• Beranda
  • ...
  • The Lounge
  • Lawang Sewu Sudah Tidak Menyeramkan? Bagaimana Menurut Agan Sekalian?

iambagusAvatar border
TS
iambagus
Lawang Sewu Sudah Tidak Menyeramkan? Bagaimana Menurut Agan Sekalian?
Semarang - Wisatawan yang datang ke gedung Lawang Sewu Semarang untuk mencari suasana menyeramkan mungkin akan kecewa. Sejak dipugar mulai Juli 2011 lalu, kesan horor dan mistis di gedung peninggalan Belanda itu mulai hilang.

Pengelola Lawang Sewu memang sudah lelah dengan imej gedung ini sebagai destinasi wisata horor. Mereka kini berusaha menampilkan Lawang Sewu yang lebih ramah wisatawan.

Sejak dari gerbang masuk, pengunjung sudah tidak lagi melihat gedung dengan tembok kusam atau cat yang mengelupas. Saat ini bangunan yang sudah ada sejak 1904 itu terlihat megah dengan arsitektur Belanda yang kokoh. Bahkan sekarang di halamannya sudah dihiasi dengan lokomotif C 2301 yang banyak digunakan pengunjung untuk berfoto.

Hanya dengan membayar tiket masuk Rp 10 ribu untuk orang dewasa dan Rp 5 ribu untuk anak-anak, pengunjung bisa berkeliling Lawang Sewu dan melihat perubahan yang ada di sana. Jika ingin menambah pengetahuan tentang bangunan tua itu, bisa menyewa guide dengan membayar sekitar Rp 30 ribu.

Manajer Museum PT KAI, Sapto Hartoyo yang juga selaku pengelola mengatakan pihaknya memang sedang berusaha menghilangkan imej horor dari Lawang Sewu. Berbagai upaya dari pemugaran dan menggelar acara-acara terus dilakukan hingga saat ini. Menurut Sapto, banyak juga yang kecewa karena suasana horornya semakin hilang, namun kekecewaan itu ternyata tergantikan dengan hiburan-hiburan yang sudah disiapkan pengelola.

"Sebelum dipugar, orang cenderung ke sini mencari hantu, tapi setelah bersih dan banyak kegiatan, yang dulu pikirannya seram ternyata lain. Kalau jadi bersih saja mungkin banyak yang kecewa, tapi sekarang banyak kegiatannya jadi pengunjung terhibur," kata Sapto kepada detiktravel Lawang Sewu Semarang, Rabu (8/1/2014).

Pemugaran yang dilakukan sejak tahun 2011 itu masih pada gedung A dan gedung C. Saat ini gedung A difungsikan untuk Griya Nusantara yaitu untuk pameran batik dan kerajinan. Namun jika datang sekarang hingga 21 Januari mendatang, pengunjung bisa melihat pameran benda-benda bersejarah tentang perkeretaapian Indonesia di gedung A lantai 1

"Yang di gedung A digunakan untuk pameran Histories Indonesian Railway dari 21 Desember kemarin sampai 21 Januari. Itu kelanjutan dari pameran di Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta," tandasnya.

Sementara itu lantai 3 gedung A yang saat ini masih terlihat seperti loteng luas, nantinya akan digunakan untuk ruang pameran lukisan. Namun untuk gedung B, Sapto mengakui kondisinya masih sedikit suram karena belum dipugar, rencananya tahun 2014 ini akan mulai dipugar.

"Gedung B akan difungsikan sebagai pusat kuliner. Tapi kuliner yang tidak pakai kompor, jadi siap saji. Sekarang masih digunakan untuk pameran foto," ujarnya.

Tidak hanya memugar dan mengembalikan keaslian gedung, pengelola juga berencana membuat lapangan bulu tangkis di lantai tiga gedung B. Jadi pengunjung juga bisa berolahraga di Lawang Sewu.

"Gedung B untuk olahraga, tapi sekarang masih berantakan. Dulu saat masih dipakai Kodam, Ajendam main bulu tangkis di sana," katanya.

Untuk gedung C yang digunakan sebagain untuk kantor, rencananya akan digunakan seluruhnya untuk museum. Saat ini museum hanya ada di lantai 1 gedung C. Di sana pengunjung bisa melihat gambar dan sejarah tentang Lawang Sewu termasuk kondisi sebelum dipugar.

Bahkan sekarang pengunjung bisa bernyanyi dengan diiringi musik keroncong dari Gunung Jati Kroncong Music binaan PT KAI. Grup keroncong itu ada setiap dua minggu dalam satu bulan

"Bisa menyanyi di sana, mereka hebat bisa mengiringi lagu apapun. Setiap dua minggu mereka di sini, dua minggu berikutnya di stasiun di Cirebon," ujarnya.

Sementara itu lokasi yang terkenal paling horor di Lawang Sewu adalah ruang bawah tanahnya. Ruangan berupa lorong itu dikenal karena menjadi penjara saat zaman penjajah Jepang, padahal awalnya tempat tersebut sebenarnya adalah saluran air yang juga berfungsi sebagai pendingin ruangan di dalam gedung.

"Gedung B masih terlihat seram. Nanti akan direnovasi termasuk ruang bawah tanahnya. Rencana di sana (ruang bawah tanah) akan dijadikan diorama perkeretaapian," ujar Sapto.

Salah satu pengunjung dari Surabaya, Andre (31) mengatakan ia sengaja datang ke Lawang Sewu karena penasaran. Ia ingin tahu gedung yang dulu terkenal seram itu awalnya difungsikan untuk apa.

"Kalau dengar cerita sih kayaknya seram, tapi ternyata enggak seram. Cuma gedung B saja yang masih terlihat seram. Ke sini karena ingin tahu gedung ini untuk apa awalnya, ternyata gedung administrasi pada zaman Belanda," kata Andre setelah mengunjungi gedung C Lawang Sewu.

Gedung bangunan Belanda itu awalnya merupakan kantor Niederlands Indische Spoorweg Maatschappij dan bernama Wilhelminaplein. Kemudian digunakan oleh PT KAI yang dulu bernama DKARI. Lawang Sewu juga sempat menjadi kantor Kodam dan Kanwil Kementrian Perhubungan Jateng.

"Setelah tidak digunakan perhubungan, saat itulah mulai timbul image seram. Ada penjaga, tapi bukan pengelola. Kemudian PT KAI kembali mengelola gedung ini," tandas Sapto.

Sejak dipugar untuk pertama kalinya, sambung Sapto, jumlah pengunjung terus meningkat, tercatat pada tahun 2012 ada 121.696 pengunjung sedangkan tahun 2013 meningkat nyaris dua kali lipat, yaitu 232.612 pengunjung.

"Jadi, sekarang sudah tidak seram lagi, kan?" tegas Sapto. Ke Lawang Sewu, siapa takut!

Spoiler for Cekiprot:


Spoiler for Cekiprot:


Spoiler for Cekiprot:


Spoiler for Cekiprot:


Spoiler for Cekiprot:


Sumber

Ane Ga Akan Nolak..Yakin Sumpah

emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)
0
8K
72
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The LoungeKASKUS Official
922.7KThread82.1KAnggota
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.