Kaskus

News

wisanggeni777Avatar border
TS
wisanggeni777
Pelabelan Negatif Jokowi Sirna Bila Gandeng Cawapres Santri
Pelabelan Negatif Jokowi Sirna Bila Gandeng Cawapres Santri
BALIKPAPAN, suaraemerdeka.com - Pelabelan negatif terhadap Presiden Joko Widodo, diyakini akan menghilang bila pada Pemilu Presiden 2019 mendatang menggandeng santri sebagai wakilnya. Hal tersebut juga sejalan dengan warna konstituen partai politik berbasis relijius sebagai salah satu komponen pengusung Jokowi.

"Saya menyampaikan kepada Pak Jokowi, cawapres paling ideal untuk beliau adalah figur Islam moderat. Sebab, wajah Islam moderat dibutuhkan untuk menampik label negatif yang disematkan lawan-lawan politiknya terhadap Jokowi," kata Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan M. Romahurmuziy dalam silaturahmi dengan DPW PPP Kalimantan Timur di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (19/10).

Pria yang biasa disapa Romi itu mengungkapkan, dirinya menyampaikan kepada Jokowi masih dilabeli buruk oleh sekelompok orang yang tak suka. Label tersebut adalah pro Tiongkok, pro komunis dan anti Islam.

"Untuk menghilangkan label tersebut, maka cawapresnya harus punya label anti Tiongkok, anti komunis dan pro Islam. Dengan demikian, maka label yang dilekatkan kepada Jokowi akan hilang dengan sendirinya," tegas Romi.

Dia lalu mengandaikan, bila Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH. Makruf Amin menjadi cawapres Jokowi, maka orang yang melabeli Jokowi negatif akan kehilangan argumen. Sebab, KH. Makruf selama ini dikenal sebagai ikon Islam.

"Label negatif kepada Jokowi akan patah dengan sendirinya. Apalagi, semua label kepada Jokowi itu tidak benar. Sebagai contoh, adalah penetapan Hari Santri yang justru ditetapkan oleh Pak Jokowi sendiri," ujarnya.

Dia menambahkan, PPP melihat bahwa Jokowi masih yang terbaik untuk memimpin Indonesia. Sehingga bila pada pilpres mendatang Jokowi didampingi kalangan santri sebagai wakilnya, maka PPP yakin pasangan tersebut akan mendapatkan elektabilitas yang sangat tinggi.

"Hal ini sesuai dengan fenomena coat tail effect atau efek ekor jas. Dimana parpol yang tidak memiliki capres/cawapres sendiri, akan dirugikan dengan fenomena tersebut," tandasnya.

Beban Politik

Hal itu disebabkan karena pemilih cenderung untuk memilih capres/cawapres beserta asal parpol pengusungnya. Sebab, parpol yang tidak memiliki capres sendiri, akan menanggung beban politik.

"Karena dihadapkan pada partai lain yang merupakan asal capres/cawapres sendiri. Sebaliknya, elektabilitas capres/cawapres juga akan mendongkrak parpol pengusungnya," tukas dia.

Adapun capres yang elektabilitasnya runtuh, juga akan meruntuhkan suara asal parpol pengusungnya. Hal ini terbukti dalam Pilpres 2004, 2009 dan 2014.

"SBY saat itu memiliki elektabilitas yang sangat tinggi, mampu mengerek perolehan suara Partai Demokrat menjadi 7% pada 2004 dan 21% pada 2009.

Sementara, coat tail effect berikutnya adalah Pemilu 2014, dimana Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memiliki capres yang begitu populer. Jokowi yang akhirnya terpilih menjadi presiden, mampu mengerek suara PDIP menjadi 19%.

Dikatakan, coat tail effect akan dinikmati oleh capres populer dan parpol pengusung. Bentuknya adalah insentif elektoral dari pemilih.

http://www.suaramerdeka.com/news/det...awapres-Santri
0
1.6K
17
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
696.3KThread•59.5KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.