- Beranda
- Stories from the Heart
Time after time - Bab 1(pasca)
...
TS
eunoia219
Time after time - Bab 1(pasca)
Ada orang yang mengalami mimpi buruk, meskipun sedang tidak tertidur ....
βββ
Maaf. Hanya itu yang dapat aku katakan. Aku menyesal karena telah memilih cara yang bodoh, hingga membuat kita harus merasakan perasaan ini.
Aku tahu, kamu merasa kecewa dan marah. Tapi ini adalah penyelesaian akhir yang harus kulakukan. Semua sandiwara ini harus selesai, sebelum menjadi masalah yang lebih besar akibat sebuah kebohongan.
Walaupun aku tahu, betapa perihnya kejujuran ini, tapi bukan berarti aku tidak menghargaimu; aku sangat menghargai pengorbanan cintamu; dan karena itulah, perasaanku juga jadi semakin kuat.
Kukatakan, aku juga mencintaimu. Kamu adalah cinta pertamaku, meskipun kamu mungkin bukan cinta terakhirku. Terima kasih karena telah membiarkan aku merasakan cinta ini untuk pertama kalinya.
Sekali lagi, aku minta maaf. And good bye....
Surat yang saat itu dititipkan pada Erick, baru dibaca oleh Pierre sekitar 2 minggu yang lalu.
Perasaannya baru pulih sedikit saat ini. Oleh sebab itu, ia baru bisa membaca surat dari seseorang yang dicintainya.
Untuk pertama kalinya, air mata keluar dari mata Pierre, setelah membaca keseluruhan isi surat. Tidak pernah menyangka, jika Clara juga merasakan hal yang sama.
Jam dinding di atas perapian, menunjukkan pukul 6 sore. Pantas, langit sudah berwarna oranye, yang terlihat dari jendela kamar Pierre, yang saat ini sedang berlibur di kota Toronto, Kanada.
Musim gugur di sana akan berakhir, sehari sebelum kepulangan Pierre ke Jakarta.
Di pagi yang anginya begitu dingin, daun-daun kering yang begitu banyak berserakan di jalan, Pierre meninggalkan jejaknya.
Pada sebuah taman, yang daun maple-nya rontok, Pierre duduk di sebuah kursi, di bawah salah satu pohon maple. Termenung, memandang lurus pada suatu objek, namun tidak fokus pada objek itu.
Suatu hal terpikirkan olehnya. Clara. Gadis itu memang sedang ada di London; ia pun bisa kesana dan mencari keberadaanya. Hanya saja, ia tidak ingin merusak ketenangan Clara.
Beberapa keputusan, ditimbangnya semalam, dan sekarang kembali dipertimbangkan, hingga menjadi sebuah keputusan.
Ditangan kanannya, ia memegang surat itu. Ujung kertasnya diremasnya.
βββ
10 tahun kemudian....
Mungkin karena hari libur, cafe disebuah tempat wisata cukup ramai oleh pengunjung. Di kursi yang mengarah dekat jendela, seorang gadis berpakaian sederhana sedang duduk, dengan ditemani secangkir kopi latte hangat.
Alasan gadis itu memesan kopi hangat, karena cuaca siang ini agak mendung dan berangin. Bisa diprediksi, bahwa beberapa menit lagi rintik air akan turun.
Gadis itu melirik jamnya---sudah lewat 10 menit dari waktu yang dijanjikan. Disenderkan tubuhnya pada punggung kursi sambil memainkan smartphone yang tipe-nya sudah jadul.
Bbm yang dikirimnya setengah jam yang lalu, sudah diread oleh orang yang akan ditemui.
Seseorang berseru, perhatiannya teralihkan dari ponselnya. Ia tersenyum, lalu berdiri menyambut seorang wanita cantik berpakaian feminim dan anggun meskipun tidak berpakaian mewah.
"Sudah lama nungguinnya, ya?" kata wanita itu, tidak enak hati.
"Lumayan," jawabnya melirik minumnya yang baru habis setengah.
"Kamu benar, Ra. Untung kamu ingetin untuk membawa payung, kalau nggak aku udah kebasahan."
Terdengar suara gelak renyah. "Mana Erick? Kapan nih, hubungan kalian dilegalkan?"
Tentunya yang ditanyanya adalah Minna. Sahabat dan mantan pelayan Clara. Wanita itu kini sudah menjadi dokter di salah satu rumah sakit. Selama 10 tahun, dia dan Erick menjalin hubungan; tunangan sudah, tinggal menunggu nikahnya saja.
Meskipun kini Minna sudah menjadi wanita yang berkecukupan dan kariernya bagus, dia tetaplah wanita yang rendah hati dan sederhana.
"Ra," Minna menyeruput tehnya yang baru saja diletakkan oleh seorang pelayan, "kamu masih kerja di sana?"
"Masih."
"Kenapa kamu tidak mempertimbangkan tawaran Erick?"
Terdengar suara decakan lidah. Clara menyenderkan punggungnya. "Aku benar-benar tidak bisa."
"Masalah Pierre, kan? Sudahlah. Kamu tidak perlu khawatir, Pierre terlalu sibuk mengurus perusahaan yang ada di Korea."
"Nggak, Min. Aku nggak mau masuk dalam kehidupannya lagi. Cerita kami sudah usai 10 tahun yang lalu. Waktunya berganti dengan lembaran baru," jawab Clara getir.
Minna mengerti akan kesedihan sahabatnya. Sudah cukup memaksanya terus. Clara sudah menentukan jalannya sendiri. Mungkin pikirnya, akan ada hal positif yang kelak akan terjadi dalam kehidupan barunya yang berputar 180° dari kehidupannya yang dulu.
Obrolan mereka berganti dengan topik lain, dan itu berlangsung hingga petang hampir menjelang.
Clara pun pamit pulang. Minna sempat menawarkanya untuk pulang bersama dengan mobilnya, tapi ia menolak dengan alasan ingin bertemu seseorang di sini.
Entah mengapa, ia merasa segan untuk pulang bersama dengan Minna. Apalagi, semenjak perbedaan status mereka yang sudah berbeda. Dirinya merasa tidak pantas dekat dengan Minna, meskipun wanita itu tidak pernah merasa begitu.
Sebelum pulang, ia mengunjungi makam ayahnya. Dengan sebuket bunga, yang kemudian diletakkan di batu nisan yang telah usang.
Rumput yang ada di sekitar makam, dicabutinya. Menaburkan bunga di tanah dan menyirami makamnya. Kemudian ia berdoa dengan khusuk, sampai air matanya tak dapat ditahannya lagi.
Nisan ayahnya dielusnya sambil menangis. Menceritakan kejadian yang terjadi pada sepekan ini.
"Papa. Sebenarnya, aku dan mama Dessi, belum siap kehilangan Papa. Semuanya menjadi kacau, berbagai cobaan datang bertubi-tubi. Apakah ini hukuman dari Tuhan, karena telah melakukan sebuah keselahan?" keluhnya disertai air mata yang semakin deras. "Tapi, kenapa sebanyak ini? Sebesar itukah kesalahan itu? Seharusnya sudah cukup, Tuhan memberikan hukuman itu." Ia menghela napas.
Baru kali ini, ia mengeluarkan segala keluh kesah yang disembunyikannya dari semua orang. Ia selalu berusaha tegar di depan, tapi hatinya selalu menjerit, bahkan pernah berpikir untuk tidak mempercayai Tuhan.
Kejadian buruk yang menimpanya, terjadi 8 tahun belakangan ini. Papanya meninggal, dua tahun setelah kembalinya ia ke London.
Nyawa papanya terenggut dalam sebuah kecelakaan kapal pesiar mewah. Saat itu, papanya sedang melakukan perjalanan bisnis. Kapal itu tenggelam, ketika akan menuju dermaga yang ada di pulau Bali. Hampir semua penumpang tewas tenggelam, termasuk papanya.
Kecelakaan itu menjadi pukulan berat bagi Clara dan mama tirinya. Selang beberapa bulan, perlahan perusahaan papanya bangkrut. Clara terpaksa kembali ke Jakarta, meneruskan kuliahnya di sini.
Cobaannya bukan hanya itu, mama tirinya jatuh sakit setahun kematian papanya. Tubuh Dessi semakin kurus, ringkih, bahkan sudah tidak kuat melakukan usaha apa pun. Dia sering sakit-sakitan, yang tak kunjung sembuh.
Terpaksa, ia harus banting tulang, untuk membiayai kuliah, pengobatan Dessi dan kehidupan mereka.
Setelah lulus kuliah, ia pikir kehidupannya akan semakin membaik. Ia sulit mendapat pekerjaan. Semua lamaran yang dikirimkan ke banyak perusahaan, tidak ada satu pun yang menerimanya. Semua terjadi hampir dua tahun lamanya. Sambil menunggu panggilan, ia bekerja sebagai pelayan restauran yang gajinya hanya cukup untuk sebulan. Tidak ada sedikitpun uang yang dapat ditabungnya.
Sekarang, ia bekerja di sebuah perusahaan kecil, tapi gajinya masih lebih baik dari bekerja di restauran. Namun, dengan memiliki bos yang menyebalkan, ia jadi tidak betah bekerja. Kalau bukan karena ia sangat membutuhkan uang, sejak dari dulu ia resign.
Semua yang telah dijalaninya awalnya diterimanya dengan sabar, namun semakin lama tidak kuat lagi menahan.
Clara meninggalkan makam, setelah keadaannya membaik. Senyumnya sulit untuk diukir, meskipun ada hal lucu atau seseorang menyapa dan tersenyum padanya.
Dalam keadaan letih hati dan badan, ia memasuki rumah. Namun, ketika pintu kontrakannya yang besarnya kurang lima meter itu dibuka, pemandangan mengerikan dan mengejutkan terpampang jelas di depannya.
Tubuh seorang wanita tergantung di atas, dengan leher terjerat oleh seutas tali yang digantungkan pada langit-langit kamar. Tidak ada gerakan, matanya terbelalak, lehernya terjulur.
Di bawah mayat itu ada sebuah kursi yang tergeletak terbalik---sepertinya memang sengaja bunuh diri.
Clara bergidik ngeri, matanya melotot, tangannya menutup mulutnya. Tak lama kemudian, jeritan yang disertai tangisan terdengar. Ia terduduk lemas.
"MAMA!"
βββ
Suara itu begitu dirindukannya. Terngiang-ngiang sampai ke dalam mimpi. Wajahnya terlihat samar di sana, namun senyuman yang pernah dilupakannya begitu terlihat jelas.
Matanya terbuka.
Pagi pukul 6 pagi, matahari sinar matahari sudah bersinar dengan terangnya. Menembus melewati jendela kamarnya yang masih tertutup oleh gorden.
Ia terbangun; duduk di ranjang dalam beberapa saat. Pikirannya masih berputar-putar pada mimpi tadi.
Ia mendesah. Jari-jarinya menyisir rambutnya yang berantakan.
Ia beranjak dari tempat tidurnya, masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ke kantor. Memakai pakaian yang dipilih oleh seorang pelayan yang baru masuk beberapa saat lalu.
Baru tadi malam ia pulang dari Korea. Sudah terlalu lama ia berada di sana mengurusi perusahaan di sana. Meskipun ada Erick yang dapat dipercaya, bagaimana pun perusahaan itu perlu diawasi olehnya.
Kepulangannya juga dipaksa oleh mama dan neneknya. Wanita tua itu sangat ingin melihat cucunya; sikapnya semakin manja, apalagi semenjak penyakit tuanya kambuh. Neneknya selalu bergumam, meratap bahwa hidupnya mungkin tidak akan lama lagi, apalagi diusianya yang semakin senja. Kekhawatiran tidak dapat melihat cucunya menikah semakin menjadi.
Setelah berpakaian rapi, ia turun untuk sarapan di meja makan. Semua orang sudah berkumpul, dan menikmati menu sarapan yang dihidangkan oleh pelayan.
Ruangan ini tampak berbeda; sudah dihias dengan mewah. Para pelayan mondar-mandir---sibuk melakukan pekerjaan yang diperintahkan.
Ya, ia sadar apa yang terjadi di rumah ini. Sore nanti akan ada sebuah acara yang akan begitu membosankan olehnya.
Perjodohannya dengan seorang wanita terhormat, memiliki perusahaan bonafit di Jakarta. Belum lama ini, perusahaan mereka baru melakukan kerja sama. Oleh sebab itu, perjodohan pun terjadi.
"Pagi, Pierre." Mamanya menyapa begitu ia muncul di meja makan.
Pierre membalas sapaan dengan dingin sambil duduk di kursi. Ia menatap pada Erick sekilas.
"Bagaimana dengan presentasi kemarin?" tanyanya, mengolesi roti dengan selai nanas.
"Sangat lancar. Besok Tuan Kazuya ingin menemuimu setelah mengetahui kepulanganmu. Sebelumnya, ia selalu menanyaimu membuat janji untuk bertemu; kau tahu sendiri, dia hanya ingin membicarakan soal bisnis denganmu."
Pierre hanya mendeham sambil mengunyah.
"Ya, dia hanya percaya pada pemilik perusahaan, bukan asistennya." Perkataan sinis, suaranya parau, terdengar dari arah lain.
Seorang wanita renta, duduk di kursi roda yang sedang di dorong oleh seorang gadis cantik berpakaian modis, menghampiri meja makan.
Semua orang menoleh padanya. Ada yang tersenyum; tapi sepasang suami-istri terlihat tidak senang dengan kehadirannya.
"Mama. Laura," seru Caroline. "Selamat pagi. Ayo, kita sarapan bersama?"
Gadis yang bernama Laura mengangguk senang, lalu berjalan menuju kursi kosong yang ada di sebelah Pierre.
"Pagi, Pierre," sapa Laura centil.
"Pagi," balas Pierre terpaksa, enggan menoleh padanya.
Laura tidak ikut sarapan karena sudah sarapan di rumah. Tangannya memangku dagunya, memperhatikan ketampanan Pierre walau hanya dari samping wajahnya. Ia tersenyum. Rasanya tak sabar untuk segera memilikinya.
Baginya, pria seperti Pierre, adalah sosok sempurna dari semua pria yang pernah dipacari dan ditemuinya.
Badannya atletis dan tinggi. Memiliki dada bidang yang nyaman jika disandari dalam pelukan. Wajah tampannya tidak pernah membuat wanita manapun bosan melihatnya. Mungkin, mereka iri karena dialah wanita beruntung mendapatkan seorang pria menjadi tipe idaman setiap wanita.
Makanannya sudah habis. Laura belum ada lima menit duduk di sampingnya, tapi ia sudah ingin beranjak dari sana.
"Aku berangkat ke kantor." Pierre melihat ke arah Erick yang sedang menyeruput kopinya. "Erick, susul aku ke mobil."
Erick mengangguk. Beberapa detik kemudian berjalan menyusul Pierre ke mobil.
Laura yang agak kesal, memanyunkan bibirnya pada Caroline dan nenek Jasmin. Senyumnya kembali, setelah Caroline membujuknya dan menyuruhnya untuk segera menyusul Pierre.
Sikap manja Laura, menjadi bahan ejekan bagi orangtua Erick. Di depan Caroline dan nenek Jasmin, mereka menertawakan sikap Laura tadi setelah kepergiannya. Bahkan, secara terang-terang ibunya Erick menyindir:
"Gadis seperti itu yang akan menjadi istri Pierre? Belum genap dua bulan, Pierre pasti akan menceraikannya." Wanita itu terkekeh sambil menutup mulutnya.
Tentu saja, kuping Caroline dan nenek Jasmin menjadi panas. Yang lebih geram lagi adalah nenek tua itu. Meskipun sudah tua, sifat pemarahnya tetap ada.
"Dia lebih baik daripada gadis mantan pelayan itu," balasnya sengit. "Walaupun sekarang kehidupannya sudah mapan dan derajatnya sudah naik, tetap saja dia itu bukan dari keluarga terhormat."
Sindiran pedas itu membuat orangtua Erick bungkam. Ibunya hanya mendengus, lalu mengunyah makanannya.
βββ
Laura terlambat menyusul Pierre. Mobilnya sudah berjalan, ketika dia sudah sampai di garasi. Yang dapat diperbuat hanya berteriak memanggilnya, tapi tidak mengejarnya.
Pierre membaca berkasnya dengan acuh tak acuh, seolah-olah tidak mendengar apa pun. Lain dengan Erick, yang mengkasihani Laura, kemudian melirik sikap Pierre.
Mungkin sadar diperhatikan, Pierre membuat sebuah topik. "Bagaimana kabar kekasihmu?"
Erick terkesiap. "Baik."
"Kalau dia?" Pierre berhenti membaca berkas, mengalihkan pandangan le arah Erick.
"Keadaannya buruk—"
Ponsel Erick tiba-tiba berdering. Cepat-cepat ia merogoh saku celananya, mencari ponsel itu. Nama Minna tertera pada layar ponsel. Ia heran, padahal baru tadi pagi gadis itu menghubunginya, tapi sepertinya rindu Minna sangat akut.
Senyumnya terkembang, mengangkat ponsel itu. Awalnya, ia senang mendengar suaranya, namun keningnya mengernyit begitu mendengar suara Minna yang sedang terisak.
Ia menanyakan yang sedang terjadi dengannya. Setelah mendengar jawaban Minna, matanya terbelalak.
"Apa?!"
Seruan terkejut Erick, mengalihkan pandangan Pierre padanya.[]
βββ
Maaf. Hanya itu yang dapat aku katakan. Aku menyesal karena telah memilih cara yang bodoh, hingga membuat kita harus merasakan perasaan ini.
Aku tahu, kamu merasa kecewa dan marah. Tapi ini adalah penyelesaian akhir yang harus kulakukan. Semua sandiwara ini harus selesai, sebelum menjadi masalah yang lebih besar akibat sebuah kebohongan.
Walaupun aku tahu, betapa perihnya kejujuran ini, tapi bukan berarti aku tidak menghargaimu; aku sangat menghargai pengorbanan cintamu; dan karena itulah, perasaanku juga jadi semakin kuat.
Kukatakan, aku juga mencintaimu. Kamu adalah cinta pertamaku, meskipun kamu mungkin bukan cinta terakhirku. Terima kasih karena telah membiarkan aku merasakan cinta ini untuk pertama kalinya.
Sekali lagi, aku minta maaf. And good bye....
Surat yang saat itu dititipkan pada Erick, baru dibaca oleh Pierre sekitar 2 minggu yang lalu.
Perasaannya baru pulih sedikit saat ini. Oleh sebab itu, ia baru bisa membaca surat dari seseorang yang dicintainya.
Untuk pertama kalinya, air mata keluar dari mata Pierre, setelah membaca keseluruhan isi surat. Tidak pernah menyangka, jika Clara juga merasakan hal yang sama.
Jam dinding di atas perapian, menunjukkan pukul 6 sore. Pantas, langit sudah berwarna oranye, yang terlihat dari jendela kamar Pierre, yang saat ini sedang berlibur di kota Toronto, Kanada.
Musim gugur di sana akan berakhir, sehari sebelum kepulangan Pierre ke Jakarta.
Di pagi yang anginya begitu dingin, daun-daun kering yang begitu banyak berserakan di jalan, Pierre meninggalkan jejaknya.
Pada sebuah taman, yang daun maple-nya rontok, Pierre duduk di sebuah kursi, di bawah salah satu pohon maple. Termenung, memandang lurus pada suatu objek, namun tidak fokus pada objek itu.
Suatu hal terpikirkan olehnya. Clara. Gadis itu memang sedang ada di London; ia pun bisa kesana dan mencari keberadaanya. Hanya saja, ia tidak ingin merusak ketenangan Clara.
Beberapa keputusan, ditimbangnya semalam, dan sekarang kembali dipertimbangkan, hingga menjadi sebuah keputusan.
Ditangan kanannya, ia memegang surat itu. Ujung kertasnya diremasnya.
βββ
10 tahun kemudian....
Mungkin karena hari libur, cafe disebuah tempat wisata cukup ramai oleh pengunjung. Di kursi yang mengarah dekat jendela, seorang gadis berpakaian sederhana sedang duduk, dengan ditemani secangkir kopi latte hangat.
Alasan gadis itu memesan kopi hangat, karena cuaca siang ini agak mendung dan berangin. Bisa diprediksi, bahwa beberapa menit lagi rintik air akan turun.
Gadis itu melirik jamnya---sudah lewat 10 menit dari waktu yang dijanjikan. Disenderkan tubuhnya pada punggung kursi sambil memainkan smartphone yang tipe-nya sudah jadul.
Bbm yang dikirimnya setengah jam yang lalu, sudah diread oleh orang yang akan ditemui.
Seseorang berseru, perhatiannya teralihkan dari ponselnya. Ia tersenyum, lalu berdiri menyambut seorang wanita cantik berpakaian feminim dan anggun meskipun tidak berpakaian mewah.
"Sudah lama nungguinnya, ya?" kata wanita itu, tidak enak hati.
"Lumayan," jawabnya melirik minumnya yang baru habis setengah.
"Kamu benar, Ra. Untung kamu ingetin untuk membawa payung, kalau nggak aku udah kebasahan."
Terdengar suara gelak renyah. "Mana Erick? Kapan nih, hubungan kalian dilegalkan?"
Tentunya yang ditanyanya adalah Minna. Sahabat dan mantan pelayan Clara. Wanita itu kini sudah menjadi dokter di salah satu rumah sakit. Selama 10 tahun, dia dan Erick menjalin hubungan; tunangan sudah, tinggal menunggu nikahnya saja.
Meskipun kini Minna sudah menjadi wanita yang berkecukupan dan kariernya bagus, dia tetaplah wanita yang rendah hati dan sederhana.
"Ra," Minna menyeruput tehnya yang baru saja diletakkan oleh seorang pelayan, "kamu masih kerja di sana?"
"Masih."
"Kenapa kamu tidak mempertimbangkan tawaran Erick?"
Terdengar suara decakan lidah. Clara menyenderkan punggungnya. "Aku benar-benar tidak bisa."
"Masalah Pierre, kan? Sudahlah. Kamu tidak perlu khawatir, Pierre terlalu sibuk mengurus perusahaan yang ada di Korea."
"Nggak, Min. Aku nggak mau masuk dalam kehidupannya lagi. Cerita kami sudah usai 10 tahun yang lalu. Waktunya berganti dengan lembaran baru," jawab Clara getir.
Minna mengerti akan kesedihan sahabatnya. Sudah cukup memaksanya terus. Clara sudah menentukan jalannya sendiri. Mungkin pikirnya, akan ada hal positif yang kelak akan terjadi dalam kehidupan barunya yang berputar 180° dari kehidupannya yang dulu.
Obrolan mereka berganti dengan topik lain, dan itu berlangsung hingga petang hampir menjelang.
Clara pun pamit pulang. Minna sempat menawarkanya untuk pulang bersama dengan mobilnya, tapi ia menolak dengan alasan ingin bertemu seseorang di sini.
Entah mengapa, ia merasa segan untuk pulang bersama dengan Minna. Apalagi, semenjak perbedaan status mereka yang sudah berbeda. Dirinya merasa tidak pantas dekat dengan Minna, meskipun wanita itu tidak pernah merasa begitu.
Sebelum pulang, ia mengunjungi makam ayahnya. Dengan sebuket bunga, yang kemudian diletakkan di batu nisan yang telah usang.
Rumput yang ada di sekitar makam, dicabutinya. Menaburkan bunga di tanah dan menyirami makamnya. Kemudian ia berdoa dengan khusuk, sampai air matanya tak dapat ditahannya lagi.
Nisan ayahnya dielusnya sambil menangis. Menceritakan kejadian yang terjadi pada sepekan ini.
"Papa. Sebenarnya, aku dan mama Dessi, belum siap kehilangan Papa. Semuanya menjadi kacau, berbagai cobaan datang bertubi-tubi. Apakah ini hukuman dari Tuhan, karena telah melakukan sebuah keselahan?" keluhnya disertai air mata yang semakin deras. "Tapi, kenapa sebanyak ini? Sebesar itukah kesalahan itu? Seharusnya sudah cukup, Tuhan memberikan hukuman itu." Ia menghela napas.
Baru kali ini, ia mengeluarkan segala keluh kesah yang disembunyikannya dari semua orang. Ia selalu berusaha tegar di depan, tapi hatinya selalu menjerit, bahkan pernah berpikir untuk tidak mempercayai Tuhan.
Kejadian buruk yang menimpanya, terjadi 8 tahun belakangan ini. Papanya meninggal, dua tahun setelah kembalinya ia ke London.
Nyawa papanya terenggut dalam sebuah kecelakaan kapal pesiar mewah. Saat itu, papanya sedang melakukan perjalanan bisnis. Kapal itu tenggelam, ketika akan menuju dermaga yang ada di pulau Bali. Hampir semua penumpang tewas tenggelam, termasuk papanya.
Kecelakaan itu menjadi pukulan berat bagi Clara dan mama tirinya. Selang beberapa bulan, perlahan perusahaan papanya bangkrut. Clara terpaksa kembali ke Jakarta, meneruskan kuliahnya di sini.
Cobaannya bukan hanya itu, mama tirinya jatuh sakit setahun kematian papanya. Tubuh Dessi semakin kurus, ringkih, bahkan sudah tidak kuat melakukan usaha apa pun. Dia sering sakit-sakitan, yang tak kunjung sembuh.
Terpaksa, ia harus banting tulang, untuk membiayai kuliah, pengobatan Dessi dan kehidupan mereka.
Setelah lulus kuliah, ia pikir kehidupannya akan semakin membaik. Ia sulit mendapat pekerjaan. Semua lamaran yang dikirimkan ke banyak perusahaan, tidak ada satu pun yang menerimanya. Semua terjadi hampir dua tahun lamanya. Sambil menunggu panggilan, ia bekerja sebagai pelayan restauran yang gajinya hanya cukup untuk sebulan. Tidak ada sedikitpun uang yang dapat ditabungnya.
Sekarang, ia bekerja di sebuah perusahaan kecil, tapi gajinya masih lebih baik dari bekerja di restauran. Namun, dengan memiliki bos yang menyebalkan, ia jadi tidak betah bekerja. Kalau bukan karena ia sangat membutuhkan uang, sejak dari dulu ia resign.
Semua yang telah dijalaninya awalnya diterimanya dengan sabar, namun semakin lama tidak kuat lagi menahan.
Clara meninggalkan makam, setelah keadaannya membaik. Senyumnya sulit untuk diukir, meskipun ada hal lucu atau seseorang menyapa dan tersenyum padanya.
Dalam keadaan letih hati dan badan, ia memasuki rumah. Namun, ketika pintu kontrakannya yang besarnya kurang lima meter itu dibuka, pemandangan mengerikan dan mengejutkan terpampang jelas di depannya.
Tubuh seorang wanita tergantung di atas, dengan leher terjerat oleh seutas tali yang digantungkan pada langit-langit kamar. Tidak ada gerakan, matanya terbelalak, lehernya terjulur.
Di bawah mayat itu ada sebuah kursi yang tergeletak terbalik---sepertinya memang sengaja bunuh diri.
Clara bergidik ngeri, matanya melotot, tangannya menutup mulutnya. Tak lama kemudian, jeritan yang disertai tangisan terdengar. Ia terduduk lemas.
"MAMA!"
βββ
Suara itu begitu dirindukannya. Terngiang-ngiang sampai ke dalam mimpi. Wajahnya terlihat samar di sana, namun senyuman yang pernah dilupakannya begitu terlihat jelas.
Matanya terbuka.
Pagi pukul 6 pagi, matahari sinar matahari sudah bersinar dengan terangnya. Menembus melewati jendela kamarnya yang masih tertutup oleh gorden.
Ia terbangun; duduk di ranjang dalam beberapa saat. Pikirannya masih berputar-putar pada mimpi tadi.
Ia mendesah. Jari-jarinya menyisir rambutnya yang berantakan.
Ia beranjak dari tempat tidurnya, masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ke kantor. Memakai pakaian yang dipilih oleh seorang pelayan yang baru masuk beberapa saat lalu.
Baru tadi malam ia pulang dari Korea. Sudah terlalu lama ia berada di sana mengurusi perusahaan di sana. Meskipun ada Erick yang dapat dipercaya, bagaimana pun perusahaan itu perlu diawasi olehnya.
Kepulangannya juga dipaksa oleh mama dan neneknya. Wanita tua itu sangat ingin melihat cucunya; sikapnya semakin manja, apalagi semenjak penyakit tuanya kambuh. Neneknya selalu bergumam, meratap bahwa hidupnya mungkin tidak akan lama lagi, apalagi diusianya yang semakin senja. Kekhawatiran tidak dapat melihat cucunya menikah semakin menjadi.
Setelah berpakaian rapi, ia turun untuk sarapan di meja makan. Semua orang sudah berkumpul, dan menikmati menu sarapan yang dihidangkan oleh pelayan.
Ruangan ini tampak berbeda; sudah dihias dengan mewah. Para pelayan mondar-mandir---sibuk melakukan pekerjaan yang diperintahkan.
Ya, ia sadar apa yang terjadi di rumah ini. Sore nanti akan ada sebuah acara yang akan begitu membosankan olehnya.
Perjodohannya dengan seorang wanita terhormat, memiliki perusahaan bonafit di Jakarta. Belum lama ini, perusahaan mereka baru melakukan kerja sama. Oleh sebab itu, perjodohan pun terjadi.
"Pagi, Pierre." Mamanya menyapa begitu ia muncul di meja makan.
Pierre membalas sapaan dengan dingin sambil duduk di kursi. Ia menatap pada Erick sekilas.
"Bagaimana dengan presentasi kemarin?" tanyanya, mengolesi roti dengan selai nanas.
"Sangat lancar. Besok Tuan Kazuya ingin menemuimu setelah mengetahui kepulanganmu. Sebelumnya, ia selalu menanyaimu membuat janji untuk bertemu; kau tahu sendiri, dia hanya ingin membicarakan soal bisnis denganmu."
Pierre hanya mendeham sambil mengunyah.
"Ya, dia hanya percaya pada pemilik perusahaan, bukan asistennya." Perkataan sinis, suaranya parau, terdengar dari arah lain.
Seorang wanita renta, duduk di kursi roda yang sedang di dorong oleh seorang gadis cantik berpakaian modis, menghampiri meja makan.
Semua orang menoleh padanya. Ada yang tersenyum; tapi sepasang suami-istri terlihat tidak senang dengan kehadirannya.
"Mama. Laura," seru Caroline. "Selamat pagi. Ayo, kita sarapan bersama?"
Gadis yang bernama Laura mengangguk senang, lalu berjalan menuju kursi kosong yang ada di sebelah Pierre.
"Pagi, Pierre," sapa Laura centil.
"Pagi," balas Pierre terpaksa, enggan menoleh padanya.
Laura tidak ikut sarapan karena sudah sarapan di rumah. Tangannya memangku dagunya, memperhatikan ketampanan Pierre walau hanya dari samping wajahnya. Ia tersenyum. Rasanya tak sabar untuk segera memilikinya.
Baginya, pria seperti Pierre, adalah sosok sempurna dari semua pria yang pernah dipacari dan ditemuinya.
Badannya atletis dan tinggi. Memiliki dada bidang yang nyaman jika disandari dalam pelukan. Wajah tampannya tidak pernah membuat wanita manapun bosan melihatnya. Mungkin, mereka iri karena dialah wanita beruntung mendapatkan seorang pria menjadi tipe idaman setiap wanita.
Makanannya sudah habis. Laura belum ada lima menit duduk di sampingnya, tapi ia sudah ingin beranjak dari sana.
"Aku berangkat ke kantor." Pierre melihat ke arah Erick yang sedang menyeruput kopinya. "Erick, susul aku ke mobil."
Erick mengangguk. Beberapa detik kemudian berjalan menyusul Pierre ke mobil.
Laura yang agak kesal, memanyunkan bibirnya pada Caroline dan nenek Jasmin. Senyumnya kembali, setelah Caroline membujuknya dan menyuruhnya untuk segera menyusul Pierre.
Sikap manja Laura, menjadi bahan ejekan bagi orangtua Erick. Di depan Caroline dan nenek Jasmin, mereka menertawakan sikap Laura tadi setelah kepergiannya. Bahkan, secara terang-terang ibunya Erick menyindir:
"Gadis seperti itu yang akan menjadi istri Pierre? Belum genap dua bulan, Pierre pasti akan menceraikannya." Wanita itu terkekeh sambil menutup mulutnya.
Tentu saja, kuping Caroline dan nenek Jasmin menjadi panas. Yang lebih geram lagi adalah nenek tua itu. Meskipun sudah tua, sifat pemarahnya tetap ada.
"Dia lebih baik daripada gadis mantan pelayan itu," balasnya sengit. "Walaupun sekarang kehidupannya sudah mapan dan derajatnya sudah naik, tetap saja dia itu bukan dari keluarga terhormat."
Sindiran pedas itu membuat orangtua Erick bungkam. Ibunya hanya mendengus, lalu mengunyah makanannya.
βββ
Laura terlambat menyusul Pierre. Mobilnya sudah berjalan, ketika dia sudah sampai di garasi. Yang dapat diperbuat hanya berteriak memanggilnya, tapi tidak mengejarnya.
Pierre membaca berkasnya dengan acuh tak acuh, seolah-olah tidak mendengar apa pun. Lain dengan Erick, yang mengkasihani Laura, kemudian melirik sikap Pierre.
Mungkin sadar diperhatikan, Pierre membuat sebuah topik. "Bagaimana kabar kekasihmu?"
Erick terkesiap. "Baik."
"Kalau dia?" Pierre berhenti membaca berkas, mengalihkan pandangan le arah Erick.
"Keadaannya buruk—"
Ponsel Erick tiba-tiba berdering. Cepat-cepat ia merogoh saku celananya, mencari ponsel itu. Nama Minna tertera pada layar ponsel. Ia heran, padahal baru tadi pagi gadis itu menghubunginya, tapi sepertinya rindu Minna sangat akut.
Senyumnya terkembang, mengangkat ponsel itu. Awalnya, ia senang mendengar suaranya, namun keningnya mengernyit begitu mendengar suara Minna yang sedang terisak.
Ia menanyakan yang sedang terjadi dengannya. Setelah mendengar jawaban Minna, matanya terbelalak.
"Apa?!"
Seruan terkejut Erick, mengalihkan pandangan Pierre padanya.[]
anasabila memberi reputasi
1
873
2
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya