Kaskus

News

jatafest.juniorAvatar border
TS
jatafest.junior
Menghujat dan Memuja Teori Evolusi Darwin
Apakah makhluk hidup berevolusi atau diciptakan purna dan ajeg sejak awal waktu?

Menghujat dan Memuja Teori Evolusi Darwin

tirto.id - Charles Darwin meluncurkan The Origin of Species pertama kali pada 24 November 1859.

Perbincangan mengenai Charles Robert Darwin tidak bisa dipisahkan dari kepulauan Galapagos.

Gugusan pulau-pulau terpencil yang mengisi sebagian titik Samudera Pasifik di seberang barat Ekuador itu menjadi habitat bagi sejumlah spesies endemik yang menjadi subyek observasi Darwin. Burung-burung finch hingga kura-kura raksasa Galapagos adalah beberapa satwa yang begitu mempesona Darwin.

Hasil obeservasi ini, kemudian, menjadi salah satu ilham dalam pengembangan teori evolusi yang dibeberkan Darwin dalam The Origin of Species by Means of Natural Selection. Buku itu merupakan buah usaha tanpa letih penulisnya untuk menjawab pertanyaan pokok: “Mengapa banyak spesies hanya hidup di Galapagos dan tidak di tempat lain? Dan mengapa sejumah spesies tumbuhan dan hewan bervariasi dari satu pulau ke pulau lain?”

Buku setebal 400 halaman yang dipublikasikan pertama kali pada 24 November 1859 – tepat 158 tahun lalu – itu tidak disusun Darwin dalam satu malam. Buku itu merupakan akumulasi perjalanan pemikiran dan observasi yang dilakukan Darwin selama 20 tahun. Tak hanya itu, buku itu sekaligus batu tapal terpenting dari perjalanan pikiran manusia yang jauh sebelum Darwin sudah ada yang memikirkan dan meyakini gagasan mengenai evolusi. Darwin sendiri dengan lapang hati mengakui keberadaan ide-ide evolusi sebelumnya.

Dua pertanyaan pokok yang berkitaran di kepala Darwin itu mengarahkannya memelajari 1529 spesies, 3907 kulit, 12 katalog ragam spesies, ditambah penelitian mutakhir mengenai fosil dan perubahan strukur geologi bumi. Catatan perjalanan Darwin berlayar – dengan menumpang kapal Beagle – dari Inggris ke Amerika Selatan, lalu ke Galapagos hingga Australia dan kembali lagi ke Inggris saja berjumlah sekitar 3000 halaman.


Setidaknya ada dua argumen utama yang diutarakan Darwin dalam The Origin of Species. Pertama, spesies berevolusi dan beradaptasi agar sesuai dengan keadaan alam mereka. Kedua, seleksi alam adalah mekanisme utama yang membuat spesies baru terbentuk secara perlahan.

Sebelum Kelahiran The Origin

Charles Darwin lahir di Inggris pada 12 February 1809. Ayahnya bernama Robert Darwin dan ibunya bernama Susannah Wedgwood. Kakek Charles Darwin dari garis ayah, Erasmus Darwin, adalah ahli ilmu hayati, sedangkan kakek dari garis ibu, Josiah Wedgwood, merupakan seorang pendukung anti-perbudakan.

Semangat zaman di Eropa kala Darwin hidup dipenuhi kecurigaan atas penciptaan bumi (dan juga manusia) yang dikisahkan dalam Kitab Suci. Situasi ini terbentuk, salah satunya, karena fosil yang memiliki bentuk mirip makhluk hidup sekarang ini mulai disingkap oleh para ahli batuan bumi. Pada 1822, Gideon Mantell dan Mary Ann Mantel menemukan fosil dinosaurus, persisnya iguanodon -- saat itu Darwin baru berusia 13 tahun.

Menurut Stefoff, temuan fosil itu membuat orang-orang bertanya, [B]“Bagaimana mereka bisa berubah menjadi batu hanya dalam beberapa ribu tahun?” Sedangkan temuan fosil dinosaurus memperlihatkan ternyata ada "hewan" di masa lalu yang tidak memiliki kemiripan bahkan relasi dengan makhluk hidup sekarang ini. Mereka juga tidak diceritakan dalam Kitab Suci. Jelas, bumi pernah dihuni makhluk hidup yang telah punah. Mengapa ini terjadi?


Mereka yang berpikiran kreasionis mengklaim Tuhan menciptakan tiap spesies dalam bentuknya yang purna, sekali dan untuk selamanya. Makhluk-makhluk yang telah punah itu mati karena tenggelam saat banjir besar – sebagaimana diceritakan dalam Kitab Suci.

“Sebagai contoh, Robert Fitzroy, kapten kapal Beagle, percaya mammot punah karena mereka terlalu besar sehingga tidak dapat melewati pintu behtera (Nabi) Nuh. Inilah mengapa para penulis yang hidup semasa abad ke-19 sering menggambarkan dinosaurus, mammot, dan hewan punah lainnya sebagai antediluvian (yang berarti ‘sebelum banjir’),” sebut Stetoff.

Sedangkan para pemikir katastrofik menganggap bumi dengan segala isinya ini pernah luluh lantak karena bencana. Hewan, seperti dinosaurus, punah sebelum atau saat bencana terjadi. Menurut mereka, Kitab Suci menjelaskan penciptaan dan kehidupan setelah bencana.

Sementara itu, kelompok uniformitarianisme – dimotori oleh Theory of the Earth-nya James Hutton – menganggap kondisi bumi saat ini dibentuk tidak secara tiba-tiba karena bencana di masa lalu, melainkan secara perlahan selama ribuan tahun. Kala itu, visi uniformitarianisme dianggap revolusioner karena, untuk pertama kalinya, bumi dan segala isinya dianggap hasil proses kompleks yang sangat lama. Darwin pun awalnya mengamini argumen ini.

Serupa dengan para ahli batuan bumi, para ahli ilmu hayati pun resah atas pemikiran yang menganggap bahwa makhluk hidup diciptakan purna, sekali, dan tidak berubah. Mereka juga penasaran atas mekanisme keteraturan bentuk makhluk hidup yang ada – sebagaimana diperlihatkan sistem taksonomi Carl Linne, ahli ilmu hayati asal Swedia.

Pada 1802 Uskup William Paley meluncurkan Natural Theology. Segala keteraturan dalam alam dan makhluk hidup, menurutnya, telah diatur Tuhan. Dia mengajukan pengandaian yang dikenal dengan sebutan “argumen desainer” atau “argumen pembuat jam”. Konsepnya dapat diringkas sebagai berikut.

William Paley: “Misalkan Anda keluar berjalan dan menemukan jam saku. Anda belum pernah melihat jam seperti itu sebelumnya. Melihat jam itu terdiri dari mekanisme yang tepat dan rumit, Anda akan menyimpulkan itu tidak mungkin terjadi secara acak. Ia pasti dirancang dan dibuat pembuat jam. Mata, seperti jam saku, adalah mekanisme yang rumit. Begitu sempurna sehingga juga dirancang, dan perancangnya adalah Tuhan.”

Ahli hewan Jean-Baptiste Lamarck yang menulis bahwa spesies selalu menyesuaikan dan berubah supaya sesuai dengan lingkungan mereka. Tapi Lamarck tidak bisa secara meyakinkan menggambarkan bagaimana perubahan ini terjadi.
Setelah Kelahiran The Origin

Sebelum The Origin of Species terbit, Darwin yakin buku itu akan mengguncang dunia akademik dan gereja Eropa. Terbukti, dalam waktu satu hari, sebanyak 1.250 eksemplar The Origin of Species edisi pertama laku dibeli. Sejumlah pihak berkoar, ada yang memuja, banyak pula yang menghujat.

Dua orang eks guru Darwin, Adam Sedgwick dan John S. Henslow, menolak konsep seleksi alam. Sebagai pendeta, keduanya merasa tidak nyaman dengan gagasan bahwa makhluk hidup bisa berevolusi tanpa ada yang membimbing.

Sedangkan Charles Lyell, ahli ilmu batuan bumi yang semula mendukung Darwin menerbitkan The Origin of Species, pasang muka ganda. Secara pribadi dia setuju dengan Darwin tentang evolusi dan seleksi alam. Namun dia tidak pernah memberikan dukungan itu secara publik.

Dua ahli tumbuhan, Joseph Dalton Hooker dan Asa Gray, mendukung hasil penelitian Darwin itu. Sedangkan ahli perbandingan taksonomi hayati asal Inggris, Thomas Henry Huxley, terpesona kesederhanaan argumen Darwin.

"Betapa bodohnya untuk tidak memikirkan buku ini!" ujarnya.

Sementara itu, Charles Kingsley, pendeta gereja Inggris dan penulis buku sejarah Hypatia (1853), tidak melihat adanya konflik antara evolusi dan Tuhan. Menurutnya, antara "Tuhan telah menciptakan makhluk hidup yang mampu mengembangkan diri" atau "Tuhan telah menciptakan makhluk hidup secara pribadi" merupakan dua pemikiran yang sama mulianya.

Pendeta asal Amerika Serikat (AS), Henry Ward Beecher, pun berkata, "Saya menganggap evolusi sebagai penemuan metode Ilahi dalam penciptaan."

Menghujat dan Memuja Teori Evolusi Darwinshare infografik
Menghujat dan Memuja Teori Evolusi Darwin

Beda Persepsi Soal Teori Evolusi

Di luar adu argumen tersebut. Salah satu persitiwa penting terkait terbitnya The Origin of Species adalah pertemuan pada Juni 1860 yang diadakan di Oxford University. Di hadapan Asosiasi Inggris untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Uskup Oxford Samuel Wilberforce berpidato menyerang argumen Darwin. Dia tidak sreg, andai saja teori evolusi ala Darwin benar, ada monyet dalam garis keturunan keluarganya.

Selain itu, pada 1925 seorang guru SMA di Tennessee, AS John T. Scopes digelandang ke pengadilan karena telah mengajarkan evolusi manusia. Dalihnya, hukum di negara bagian itu melarang tindakan tersebut. Orang-orang yang terlibat dalam persidangan pun fenomenal. Jaksa penuntut, William Jennings Bryan, dikenal sebagai fundamentalis. Sedangkan pengacara Scopes, Clarence Darrow, dikenal sebagai pengacara radikal.

Scopes mengakui bahwa dia telah melanggar hukum. Dia dinyatakan bersalah dan didenda 100 dolar AS. Namun hukuman tersebut dibatalkan karena adanya masalah teknis.

Termutakhir, pada Juni 2017, pemerintah Turki menghapus bab yang menerangkan teori evolusi dalam buku pelajaran biologi kelas sembilan. Materi ini baru akan diajarkan di bangku kuliah. Laporan The Guardian menyebut Ketua Dewan Pendidikan Turki, Alpaslan Durmuş, berkata teori evolusi masih diperdebatkan, kontroversial dan terlalu rumit bagi siswa sekolah menengah atas.

"Kami percaya bahwa subjek ini berada di luar pemahaman [siswa] mereka," kata Durmuş, seperti dilansir The Guardian.

Pada Oktober 2015, lembaga PEW Research Center yang bermarkas di AS merilis hasil survei mengenai persepsi orang Dewasa di AS mengenai teori evolusi. Mereka mewawancarai, baik dengan tatap muka maupun telepon, 2002 orang dewasa yang tersebar di seluruh AS.

Hasilnya, sebanyak 65 persen responden mengatakan makhluk hidup berevolusi sepanjang waktu dan 31 persen lainnya menolak adanya evolusi seraya mengatakan makhluk hidup telah ada sejak awal waktu.

Mereka yang setuju dengan teori evolusi memiliki keragaman pandangan mengenai proses yang menyebabkan evolusi. Sebanyak 35 persen mengatakan makhluk hidup berevolusi karena proses alam. Sedangkan 24 persen lainnya menyebut evolusi pada mekhluk hidup dibimbing Yang Maha Kuasa, sementara 5 persen sisanya mengaku tidak mengerti proses yang menyebabkan evolusi.

Survei serupa menemukan 86 persen dari keseluruhan responden yang menganut ajaran Buddha yakin bahwa makhluk hidup berevolusi. Menyusul di bawahnya, sebanyak 82 persen responden yang tidak berafiliasi dengan agama apapun, 81 persen responden yang mengaku Yahudi, dan 80 persen yang menganut Hindu yakin makhluk hidup berevolusi.

Beberapa kelompok penganut agama memperlihatkan komposisi berimbang antara mereka yang yakin makhluk hidup berevolusi dan yang tidak. Responden beragama Islam yang yakin makhluk hidup berevolusi ada 53 persen, sementara Mormon 42 persen dan Protestan (kulit) hitam 50 persen.


Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - hsa/zen)

sumber : https://tirto.id/menghujat-dan-memuj...si-darwin-cArK

==========================================================================================================

Setiap penemuan baru, umumnya didasari pertanyaan2 yang melebihi pemikiran orang2 kebanyakan. Yang heran adalah, mengapa orang2 barat seringkali melakukan pemikiran2 yang dianggap "nyeleneh", diteliti, dan dipublikasikan ya? Sedangkan disini hal2 seperti ini sangat jarang terjadi. Apakah yang membungkam pola pikir manusia Indonesia, dalam mempertanyakan hal - hal yang esensial dan filosofis?

emoticon-Smilie
Diubah oleh jatafest.junior 24-11-2017 12:36
0
9.2K
125
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
694.6KThread58.6KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.