Kaskus

Story

iiiiiiiiiisssssAvatar border
TS
iiiiiiiiiisssss
Dialog dengan Hati (edisi curhat perasaan cewek yang masih bimbang)
Okeagan dan aganwati sejagad kaskus
Ini tread pertama ane
Sebenernya ane nggak ada niatan bikin tread ini, tapi berhubung ane merasa unek-unek ane belum uga tertuntaskan, akhirnya ane milih buat dibikin tread aja di sini
bagi agan dan aganwati yang suka, silakan dibaca, silakan diberi saran dan masukan emoticon-Angel


Assalamu’alaikum hati...
Sudahkah kau bahagia?
Sudahkah kau bersyukur jikalau kau tak bahagia?
Karena nikmat-Nya tak hanya dalam wujud bahagia saja.
Hai hati, aku dengar kau sedang ragu menjalani hubungan ini. Lalu kenapa kau lanjutkan? Jika tak ada keyakinan kenapa kau melanjutkan? Kenapa terus-terusan kau siksa hatimu dengan kebohongan.
Kau ragu mencintainya, katamu. Lalu, apa lagi yang kau tuju jika keyakinan, dasar kokoh cintamu padanya tak ada.
“Aku hanya tak mau menyakitinya, yang mana itu berarti tak mensyukuri nikmat Allah. Allah telah menghadirkan cintanya padaku melalui seseorang. Meskipun pada saat yang sama Dia tidak menghadirkan rasa cintaku untuk orang itu. Tak ada yang perlu disalahkan. Kami berdua pun tak salah karena rasa itu di luar kendali kami,” ucapmu padaku di suatu malam.
Lalu aku ingin bertanya, jikalau kamu tetap membersamainya tanpa ada perasaan apakah itu lantas membuatnya bahagia? Dia bahkan tahu perasaan mana yang utuh dan mana yang rapuh. Dia juga tidak memaksa kau membalas perasaannya kembali, katanya sih seperti itu. Meskipun pada kenyataannya sikapnyalah yang membuatmu tak tega untuk menjauhinya. Bukankah begitu?
Aku pun hendak bertanya, apa kau membersamainya karena kasihan? Karena tak tega melihatnya terluka ketika kau menjauh?
“Ya,” jawabmu. “Aku selalu tak sanggup berpaling dan menjauh, meskipun perasaanku rapuh, tapi aku jauh lebih rapuh untuk meninggalkannya. Kau tahu, aku tak sanggup melihatnya menderita karena mencintaiku begitu amat sangat. Aku pernah merasakan tidak enaknya diabaikan.”
Yakin kamu jauh lebih rapuh untuk meninggalkannya? Benar seperti itu? Kuulangi lagi. Apa benar seperti itu? Kenapa kau memaksakan diri. Sudahlah, jika tak cinta bilang saja. Sekalipun dia sakit.
“Tapi aku sudah sering membuat sakit orang-orang yang mencintaiku dulu. Sejak dulu aku selalu memilih mencintai ketimbang dicintai. Bukankah itu artinya selama itu aku tidak mensyukuri nikmat Tuhan?” jawabmu saat itu.
Ya, kau benar. Dengan mengabaikan rasa cinta seseorang, yang murni dari Allah itu memang tidak baik. Tapi, jika boleh aku berucap. Ketika tak kau abaikan, apa lantas kau yang bahagia? Tidak kan? Sepertinya dia juga tidak bahagia tuh karena getar hatinya mampu merasakan mana yang tulus mana yang modus.
“Lalu aku harus bagaimana?” jeritmu frustasi kala itu. “Aku sendiri tak memahami perasaanku. Aku hanya senang bisa bersamanya. Itu saja. Meskipun dalam sedihnya aku tak menghindar. Ketika ia curhat, aku mendengarkan. Ketika ia sedih, aku mencoba menenangkan. Pun ketika dia dulu pernah berkata tentang sebuah pengumuman, aku berpuasa untuknya. Kubacakan manakib pula. Berharap ia akan mencapai apa yang ia harapkan, ia usahakan. Suatu hal yang bahkan jarang ku lakukan untuk keinginanku sendiri. Jika memang itu perasaan seorang sahabat. Baiklah. Namun terkadang, ada kalanya aku memang merindukannya. Ada kalanya aku merasa nyaman dengannya. Ada kalanya pula aku begitu gelisah tanpa kabar darinya. Aku tahu, rindu, gelisah, dan cemasnya memang lebih sering daripada yang aku rasa. Aku tak tahu perasaanku, akal. Apakah itu cinta? Tapi jika cinta, mengapa tak ada getar sedikitpun ketika dia berkata ‘Sayang, I love you’ atau sekedar “Love you” atau kata apapun yang bisa membuatnya melayang sedangkan kata itu tak berpengaruh apa-apa terhadap hatiku. Tidak sedikitpun, Akal. Mungkin itu hanya kebutuhan dan kulakukan karena aku kesepian? Ah, aku jadi pusing sendiri,” pungkasmu kala itu, cukup frustasi.
Ya. Tapi kenapa kau harus menutup-nutupi jika kau tak cinta. Cukup bilang padanya dengan sopan bahwa kau tak bisa mencintainya. Dan bilang pula bahwa kau akan menjadi teman saja. Urusan dia galau itu mah urusannya sendiri. Hatinya sendiri yang memutuskan mau galau atau tidak. Nanti lambat laun juga akan sembuh. Daripada kalian berdua terjebak pada rasa semu dirimu dan keraguannya akan cintamu.
“Begitu ya?” tanyamu. “Jadi aku harus mengabaikan saja. Tapi aku pernah dengar, bahwa kadang kita tak bisa menuntut kebahagian sempurna pada cinta. Bukankah jangan terlalu mencari yang sempurna dalam urusan cinta, karena kesempurnaan adalah milik-Nya? Dia memang biasa saja, tapi cintanya yang begitu besar. Apa lebih baik ku tinggalkan karena aku tak cinta? Begitu?” tanyamu lagi.
Aduh. Aku malah jadi ikutan pusing sendiri. Tapi aku akan mencoba menjawab. Cinta dan sempurna. Iya kan? Menurutku itu pantas diterapkan ketika kau benar-benar mencintai orang itu. Ketika kau benar-benar mencintainya dan tahu bahwa ia banyak kekurangan. Tak seharusnya kau pergi meninggalkannya. Karena tak ada kesempurnaan dalam cinta. Lha tapi dalam kasusmu, cinta aja kamu tidak kok. Kenapa kamu harus pusing?
Kau diam. Mungkin sedang mempertimbangkan kata-kataku.
Jadi, lanjutku lagi. Kesetiaan hanya bisa bertahan jika dilandasi rasa cinta. Jika cinta tak ada di hatimu, apa kau yakin bisa membersamainya dengan sepenuh hati dalam setia?
Dan kau pun telah tertidur malam itu, lelah mungkin.

Akal
Pongangan, 4 September 2017
Polling
0 suara
Mana yang akan kamu pilih, mencintai atau dicintai?
tata604Avatar border
tata604 memberi reputasi
1
3.3K
2
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Girls & Boys Corner
Girls & Boys Corner
KASKUS Official
3.5KThread11.9KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.