- Beranda
- Stories from the Heart
Anzera
...
TS
adenuansa
Anzera
Anzera dan Cahaya Oranye
"Lula Safara"
namaku dipanggil untuk menghadap wali kelas dan mengambil hasil belajarku selama satu semester, tak ku pungkiri jantungku berdetak begitu cepat, was-was dan cemas, takut jika nilaiku ada yang turun, perlahan ku hampiri ibu wali kelas, selangkah demi selangkah akhirnya aku sampai di hadapan mejanya, ia tersenyum dan mengucapkan selamat seraya membelai rambutku, "selamat kau juara satu lagi".
"Ayahhh, Ibuuu!!! aku juara satu lagi" teriakku sambil mengacung-acungkan buku catatan prestasiku,
"wah hebat! ini baru anak ayah haha" dengan bangga ayah menggendongku, dan ibu menciumiku.
"Sebagai hadiah, ibu akan mengajakmu berlibur ke rumah nenek" ucap ibu,
"horeeeeee!!! aku sudah sangat kangen sama nenek"
selain kangen, pemandangan indah di sekitar rumah nenekku pun menjadi alasan yang membuatku senang berlibur ke rumahnya. Nenekku tinggal di pesisir pantai Pelabuahan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.
Libur telah tiba, aku, ibu, dan ayah berkemas dan sesuai janji ibu, kami berangkat ke Sukabumi. Di perjalanan, kami harus mengalami kemacetan, tak asing, memang setiap libur panjang pasti jumlah kendaraan di jalan raya bertambah. Di tengah kemacetan, para pedagang asongan sibuk mengais rezeki, makanan ringan, minuman, rokok, buah-buahan, rujak, hiasan mobil, sampai pewangi ruangan di tawarkannya, dari sekian banyak pedagang hilir mudik melewati kaca mobilku ada satu dagangan yang menarik perhatianku, si pedagang menghampiriku dan menawarkan dagangan uniknya padaku,
"Dek mau beli?" tanyanya,
"Ayah aku ingin membeli ini!" ucapku dengan manja,
"belilah nak ini uangnya" seperti biasa ayahku selalu membelikan apa pun yang ku mau, ibuku hanya tersenyum,
"ma kasih ayah, ini bang uangnya" ku berikan uang sepuluh ribu pada si penjual, penjual itu memberikan dua buah barang dagangannya padaku,
"apa yang kau beli nak? " tanya ibu,
"lilin bu hehe".
Ya, lilin, di saat udara panas dan cuaca cerah seperti ini yang ku beli bukan minuman dingin atau makanan segar, melainkan dua buah lilin, lilin ini bukan lilin biasa, ini adalah lilin hias berbentuk boneka dengan warna warni yang indah dan memiliki daya tarik yang cukup besar hingga dapat menarik perhatian bocah berumur 12 tahun sepertiku.
__Lima jam berlalu, kami sampai di rumah nenek, ia menyambut kami dengan wajah berseri-seri. Seperti biasa, hal pertama yang ditanyakan nenek padaku adalah
"Tahun ini kau peringkat berapa cu?" sudah ku duga, dengan bangganya aku menjawab,
"Peringkat satu dong nek hehe"
"Anak pintar, nanti nenek bikinkan bolu kukus kesukaanmu sebagai hadiah ya cu"
"horee ma kasih nek!! "
Sore ini aku berada di pesisir Pelabuhan Ratu, ku langkahkan kakiku menyusuri setiap pesona yang bertemakan pantai, ribuan pasir menyelinap masuk ke sela-sela jari kaki dan sandal jepitku, angin laut menghembus lembut menyisir helaian rambutku, rambutku melambai-lambai seperti daun nyiur yang pohonnya berjajar di sepanjang pantai, matahari mulai bergegas pulang, cahaya oranye memancar dan dipantulkan air laut sehingga riak-riaknya terlihat seperti ribuan kristal yang berkelip bergantian, ahh ini indah sekali.
Di tengah keindahan itu aku melihat seorang anak perempuan berbaju lusuh dengan badan kurus dan kulit gelap terbakar teriknya sang mentari, sepertinya ia seusiaku, setelah aku mendekat, ternyata ada tetesan air di pipinya, tetesan itu berasal dari matanya, ia memandang lurus ke ujung laut, menyaksikan matahari tenggelam.
Rasa penasaranku timbul.
"hai, kenapa kau menangis? ada yang bisa ku bantu? " tanyaku dengan sejuta kepolosan,
"oh hai, haha, a.. aku tidak apa-apa, jangan khawatir" sedikit terkaget ia menjawab dengan terbata-bata, ia seketika merubah wajah sedihnya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
"hmm baiklah, kenalin namaku Lula aku dari Bandung, namamu siapa? " aku mulai memperkenalkan diri untuk mencairkan suasana.
" Lula, haha nama yang imut, kenalkan namaku Anzera".

"Lula Safara"
namaku dipanggil untuk menghadap wali kelas dan mengambil hasil belajarku selama satu semester, tak ku pungkiri jantungku berdetak begitu cepat, was-was dan cemas, takut jika nilaiku ada yang turun, perlahan ku hampiri ibu wali kelas, selangkah demi selangkah akhirnya aku sampai di hadapan mejanya, ia tersenyum dan mengucapkan selamat seraya membelai rambutku, "selamat kau juara satu lagi".
"Ayahhh, Ibuuu!!! aku juara satu lagi" teriakku sambil mengacung-acungkan buku catatan prestasiku,
"wah hebat! ini baru anak ayah haha" dengan bangga ayah menggendongku, dan ibu menciumiku.
"Sebagai hadiah, ibu akan mengajakmu berlibur ke rumah nenek" ucap ibu,
"horeeeeee!!! aku sudah sangat kangen sama nenek"
selain kangen, pemandangan indah di sekitar rumah nenekku pun menjadi alasan yang membuatku senang berlibur ke rumahnya. Nenekku tinggal di pesisir pantai Pelabuahan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.
Libur telah tiba, aku, ibu, dan ayah berkemas dan sesuai janji ibu, kami berangkat ke Sukabumi. Di perjalanan, kami harus mengalami kemacetan, tak asing, memang setiap libur panjang pasti jumlah kendaraan di jalan raya bertambah. Di tengah kemacetan, para pedagang asongan sibuk mengais rezeki, makanan ringan, minuman, rokok, buah-buahan, rujak, hiasan mobil, sampai pewangi ruangan di tawarkannya, dari sekian banyak pedagang hilir mudik melewati kaca mobilku ada satu dagangan yang menarik perhatianku, si pedagang menghampiriku dan menawarkan dagangan uniknya padaku,
"Dek mau beli?" tanyanya,
"Ayah aku ingin membeli ini!" ucapku dengan manja,
"belilah nak ini uangnya" seperti biasa ayahku selalu membelikan apa pun yang ku mau, ibuku hanya tersenyum,
"ma kasih ayah, ini bang uangnya" ku berikan uang sepuluh ribu pada si penjual, penjual itu memberikan dua buah barang dagangannya padaku,
"apa yang kau beli nak? " tanya ibu,
"lilin bu hehe".
Ya, lilin, di saat udara panas dan cuaca cerah seperti ini yang ku beli bukan minuman dingin atau makanan segar, melainkan dua buah lilin, lilin ini bukan lilin biasa, ini adalah lilin hias berbentuk boneka dengan warna warni yang indah dan memiliki daya tarik yang cukup besar hingga dapat menarik perhatian bocah berumur 12 tahun sepertiku.
__Lima jam berlalu, kami sampai di rumah nenek, ia menyambut kami dengan wajah berseri-seri. Seperti biasa, hal pertama yang ditanyakan nenek padaku adalah
"Tahun ini kau peringkat berapa cu?" sudah ku duga, dengan bangganya aku menjawab,
"Peringkat satu dong nek hehe"
"Anak pintar, nanti nenek bikinkan bolu kukus kesukaanmu sebagai hadiah ya cu"
"horee ma kasih nek!! "
Sore ini aku berada di pesisir Pelabuhan Ratu, ku langkahkan kakiku menyusuri setiap pesona yang bertemakan pantai, ribuan pasir menyelinap masuk ke sela-sela jari kaki dan sandal jepitku, angin laut menghembus lembut menyisir helaian rambutku, rambutku melambai-lambai seperti daun nyiur yang pohonnya berjajar di sepanjang pantai, matahari mulai bergegas pulang, cahaya oranye memancar dan dipantulkan air laut sehingga riak-riaknya terlihat seperti ribuan kristal yang berkelip bergantian, ahh ini indah sekali.
Di tengah keindahan itu aku melihat seorang anak perempuan berbaju lusuh dengan badan kurus dan kulit gelap terbakar teriknya sang mentari, sepertinya ia seusiaku, setelah aku mendekat, ternyata ada tetesan air di pipinya, tetesan itu berasal dari matanya, ia memandang lurus ke ujung laut, menyaksikan matahari tenggelam.
Rasa penasaranku timbul.
"hai, kenapa kau menangis? ada yang bisa ku bantu? " tanyaku dengan sejuta kepolosan,
"oh hai, haha, a.. aku tidak apa-apa, jangan khawatir" sedikit terkaget ia menjawab dengan terbata-bata, ia seketika merubah wajah sedihnya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
"hmm baiklah, kenalin namaku Lula aku dari Bandung, namamu siapa? " aku mulai memperkenalkan diri untuk mencairkan suasana.
" Lula, haha nama yang imut, kenalkan namaku Anzera".

anasabila memberi reputasi
1
3.3K
29
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•55KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya