- Beranda
- Berita dan Politik
Wisman Tiongkok Sumbang 404,6 M
...
TS
zhouxian
Wisman Tiongkok Sumbang 404,6 M
Terobosan Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) di sektor pariwisata sukses menarik banyaknya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Terutama dibukanya penerbanggan langsung delapan kota besar di Tiongkok ke Manado. Ini bisa dilihat dari kunjungan wisman Tiongkok sejak Januari hingga September tahun ini mencapai 40.467 (lihat grafis). Sementara total kunjungan wisman semua negara adalah 56.670. Jika diasumsikan biaya rata-rata belanja wisman di Sulut sebesar Rp 10 juta per orang, maka 40.467 wisman Tiongkok sudah menyumbang Rp 404,6 miliar untuk Sulut.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut), secara year on year (yoy) khusus September bulan lalu, jumlah kunjungan wisman juga meningkat. September 2016 sebanyak 5.965, sedangkan September tahun ini naik menjadi 6.306. Namun secara month to month (mtm) September tahun ini turun dibanding Agustus.
Kepala BPS Sulut Mohamad Edy Mahmud mengatakan, jumlah kedatangan wisman naik secara yoy dikarenakan program Pemprov Sulut. “Yakni kunjungan wisman asal Tiongkok yang digalakkan Pemprov Sulut sangat memiliki andil naiknya kunjungan wisman tahun ini,” katanya.
Sementara, terkait turunya jumlah wisman secara mtm, menurutnya, disebabkan Mei sampai Agustus masih masuk musim liburan. “Selain itu, di Mei hingga Agustus iven nasional banyak dihelat di Sulut. Hal itu menjadikan kunjungan wisman tinggi dibanding September,” sebutnya.
Terpisah, GM Bandara Sam Ratulangi Minggus Gandeguai mengatakan, kunjungan wisman Tiongkok memang masih primadona. Walaupun secara data mtm menurun, namun sejak dibukanya penerbangan langsung dari Manado menuju delapan kota di Tiongkok, geliat kunjungan wisman besar. “Dimana, untuk periode Januari hingga pekan pertama Oktober, pesawat rute internasional yang mendarat di Bandara Sam Ratulangi berjumlah 422 penerbangan. Jumlah penerbangan ini masih didominasi rute Tiongkok. Dimana, dari semua kota tujuan di Tiongkok, Guangzhou terbanyak yaitu 110 flight dari Lion Air,” katanya.
Lanjut mantan GM Bandara Frans Kaisiepo Biak ini, untuk maskapai paling banyak melayani rute internasional masih dipegang Lion Air. “Lion Air masih paling banyak dalam jumlah rute penerbangan luar negeri menuju Bandara Sam Ratulangi yaitu total 241 penerbangan. Kemudian disusul Silk Air 152 penerbangan, dan Citilink enam penerbangan,” terangnya Gandeguai.
Dia pun menambahkan, terus berusaha maksimal dalam melayani maskapai maupun penumpang luar negeri. “Kita support program pariwisata pemerintah provinsi, jadi kita tentu akan terus meningkatrkan pelayanan,” pungkas Gandeguai.
Di sisi lain, Deputi Direktur Bank Indonesia Perwakilan Sulut Buwono Budisantoso menilai, menurunya jumlah kunjungan wisman secara mtm perlu dijadikan warning. “Bahwa atraksi yang ditawarkan industri wisata Sulut perlu ditingkatkan. Di samping perlunya peningkatan infrastruktur khususnya kelancaran lalu lintas menuju destinasi wisata,” sebutnya.
Menurut Buwono, kemacetan yang makin parah di Manado menjadi salah satu keluhan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. “Hal ini perlu diseriusi. Karena, dengan program pemprov yang menargetkan puluhan ribu wisman khususnya asal Tiongkok, maka harus diterjemahkan pemerintah kabupaten/kota di Sulut. Kemacetan semakin parah. Bukan hanya di Manado, namun di beberapa titik juga di laur Manado sudah macet. Hal ini tentu menjadikan turis tak nyaman. Karenanya, hal ini perlu diselesaikan,” katanya.
Namun, terlepas dari pekerjaan rumah yang harus diselesaikan itu, lanjutnya, jumlah wisman yang cukup tinggi mendorong pertumbuhan ekonomi. “Kenaikan jumlah wisman khususnya dari Tiongkok secara yoy untuk triwulan III tahun 2017, tentunya akan menyumbang andil pada pertumbuhan ekonomi (PE) Sulut,” katanya. Misalkan, dia melanjutkan, satu turis mengeluarkan Rp 10 juta di Sulut, maka jika diakumulasi 22 ribu turis akan memberikan efek langsung Rp 220 miliar ke PE Sulut. Atau 0,0022 persen PDB Sulut dengan multiplier efek mendekati 0,01 persen PDB Sulut,” jelasnya.
Sedangkan untuk skala nasional, kunjungan turis Tiongkok ke Indonesia meningkat. Dari 1,21 juta kunjungan selama September 2017, wisman asal Tiongkok sebanyak 15,04 persen atau sekira 130 ribu orang. “Penurunan turis Tiongkok ke Sulut di September, juga disebabkan karena jumlah di daerah lain meningkat. Perlu dikaji kenapa demikian, dan harus dicarikan solusi,” pungkas Buwono.
Sementara itu, pengamat pariwisata Sulut Prof Dr Bet El Silisna Laragense mengatakan, pembenahan destinasi menjadi salah satu faktor yang bisa mempengaruhi jumlah kunjungan wisman. Menurutnya, kualitas produk pariwisata yang ditawarkan harus berstandar internasional. “Lebih baik, sekali kita promosikan, wisatawan datang dengan kualitas pengalaman yang baik. Sehingga, ketika mereka pulang, dengan sendirinya akan terjadi word of mouth ke wisatawan lainnya. Akan terjadi repeated visit dan bertambah lagi jumlahnya,” ungkapnya.
Terkait infrastruktur di setiap destinasi pariwisata, Laragense menilai, masih perlu adanya peningkatan kualitas. Seperti fasilitas bandara serta Tourism Information Center (TIC), klinik kesehatan (health care), akses jalan, ketersediaan listrik dan air bersih yang memadai. “Selain itu, sangat diperlukan juga SDM berkualitas yang punya kompetensi dan tersertifikasi. Seluruh sumber daya yang ada harus ditingkatkan seiring berkembangnya pariwisata dan kunjungan wisman ke Sulut,” tandasnya. (fgn/can)
http://manadopostonline.com/read/201...g-4046-M/27469
sumbang gan
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut), secara year on year (yoy) khusus September bulan lalu, jumlah kunjungan wisman juga meningkat. September 2016 sebanyak 5.965, sedangkan September tahun ini naik menjadi 6.306. Namun secara month to month (mtm) September tahun ini turun dibanding Agustus.
Kepala BPS Sulut Mohamad Edy Mahmud mengatakan, jumlah kedatangan wisman naik secara yoy dikarenakan program Pemprov Sulut. “Yakni kunjungan wisman asal Tiongkok yang digalakkan Pemprov Sulut sangat memiliki andil naiknya kunjungan wisman tahun ini,” katanya.
Sementara, terkait turunya jumlah wisman secara mtm, menurutnya, disebabkan Mei sampai Agustus masih masuk musim liburan. “Selain itu, di Mei hingga Agustus iven nasional banyak dihelat di Sulut. Hal itu menjadikan kunjungan wisman tinggi dibanding September,” sebutnya.
Terpisah, GM Bandara Sam Ratulangi Minggus Gandeguai mengatakan, kunjungan wisman Tiongkok memang masih primadona. Walaupun secara data mtm menurun, namun sejak dibukanya penerbangan langsung dari Manado menuju delapan kota di Tiongkok, geliat kunjungan wisman besar. “Dimana, untuk periode Januari hingga pekan pertama Oktober, pesawat rute internasional yang mendarat di Bandara Sam Ratulangi berjumlah 422 penerbangan. Jumlah penerbangan ini masih didominasi rute Tiongkok. Dimana, dari semua kota tujuan di Tiongkok, Guangzhou terbanyak yaitu 110 flight dari Lion Air,” katanya.
Lanjut mantan GM Bandara Frans Kaisiepo Biak ini, untuk maskapai paling banyak melayani rute internasional masih dipegang Lion Air. “Lion Air masih paling banyak dalam jumlah rute penerbangan luar negeri menuju Bandara Sam Ratulangi yaitu total 241 penerbangan. Kemudian disusul Silk Air 152 penerbangan, dan Citilink enam penerbangan,” terangnya Gandeguai.
Dia pun menambahkan, terus berusaha maksimal dalam melayani maskapai maupun penumpang luar negeri. “Kita support program pariwisata pemerintah provinsi, jadi kita tentu akan terus meningkatrkan pelayanan,” pungkas Gandeguai.
Di sisi lain, Deputi Direktur Bank Indonesia Perwakilan Sulut Buwono Budisantoso menilai, menurunya jumlah kunjungan wisman secara mtm perlu dijadikan warning. “Bahwa atraksi yang ditawarkan industri wisata Sulut perlu ditingkatkan. Di samping perlunya peningkatan infrastruktur khususnya kelancaran lalu lintas menuju destinasi wisata,” sebutnya.
Menurut Buwono, kemacetan yang makin parah di Manado menjadi salah satu keluhan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. “Hal ini perlu diseriusi. Karena, dengan program pemprov yang menargetkan puluhan ribu wisman khususnya asal Tiongkok, maka harus diterjemahkan pemerintah kabupaten/kota di Sulut. Kemacetan semakin parah. Bukan hanya di Manado, namun di beberapa titik juga di laur Manado sudah macet. Hal ini tentu menjadikan turis tak nyaman. Karenanya, hal ini perlu diselesaikan,” katanya.
Namun, terlepas dari pekerjaan rumah yang harus diselesaikan itu, lanjutnya, jumlah wisman yang cukup tinggi mendorong pertumbuhan ekonomi. “Kenaikan jumlah wisman khususnya dari Tiongkok secara yoy untuk triwulan III tahun 2017, tentunya akan menyumbang andil pada pertumbuhan ekonomi (PE) Sulut,” katanya. Misalkan, dia melanjutkan, satu turis mengeluarkan Rp 10 juta di Sulut, maka jika diakumulasi 22 ribu turis akan memberikan efek langsung Rp 220 miliar ke PE Sulut. Atau 0,0022 persen PDB Sulut dengan multiplier efek mendekati 0,01 persen PDB Sulut,” jelasnya.
Sedangkan untuk skala nasional, kunjungan turis Tiongkok ke Indonesia meningkat. Dari 1,21 juta kunjungan selama September 2017, wisman asal Tiongkok sebanyak 15,04 persen atau sekira 130 ribu orang. “Penurunan turis Tiongkok ke Sulut di September, juga disebabkan karena jumlah di daerah lain meningkat. Perlu dikaji kenapa demikian, dan harus dicarikan solusi,” pungkas Buwono.
Sementara itu, pengamat pariwisata Sulut Prof Dr Bet El Silisna Laragense mengatakan, pembenahan destinasi menjadi salah satu faktor yang bisa mempengaruhi jumlah kunjungan wisman. Menurutnya, kualitas produk pariwisata yang ditawarkan harus berstandar internasional. “Lebih baik, sekali kita promosikan, wisatawan datang dengan kualitas pengalaman yang baik. Sehingga, ketika mereka pulang, dengan sendirinya akan terjadi word of mouth ke wisatawan lainnya. Akan terjadi repeated visit dan bertambah lagi jumlahnya,” ungkapnya.
Terkait infrastruktur di setiap destinasi pariwisata, Laragense menilai, masih perlu adanya peningkatan kualitas. Seperti fasilitas bandara serta Tourism Information Center (TIC), klinik kesehatan (health care), akses jalan, ketersediaan listrik dan air bersih yang memadai. “Selain itu, sangat diperlukan juga SDM berkualitas yang punya kompetensi dan tersertifikasi. Seluruh sumber daya yang ada harus ditingkatkan seiring berkembangnya pariwisata dan kunjungan wisman ke Sulut,” tandasnya. (fgn/can)
http://manadopostonline.com/read/201...g-4046-M/27469
sumbang gan
0
1.7K
18
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
696.2KThread•59.5KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya