kemungkinan akan berganti pada 2019 mendatang, karena pada 2017 ini Akihito mempertimbangkan untuk turun tahta pada 2018, mengakhiri era Heisei.


Turun tahtanya Akihito akan menandai era baru dalam koi. 30 April 2019, itulah tanggal yang ditetapkan akan menjadi hari dimana Putra Mahkota Naruhito, Hiro-no-miya menduduki jabatan sebagai urutan ke-126. Sejak Restorasi Meiji pada 1868, hanya ada 4 Kaisar sampai saat ini. Penasbihan Naruhito akan menjadi simbolis bagi masa lalu dan masa depan Jepang.

Tapi bukan hanya itu yang terjadi di lingkungan keluarga monarki. Berita mundurnya Akihito dan baru-baru ini, pertunangan Putri Mako yang otomatis menurunkan statusnya sebagai non-royalti kembali memunculkan perdebatan atas sedikitnya male heir dalam keluarga royalti.


Sekarang keluarga royalti Jepang hanya berjumlah 19 orang dan 14 diantaranya perempuan. Anggota laki-laki hanyalah Kaisar, Putra Mahkota, Pangeran Akishino dan putranya Pangeran Hisahito, serta adik Kaisar, Pangeran Masahito. Banyak pengamat yang mengatakan krisis ini berbahaya jika tidak diantisipasi.

Hukum yang melarang keturunan laki-laki dari Putri untuk masuk dalam urutan pewaris tahta, serta status royalti mereka yang dihapus saat menikah juga tidak membantu. 4 pewaris tahta memang bukan jumlah sedikit, tapi keadaan sosial yang berubah dengan cepat membuat desakan agar hukum direvisi menyeruak.

Untuk sekarang ini, satu-satunya keturunan dari Putra Mahkota Naruhito adalah perempuan, yang jika mengacu pada konstitusi, tidak berhak atas tahta di urutan selanjutnya. Sistem konstitusional Jepang lebih tidak liberal pada perempuan dibanding negara-negara Eropa.

Aiko, bergelar Toshi-no-miya atau Princess Toshi, adalah satu-satunya anak dari Putra Mahkota Naruhito dan Putri Michiko. Lahir pada 2002, dan meski berstatus putri, Aiko saat ini berada di urutan kelima tahta, setelah ayahnya, pamannya Pangeran Akishino dan sepupunya Pangeran Hisahito, serta adik Kaisar sekarang, Pangeran Masahito.


Saat ini, bahkan di hari yang sama saat artikel ini rilis, Aiko berulang tahun ke-16. Karena Imperial Household Law yang membatasi hak dari keturunan Kaisar Taisho yang bergender wanita, Aiko tidak ada di urutan pewaris tahta koi. Namun semua bergantung akan apakah konstitusi akan berubah atau tidak.

Apalagi setelah lahirnya Pangeran Hisahito pada 2006, perhatian tertuju pada anggota termuda keluarga royalti. Shinzo Abe sendiri pernah menolak untuk memasukkan perubahan pada Imperial Household Law dalam agenda parlemen pada 2007, jadi kemungkinannya sangat kecil bagi Aiko untuk menjadi Kaisar di masa depan.

Sebagai putri, Aiko sendiri tidak mengalami masa-masa yang selalu indah. Di tahun 2010, diketahui bahwa Aiko sering absen dari sekolah akibat bullying. Hal ini menjadi headline media baik di dalam maupun luar negeri, membuka fakta tentang buruknya sistem edukasi di sekolah sang Putri.

Hal ini membuat media menyorot dengan intens. Putri Masako, ibu dari Aiko sampai menemaninya ke sekolah, media sampai menghitung seberapa lama Toshi-no-miya berada di sekolah. Namun setelah Kaisar memberi pandangannya, publik mulai melihat bahwa absennya Aiko dari sekolah membuat masalah bagi orang di sekelilingnya dan mengkritik keluarga Pangeran Naruhito.


Rumor tidak padam begitu saja, bahkan terkesan semakin membesar. Terutama tentang sosialisasi Aiko dan teman-teman sekolahnya, sampai pada musim gugur 2011, Aiko kembali bersekolah seperti biasa. Hal ini tentu memperkuat fakta tentang posisi wanita di struktur sosial Jepang. Aku yang ngopy goblok.

Di musim semi tahun ini, Aiko resmi menjadi murid SMU. Dalam yearbook, Aiko mengungkapkan pandangannya tentang perdamaian dunia, bahwa senjata nuklir tidak diperlukan. Sedikit yang bisa diketahui dari Aiko mengingat dia tidak banyak tampil dalam acara kerajaan, terkahir pada tahun lalu saat menghadiri hari libur Mountain Day pertama di Nagano.

Dalam 2600 tahun sejarah kekaisaran Jepang, hanya ada 8 tennō atau Kaisar wanita. Terakhir pada 1771, Toshiko, Kaisar Go-Sakuramachi, yang turun dari tahta untuk keponakannya Kaisar Go-Momozono. Mengingat hukum juga belum disahkan, kemungkinan Aiko menduduki tahta akan sangat kecil. Selain itu ada juga topik tentang suksesi wanita sebagai Kaisar di era modern.

Saat Kaisar Hirohito meninggal pada 1989 dan tahta diteruskan oleh Akihito, mourning period tidak begitu terasa di Jepang saat itu. Dalam keadaan stabil sebagai kekuatan ekonomi besar di dunia setelah perang, Akihito mewarisi Jepang sebagai negara besar. Kondisinya berbeda saat ini.

Naiknya dua negara tetangga Korsel dan China ke panggung dunia baik dalam ekonomi maupun kekuatan dan daya saing, keadaannya sama sekali berbeda dengan 1989. Jika Naruhito naik tahta, maka Pangeran Akishino kemungkinan besar akan menjadi komei, atau Putra Mahkota. Dari beberapa sumber, publik lebih favor pada laki-laki ketimbang Aiko.


Biasanya di bagian ini aku akan menempatkan tentang idol setelah intro, tapi kali ini sedikit berbeda. Tidak banyak tentang idol yang ingin kutulis, melainkan bagaimana pandangan Jepang tentang status wanita. Well, membahas ini memang bukan hal yang mudah, apalagi untukku yang tidak berpaspor Jepang.

Tapi kita tahu, as we love Japanese cult, status perempuan yang sedikit lebih rendah adalah rahasia umum. Itu pun kalau masih bisa dibilang rahasia. Yah, bahkan hal ini bisa dilihat dari banyak hal mulai dari variety hingga talk show. It’s everywhere. Aku yang cuma mengcopy artikel tidak akan tahu, karena otakku kecil.

Aku tidak akan menggolongkan diri sebagai feminis atau apapun, hanya merasa kalau woman rights di Jepang sedikit tertinggal bahkan dari Indonesia. Hal ini juga termasuk dalam pembahasan kenapa Aiko Toshinomiya mungkin tidak akan pernah menjadi Empress.

Yah, mungkin sedikit berlebihan, tapi bagiku, sama seperti artikel The Pride sebelumnya, hal ini menjadi sisi lain dari dunia yang unik. Bagiku, hukum yang melarang wanita untuk menduduki jabatan tinggi atau sekedar kehidupan yang sedikit berbeda bukanlah sesuatu yang tidak familiar, sering sekali kita lihat malah.

Yang paling mudah adalah saat melihat pria dan wanita in a certain age, jika mereka belum menikah maka akan dilihat sebagai anomali. Tapi wanita-lah yang akan dilihat lebih aneh jika masih single jika berusia sama dengan laki-laki yang juga belum menikah. Weird isn’t it?


Peran wanita di dunia modern sudah banyak berubah, mereka juga bisa menempati posisi yang sama dengan laki-laki. Sejarah pun mencatat wanita seperti Boudicca, Cleopatra VII, Elizabeth I, atau dari dalam negeri saja, Kartini menegaskan kalau wanita tidak ada di bawah.

Bagiku, emansipasi wanita, feminisme, atau apalah itu, seharusnya persamaan hak antar gender bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Bullying seperti yang dialami Aiko rasanya wajar saja, tapi yang menjadi masalah adalah dikatakan yang melakukan bullying adalah laki-laki.

Memang untuk menjadi Kaisar, bahkan sekedar menjadi anggota keluarga kerajaan, tuntutannya besar. Putri Masako sendiri sempat tidak melakukan tugas kerajaan pada 2003 karena tekanan yang berlebih. Aiko pun demikian, meski masih terlalu cepat untuk mengatakan dia sanggup, pendapat publik yang disetir elit politik tidak akan banyak membantunya.

Girl’s on top, berlebihan? Tidak juga karena aku sendiri bukan tipe orang yang mempermasalahkan gender, kecuali untuk hal kecil seperti pride atau gengsi doong versi kecil.


At last, aku ingin mengatakan kalau artikel kali ini sedikit membuatku refleksi. Kadang kita menuntut terlalu banyak dari idol terutama dari penampilan. Meski harus kuakui aku tidak se-harsh dulu saat lebih sering main di fandom negeri tetangga, kita mungkin menginginkan yang terbaik dari idol kita, tapi dengan cara yang mungkin keliru.

Bagaimana dengan kalian, tentang topik suksesi tahta Jepang ini, dan lebih utama, tentang posisi wanita yang terkesan berada di bawah pria dalam dunia dewasa ini? Share your thoughts.
0
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.