Kaskus

News

sabaracintaAvatar border
TS
sabaracinta
Satu Keluarga Turis Jerman Kunjungi Masjid & Belajar Islam
Satu Keluarga Turis Jerman Kunjungi Masjid & Belajar Islam

Keberagaman budaya Indonesia selalu terlihat eksotis di mata masyarakat barat. Hal inilah yang menjadi gagasan masyarakat barat untuk menjelajahi dan menekuni keberagaman Indonesia.

Kota Malang pun menjadi destinasi unggulan bagi wisatawan mancanegara untuk melihat puzzle kecil dari gugusan besar wilayah Indonesia. Tak hanya kampung-kampung tematik yang sedang ngehits, masjid di Kota Malang juga menarik minat wisatawan mancanegara.

Astrid Schormann (50), perempuan asal Munich, Jerman, bersama tiga putrinya datang ke Masjid Jendral Ahmad Yani, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Rabu (23/8/2017) siang.

Bukan untuk salat, Astrid ke masjid ini untuk mengetahui dan mempelajari geliat Umat Islam di Kota Malang, meskipun ia dan ketiga putrinya beragama Katolik.

Ketiga putrinya; Johanna (15), Paulina (13), dan Carlotta (8) pun terlihat antusias ketika menjejakkan kaki di Masjid Jendral Ahmad Yani.

Mereka dipandu oleh Mashur Thalib (54), jemaah masjid yang kebetulan fasih berbahasa Inggris.

“Sebelum ke sini (Masjid Ahmad Yani), kami mengunjungi Candi Singosari. Kemarin kami tiba di Malang,” kata Johanna dengan Bahasa Inggris aksen ala fraulein Jerman ketika membuka obrolan bersama Surya, Rabu (23/8/2017).

Dari cerita-cerita Johanna, keluarganya memang suka travelling ke tempat-tempat eksotis yang tidak dijumpainya di Munich, Jerman.

Menurutnya, keberagaman budaya Indonesia serupa mata kail yang menariknya untuk mengunjungi Indonesia.

“Sekitar tiga minggu kami di Indonesia. Sebelumnya kami sudah datang ke Kuta, Bali. Kemudian ke Lamongan, dan sekarang di Malang,” ucap Johanna.

“Setelah ini kami akan kembali ke Bali. Di sana ada teman yang menunggu,” timpal Astrid.

Astrid sangat mengagumi masyarakat majemuk Indonesia. Meskipun banyak perbedaan dalam hal agama, suku, bahasa, budaya dan lain-lain, tapi masyarakat Indonesia bisa saling menghormati satu sama lainnya.

“Di Jerman juga ada yang beragama Islam dan ada masjid, tapi sangat tertutup. Tidak terbuka seperti di Indonesia yang masyarakatnya sangat toleran,” ucap Astrid.

Tak hanya melihat-lihat suasana masjid dan sekitarnya, Astrid cs juga belajar teori serta praktek menunaikan wudu dan mengenakan mukena dipandu oleh Mashur Thalib.

Tanpa canggung, mereka pun menjalankan instruksi Mashur saat wudu.

Pun ketika mengenakan mukena, mereka juga menuruti instruksi yang diberikan oleh seorang jemaah perempuan.

Mashur juga menjelaskan tata cara salat berjamaah ketika Astrid dan putri-putrinya sudah mengenakan mukena. Sesekali mereka terlihat manggut-manggut ketika mendengarkan penjelasan dari Mashur.

“Apakah kamu masih merasa cantik ketika memakai mukena?” tanya Surya.

“Hmm, entahlah, yang jelas ketika pakai ini (mukena) seluruh tubuh saya tidak kelihatan, kecuali muka,” katanya sambil tersenyum malu-malu.

“Ada rasa gerah sedikit (saat pakai mukena). Saya salut dan menghormati wanita muslim yang menggunakan pakaian tertutup (hijab) sepanjang hari,” sambung Johanna.

Sementara itu, Mashur Thalib menjelaskan perihal awal mula Astrid dan putri-putrinya datang ke Masjid Jendral Ahmad Yani.

Semula, ucap Mashur, mereka terlihat di pos satpam masjid itu. Setelah diusut, ternyata mereka ingin masuk masjid untuk melihat-lihat suasana ibadah.

“Mereka bertanya-tanya tentang Umat Islam di Malang. Dan mereka pun mengaku senang, karena Islam di sini umatnya sangat menjunjung toleransi, saling menghormati,” kata Mashur. (Surya)

sumber: http://umat.co.id/2017/09/11/satu-ke...belajar-islam/
0
3.6K
44
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695.1KThread58.9KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.