- Beranda
- Citizen Journalism
Apakah nastak anti islam dan apakah nasbung anti kemakmuran?
...
TS
shouphello
Apakah nastak anti islam dan apakah nasbung anti kemakmuran?
Sebetulnya terbelahnya masyarakat kita jadi 2 karena Ahok sebetulnya adalah tanda tanda kalau demokrasi sudah mulai berjalan.
You see. Di demokrasi, 2 kandidate biasanya agak kembar dalam banyak hal lain. Jadi untuk vote, mereka selalu berusaha membedakan diri. Memilih sesuatu yang kita memang nggak setuju.
Ibaratnya toko. Ada 2 toko bakmi. Kalo 2 toko bakmi itu bersaing harga, harga bakmi murah. Konsumen untung. Produsen rugi. Toko bakmi kemudian harus menurunkan harga.
Demikian dengan politik. Kalau nastak dan nasbung tujuannya sama atau searah, korupsi turun. Politikus harus menurunkan harga. Yang korupsinya paling dikit menang. Lama lama korupsi hilang. Ini menguntungkan rakyat tapi merugikan politikus. Majoritas rakyat tidak mengerti politik kok. Politikus yang bisa membohongi rakyat bisa dapet duit banyak. Ngapain korupsi ilang?
Jadi kalau saya politikus gimana?
Di amrik, ada 2 kubu, demokrat dan republikan. Yang satu pro choice. Yang satu pro life. Artinya? Yang satu pro kebebasan wanita untuk memilih aborsi. Yang satu melarang wanita untuk aborsi. Kira kira begitu.
Dua duanya punya persamaan. Sama sama mau menghargai hidup dan kebebasan orang lain. Yang satu berpikir kebebasan lebih penting. Yang satu berpikir hidup lebih penting.
Paling tidak di permukaanya.
Pernah mikir nggak kalau yang pro choice itu sebetulnya anti life? Iya lah. Banyak cw miskin. Ngapain lagi mereka bikin anak banyak banyak. Banyark cw tentu lebih ingin tidak punya anak dan tetap bersenang senang sepanjang hidupnya dari pada harus bersuami.
Dan nasbung di sono? Emang mereka peduli ama jabang bayi yang dibunuh? Tentu tidak. Konservative di sono cenderung pro hukuman mati, pro perang, dan pro banyak hal yang tidak menghargai kehidupan. Mereka juga anti welfare dan prefer orang yang nggak punya kerjaan mati kelaparan saja.
Lepas dari itu salah atau benar. Ngapain orang yang sedemikian tidak pedulinya ama nasib orang lain peduli ama nasib bayi yang belum lahir?
Sampai ada kartun lelucon. Pro life itu artinya pro kehidupan sampai si bayi lahir. Begitu bayinya lahir, mau kelaparan ya nasib. Welfare kan tidak adil menurut golongan konservative. Jadi solusi untuk mengurangi kemiskinan, yaitu aborsi, malah dilarang.
Karena nasbung di sono bukan pro life. Mereka just anti choice. Alasan utama cw aborsi adalah hamil diluar nikah. Dengan melarang aborsi nasbung disono ingin mencegah sex diluar nikah. Ini konsistent dengan tindakan mereka yang lain. Konservative di amrik juga anti pornography dan sex diluar nikah.
Mereka memang anti choice dan kebebasan individu.
Tentu saja ada golongan moderate di Amerika. Mereka disebut libertarian.
Kembali ke nasbung dan nastak indo.
Apakah nasbung anti kemakmuran dan nastak anti islam?
Kelihatannya di permukaan tidak.
Nastak ingin negara kita makmur. Karena majoritas orang indonesia islam, artinya ya orang islam juga yang makmur dan maju. Nasbung ingin orang islam maju, sesuatu yang akan terjadi kalau negara kita makmur.
Masalahnya satu. Kalau suatu politikus ingin memakmurkan negara, politikus itu nggak perlu bawa bawa agama lagi. Mengapa?
Karena kemakmuran ekonomi itu bukan surga dan neraka. Kemakmuran ekonomi itu sudah wilayah science. Ini mengapa role dari agama makin lama makin kecil kalau urusan kemakmuran, pengurangan korupsi, sogokan dan lain lain. Dulu kita mungkin perlu agama untuk meyakinkan orang kalau komunisme itu ngaco. Dulu belum ada bukti kalau capitalisme kick ass.
Sekarang kita tidak perlu bukti lagi kalau mekanisme pasar, hilangnya korupsi, dan lain lain akan buat kita makmur. Ada banyak ahli ekonomi dan hasil hasil yang jelas menunjukkan apa jalan kemakmuran. Lihat saja singapore sekarang makmur. Lihat saja korea utara dan korea selatan.
Kita tiru saja.
Orang yang jujur, nggak perlu bawa bawa agama lagi. Mereka punya bukti. Jadi kalo orang masih bawa bawa agama, ngapain itu orang?
Nipu?
Tentu saja.
Orang seperti Jokowi dan Ahok bisa jadi lebih beriman kepada Tuhan (apapun agamanya) dari pada duit di dunia. Kalo mereka mau korupsi bisa. Tapi mereka lebih ingin rejeki di surga dari pada duit haram di indo.
Banyak orang yang beragama, majoritas pejabat lain, tidak segan segan pakai quran buat korupsi. MUI misalnya, adalah suatu organisasi yang sering disebut suka memeras pengusaha. Konon banyak sertifikat halal MUI itu dicabut bukan karena halal atau haramnya tapi karena sudah nggak sajen lagi ke MUI. Waktu negara makin sekuler, makin agama jadi wilayah private, MUI duitnya makin dikit.
Tentu saja MUI bela "agama". Ingin agama campur politik.
Si rizieq punya piaraan. Dia nggak patuh ama agamanya. Alumni 212 belain Hary tanoe dan bersekutu dengan tapir. Ntar kalo duit freeport ditawarin juga mereka tidak akan segan menghianati sesama muslim untuk membantu tapir freeport.
Orang yang korupsi pake agama. Orang yang khotbah bawa bawa agama lalu punya piaraan. Orang orang itu apa menghormati Tuhan? Kalo Tuhannya ada beneran gimana?
Karena orang yang bawa bawa agama biasanya mau nipu, nastak umumnya punya opini yang negative tentang politikus yang bawa bawa agama.
Kalo kamu bayar uang ke orang lain untuk beli barang. Kamu percaya kwitansi atau sumpah? Ya kwitansi dong. Bank bank di indo percaya password yang dienscrypsy atau "ketaqwaan" pegawai bank? Ya komputer lah.
Justru kalo orang nggak mau kasih kwitansi lalu mulai sumpah sumpah demi Allah segala macem kita langsung tau itu kasus.
Ya jelas lah. Korupsi di negara islam lebih tinggi. Di negara mana agama bisa menurunkan korupsi? Ahok dengan system e-budgetingnya bisa menghilangkan korupsi. Tapi kalo seluruh rakyat dididik agama dari kecil sampe gede, yang ada korupsi makin naik. Mengapa? Karena korupsi itu phenomena politik dan ekonomi. Itu sudah wilayah science.
Makin orang peduli ama agama makin mereka tidak bisa melihat hubungan sebab akibat ekonomi yang mengakibatkan korupsi. Makin gampang orang ditipu oleh politikus.
Kita nggak perlu agama lagi buat melawan korupsi. Justru agama akan menganjurkan rakyat untuk memilih strategy yang memudahkan korupsi. Yang bisa bayar pemimpin agama kan pejabat dan pejabat kan koruptor.
Dari ilmu ekonmi kita tau kalo orang memaksimalkan keuntungan diri sendiri. Apapun yang membuat kekuasaan pemerintah lebih besar hanya akan memperkaya pejabat. Ya korupsi lah. Khilafah lah. Raja lah. Diktator lah. Perijinan lah. Kriminalisasi pramuriaan dan narkoba lah. Semua sama. Kekuasaan pejabat lebih gede ujung ujungnya duit.
Berapa besar pajak yang bisa diterima negara bila usul Ahok legalisasi pramuriaan dilaksanakan? Tapi semua duit itu, karena agama, tidak jatuh ke tangan rakyat tapi jatuh ketangan polisi yang bisa pakai hukum untuk memeras panti pijat. Gimana koruptor itu bisa meyakinkan rakyat untuk melarang pramuriaan? Agama lagi agama lagi agama lagi.
Minuman keras bisa dipajaki. Duit masuk kantong negara. Oh tidak. Ormas seperti FPI bisa seenaknya menghancurkan minuman keras dan polkis (yang tentu kebagian duit) diam saja. Itu yang terjadi sebelum jaman Ahok. Akhirnya dit minuman keras jatohnya bukan ke negara kita tapi ya ke koruptor lagi.
Gw denger itu abis ancur ancurin minuman keras, anggota FPInya kemudian pake minuman yang mereka rampas buat minum minum. Iya polisi tentu diam saja. Pengusaha kecil jadi bayar uang perlindungan. Yang lain nyogok.
Udah tau sama tau lah. Korupsi tinggi, kita tidak akan pernah bisa menegakkan kepala dan bilang, saya tidak melanggar hukum saya tidak perlu takut apapun. Korupsi tinggi artinya kalau kita punya duit kita bisa diperas dengan berbagai cara.
Kalo kamu pengusaha, lalu kamu liat toko teman kamu dihancurkan oleh FPI lalu kamu pikir ini murni agama, tidak ada unsur politis dan ekonomi, kamu pasti bangkrut. Semua udah tau, ini ujung ujungnya duit.
Solusinya gimana? Ya legalkan saja minuman keras pajaki. Larang ormas main hakim sendiri. Memang kalau dilarang itu hilang? Jangankan beer. Narkoba aja bisa didapat dimana mana. Ya nyetor lah.
Lho kok kita mau melarang minuman keras? Agama lagi agama lagi agama lagi.
Dalam hal ini, agama sudah seperti menjadi "musuh" buat banyak orang yang ingin memakmurkan rakyat. Setiap kali agama menganjurkan sesuatu, ujung ujungnya pejabat makin kaya rakyat makin miskin. Agama, menurut science, pro "status quo". Dan status quo di indo ya korupsi tinggi.
Ya tentu saja banyak nastak anti agama terutama islam. Banyak dari mereka tidak ingin agama hilang. Merekapun beragama. Tapi tentu mereka ingin agama jadi ranah pribadi saja supaya mereka tidak harus peduli agama ada lagi.
Bisa jadi banyak nastak malah lebih beriman dari nasbung. Ya mereka mau bebas beragama sesuai kepercayaan mereka. Bukan sesuai apa yang koruptor ingin mereka percaya.
Agama yang betul betul jadi ranah private adalah agama yang mandul. Agama yang tidak bisa dipaksakan ke orang lain lagi. Orang tinggal tidak peduli, sudah, hilang deh agamanya. Lama lama yang beragama makin sedikit seperti di eropa..
Apakah nasbung anti kemakmuran? Bisa jadi. You see, Ahok tidak memusuhi orang islam. Tapi orang seperti Ahok adalah musuh terbesar dari orang orang yang mau membuat islam lebih berperan dalam politik. Gimana tidak? Politikus yang kebetulan tapir terbukti kerja lebih beres, lebih rajin, dan lebih bersih dari gubernur sebelumnya dan bedanya jauh.
Kalao ideology bisa perang, atau paling tidak saingan, musuh utama dari ideology negara islam adalah ideology lain yang jelas jelas memberi hasil yang nyata. Demokrasi, mekanisme pasar, sekularisme dan lain lain.
Justru apapun yang memakmurkan seseorang tanpa perlu agama akan membuat agama tidak terpakai lagi.
Ibaratnya kamu punya toko. Yang paling merugikan kamu adalah toko lain yang jualan yang sama dan lebih bagus. Toko lain yang tidak bagus justru malah tidak masalah.
Kalo Ahok tidak populer dia tidak akan terlalu dimusuhi. Kalau keturunan Muhamad tidak populer, mereka tidak akan dibunuh oleh khalifah khalifah Sunni. Kalo Novel bisa disogok, dia tidak akan disiram air keras. Kalo antasari bisa disogok, dia tidak akan dipenjara. Orang seperti Antasari, 10 m masak nggak dapet? Dengan duit segitu, berapa banyak bidadari yang dia bisa beli?
Justru karena ada orang orang yang paling tidak dianggap baik oleh banyak orang, terlalu baik, terlalu berprestasi, terlalu bersih itulah, makanya orang yang mau nyolong duit kita ingin menyingkirkan dan menyelakakan mereka.
Dulu agama mungkin bermanfaat. Arab bisa bersatu, bisa menang perang, dan pernah lebih makmur dari eropa dan cina. Orang kristen bisa menangkis penjajahan islam karena beragama juga. Kita berhasil merdeka kemungkina ya karena agama juga.
Sekarang? Sekarang negara islam yang kaya hanya negara minyak. Itu juga duitnya sering dikuasai rajanya. Pengecualian ya UAE yang pasar bebas.
Negara yang menghormati ulamanya, seperti nasihat si Anies, seperti Afganistan, di bomb ama negara yang menghargai engineernya dan scientistnya. Lalu pejabat mereka disetir, diatur, dan disogok, oleh perusahaan negara negara tapir yang menghargai pengusahanya.
Nasbung nggak usah khawatir Amerika akan intervensi ke negara kita untuk membebaskan Ahok. Amerika nggak sebaik itu. Yang ada kalo Ahok dan Jokowi lengser, Donald Trump dan teman temannya akan dengan senang hati menyogok pejabat kita dan mengambil uang kita. Orang yang 6 bulan lalu bilang tidak boleh bersekutu dengan tapir akan dengan senang hati mendapat sogokan dari tapir tapir.
Kalo bersaing secara hasil, ideology negara islam, amat dirugikan oleh ideology sekuler. Jelas hasilnya beda. Satu satunya cara untuk mendukung ideology negara islam adalah dengan menentang apapun yang lebih membuat kita lebih makmur tanpa islam.
Akhirnya perbedaan yang tadinya sedikit, sama sama mau makmur menjadi beda besar. Hanya karena perbedaan nilai sedikit. Nastak lebih prefer kemakmuran negara dari agama. Nasbung lebih prefer agama dari pada kemakmuran negara. Perbedaan sedikit jadi perbedaan besar.
Hmmm...
Ada analisa matematisnya nggak ya?
Yah saya kira kita punya kepentingan. Kepentingan kita kadang searah kadang berlawanan. Kita selalu menonjolkan yang searahnya seolah olah kita teman sehidup semati. Tapi kenyataannya kepentingan kita sering berlawanan.
Dan itulah yang terjadi.
You see. Di demokrasi, 2 kandidate biasanya agak kembar dalam banyak hal lain. Jadi untuk vote, mereka selalu berusaha membedakan diri. Memilih sesuatu yang kita memang nggak setuju.
Ibaratnya toko. Ada 2 toko bakmi. Kalo 2 toko bakmi itu bersaing harga, harga bakmi murah. Konsumen untung. Produsen rugi. Toko bakmi kemudian harus menurunkan harga.
Demikian dengan politik. Kalau nastak dan nasbung tujuannya sama atau searah, korupsi turun. Politikus harus menurunkan harga. Yang korupsinya paling dikit menang. Lama lama korupsi hilang. Ini menguntungkan rakyat tapi merugikan politikus. Majoritas rakyat tidak mengerti politik kok. Politikus yang bisa membohongi rakyat bisa dapet duit banyak. Ngapain korupsi ilang?
Jadi kalau saya politikus gimana?
Di amrik, ada 2 kubu, demokrat dan republikan. Yang satu pro choice. Yang satu pro life. Artinya? Yang satu pro kebebasan wanita untuk memilih aborsi. Yang satu melarang wanita untuk aborsi. Kira kira begitu.
Dua duanya punya persamaan. Sama sama mau menghargai hidup dan kebebasan orang lain. Yang satu berpikir kebebasan lebih penting. Yang satu berpikir hidup lebih penting.
Paling tidak di permukaanya.
Pernah mikir nggak kalau yang pro choice itu sebetulnya anti life? Iya lah. Banyak cw miskin. Ngapain lagi mereka bikin anak banyak banyak. Banyark cw tentu lebih ingin tidak punya anak dan tetap bersenang senang sepanjang hidupnya dari pada harus bersuami.
Dan nasbung di sono? Emang mereka peduli ama jabang bayi yang dibunuh? Tentu tidak. Konservative di sono cenderung pro hukuman mati, pro perang, dan pro banyak hal yang tidak menghargai kehidupan. Mereka juga anti welfare dan prefer orang yang nggak punya kerjaan mati kelaparan saja.
Lepas dari itu salah atau benar. Ngapain orang yang sedemikian tidak pedulinya ama nasib orang lain peduli ama nasib bayi yang belum lahir?
Sampai ada kartun lelucon. Pro life itu artinya pro kehidupan sampai si bayi lahir. Begitu bayinya lahir, mau kelaparan ya nasib. Welfare kan tidak adil menurut golongan konservative. Jadi solusi untuk mengurangi kemiskinan, yaitu aborsi, malah dilarang.
Karena nasbung di sono bukan pro life. Mereka just anti choice. Alasan utama cw aborsi adalah hamil diluar nikah. Dengan melarang aborsi nasbung disono ingin mencegah sex diluar nikah. Ini konsistent dengan tindakan mereka yang lain. Konservative di amrik juga anti pornography dan sex diluar nikah.
Mereka memang anti choice dan kebebasan individu.
Tentu saja ada golongan moderate di Amerika. Mereka disebut libertarian.
Kembali ke nasbung dan nastak indo.
Apakah nasbung anti kemakmuran dan nastak anti islam?
Kelihatannya di permukaan tidak.
Nastak ingin negara kita makmur. Karena majoritas orang indonesia islam, artinya ya orang islam juga yang makmur dan maju. Nasbung ingin orang islam maju, sesuatu yang akan terjadi kalau negara kita makmur.
Masalahnya satu. Kalau suatu politikus ingin memakmurkan negara, politikus itu nggak perlu bawa bawa agama lagi. Mengapa?
Karena kemakmuran ekonomi itu bukan surga dan neraka. Kemakmuran ekonomi itu sudah wilayah science. Ini mengapa role dari agama makin lama makin kecil kalau urusan kemakmuran, pengurangan korupsi, sogokan dan lain lain. Dulu kita mungkin perlu agama untuk meyakinkan orang kalau komunisme itu ngaco. Dulu belum ada bukti kalau capitalisme kick ass.
Sekarang kita tidak perlu bukti lagi kalau mekanisme pasar, hilangnya korupsi, dan lain lain akan buat kita makmur. Ada banyak ahli ekonomi dan hasil hasil yang jelas menunjukkan apa jalan kemakmuran. Lihat saja singapore sekarang makmur. Lihat saja korea utara dan korea selatan.
Kita tiru saja.
Orang yang jujur, nggak perlu bawa bawa agama lagi. Mereka punya bukti. Jadi kalo orang masih bawa bawa agama, ngapain itu orang?
Nipu?
Tentu saja.
Orang seperti Jokowi dan Ahok bisa jadi lebih beriman kepada Tuhan (apapun agamanya) dari pada duit di dunia. Kalo mereka mau korupsi bisa. Tapi mereka lebih ingin rejeki di surga dari pada duit haram di indo.
Banyak orang yang beragama, majoritas pejabat lain, tidak segan segan pakai quran buat korupsi. MUI misalnya, adalah suatu organisasi yang sering disebut suka memeras pengusaha. Konon banyak sertifikat halal MUI itu dicabut bukan karena halal atau haramnya tapi karena sudah nggak sajen lagi ke MUI. Waktu negara makin sekuler, makin agama jadi wilayah private, MUI duitnya makin dikit.
Tentu saja MUI bela "agama". Ingin agama campur politik.
Si rizieq punya piaraan. Dia nggak patuh ama agamanya. Alumni 212 belain Hary tanoe dan bersekutu dengan tapir. Ntar kalo duit freeport ditawarin juga mereka tidak akan segan menghianati sesama muslim untuk membantu tapir freeport.
Orang yang korupsi pake agama. Orang yang khotbah bawa bawa agama lalu punya piaraan. Orang orang itu apa menghormati Tuhan? Kalo Tuhannya ada beneran gimana?
Karena orang yang bawa bawa agama biasanya mau nipu, nastak umumnya punya opini yang negative tentang politikus yang bawa bawa agama.
Kalo kamu bayar uang ke orang lain untuk beli barang. Kamu percaya kwitansi atau sumpah? Ya kwitansi dong. Bank bank di indo percaya password yang dienscrypsy atau "ketaqwaan" pegawai bank? Ya komputer lah.
Justru kalo orang nggak mau kasih kwitansi lalu mulai sumpah sumpah demi Allah segala macem kita langsung tau itu kasus.
Ya jelas lah. Korupsi di negara islam lebih tinggi. Di negara mana agama bisa menurunkan korupsi? Ahok dengan system e-budgetingnya bisa menghilangkan korupsi. Tapi kalo seluruh rakyat dididik agama dari kecil sampe gede, yang ada korupsi makin naik. Mengapa? Karena korupsi itu phenomena politik dan ekonomi. Itu sudah wilayah science.
Makin orang peduli ama agama makin mereka tidak bisa melihat hubungan sebab akibat ekonomi yang mengakibatkan korupsi. Makin gampang orang ditipu oleh politikus.
Kita nggak perlu agama lagi buat melawan korupsi. Justru agama akan menganjurkan rakyat untuk memilih strategy yang memudahkan korupsi. Yang bisa bayar pemimpin agama kan pejabat dan pejabat kan koruptor.
Dari ilmu ekonmi kita tau kalo orang memaksimalkan keuntungan diri sendiri. Apapun yang membuat kekuasaan pemerintah lebih besar hanya akan memperkaya pejabat. Ya korupsi lah. Khilafah lah. Raja lah. Diktator lah. Perijinan lah. Kriminalisasi pramuriaan dan narkoba lah. Semua sama. Kekuasaan pejabat lebih gede ujung ujungnya duit.
Berapa besar pajak yang bisa diterima negara bila usul Ahok legalisasi pramuriaan dilaksanakan? Tapi semua duit itu, karena agama, tidak jatuh ke tangan rakyat tapi jatuh ketangan polisi yang bisa pakai hukum untuk memeras panti pijat. Gimana koruptor itu bisa meyakinkan rakyat untuk melarang pramuriaan? Agama lagi agama lagi agama lagi.
Minuman keras bisa dipajaki. Duit masuk kantong negara. Oh tidak. Ormas seperti FPI bisa seenaknya menghancurkan minuman keras dan polkis (yang tentu kebagian duit) diam saja. Itu yang terjadi sebelum jaman Ahok. Akhirnya dit minuman keras jatohnya bukan ke negara kita tapi ya ke koruptor lagi.
Gw denger itu abis ancur ancurin minuman keras, anggota FPInya kemudian pake minuman yang mereka rampas buat minum minum. Iya polisi tentu diam saja. Pengusaha kecil jadi bayar uang perlindungan. Yang lain nyogok.
Udah tau sama tau lah. Korupsi tinggi, kita tidak akan pernah bisa menegakkan kepala dan bilang, saya tidak melanggar hukum saya tidak perlu takut apapun. Korupsi tinggi artinya kalau kita punya duit kita bisa diperas dengan berbagai cara.
Kalo kamu pengusaha, lalu kamu liat toko teman kamu dihancurkan oleh FPI lalu kamu pikir ini murni agama, tidak ada unsur politis dan ekonomi, kamu pasti bangkrut. Semua udah tau, ini ujung ujungnya duit.
Solusinya gimana? Ya legalkan saja minuman keras pajaki. Larang ormas main hakim sendiri. Memang kalau dilarang itu hilang? Jangankan beer. Narkoba aja bisa didapat dimana mana. Ya nyetor lah.
Lho kok kita mau melarang minuman keras? Agama lagi agama lagi agama lagi.
Dalam hal ini, agama sudah seperti menjadi "musuh" buat banyak orang yang ingin memakmurkan rakyat. Setiap kali agama menganjurkan sesuatu, ujung ujungnya pejabat makin kaya rakyat makin miskin. Agama, menurut science, pro "status quo". Dan status quo di indo ya korupsi tinggi.
Ya tentu saja banyak nastak anti agama terutama islam. Banyak dari mereka tidak ingin agama hilang. Merekapun beragama. Tapi tentu mereka ingin agama jadi ranah pribadi saja supaya mereka tidak harus peduli agama ada lagi.
Bisa jadi banyak nastak malah lebih beriman dari nasbung. Ya mereka mau bebas beragama sesuai kepercayaan mereka. Bukan sesuai apa yang koruptor ingin mereka percaya.
Agama yang betul betul jadi ranah private adalah agama yang mandul. Agama yang tidak bisa dipaksakan ke orang lain lagi. Orang tinggal tidak peduli, sudah, hilang deh agamanya. Lama lama yang beragama makin sedikit seperti di eropa..
Apakah nasbung anti kemakmuran? Bisa jadi. You see, Ahok tidak memusuhi orang islam. Tapi orang seperti Ahok adalah musuh terbesar dari orang orang yang mau membuat islam lebih berperan dalam politik. Gimana tidak? Politikus yang kebetulan tapir terbukti kerja lebih beres, lebih rajin, dan lebih bersih dari gubernur sebelumnya dan bedanya jauh.
Kalao ideology bisa perang, atau paling tidak saingan, musuh utama dari ideology negara islam adalah ideology lain yang jelas jelas memberi hasil yang nyata. Demokrasi, mekanisme pasar, sekularisme dan lain lain.
Justru apapun yang memakmurkan seseorang tanpa perlu agama akan membuat agama tidak terpakai lagi.
Ibaratnya kamu punya toko. Yang paling merugikan kamu adalah toko lain yang jualan yang sama dan lebih bagus. Toko lain yang tidak bagus justru malah tidak masalah.
Kalo Ahok tidak populer dia tidak akan terlalu dimusuhi. Kalau keturunan Muhamad tidak populer, mereka tidak akan dibunuh oleh khalifah khalifah Sunni. Kalo Novel bisa disogok, dia tidak akan disiram air keras. Kalo antasari bisa disogok, dia tidak akan dipenjara. Orang seperti Antasari, 10 m masak nggak dapet? Dengan duit segitu, berapa banyak bidadari yang dia bisa beli?
Justru karena ada orang orang yang paling tidak dianggap baik oleh banyak orang, terlalu baik, terlalu berprestasi, terlalu bersih itulah, makanya orang yang mau nyolong duit kita ingin menyingkirkan dan menyelakakan mereka.
Dulu agama mungkin bermanfaat. Arab bisa bersatu, bisa menang perang, dan pernah lebih makmur dari eropa dan cina. Orang kristen bisa menangkis penjajahan islam karena beragama juga. Kita berhasil merdeka kemungkina ya karena agama juga.
Sekarang? Sekarang negara islam yang kaya hanya negara minyak. Itu juga duitnya sering dikuasai rajanya. Pengecualian ya UAE yang pasar bebas.
Negara yang menghormati ulamanya, seperti nasihat si Anies, seperti Afganistan, di bomb ama negara yang menghargai engineernya dan scientistnya. Lalu pejabat mereka disetir, diatur, dan disogok, oleh perusahaan negara negara tapir yang menghargai pengusahanya.
Nasbung nggak usah khawatir Amerika akan intervensi ke negara kita untuk membebaskan Ahok. Amerika nggak sebaik itu. Yang ada kalo Ahok dan Jokowi lengser, Donald Trump dan teman temannya akan dengan senang hati menyogok pejabat kita dan mengambil uang kita. Orang yang 6 bulan lalu bilang tidak boleh bersekutu dengan tapir akan dengan senang hati mendapat sogokan dari tapir tapir.
Kalo bersaing secara hasil, ideology negara islam, amat dirugikan oleh ideology sekuler. Jelas hasilnya beda. Satu satunya cara untuk mendukung ideology negara islam adalah dengan menentang apapun yang lebih membuat kita lebih makmur tanpa islam.
Akhirnya perbedaan yang tadinya sedikit, sama sama mau makmur menjadi beda besar. Hanya karena perbedaan nilai sedikit. Nastak lebih prefer kemakmuran negara dari agama. Nasbung lebih prefer agama dari pada kemakmuran negara. Perbedaan sedikit jadi perbedaan besar.
Hmmm...
Ada analisa matematisnya nggak ya?
Yah saya kira kita punya kepentingan. Kepentingan kita kadang searah kadang berlawanan. Kita selalu menonjolkan yang searahnya seolah olah kita teman sehidup semati. Tapi kenyataannya kepentingan kita sering berlawanan.
Dan itulah yang terjadi.
Diubah oleh shouphello 07-08-2017 02:22
anasabila memberi reputasi
1
5.9K
40
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Citizen Journalism
16.6KThread•15.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya