- Beranda
- Berita dan Politik
Jokowi Tidak Perlu Takut Berhenti Jadi Presiden
...
TS
annisaputrie
Jokowi Tidak Perlu Takut Berhenti Jadi Presiden
Jokowi Tidak Perlu Takut Berhenti Jadi Presiden
SABTU, 07 OKTOBER 2017 , 09:37:00 WIB
.jpg)
RMOL. Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng menilai pernyataan Presiden Joko Widodo soal penurunan daya beli masyarakat hanya isu yang sengaja dihembuskan oleh lawan politik jelang Pilpres 2019, adalah sebagai keresahan.
"Jokowi takut dijegal menuju 2019. Pertanyaan saya, mengapa Jokowi berambisi jadi presiden lagi tahun 2019 mendatang, ada apa?" kata Salamuddin saat dihubungi redaksi, Sabtu (7/10).
Dia mengaku hingga saat ini masih bertanya-tanya apa sesungguhnya yang ingin diraih Jokowi jika dia memang ingin menjadi presiden untuk periode kedua 2019-2024.
"Kalau hanya takut tidak menjadi presiden lagi pertanyaanya apa yang ditakutkan? Kalau Jokowi takut berhenti jadi presiden, berarti Jokowi tidak berfikir normal. Dalam sistem kita sekarang jabatan presiden pasti berakhir. Bisa 2018 nanti, bisa 2019, bisa Juga 2024. Hanya soal waktu. Jadi Jokowi tidak usah takut," jelasnya.
Yang perlu dipikirkan Jokowi menurut Salamuddin adalah bagaimana mengemban amanah Pancasila, Pembukaan UUD 1945 secara baik. Amanah itu adalah bagaimana dia menyediakan ruang hidup bagi manusia Indonesia agar bisa menjadi manusia seutuhnya, lahir batin.
Tidak hanya itu, menurut Salamuddin, Jokowi juga harus memikirkan janji-janjinya saat kampanye Pilpres tahun 2014 lalu.
"Janji itu utang. Kalau dia belum bisa merealisasikan janjinya seperti menuntaskan Trisakti dan itu menjadi dasar ketakutannya, maka saya kira itu terhormat. Oleh karena itu maka Jokowi harus menjelaskan kepada publik mengapa dia harus berkuasa dua periode," imbuhnya.
"Lagi pula menurut ajaran agama manusia itu harus pandai bersyukur. Jadi presiden setengah periode harus disyukuri, menjadi presiden satu periode juga harus disyukuri. Kalau bersyukur pasti rejekinya tambah banyak Pak Jokowi," pungkas Salamuddin menambahkan.Jokowi Tidak Perlu Takut Berhenti Jadi Presiden
http://politik.rmol.co/read/2017/10/...Jadi-Presiden-
Nasir Djamil Yakin Jokowi Kalah Di Pilpres 2019
SABTU, 07 OKTOBER 2017 , 01:20:00 WIB
RMOL. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nasir Djamil berharap Joko Widodo tidak terpilih lagi menjadi Presiden RI untuk periode berikutnya. Pasalnya, semasa pemerintahan Jokowi, situasi politik di negeri ini kian gaduh. Hal itu menurutnya karena Jokowi bukanlah seorang presiden yang juga memimpin sebuah partai.
"Mudah-mudahan kita mendapatkan presiden yang strong leader dan barangkali dia bisa memegang satu partai yang kuat. Kalau sekarang bukan pemimpin partai jadi dia tidak bisa mengendalikan situasi politik yang ada. Makanya politik ini gaduh," harapnya dalam diskusi publik bertajuk 'Evaluasi 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK' di Rumah Makan Warung Komando, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (6/10).
Nasir yang merupakan anggota Komisi III DPR ini pun yakin bahwa di Pilpres 2019 nanti Jokowi tak akan menang. Sebab sebagian besar masyarakat sudah tidak lagi menginginkan Joko Widodo kembali menjadi presiden untuk periode kedua nanti.
"Ada survei yang mengatakan bahwa sekitar 63 persen masyarakat ditahun 2019 tidak menginginkan Jokowi memerintah kembali. Ada sepuluh nama yang disurvei oleh lembaga tersebut, jadi ada 23 persen yang menginginkan Prabowo. Dan 40 itu dari nama-nama lain yang disurvei termasuk Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Wali Kota Surabaya dan beberapa nama-nama," katanya.
Peluang kekalahan Jokowi kata Nasir kian besar jika nanti Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi atas undang-undang pemilu dan presidential threshold dihapuskan.
"Wah ini makin seru nih. Makin banyak calon-calon alternatif. Saya pun barangkali berminat juga jadi calon presiden. Pak Jokowi aja bisa jadi presiden masa saya ga bisa. Kira-kira begitu," selorohnya.
Nasir mengatakan jika Jokowi bisa menang akibat pencitraannya yang seakan dekat dengan rakyat. Namun tampaknya, masyarakat kata Nasir sudah sadar jika hal tersebut hanya citra belaka.
"Jadi memang kelebihan Jokowi itu hanya memang wajahnya wong deso. Karena wajahnya wong deso, kemudian suka makan di warteg, kemudian dia ga risih jalan, itu yang memang banyak responden mengatakan bahwa puas, itulah kelebihannya, suka kasih pertanyaan, kemudian kasih sepeda, kemudian yang lain-lainnya menurut saya ga bisa diharapkan pemerintahan ini," demikian Nasir.
http://politik.rmol.co/read/2017/10/...-Pilpres-2019-
--------------------------
Kalau mengamati kepribadian Pak Jokowi selama ini, saya sih yakin, beliau ini tipe orang yang legowo dan 'nothing to lose'.
Masalahnya itu kalau beliau nggak bisa naik untuk kedua-kalinya sebagai Presiden kembali di tahun 2019 yad itu, seperti pengalaman Presiden dari PDIP, Megawati, di Pilpres 2004 yang lalu .... yang nggak siap kalah itu adalah pendukungnya, terutama dari kalangan parpol. Moso sih sudah pernah dipaksa "berpuasa" (kekuasaan) selama 10 tahun, baru dapat giliran sebentar, disuruh puasa lagi?

SABTU, 07 OKTOBER 2017 , 09:37:00 WIB
.jpg)
RMOL. Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng menilai pernyataan Presiden Joko Widodo soal penurunan daya beli masyarakat hanya isu yang sengaja dihembuskan oleh lawan politik jelang Pilpres 2019, adalah sebagai keresahan.
"Jokowi takut dijegal menuju 2019. Pertanyaan saya, mengapa Jokowi berambisi jadi presiden lagi tahun 2019 mendatang, ada apa?" kata Salamuddin saat dihubungi redaksi, Sabtu (7/10).
Dia mengaku hingga saat ini masih bertanya-tanya apa sesungguhnya yang ingin diraih Jokowi jika dia memang ingin menjadi presiden untuk periode kedua 2019-2024.
"Kalau hanya takut tidak menjadi presiden lagi pertanyaanya apa yang ditakutkan? Kalau Jokowi takut berhenti jadi presiden, berarti Jokowi tidak berfikir normal. Dalam sistem kita sekarang jabatan presiden pasti berakhir. Bisa 2018 nanti, bisa 2019, bisa Juga 2024. Hanya soal waktu. Jadi Jokowi tidak usah takut," jelasnya.
Yang perlu dipikirkan Jokowi menurut Salamuddin adalah bagaimana mengemban amanah Pancasila, Pembukaan UUD 1945 secara baik. Amanah itu adalah bagaimana dia menyediakan ruang hidup bagi manusia Indonesia agar bisa menjadi manusia seutuhnya, lahir batin.
Tidak hanya itu, menurut Salamuddin, Jokowi juga harus memikirkan janji-janjinya saat kampanye Pilpres tahun 2014 lalu.
"Janji itu utang. Kalau dia belum bisa merealisasikan janjinya seperti menuntaskan Trisakti dan itu menjadi dasar ketakutannya, maka saya kira itu terhormat. Oleh karena itu maka Jokowi harus menjelaskan kepada publik mengapa dia harus berkuasa dua periode," imbuhnya.
"Lagi pula menurut ajaran agama manusia itu harus pandai bersyukur. Jadi presiden setengah periode harus disyukuri, menjadi presiden satu periode juga harus disyukuri. Kalau bersyukur pasti rejekinya tambah banyak Pak Jokowi," pungkas Salamuddin menambahkan.Jokowi Tidak Perlu Takut Berhenti Jadi Presiden
http://politik.rmol.co/read/2017/10/...Jadi-Presiden-
Nasir Djamil Yakin Jokowi Kalah Di Pilpres 2019
SABTU, 07 OKTOBER 2017 , 01:20:00 WIB
RMOL. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nasir Djamil berharap Joko Widodo tidak terpilih lagi menjadi Presiden RI untuk periode berikutnya. Pasalnya, semasa pemerintahan Jokowi, situasi politik di negeri ini kian gaduh. Hal itu menurutnya karena Jokowi bukanlah seorang presiden yang juga memimpin sebuah partai.
"Mudah-mudahan kita mendapatkan presiden yang strong leader dan barangkali dia bisa memegang satu partai yang kuat. Kalau sekarang bukan pemimpin partai jadi dia tidak bisa mengendalikan situasi politik yang ada. Makanya politik ini gaduh," harapnya dalam diskusi publik bertajuk 'Evaluasi 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK' di Rumah Makan Warung Komando, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (6/10).
Nasir yang merupakan anggota Komisi III DPR ini pun yakin bahwa di Pilpres 2019 nanti Jokowi tak akan menang. Sebab sebagian besar masyarakat sudah tidak lagi menginginkan Joko Widodo kembali menjadi presiden untuk periode kedua nanti.
"Ada survei yang mengatakan bahwa sekitar 63 persen masyarakat ditahun 2019 tidak menginginkan Jokowi memerintah kembali. Ada sepuluh nama yang disurvei oleh lembaga tersebut, jadi ada 23 persen yang menginginkan Prabowo. Dan 40 itu dari nama-nama lain yang disurvei termasuk Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Wali Kota Surabaya dan beberapa nama-nama," katanya.
Peluang kekalahan Jokowi kata Nasir kian besar jika nanti Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi atas undang-undang pemilu dan presidential threshold dihapuskan.
"Wah ini makin seru nih. Makin banyak calon-calon alternatif. Saya pun barangkali berminat juga jadi calon presiden. Pak Jokowi aja bisa jadi presiden masa saya ga bisa. Kira-kira begitu," selorohnya.
Nasir mengatakan jika Jokowi bisa menang akibat pencitraannya yang seakan dekat dengan rakyat. Namun tampaknya, masyarakat kata Nasir sudah sadar jika hal tersebut hanya citra belaka.
"Jadi memang kelebihan Jokowi itu hanya memang wajahnya wong deso. Karena wajahnya wong deso, kemudian suka makan di warteg, kemudian dia ga risih jalan, itu yang memang banyak responden mengatakan bahwa puas, itulah kelebihannya, suka kasih pertanyaan, kemudian kasih sepeda, kemudian yang lain-lainnya menurut saya ga bisa diharapkan pemerintahan ini," demikian Nasir.
http://politik.rmol.co/read/2017/10/...-Pilpres-2019-
--------------------------
Kalau mengamati kepribadian Pak Jokowi selama ini, saya sih yakin, beliau ini tipe orang yang legowo dan 'nothing to lose'.
Masalahnya itu kalau beliau nggak bisa naik untuk kedua-kalinya sebagai Presiden kembali di tahun 2019 yad itu, seperti pengalaman Presiden dari PDIP, Megawati, di Pilpres 2004 yang lalu .... yang nggak siap kalah itu adalah pendukungnya, terutama dari kalangan parpol. Moso sih sudah pernah dipaksa "berpuasa" (kekuasaan) selama 10 tahun, baru dapat giliran sebentar, disuruh puasa lagi?

0
3.1K
31
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.7KThread•59.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya