News
Batal
KATEGORI
link has been copied
303
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/597864c99e740468228b4569/langkah-yohanes-surya-mengatasi-krisis-universitas-surya
Masalah krisis keuangan Universitas Surya sudah dicoba diatasi dengan berbagai cara oleh Yohanes Surya. Pendiri sekaligus rektor perguruan tinggi yang berada di Gading Serpong,
Lapor Hansip
26-07-2017 16:45

Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya

Past Hot Thread
Quote:Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya

TEMPO.CO, Jakarta - Masalah krisis keuangan Universitas Surya sudah dicoba diatasi dengan berbagai cara oleh Yohanes Surya. Pendiri sekaligus rektor perguruan tinggi yang berada di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten, itu di antaranya membentuk tim restrukturisasi, efisiensi, dan optimalisasi.

Langkah perbaikan itu dilakukan sejak Oktober 2014. Tim penyelamat beranggotakan lima pejabat universitas, yang tugas utamanya menyelaraskan kemampuan keuangan kampus dengan beban gaji dan biaya operasional perkuliahan. Salah satu rekomendasi pertama tim ini adalah pengurangan jumlah dosen dan penurunan nilai gaji mereka. Realisasinya, ada dosen yang gajinya kemudian dipotong drastis hingga tersisa Rp 3 juta per bulan. Sebagian dosen lain hanya dibayar berdasarkan jumlah mata kuliah yang diajarkan di kampus.

Namun, sampai saat ini manajemen kampus masih terjerat utang bank senilai Rp 16 miliar. Utang itu muncul akibat dari kredit tanpa agunan untuk program student loan yang pengajuannya dilakukan orang tua mahasiswa. Berdasarkan data Bank Mandiri, nilai student loan yang dihimpun Universitas Surya mencapai Rp 43,5 miliar dari 300 orang tua. Jumlah itu sekitar seperempat dari jumlah total mahasiswa 1.247 orang. Masalahnya, ketidakmampuan kampus membayar ikut menyeret orang tua mahasiswa.

Rekomendasi tim menyulut keriuhan baru. Sebagian dosen menolak peraturan sepihak itu. Ditanyai soal ini, Yohanes Surya menampik tudingan sudah menipu dosennya sendiri. Dia mengakui kampusnya terpaksa mengurangi gaji dosen karena tak mampu lagi membayar mereka. “Menipunya di mana? Kami sampai jual aset. Ya, tentu kami kurangi, dong,” kata Yohanes saat ditemui tim investigasi Tempo pada pertengahan Juni 2017.

Bukan hanya mengurangi gaji, Yohanes mengaku memberhentikan sebagian dosen. Mereka yang tak diberhentikan memilih hengkang. Dari 200 doktor yang direkrut Yohanes, kini tersisa sekitar 20 orang. Sebagian doktor itu kembali berpencar di segenap penjuru dunia. Ada pula yang memilih menetap di Indonesia, bekerja serabutan, sembari menunggu kesempatan yang lebih baik. Mereka rata-rata bergelar doktor atau doctor of philosophy.

Rekrutmen yang impresif ini tak bisa lepas dari nama besar Yohanes Surya. Pada 2010, Yohanes mengirim surat elektronik ke grup Diaspora Indonesia. Dia mengundang para doktor Indonesia di luar negeri agar pulang ke Tanah Air. Mula-mula mereka diajak mengajar di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya, kampus yang didirikan Yohanes untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Papua.

Pada 2013 Yohanes mendirikan Universitas Surya. Bersamaan dengan itu, ia meluncurkan program Indonesia Jaya, yaitu ikhtiar untuk mendidik sarjana yang jago sains dengan membangun kampus berbasis riset. Dia kemudian kembali mengundang para ilmuwan dan peneliti di luar negeri untuk bergabung dengan kampus baru ini. Kepada mereka dijanjikan gaji Rp 20-35 juta per bulan serta kampus dengan laboratorium berstandar internasional.

“Saya tertarik dengan visi Profesor Yohanes untuk memajukan Indonesia,” kata Rifki Muhida, peraih gelar doktor fisika terapan dari Universitas Osaka, Jepang, yang kini mengajar di International Islamic University Malaysia. Rifki sempat menjadi dosen di STKIP Surya sebelum dipindahkan ke Universitas Surya.

Sumber : https://nasional.tempo.co/read/news/...versitas-surya



Quote:Begini Mimpi Yohanes Surya Mendirikan Universitas Surya

Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
Suasana belajar mahasiswa Surya University di salah satu ruangan Gedung Unity, Jalan Gading Serpong, Tangerang, 22 Mei 2017. Tempo/Mustafa Silalahi

TEMPO.CO, Jakarta - Profesor Yohanes Surya, Ph.D., mendirikan Universitas Surya pada 2013. Ditemui Tempo pada pertengahan Juni lalu di ruang kerjanya, Rektor Universitas Surya ini berharap kampusnya bisa ikut memajukan Indonesia. "Saya menginginkan universitas ini berdiri supaya Indonesia bisa maju dalam riset," kata Yohanes Surya.

Sejak awal, Yohanes Surya menyadari bahwa membangun universitas berbasis riset sangat mahal. "Orang bilang impian saya muluk-muluk," ujarnya.

Yohanes Surya mengatakan kampus itu juga didirikannya untuk mewujudkan mimpi "Indonesia Jaya 2030". Maka, dia mengundang banyak doktor Indonesia yang berada di luar negeri untuk bergabung dan mengajar di Universitas Surya. Tercatat sekitar 200 doktor mengajar awal kampus berdiri.

Yohanes Surya mengaku punya hitungan sendiri untuk mengatasi mahalnya universitas berbasis riset. Dia menargetkan ada 3 ribu mahasiswa bergabung. Dengan biaya kuliah Rp 3 juta per bulan, kata Yohanes, kampus bisa berpenghasilan Rp 9 miliar per bulan. "Gaji 200 doktor sekitar Rp 6 miliar, masih sisa Rp 2-3 miliar, harusnya bisa jalan untuk operasional," katanya.

Nyatanya, perhitungan itu meleset. Jumlah mahasiswa Universitas Surya hingga lima tahun berdiri hanya 1.247 orang. Alih-alih mendapat penghasilan, kampus itu malah terjerat utang kredit tanpa agunan ke Bank Mandiri. Data di Mandiri menunjukkan Universitas Surya masih belum membayar utang kredit sekitar Rp 16 miliar.

Masalahnya, KTA itu diajukan atas nama 300-an orang tua mahasiswa. Sebagian di antaranya kini ditagih oleh Bank Mandiri dan berstatus collect 5 alias memiliki kredit macet. Orang tua pun marah terhadap Yohanes Surya karena ketidakmampuan kampus membayar KTA membuat orang tua tercatat memiliki utang di bank. Sebagian di antaranya memilih memindahkan anak-anaknya ke kampus lain.

Sri Suri, orang tua mahasiswa teknik fisika angkatan 2014, salah satunya. Menurut Sri Suri, dia diwajibkan menandatangani formulit pengajuan KTA berupa student loan senilai Rp 144 juta. "Katanya hanya formalitas karena kampuslah yang akan membayar," katanya. Suami Sri Suri yang menandatangani formulir KTA itu kini berstatus collect 5 karena Universitas Surya tak mampu membayar KTA tersebut.

Tak hanya ditinggalkan mahasiswa, Universitas Surya juga ditinggalkan banyak dosen. Dari sekitar 200 doktor, tersisa 20-an orang. Kebanyak dosen memilih keluar karena telat menerima gaji, bahkan ada pula yang tak menerima gaji selama berbulan-bulan.

Yohanes Surya mengaku salah berhitung. "Waktu itu saya pikir dengan student loan (KTA) akan lancar. Tidak tahu ke sininya mandek. Kalau tahu bakal seperti ini, enggak usah pakai student loan," ujarnya. Tapi sebagian orang tua yang ditemui Tempo mengaku sudah tertipu. "Katanya beasiswa, tapi ujung-ujungnya malah saya dianggap punya utang di bank," kata Sri Suri.

Para dosen dan mantan dosen yang ditemui Tempo pun merasa ditipu oleh Profesor Yohanes Surya. Diiming-imingi gaji Rp 20 juta-30 juta, sebagian di antaranya malah tak menerima gaji yang dijanjikan.

Sumber : https://nasional.tempo.co/read/news/...versitas-surya




Quote:Pahit Getir Dosen Universitas Surya Bergaji Rp 30 Juta

Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya

TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 200 ilmuwan dan peneliti mumpuni terbujuk menjadi dosen Universitas Surya. Belakangan, hampir semua mundur menyusul krisis keuangan perguruan tinggi yang didirikan ahli fisika, Yohanes Surya. Manajemen Universitas Surya terjerat utang kredit tanpa agunan di Bank Mandiri sebesar Rp 16 miliar.

Akibat utang itu, gaji dosen banyak yang tertunda pembayarannya. Bahkan ada gaji dosen yang dipangkas hanya tinggal beberapa juta rupiah dari sekitar Rp 30 juta gaji per bulan yang dijanjikan. Hoya B.P Hutagalung alias Rita Sihite, dosen ilmu musik, mengaku, sesuai dengan kontrak, seharusnya dia mendapat gaji Rp 30 juta per bulan. Rita mengalami kejadian itu dua tahun lalu. “Waktu itu, gaji saya belum dibayar,” kata Rita saat ditemui Tempo belum lama ini.

Usaha Rita menagih gaji dilakukan dengan susah payah karena ketika itu sangat membutuhkan uang untuk penyembuhan suaminya yang mengidap kista. Di antaranya mengirim surat elektronik kepada Hana Surya, Ketua Yayasan Surya Institute—yayasan yang tercatat sebagai pemilik dan pengelola Universitas Surya.

Hana adalah saudara kandung Yohanes Surya, pendiri sekaligus Rektor Universitas Surya. Dalam surat itu, Rita menjelaskan situasinya dan memohon agar yayasan secepatnya membayar gajinya. Upaya ini pun tak membuahkan hasil. Akhirnya, teman-teman Rita datang membantu. Mereka urunan membiayai operasi itu. “Saya juga dibantu oleh keluarga,” ujarnya.

Awal tahun lalu, suami Rita divonis menderita katarak dan butuh segera dioperasi. Lagi-lagi, Rita mengirim surat kepada Yohanes dan Hana Surya agar kampus melunasi gajinya sebagai dosen. Penghasilan sang suami hanya dari uang pensiun. Jawaban Universitas Surya sama saja: kampus tak sanggup memenuhi keinginan tersebut. Sampai sekarang, indra penglihatan suami Rita belum dioperasi.

Rita semula bekerja sebagai dosen Universitas Pelita Harapan di Tangerang. Posisinya cukup tinggi di sana. Terakhir, dia menjabat Dekan Fakultas Ilmu Musik. Dia tertarik pindah ke Universitas Surya pada 2013 karena iming-iming gaji besar. Menurut Rita, Yohanes sendiri yang mengajaknya bergabung. Kebetulan keduanya saling kenal karena pernah sama-sama menjadi dosen di Universitas Pelita Harapan. Jabatan terakhir Yohanes di Universitas Pelita Harapan, pada 2004, adalah Dekan Fakultas Sains dan Matematika.

Ketika dimintai konfirmasi, Yohanes Surya membenarkan kabar bahwa kampus yang dia pimpin memang sempat terlambat membayar gaji dosen. Tapi dia mengklaim gaji dosen Universitas Surya yang tertunggak kini sudah mulai dibayar secara bertahap. “Banyak dosen sudah pada dicicilin gajinya. Memang belum seluruhnya,” kata Yohanes ketika ditemui di kampusnya di Gedung Unity, kawasan Gading Serpong, Tangerang, pada Juni lalu.


Quote:Kisah Rektor Universitas Surya Ditinggal Dosen dan Mahasiswanya

TEMPO.CO, Jakarta - Ditinggalkan banyak dosen dan mahasiswa, pemilik sekaligus rektor Universitas Surya, Profesor Yohanes Surya, optimistis manajemen kampusnya segera keluar dari krisis keuangan. Ditemui Tempo di ruang kerjanya pada pertengahan Juni lalu, doktor lulusan College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat, ini yakin kampusnya bakal bangkit kembali. “Sebentar lagi masalah ini akan selesai,” kata Yohanes.

Kampus Universitas Surya, yang berada di kawasan Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten, beroperasi pada 2013. Perguruan tinggi swasta ini tengah terjerat utang kredit tanpa agunan di Bank Mandiri Rp 16 miliar. Berikut ini petikan wawancara Tempo dengan Yohanes Surya. Wawancara lengkapnya baca majalah Tempo edisi pekan ini, 24-30 Juli 2017.

Universitas Surya memperoleh dana lewat KTA student loan atas nama orang tua mahasiswa dari Bank Mandiri, tapi orang tua tidak menyadari itu.
Saya mendapat info soal KTA ini bahwa ada satu universitas yang pernah melakukannya. Saya pikir ini ada baiknya. Lalu saya minta tim marketing mengurusnya. Saya kurang tahu di lapangan seperti apa. Setahu saya, ada penjelasan dari Mandiri, tapi mungkin ada orang tua yang tidak mendapat penjelasan.

Dalam perjanjian kerja sama tentang student loan, justru yang bertanda tangan adalah PT Surya Research International (SRI) dan Bank Mandiri.
Iya, benar. Memang Bank Mandiri tidak bisa melakukan perjanjian dengan Yayasan Surya Institute. Kami pinjam PT SRI untuk melakukan kerja sama ini. Kami harus melakukannya untuk mendapatkan student loan.

Kenapa kampus tidak menyiapkan dana sejak awal?
Kami memang punya gedung. Waktu itu, kami pikir ada universitas yang pernah melakukan student loan, kami coba. Ini bisa ditanyakan ke Bank Mandiri.

Apa pertimbangan Anda memilih membayar gaji dosen dengan student loan?
Kami punya sumber-sumber, gedung dijaminkan, mendapat pinjaman dari bank, itu satu alternatif. Ketika ada student loan, kami pikir jalan dengan Mandiri akan lancar. Namun ternyata ke sininya mandek. Kalau tahu akan seperti ini, enggak usah pakai student loan.

Mengapa menggunakan PT SRI saat mengurus student loan?
Pembicaraan tim marketing kami dengan Bank Mandiri memang bisa. Logikanya, pasti semua pihak sudah setuju. Sebenarnya PT SRI yang cari dana men-support Yayasan, karena Yayasan Surya Institute rugi terus. Seperti Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surya, awalnya juga tidak mungkin hidup kalau tidak di-support PT SRI.

Dosen dan mahasiswa memilih meninggalkan kampus Universitas Surya?
Kami sudah bicarakan waktu perampingan dan restrukturisasi. Kami bilang, kami beresin dulu universitas, lalu kami cari gajinya. Sekarang sudah mulai dicicil, tapi belum seluruhnya.

Sumber : https://nasional.tempo.co/read/news/...n-mahasiswanya



Sangat disayangkan sekali kalau universitas ini terancam ditutup. semoga ada Investor yang masuk. gue liat visinya profesor surya padahal buat mendorong terciptanya private-research university pertama di indonesia.

Universitas2 bagus di amerika yang punya kualitas riset bagus kayak Stanford, MIT, Tufts, CalTech, serta Ivy league kayak Harvard, Yale, Brown, Dartmouth sama Penn malah didominasi private-funding. kalau disini yang swasta sibuk nyari duit, persetan dengan yang namanya riset. PTN yang fokus sama riset juga bisa diitung jari
Diubah oleh carlodes1
0
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 15 dari 16
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
29-07-2017 11:40
Saya doakan diberi jalan keluar terbaik utk universitas surya
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
29-07-2017 11:44
Harusnya dosennya diisi bertahap, jangan langsung 200 dosen
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
29-07-2017 12:10
Ya, jiwa pendidik jangan terjun bisnis. . .
Mending cari filantropist aja. .
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
29-07-2017 14:24
visi bagus, sayang tidak di-support dengan manajemen yang kurang baik dan itung2an yang kasar...
semoga bisa terus membangun pak...emoticon-Angkat Beer
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
29-07-2017 15:17
belajar dari univ pamulang gan emoticon-Wow
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
29-07-2017 16:41
3 juta sebulan? kampus ane dulu per semester cuma 1,8 emoticon-Stick Out Tongue
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
29-07-2017 17:09
Padahal kalau bisa diambil alih sama pemerintah buat dijadiin univ negeri pasti bisa langsung teratasi tuh masalah dana. bukan, bukan dari bantuan pemeri tahnya. tapi kaya yang kita tahu, universitas surya itu kualitasnya bener bener cakep. nah kalau dijadiin negeri yg notabenenya pasti tiap tahun bakal banyak aja yang daftar. dengan UKT dari mahasiswanya aja sudah cukup membantu menghadapi krisis
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
29-07-2017 21:59
satu lagi korban rentenir, dan sayangnya korbannya ini orang hebat...
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
30-07-2017 01:56
Duh kasian bapak ini padahal idenya mulia.

Tapi kayaknya emang Ph.D fisika gak cocok terjun buat universitas sendiri.
Kalo lulusan doktoral manajemen baru bisa. Nanti orang2 Ph.D fisika ini yang jadi dosen atau reseachernya.

Soalnya kalo doktoral itu pemikirannya objektif, kritis, analisisnya bagus, lebih bagus dari sarjana atau magister. Tapi gak tau lapangan. Apalagi lapangan yang bukan bidangnya, yaitu sebagai founder sebuah univ, yang tentunya butuh biaya banyak, manajemen yang matang, lobby dan negosiasi, promosi univ, dll. Yang tentunya tidak dipelajari oleh doktoral fisika. Jujur, gua aja gak tau Univ Surya itu ada. Padahal gua masih regional jakarta.


Sorry pak. Mungkin kali ini lu cuman bisa menyebar mimpi2 lu ke anak murid lu. Bukan membuat univ sendiri emoticon-Sorry
Diubah oleh kikvn
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
30-07-2017 17:59
ya biasanya orang2 tehnical itu pling gk suka d dikte sama orang manejemen
idealis nya terlalu universal
seperti universitas
greedy beud..
karuan institute klo nda sekolah tinggi emoticon-Smilie

Tpi gw selalu mendukung orang2 yg suka dgn tehnologi terapan

Gmn ya sekelas peneliti mah biasanya d blakang layar
Tdk terkenal tpi kontribusinya besar beud
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
30-07-2017 22:20
Quote:Original Posted By sidarwin
Sekolah dan kampus swasta di Indonesia sulit berkembang.

Kalau di amrik sekolah dan kampus terbaiknya justru yang swasta bukan negeri. Sekolah dan kampus negeri di Amrik kualitasnya standar khusus untuk warga kurang mampu

Maklum orang Indonesia banyak yang masih kere-kere, yang paling penting pendidikan murah, gak terlalu peduli sama fasilitasnya


Ngomong jangan sembarangan. Emang yang masuk PTN kere? Yg penting tuh punya otak! Kalo punya otak dan bisa ngerjain soal sbmptn lo bisa masuk ptn. Mau kere mau kaya kek. Lo pikir UI fasilitasnya jelek? ITB? UGM? Masih mau bilang PTN cuma untuk orang kere yg gak mikirin fasilitas? Tunjukin dulu coy minimal lo masuk ui kelas reguler deh baru boleh ngomong seenak jidatlu
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
30-07-2017 22:54
suramm
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
31-07-2017 09:33
Quote:Original Posted By LicaLika


Ngomong jangan sembarangan. Emang yang masuk PTN kere? Yg penting tuh punya otak! Kalo punya otak dan bisa ngerjain soal sbmptn lo bisa masuk ptn. Mau kere mau kaya kek. Lo pikir UI fasilitasnya jelek? ITB? UGM? Masih mau bilang PTN cuma untuk orang kere yg gak mikirin fasilitas? Tunjukin dulu coy minimal lo masuk ui kelas reguler deh baru boleh ngomong seenak jidatlu


Ane gak bilang yang masuk PTN kere.

Di Indonesia itu hanya ada sekolah yang hanya mengandalkan input (negeri) dan sekolah yang hanya mengandalkan fasilitas (swasta).

Jarang ada keduanya, sekolah yang mengandalkan input+fasilitas.

Karena masih banyak anak yang cerdas tapi kere di Indonesia.

Di Amerika, sekolah-sekolah Ivy League itu selain mengandalkan input juga mengandalkan fasilitas. Ivy League itu kampus swasta yang super mahal (bahkan tergolong termahal) karena fasilitasnya juga super mewah dan pengajarnya pun ahli2 terbaik, tapi anak-anak cerdas juga rebutan masuk ke sono.

Kalau di Indonesia anak-anak cerdas cenderung rebutan masuk sekolah yang paling murah. Bagi mereka yang penting bisa sekolah aje gak peduli fasilitas mewah.
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
31-07-2017 09:39
Wajar sekolah negeri output nya bagus karena inputnya sudah bagus.

Misal ada sekolah negeri kualitas inputnya 8 dan kualitas outputnya 10.

Kemudian ada sekolah swasta kualitas inputnya 5 dan kualitas outputnya 9





Kira-kira proses belajar mengajar yang manakah ya lebih baik? Yang swasta. Meski outputnya lebih buruk tapi peningkatan kualitas siswa nya lebih besar (9-5 = 4) ketimbang sekolah negeri (10-8 = 2)

Kalau ada siswa kualitas 8 yang masuk ke swasta mungkin kualitas outputnya menjadi 8 + 4 = 12
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
31-07-2017 09:44
Bandingkan fasilitas SMA swasta terbaik di Amerika dengan SMA negeri yang katanya terbaik di Indonesia (SMAN 8 Jakarta)

SMA swasta mahal terbaik di Amerika




SMA negeri murah meriah terbaik di Indonesia


Kacian deh anak-anak kere yang gak mampu sekolah di swasta mahal. emoticon-Ngakak
Diubah oleh sidarwin
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
31-07-2017 10:51
Mungkin masih jadi beban pikiran mayoritas orang ungkapan, "Buat apa sekolah mahal-mahal, ujung-ujungnya masih pada susah cari kerja".
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
31-07-2017 11:06
Quote:Original Posted By sidarwin


Ane gak bilang yang masuk PTN kere.

Di Indonesia itu hanya ada sekolah yang hanya mengandalkan input (negeri) dan sekolah yang hanya mengandalkan fasilitas (swasta).

Jarang ada keduanya, sekolah yang mengandalkan input+fasilitas.

Karena masih banyak anak yang cerdas tapi kere di Indonesia.

Di Amerika, sekolah-sekolah Ivy League itu selain mengandalkan input juga mengandalkan fasilitas. Ivy League itu kampus swasta yang super mahal (bahkan tergolong termahal) karena fasilitasnya juga super mewah dan pengajarnya pun ahli2 terbaik, tapi anak-anak cerdas juga rebutan masuk ke sono.

Kalau di Indonesia anak-anak cerdas cenderung rebutan masuk sekolah yang paling murah. Bagi mereka yang penting bisa sekolah aje gak peduli fasilitas mewah.


Jadi menurut lo PTN ngandeliin input? Fasilitasnya ga se oke PTS? Udah survey belom PTN mana di kota besar yang fasilitasnya jelek?

Anak2 indonesia yg cerdas rebutan masuk sekolah paling murah krn kere?
Helloooo PTN di Indonesia jalur reguler itu mudah banget masalah biaya. Di UI lo bisa bayar 0-7.5 juta. Segudang beasiswa dari pemerintahan dan perusahaan bertebaran. Sedangkan kalo di swasta lebih susah nyari beasiswa dan biaya jauh lebih mahal. Gausah swasta deh, ptn kelas paralel aja lebih susah nyarinya.

"Anak2 indonesia cenderung rebutan masuk sekolah paling murah. Gapeduli fasilitas mewah" HAHAHA
Gini ajadeh kalo lo mau masuk ptn. Perjuangannya ga gampang. Les mati2an. Belajar dll. Lo dpt deh fasilitas2 PTN termasuk bayaran yg gak terlalu berat.

Kalo lo males belajar. Gamau ribet. Tp masih mau kuliah. Yaudah masuk swasta.
Intinya gitu
Diubah oleh LicaLika
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
31-07-2017 11:10
Quote:Original Posted By LicaLika


Jadi menurut lo PTN ngandeliin input? Fasilitasnya ga se oke PTN? Udah survey belom PTN mana di kota besar yang fasilitasnya jelek?

Anak2 indonesia yg cerdas rebutan masuk sekolah paling murah krn kere?
Helloooo PTN di Indonesia jalur reguler itu mudah banget masalah biaya. Di UI lo bisa bayar 0-7.5 juta. Segudang beasiswa dari pemerintahan dan perusahaan bertebaran. Sedangkan kalo di swasta lebih susah nyari beasiswa dan biaya jauh lebih mahal. Gausah swasta deh, ptn kelas paralel aja lebih susah nyarinya.

"Anak2 indonesia cenderung rebutan masuk sekolah paling murah. Gapeduli fasilitas mewah" HAHAHA
Gini ajadeh kalo lo mau masuk ptn. Perjuangannya ga gampang. Les mati2an. Belajar dll. Lo dpt deh fasilitas2 PTN termasuk bayaran yg gak terlalu berat.

Kalo lo males belajar. Gamau ribet. Tp masih mau kuliah. Yaudah masuk swasta.
Intinya gitu


Pasti bocah baru diterima PTN kemaren nih.

Di dunia kerja status PTN PTS gak terlalu penting bre, yang penting akreditasi kampusnya, IPK lu, dan skill lu saat kerja.

Lu lulusan PTN kalo IPK di bawah 3 juga dianggap goblok sama perusahaan.

Lu lulusan PTN kalo jurusan geje juga gak ada perusahaan yang butuhin ilmu lu. Contoh jurusan geje: antropologi, sosiologi, sejarah

Apalagi kalo lu lulusan PTN tapi ansos gak punya temen.
Diubah oleh sidarwin
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
31-07-2017 11:22
Di dunia kerja itu urutan kualifikasi yang paling penting (dari yang terpenting ke yang tidak penting):
- Jurusan lu (ngapain bank ngerekrut lulusan sastra korea dari PTN sekalipun, mending ngerekrut lulusan IT dari swasta)
- IPK (ipk menunjukkan skill lu, perusahaan gak peduli skor SBMPTN lu karena gak guna di dunia kerja)
- Akreditasi (PTS akreditasi A lebih baik dari PTN akreditasi B)
- Softskill (pengalaman lu memimpin organisasi di kampus gak kalah pentingnya dari skill akademis)
- PTN/PTS (setelah itu baru perusahaan melihat ente lulusan dari PTN atau PTS)
Diubah oleh sidarwin
0 0
0
Langkah Yohanes Surya Mengatasi Krisis Universitas Surya
31-07-2017 11:26
Ane S1 sudah pernah di PTN dan PTS.

Pengalaman ane dosen di PTN ogah-ogahan ngajarnya karena gajinya kecil.
0 0
0
Halaman 15 dari 16
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia