News
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
1462
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/51a86478bbf87b3a5b000005/rumah-filsafat-kaskus----ipse-se-nihil-scire-id-unum-sciat
Apa itu Filsafat? Epistimologi (Wikipedia) Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya ada
Lapor Hansip
31-05-2013 15:51

۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat

۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat


Apa itu Filsafat?

Quote:
Quote:
Epistimologi

(Wikipedia) Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Kita juga dapat memahami apa itu filsafat dengan cara sederhana. Misalnya, kita dapat mendefinisikan filsafat sebagai "sejarah pemikiran". Ini karena kalau kita membaca teks-teks filsafat yang utama, maka kita akan dihadapkan pada rangkaian pemikiran yang dimulai dari semenjak masa Yunani Kuno hingga masa sekarang ini. Namun, orang boleh saja mengatakan bahwa awal mula filsafat berkembang semenjak masa India Kuno ataupun Cina Kuno. Kita dapat membuat definisi yang baru bahwa filsafat itu adalah "cara untuk memahami sesuatu", atau bahasa kerennya adalah
"a method to understanding".


Tujuan belajar filsafat ?
Secara garis besar.
Manfaat belajar manfaat belajar filsafat adalah sebagi berikut:

• Filsafat membantu kita memahami bahwa sesuatu tidak selalu tampak seperti apa adanya.
• Filsafat membantu kita mengerti tentang diri kita sendiri dan dunia kita
• Filsafat membuat kita lebih kritis
• Filsafat mengembangkan kemampuan kita dalam:
  1. menalar secara jelas
  2. membedakan argumen yang baik dan yang buruk
  3. menyampaikan pendapat secara jelas
  4. melihat sesuatu melalui kacamata yang lebih luas
  5. melihat dan mempertimbangkan pendapat dan pandangan yang berbeda.

• Filsafat dapat memberi bekal dan kemampulan pada kita untuk memperhatikan cara pandangan kita sendiri dan pandangan orang lain dengan kritis


Pada umumnya dapat dikatakan bahwa studi filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menangani pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metodis ilmu-ilmu khusus. Jadi filsafat membantu untuk mendalami pertanyaan-pertanyaan asasi manusia tentang realitas (filsafat teoritis) dan lingkup tanggung jawabnya (filsafat praktis). Kemampuan itu dipelajarinya dari luar jalur secara sisitematik dan secara historis.

Nah, sekian dulu. Pembahasan lebih lanjut menunggu update yaemoticon-I Love Kaskus (S)


۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
Diubah oleh samanosuke20
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pakisal212 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 54 dari 74
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
07-11-2017 16:20
Quote:Original Posted By daverrrl
apa filsafat mempercayai adanya agama?


memangnya filsafat itu mesti jadi harus atheist? inti filsafat menurut ane adalah wisdom..

masalah Ketuhanan itu masalah berpikir intuitif.. TIdak harus selalu logis memang.. Karena masalah filsafat menurut ane tidak boleh dimasukkan ke dalam kerangka "kaca mata kuda" yg disebut logika..

Semoga berguna..

Anyway, numpang duduk di mari yah..
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
07-11-2017 16:34
Quote:Original Posted By kevinaditia

Kalau saya pribadi belum pernah menyentuh sama sekali karya-karya Nietzshe, yang saya tahu beliau adalah salah satu pemikir eksistensialis ateis selain Sartre. Untuk tema eksistensialis sendiri memang sudah saya niatkan untuk mendalami karya-karya Kierkegaard terlebih dahulu.

Berbicara mengenai nalar dalam artian penggolongan orang-orang yang dianggap bernalar dan sebaliknya terhadap eksistensi kaum radikal dan ekstrimis menurut saya sangat melelahkan dan tak berkesudahan gan. Kenapa demikian? karena menurut yang saya liat dengan presepsi saya dalam memandang realita adalah bahwa manusia itu sendiri seakan-akan sudah membuat kebenaran itu sendiri. Dalil dan cuci otak yang terjadi di sebagian kaum bermasyarakat membuat pemahaman akan yang bernalar dan tidak bernalar menjadi subjektif, si A mungkin mengatakan membunuh sesama manusia adalah kegiatan yang tidak rasional atau tidak bermoral, dan dengan lantangnya si A mengatasnamakan pembunuhan adalah kegiatan yang tidak manusiawi dan mengamininya sebagai kebenaran, namun dibeberapa kalangan dan dengan dalil yang berbeda menciptakan persepsi yang berbeda pula, membunuh adalah hal yang rasional dan mungkin diamini sebagai kegiatan yang maha mulia karena mengemban tugas-tugas beragama atau ajaran tertentu, dan apa yang diajarkan agama adalah hal yang diterima sebagian orang sebagai mutlak benar sehingga presepsi, cara bernalar, dan yang bernilai itu menjadi mutlak jika mengatasnamakan agama ataupun ajaran tertentu. Dan yang menjadi kekhawatiran saya sendiri adalah dalil sudah menjadi motor pengendali mutlak dalam memandang realita, sehingga mengalah yang tadinya ingin ditujukan untuk membela nama toleransi menjadi mereduksi dalil beserta nilai-nilai yang dikandungnya sehingga menumbuhkan pandangan di dalam masyarakat jika toleransi tidak dapat dilakukan. (CMIIW).




Kalau saya pribadi melihat tulisan-tulisan Kierkegaard memang menarik gan. dari yang saya baca memang dikatakan kalau Kierkegaard dan seluruh karya-karya dan pemikirannya tidak lepas dari refleksi lingkungan dan orang-orang yang ada disekitarnya. Keputusan Kierkegaard sendiri untuk memutuskan pertunangannya dengan Regina memang menumbuhkan tanda tanya besar, namun dikatakan kalau mereka berdua memang saling mencintai. Menurut W*kepedia sendiri Kierkegaard mengatakan kalau sifat melankolisnyalah yang menjadi alasan utama dia memutuskan pertunangan dengan Regina, namun banyak juga spekulasi yang beredar dalam rangka memahami alasan Kierkegaard memutuskan pertunangannya, mulai dari; sifat melankolisnya, keraguan Kierkegaard akan uang yang dimilikinya, dan ada juga yang mengatakan kalau keputusannya tersebut adalah tindakan nyata dalam melangkan kedalam tahap etis (tahap kedua dari ketiga tahap eksistensi menurut Kierkegaard) CMIIW

Salam kenal juga gan emoticon-Toast


salam kenal gan..

masalah radikalitas tidak bisa dipandang dari sudut pandang yg berbeda gan.. melainkan "harus" menurut sudut pandang mereka juga.. contoh masalah dalil, ya harus dilawan dengan dalil juga.. kita tidak bisa menjudge nya dari sudut pandang etika dan moralitas yg tidak kompatibel dgn mrk..

eniwei, masalah mode eksistensi tertinggi Kierkegaard itu menghayati Ketuhanan.. Penaralannya bagaimana yah!? ane yg baca masih kurang jelas haha..
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
18-11-2017 23:28
Nyimak emoticon-Embarrassment



Kedalaman pemikiran itu, baik emoticon-Embarrassment
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
19-11-2017 15:54
ada yg disini jelasin filsafat manusia fisikalis dan filsafat manusia dualitas dlm filsafat?
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
24-11-2017 21:04
Quote:Original Posted By hantu1610
ada yg disini jelasin filsafat manusia fisikalis dan filsafat manusia dualitas dlm filsafat?



mohon koreksinya gan.
filsafat manusia fisikalis merupakan bagian dari seri filsafat manusia bahwa eksistensi manusia hanya dapat dijelaskan melalui penjelasan fisisi semata tanpa melibatkan metafisisi. lawannya adalah filsafat manusia dualis bahwa eksistensi manusia melibatkan metafisisi, yaitu keadaan mental yang melampaui fisika.
CMIIW.
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
24-11-2017 23:58
terima kasih gan,,penjelasannya, pemahaman manusia fisikalis sesuai dgn paradigma materialisme mekanistik yg diusung oleh pendukung aliran duo decartesian-newtonian,,,,cmiiw,,
Diubah oleh hantu1610
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
26-11-2017 10:54
Ikut gabung dulu...
# Nama asli : Asep (Cecep)
# Prime ID : septian.ca
# Regional : Malang-Surabaya
# Socmed (Fb, twitter, dll) :@nceptian
# Kelamin : Laki-laki
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
26-11-2017 11:02
Ikut nimbrung ...

Ane penasaran dengan buku the Prince yang ditulis Firenze Niccolò Machiavelli, ane penasaran dengan buku ini karena konon katanya Soeharto, apabila tidur pasti dibawah bantalnya ada buku ini.

Buku ini banyak mengilhami bahwa sebuah arus politik memperbolehkan tindak kekerasan, dan menceritakan juga bahwa pemerintahan yang adil tidak menuntut pemimpin yang tidak jujur, yang paling penting adalah sebuah kebijakan yang paling baik untuk pemerintahan.
Diubah oleh septian.ca
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
29-11-2017 08:50
Quote:Original Posted By septian.ca
Ikut nimbrung ...

Ane penasaran dengan buku the Prince yang ditulis Firenze Niccolò Machiavelli, ane penasaran dengan buku ini karena konon katanya Soeharto, apabila tidur pasti dibawah bantalnya ada buku ini.

Buku ini banyak mengilhami bahwa sebuah arus politik memperbolehkan tindak kekerasan, dan menceritakan juga bahwa pemerintahan yang adil tidak menuntut pemimpin yang tidak jujur, yang paling penting adalah sebuah kebijakan yang paling baik untuk pemerintahan.


sudah ada gan trit khusus ttg Machiavelli dan pemikiran politiknya. trit itu sudah menyajikan dalam sisi berbeda, sehingga politik machiavellian terlihat lebih menawan daripada yang agan tulis.
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
29-11-2017 09:24
Quote:Original Posted By tyrodinthor
sudah ada gan trit khusus ttg Machiavelli dan pemikiran politiknya. trit itu sudah menyajikan dalam sisi berbeda, sehingga politik machiavellian terlihat lebih menawan daripada yang agan tulis.


😂😂😂, saya belum membaca versi lengkapnya, saya baru membaca versi pengantarnya. Kelihatannya ini menarik makanya saya mencoba tanya sama master yang ada di sini 😶
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
01-12-2017 01:23
Permisi mastah-mastah, ane sebenernya buta masalah filosopi tapi ane mau bertanya/menangkat topik pertemanan (khususnya pertemanan sesama laki-laki).


Pertanyaan pertama yang ane mau ajukan adalah "bagaimana sudut pandang filosofi dan opini agan-agan tentang pertemanan (friendship/companionship) ? khususnya praktik pertemanan generasi milenial di indonesia?"

Secara ilmu sains dan sosial, juga filosopi, pertemanan itu salah satu elemen/kunci dari kebahagiaan dalam hidup. beberapa filsuf berkata bahwa pertemanan itu penting, dalam agama juga begitu, ane ngambil contoh dalam agama islam, Rasul Muhammad SAW dengan khulafaur rasyidin begitu intim dan romantis. Apakah pada jaman sekarang ini masih ada praktik pertemanan kayak itu? ane ngerasa fungsi pertemanan (hapiness-enhancing dan self-validating) tidak terasa atau pertemanan yang dipraktikan sekarang itu melenceng dari fungsi utamanya.
Pertemanan yang ane lihat dan rasakan di lingkungan g ada esensi dari pertemanan yang dipahami dan dijelaskan. Banyak elemen-elemen pertemanan yang dirasa ditinggalkan, salah satu contohnya "wishing for goodness on each other", banyak yang ngerasa hal tsb dirasa 'geli' atau 'gak laki'. contoh: inisiatif ngasih (bukan diminta) jeket ke temen karena dilihat kedinginan malah dikatain/takut dikatain 'homo', atau contoh lain yang lebih sederahana yaitu berbagi payung emoticon-Big Grin.
Dalam segi bahasa, dalam penyampaian hal-hal positif banyak yang tidak tersampaikan karena menggunakan kata/kalimat yang memang tidak mengarah pada hal tsb, cenderung menggunakan kata negatif/kasar. contoh : "lu jelek kalo pake kacamata" padahal mungkin maksud yang disampaikan adalah "kamu lebih cakep kalo g pake kacamata", atau contoh lain "njir maneh eweuh kasieun ( njir lu g punya rasa takut) mungkin hal yang ingin disampaikan adalah "njir maneh wanian (njir lu pemberani).

inti dari yang ane mau tanyain adalah "darimana munculnya paradigma/paham kalau pertemanan yang intim/romantis itu dianggap nggak laki?"
Ane minta pendapat dari agan-agan sekalian, apakah yang ane jelasakan memang betul begitu atau emang ane belum menemukan pertemanan yang seperti itu?



BTW, ini termasuk pertanyaan yang menyangkut filsafat g? atau lebih berat ke ilmu sosial?


Diubah oleh arclordz
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
01-12-2017 06:39
salam,
adakah disini yang mengangkat literasi literasi karya alan watts?
karena sedang seru serunya mempelajari tentang filsafat dan juga tentang kehidupan menurut tata cara pandang beliau.
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
11-12-2017 02:38
Quote:Original Posted By arclordz
Permisi mastah-mastah, ane sebenernya buta masalah filosopi tapi ane mau bertanya/menangkat topik pertemanan (khususnya pertemanan sesama laki-laki).


Pertanyaan pertama yang ane mau ajukan adalah "bagaimana sudut pandang filosofi dan opini agan-agan tentang pertemanan (friendship/companionship) ? khususnya praktik pertemanan generasi milenial di indonesia?"

Secara ilmu sains dan sosial, juga filosopi, pertemanan itu salah satu elemen/kunci dari kebahagiaan dalam hidup. beberapa filsuf berkata bahwa pertemanan itu penting, dalam agama juga begitu, ane ngambil contoh dalam agama islam, Rasul Muhammad SAW dengan khulafaur rasyidin begitu intim dan romantis. Apakah pada jaman sekarang ini masih ada praktik pertemanan kayak itu? ane ngerasa fungsi pertemanan (hapiness-enhancing dan self-validating) tidak terasa atau pertemanan yang dipraktikan sekarang itu melenceng dari fungsi utamanya.
Pertemanan yang ane lihat dan rasakan di lingkungan g ada esensi dari pertemanan yang dipahami dan dijelaskan. Banyak elemen-elemen pertemanan yang dirasa ditinggalkan, salah satu contohnya "wishing for goodness on each other", banyak yang ngerasa hal tsb dirasa 'geli' atau 'gak laki'. contoh: inisiatif ngasih (bukan diminta) jeket ke temen karena dilihat kedinginan malah dikatain/takut dikatain 'homo', atau contoh lain yang lebih sederahana yaitu berbagi payung emoticon-Big Grin.
Dalam segi bahasa, dalam penyampaian hal-hal positif banyak yang tidak tersampaikan karena menggunakan kata/kalimat yang memang tidak mengarah pada hal tsb, cenderung menggunakan kata negatif/kasar. contoh : "lu jelek kalo pake kacamata" padahal mungkin maksud yang disampaikan adalah "kamu lebih cakep kalo g pake kacamata", atau contoh lain "njir maneh eweuh kasieun ( njir lu g punya rasa takut) mungkin hal yang ingin disampaikan adalah "njir maneh wanian (njir lu pemberani).

inti dari yang ane mau tanyain adalah "darimana munculnya paradigma/paham kalau pertemanan yang intim/romantis itu dianggap nggak laki?"
Ane minta pendapat dari agan-agan sekalian, apakah yang ane jelasakan memang betul begitu atau emang ane belum menemukan pertemanan yang seperti itu?



BTW, ini termasuk pertanyaan yang menyangkut filsafat g? atau lebih berat ke ilmu sosial?




Masuk kok gan... pertanyaan mas masuk dalam ranah feminisme
Ada perdebatan mengenai feminisme masuk ke filsafat atau cuman gerakan sosial
Tapi gue setuju untuk blg feminisme itu salah satu disiplin dr filsafat

Feminisme untuk gelombang skrg kan ga bergerak untuk memajukan hak perempuan aja
Namun juga membebaskan patriarkis dari segala aspek, bahkan aspek laki-laki
Contoh laki-laki harus maco, itu pernyataan yang dikonstruksi oleh patriarki
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
12-12-2017 16:10
Kenapa ya Filsafat itu engga di ajarin dari SD? Padahal pola pikir dan dasar pemahaman logika itu harusnya udah terbentuk sedari kecil. Dan menurut ane sih umur-umur anak SD itu waktu yang paling pas untuk diberikan pemahaman tentang ilmu-ilmu filsafat secara sederhana
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
12-12-2017 16:17
Quote:Original Posted By arclordz
Permisi mastah-mastah, ane sebenernya buta masalah filosopi tapi ane mau bertanya/menangkat topik pertemanan (khususnya pertemanan sesama laki-laki).


Pertanyaan pertama yang ane mau ajukan adalah "bagaimana sudut pandang filosofi dan opini agan-agan tentang pertemanan (friendship/companionship) ? khususnya praktik pertemanan generasi milenial di indonesia?"

Secara ilmu sains dan sosial, juga filosopi, pertemanan itu salah satu elemen/kunci dari kebahagiaan dalam hidup. beberapa filsuf berkata bahwa pertemanan itu penting, dalam agama juga begitu, ane ngambil contoh dalam agama islam, Rasul Muhammad SAW dengan khulafaur rasyidin begitu intim dan romantis. Apakah pada jaman sekarang ini masih ada praktik pertemanan kayak itu? ane ngerasa fungsi pertemanan (hapiness-enhancing dan self-validating) tidak terasa atau pertemanan yang dipraktikan sekarang itu melenceng dari fungsi utamanya.
Pertemanan yang ane lihat dan rasakan di lingkungan g ada esensi dari pertemanan yang dipahami dan dijelaskan. Banyak elemen-elemen pertemanan yang dirasa ditinggalkan, salah satu contohnya "wishing for goodness on each other", banyak yang ngerasa hal tsb dirasa 'geli' atau 'gak laki'. contoh: inisiatif ngasih (bukan diminta) jeket ke temen karena dilihat kedinginan malah dikatain/takut dikatain 'homo', atau contoh lain yang lebih sederahana yaitu berbagi payung emoticon-Big Grin.
Dalam segi bahasa, dalam penyampaian hal-hal positif banyak yang tidak tersampaikan karena menggunakan kata/kalimat yang memang tidak mengarah pada hal tsb, cenderung menggunakan kata negatif/kasar. contoh : "lu jelek kalo pake kacamata" padahal mungkin maksud yang disampaikan adalah "kamu lebih cakep kalo g pake kacamata", atau contoh lain "njir maneh eweuh kasieun ( njir lu g punya rasa takut) mungkin hal yang ingin disampaikan adalah "njir maneh wanian (njir lu pemberani).

inti dari yang ane mau tanyain adalah "darimana munculnya paradigma/paham kalau pertemanan yang intim/romantis itu dianggap nggak laki?"
Ane minta pendapat dari agan-agan sekalian, apakah yang ane jelasakan memang betul begitu atau emang ane belum menemukan pertemanan yang seperti itu?



BTW, ini termasuk pertanyaan yang menyangkut filsafat g? atau lebih berat ke ilmu sosial?




Banyak faktor yang ahirnya mempengaruhi hal ini terjadi gan. Mulai dari konstruksi media, dimana seorang teman laki-laki yang begitu perhatian ke temen laki-lakinya itu digambarkan sebagai sosok yang lemah gemulai, bergaya centil dan kalau bahasa orang-orang sekarang itu banci. Mungkin itu salah satunya, dan masih banyak lagi faktor lainnya. Menurut ane gitu gan
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
13-12-2017 02:29
Quote:Original Posted By dioslz


Masuk kok gan... pertanyaan mas masuk dalam ranah feminisme
Ada perdebatan mengenai feminisme masuk ke filsafat atau cuman gerakan sosial
Tapi gue setuju untuk blg feminisme itu salah satu disiplin dr filsafat

Feminisme untuk gelombang skrg kan ga bergerak untuk memajukan hak perempuan aja
Namun juga membebaskan patriarkis dari segala aspek, bahkan aspek laki-laki
Contoh laki-laki harus maco, itu pernyataan yang dikonstruksi oleh patriarki


Menurut ane sih, struktur sosial khusunya gender memang harus seperti fitrahnya (real gender equality wont be really happen), tetapi kita gak bisa melekatkan satu sifat kepada gender tertentu. Mungkin yang ane bilang terlihat kotradiktif, tapi boleh kita ambil contoh, wanita boleh mencari nafkah..tetapi tidak boleh meninggalkan fitrahnya yaitu mengurus anak dan suami (perhatian, hangat). tetapi, sesorang yang memiliki sifat perhatian, hangat, dst khusunya dalam pertemanan gak bisa kita sebut kecewe-cewean (banci/feminine).

Jadi, yang ane tekankan, fitrah suatu gender gak ada hubungan sama suatu sifat/dogma tertentu. terus, apakah yang agan sebutkan bahwa cowo itu harus maco berkontradiksi dengan pertemanan yang ane maksud? apakah ini cuma kesalahpahaman dalam penafsiran bahasa, yang berujung jadi dogma?



Quote:Original Posted By abdillahfahri


Banyak faktor yang ahirnya mempengaruhi hal ini terjadi gan. Mulai dari konstruksi media, dimana seorang teman laki-laki yang begitu perhatian ke temen laki-lakinya itu digambarkan sebagai sosok yang lemah gemulai, bergaya centil dan kalau bahasa orang-orang sekarang itu banci. Mungkin itu salah satunya, dan masih banyak lagi faktor lainnya. Menurut ane gitu gan


Memang bener gan, media berperan penting. tetapi, sebagai muslim ane melihat pertemanan rasul dengan khulafau rasyidin begiu manis. kenapa kita gak mengambil contoh dari situ? apakah pertemanan tsb bisa terjadi karena muhammad adalah seorang nabi? tapi ane juga melihat gaya pertemanan di timur tengah itu identik dengan cium pipi (cipika-cipiki) yang mengindikasikan bahwa pertemanan yang manis itu memang bisa terjadi, khususnya sesama lelaki.

0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
13-12-2017 10:44
Quote:Original Posted By arclordz


Menurut ane sih, struktur sosial khusunya gender memang harus seperti fitrahnya (real gender equality wont be really happen), tetapi kita gak bisa melekatkan satu sifat kepada gender tertentu. Mungkin yang ane bilang terlihat kotradiktif, tapi boleh kita ambil contoh, wanita boleh mencari nafkah..tetapi tidak boleh meninggalkan fitrahnya yaitu mengurus anak dan suami (perhatian, hangat). tetapi, sesorang yang memiliki sifat perhatian, hangat, dst khusunya dalam pertemanan gak bisa kita sebut kecewe-cewean (banci/feminine).

Jadi, yang ane tekankan, fitrah suatu gender gak ada hubungan sama suatu sifat/dogma tertentu. terus, apakah yang agan sebutkan bahwa cowo itu harus maco berkontradiksi dengan pertemanan yang ane maksud? apakah ini cuma kesalahpahaman dalam penafsiran bahasa, yang berujung jadi dogma?





Memang bener gan, media berperan penting. tetapi, sebagai muslim ane melihat pertemanan rasul dengan khulafau rasyidin begiu manis. kenapa kita gak mengambil contoh dari situ? apakah pertemanan tsb bisa terjadi karena muhammad adalah seorang nabi? tapi ane juga melihat gaya pertemanan di timur tengah itu identik dengan cium pipi (cipika-cipiki) yang mengindikasikan bahwa pertemanan yang manis itu memang bisa terjadi, khususnya sesama lelaki.



Yap betul banget. Hal itu menjadi tabu ahirnya seiring dengan adanya pengaruh-pengaruh dari berbagai lini, bisa tayangan televisi, budaya masyarakat, dan banyak lagi.
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
13-12-2017 22:32
Quote:Original Posted By arclordz


Menurut ane sih, struktur sosial khusunya gender memang harus seperti fitrahnya (real gender equality wont be really happen), tetapi kita gak bisa melekatkan satu sifat kepada gender tertentu. Mungkin yang ane bilang terlihat kotradiktif, tapi boleh kita ambil contoh, wanita boleh mencari nafkah..tetapi tidak boleh meninggalkan fitrahnya yaitu mengurus anak dan suami (perhatian, hangat). tetapi, sesorang yang memiliki sifat perhatian, hangat, dst khusunya dalam pertemanan gak bisa kita sebut kecewe-cewean (banci/feminine).

Jadi, yang ane tekankan, fitrah suatu gender gak ada hubungan sama suatu sifat/dogma tertentu. terus, apakah yang agan sebutkan bahwa cowo itu harus maco berkontradiksi dengan pertemanan yang ane maksud? apakah ini cuma kesalahpahaman dalam penafsiran bahasa, yang berujung jadi dogma?



Loh kok kontradiktif sih argumentasi agan hehe
Kan udah jelas ga bisa melekatkan satu sifat ke gender tertentu tapi "memang harus seperti fitrahnya" kan kontra
Itu yang ditolak feminisme, fitrah atau kodrat
Udah ga bisa ngomong ane kalo agan kontradiktif sendiri emoticon-Smilie

Gimana bisa fitrah atau kodrat ga berhubungan sm dogma tertentu...
Loh yg menciptakan fitrah atau kodrat kan manusia, bukan Tuhan itu sendiri...
Yg menciptakan peraturan, baik yg disebut agama atau sebagaimananya kan manusia...
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
15-12-2017 22:26
Quote:Original Posted By sepfianh


salam kenal gan..

masalah radikalitas tidak bisa dipandang dari sudut pandang yg berbeda gan.. melainkan "harus" menurut sudut pandang mereka juga.. contoh masalah dalil, ya harus dilawan dengan dalil juga.. kita tidak bisa menjudge nya dari sudut pandang etika dan moralitas yg tidak kompatibel dgn mrk..

eniwei, masalah mode eksistensi tertinggi Kierkegaard itu menghayati Ketuhanan.. Penaralannya bagaimana yah!? ane yg baca masih kurang jelas haha..

Mode eksistensi tertinggi Kierkegaard itu adalah "tahap religius", kalau saya sendiri memahaminya bukan sebagai "menghayati tuhan" seperti yang agan sampaikan diatas, melainkan sebagai "lompatan iman", iman yang dimaksud adalah iman Kristen. Menurut Kierkegaard, lompatan iman (tahap religius) membuka pintu masuk kedalam wilayah religius yang merupakan bentuk tertinggi dari individualisasi (eksistensi individu). Pada tahap ini, kategori-kategori yang berlaku bukanlah kenikmatan dan kesusahan sebagaimana kategori yang dipakai pada tahap estetis, atau kategori baik dan jahat dalam tahap etis, melainkan kategori anugerah, iman, dan dosa. Model yang dipakai pada tahap ini adalah Abraham, tokoh yang siap mengorbankan anak tunggalnya demi ketaatan kepada perintah Allah meskipun di lain pihak ia berhadapan dengan janji ilahi bahwa ia akan menjadi bapa bangsa-bangsa. Abraham dihadapkan pada suatu 'saat' menentukan dalam proses 'pengambilan keputusan' yang pada ahkirnya akan menentukan apakah dia menjadi 'ksatria iman' atau 'pendosa'.

Tahap religius Kierkegaard ini dibahas dibukunya yang berjudul "Fear and Trembling", dan jika didalami, saya sampai kepada kesimpulan kalau tahap religius ini bukan iman yang dinalari, tapi hidup didalam iman melalui tindakan. Saya pribadi setuju jika nalar (rasio) tidak akan dapat menjangkau iman, dan Kierkegaard sendiri juga geram akan orang-orang yang berupaya untuk menjelaskan persoalan iman dalam sebuah sistem filsafat (dulu di Copenhagen tempat tingal Kierkegaard, orang banyak membahas iman didalam terma-terma filsafat Hegel). Memahami iman tidak dapat diraih dari dalam hitungan hari atau minggu, demikian juga tidak dapat dijelaskan melalui refleksi. Menurut Johannes de Silentio (nama samaran Kierkegaard di buku "Fear and Trembling") meskipun jika seorang dapat mengubah urutan keseluruhan isi iman ke dalam bentuk konseptual, hal itu tidak berarti orang itu telah menjelaskan apa iman itu, bagaimana ia menjadi ber-iman atau bagaimana iman itu masuk kedalam dirinya. (CMIIW)

Diubah oleh kevinaditia
0 0
0
۩ Rumah Filsafat Kaskus ۩ - ipse se nihil scire id unum sciat
23-12-2017 04:40
Quote:Original Posted By dioslz


Masuk kok gan... pertanyaan mas masuk dalam ranah feminisme
Ada perdebatan mengenai feminisme masuk ke filsafat atau cuman gerakan sosial
Tapi gue setuju untuk blg feminisme itu salah satu disiplin dr filsafat

Feminisme untuk gelombang skrg kan ga bergerak untuk memajukan hak perempuan aja
Namun juga membebaskan patriarkis dari segala aspek, bahkan aspek laki-laki
Contoh laki-laki harus maco, itu pernyataan yang dikonstruksi oleh patriarki


laki laki harus macho itu tergantung programing kultur aja IMO. mungkin ada hubungan dgn kebutuhan/kesulitan ekonomi. misal di media barat malah laki laki diprogram harus gentle dan mengalah.

kalo cipika cipiki di timteng itu AFAIK gaya silaturahmi kepala suku. semacam utk meredakan ketegangan. cmiiw
0 0
0
Halaman 54 dari 74
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia