- Beranda
- Perencanaan Keuangan
Kejar Efisiensi, Transaksi di Gerbang Tol Wajib Pakai Uang Elektronik di Oktober
...
TS
smart.money
Kejar Efisiensi, Transaksi di Gerbang Tol Wajib Pakai Uang Elektronik di Oktober
[img]//s.smart-money.co/2017/07/emoney-768x513.jpg[/img]
Rencana pemerintah merealisasikan national payment gateway (NPG/gerbang pembayaran nasional) makin menemukan bentuknya. Targetnya, transaksi di gerbang tol harus menggunakan uang eletronik pada Oktober 2017 ini.
Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Pungky P Wibowo menyebutkan, payung hukum untuk realisasi langkah tersebut terus disiapkan. Dalam aturan NPG ini, salah satunya mengatur soal interkoneksi uang eletronik.
Selain uang elektronik, interkoneksi layanan digital maupun layanan laku pandai perbankan juga menjadi salah satu bahasan dalam aturan tersebut. Selama beberapa waktu terakhir, baru uang elektronik dari bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) saja yang diterima sebagai alat pembayaran di gerbang tol.
Alasan ini membuat pertumbuhan transaksi nontunai di gerbang tol masih minim. Saat ini, menurut data Jasa Marga, baru sekitar 23% pengguna tol memanfaatkan transaksi nontunai.
Hingga kini, kata Pungky, Bank Sentral masih melakukan sejumlah persiapan dan kajian. Mereka masih melakukan pembahasan dengan Jasa Marga, khususnya, terkait ruas tol mana saja yang siap.
Sejumlah bank yang memiliki uang elektronik juga masih perlu mendapat perhatian khusus BI. Pungky menyebut, ke depan, tidak menutup kemungkinan uang elektronik milik bank swasta juga bisa digunakan sebagai alat pembayaran.
Demikian, BI berharap, pembayaran di tol akan semakin mudah dan efisien. Sebab, transaksi tunai di gerbang tol sering menjadi alasan utama kemacetan panjang. Selain lebih efisien, menurut catatan BI, transaksi nontunai juga berdampak pada penurunan inflasi.
Semakin sedikit uang beredar, secara tidak langsung akan mempengaruhi angka inflasi. Sebab, salah satu penyebab kenaikan inflasi adalah tingginya peredaran uang. Dalam tiga tahun, kenaikan transaksi menggunakan nontunai berpengaruh pada penurunan angka inflasi.
BI mencatat, dalam tiga tahun terakhir transaksi elektronik melonjak tajam. Pada 2016, transaksi elektronik tercatat 683,13 juta transaksi dengan nilai Rp7,06 triliun. Jumlah tersebut naik tajam dibanding 2015 sebanyak 535,58 juta transaksi senilai Rp5,28 triliun dan 2014 sebanyak 203,37 juta transaksi senilai Rp3,32 triliun.
Sebaliknya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indonesia pada 2016 tercatat 3,02%, lebih rendah dibanding 2015 dan 2014 sebesar 3,35% dan 8,36%.
Sumber : //smart-money.co/inovasiana/kejar-efisiensi-transaksi-di-gerbang-tol-wajib-pakai-uang-elektronik-di-oktober
Rencana pemerintah merealisasikan national payment gateway (NPG/gerbang pembayaran nasional) makin menemukan bentuknya. Targetnya, transaksi di gerbang tol harus menggunakan uang eletronik pada Oktober 2017 ini.
Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Pungky P Wibowo menyebutkan, payung hukum untuk realisasi langkah tersebut terus disiapkan. Dalam aturan NPG ini, salah satunya mengatur soal interkoneksi uang eletronik.
Selain uang elektronik, interkoneksi layanan digital maupun layanan laku pandai perbankan juga menjadi salah satu bahasan dalam aturan tersebut. Selama beberapa waktu terakhir, baru uang elektronik dari bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) saja yang diterima sebagai alat pembayaran di gerbang tol.
Alasan ini membuat pertumbuhan transaksi nontunai di gerbang tol masih minim. Saat ini, menurut data Jasa Marga, baru sekitar 23% pengguna tol memanfaatkan transaksi nontunai.
Hingga kini, kata Pungky, Bank Sentral masih melakukan sejumlah persiapan dan kajian. Mereka masih melakukan pembahasan dengan Jasa Marga, khususnya, terkait ruas tol mana saja yang siap.
Sejumlah bank yang memiliki uang elektronik juga masih perlu mendapat perhatian khusus BI. Pungky menyebut, ke depan, tidak menutup kemungkinan uang elektronik milik bank swasta juga bisa digunakan sebagai alat pembayaran.
Demikian, BI berharap, pembayaran di tol akan semakin mudah dan efisien. Sebab, transaksi tunai di gerbang tol sering menjadi alasan utama kemacetan panjang. Selain lebih efisien, menurut catatan BI, transaksi nontunai juga berdampak pada penurunan inflasi.
Semakin sedikit uang beredar, secara tidak langsung akan mempengaruhi angka inflasi. Sebab, salah satu penyebab kenaikan inflasi adalah tingginya peredaran uang. Dalam tiga tahun, kenaikan transaksi menggunakan nontunai berpengaruh pada penurunan angka inflasi.
BI mencatat, dalam tiga tahun terakhir transaksi elektronik melonjak tajam. Pada 2016, transaksi elektronik tercatat 683,13 juta transaksi dengan nilai Rp7,06 triliun. Jumlah tersebut naik tajam dibanding 2015 sebanyak 535,58 juta transaksi senilai Rp5,28 triliun dan 2014 sebanyak 203,37 juta transaksi senilai Rp3,32 triliun.
Sebaliknya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indonesia pada 2016 tercatat 3,02%, lebih rendah dibanding 2015 dan 2014 sebesar 3,35% dan 8,36%.
Sumber : //smart-money.co/inovasiana/kejar-efisiensi-transaksi-di-gerbang-tol-wajib-pakai-uang-elektronik-di-oktober
tata604 memberi reputasi
1
650
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Perencanaan Keuangan
9.4KThread•8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya