- Beranda
- The Lounge
Prinsip Cinta Yang Mengekang di Jepang Dari Yandere Hingga Menjadi Stalker
...
TS
mohasbi28
Prinsip Cinta Yang Mengekang di Jepang Dari Yandere Hingga Menjadi Stalker
Saat ini prinsip percintaan yang
dipegang oleh para anak-anak muda
di Jepang agaknya sedikit berubah.
Perubahan-perubahan tersebut
mengakibatkan kecenderungan untuk
menjadi stalker mulai bertambah.
Berdasarkan pendapat dari para
siswa, akhir-akhir ini lebih mudah
untuk mengekang pasangan melalui
telepon selular, bahkan sudah
banyak yang mengalaminya. Salah
satunya caranya adalah
“menghancurkan” telepon selular
milik pasangan, antara lain dengan
cara menghapus segala sesuatu yang
berhubungan dengan interaksi sang
pacar dengan teman lawan jenisnya.
Bahkan, mereka sampai meng-
forward e-mail dari lawan jenis
tersebut kepada telepon selular
mereka sendiri, untuk memeriksa
isinya! Selain hal-hal tersebut,
mereka juga membuat “aturan-
aturan” yang mengikat seperti,
“Kalau aku telepon atau e-mail ,
kamu harus balas dalam 10 menit,
ya!” , yang harus dituruti oleh
pasangan mereka.
Yang menjadi korbannya bukan
hanya perempuan saja, bahkan ada
juga cerita seorang laki-laki dengan
mantan pacarnya (yang pada saat
itu masih menjadi pacar), sebelum
tidur diharuskan untuk berkirim
pesan melalui aplikasi LINE, dan dia
tidak diperbolehkan untuk tidur
duluan sebelum pacarnya, karena
apabila dia tidur duluan, besok
paginya akan datang berpuluh-puluh
pesan dari sang pacar, yang
merupakan teror dari sang pacar.
“Karenanya, saya tidak bisa tidur
duluan, saya takut,” keluh anak laki-
laki tersebut. Ida Hiroyuki, penulis
buku tentang stalker dan kekerasan
rumah tangga, mengatakan bahwa
masyarakat pun menerima kenyataan
ini sebagai suatu bentuk cinta.
Semuanya bermula dari efek media,
antara lain seperti beberapa
selebritis di televisi yang
mengatakan,” Memiliki kontrol atas
pacar atau istri adalah cinta.” Di
game ataupun anime, juga terdapat
karakter-karakter yang memiliki rasa
posesif yang abnormal kepada
pasangannya, atau lebih akrab kita
kenal dengan sebutan Yandere.
Karena hal-hal tersebut, maka
terjadi persepsi yang berubah atas
cinta, “Para anak-anak muda
menganggap bahwa untuk
mengekang sang pacar adalah salah
satu bentuk dari perwujudan rasa
cinta.”
Berdasarkan statistik di tahun 2005,
terdapat kecenderungan
peningkatan jumlah stalker untuk
anak-anak yang masih berumur
belasan. Yang mengerikan adalah
sebagian kejadian-kejadian berasal
dari pertemuan di dunia virtual.
Musim panas tahun lalu, kejadian
yang terjadi di prefektur Kanagawa
dimana seorang pemuda berumur 15
tahun ditangkap di depan rumah
mantan pacarnya, dan tertangkap
basah dengan pelanggaran pasal
yang berhubungan dengan
penyalahgunaan senjata.
Pertemuan pertama mereka berasal
dari twitter dan selama kurang lebih
1 bulan hubungan mereka semuanya
dilakukan secara jarak jauh melalui
internet, lalu sang lelaki diputus
sepihak. Pada saat sang lelaki pergi
ke rumah sang pacar tersebut, ia
ditangkap oleh kepolisian Kanagawa
sebelum dia berbuat macam-macam.
Media jejaring sosial, seperti
Facebook, Twitter, dan Line,
mempermudah seseorang untuk
mengekang pasangannya selama 24
jam. Dari yang awalnya hanya
merupakan pesan-pesan untuk
menarik perhatian sang pacar, yang
kemudian berubah menjadi pesan-
pesan bernada ancaman, seperti,
“kembalilah, kalau kau tidak kembali,
mati saja” atau “akan kubunuh kau,
lalu kita mati bersama”
Yang menakutkan adalah, para orang
tua tidak mengetahui tentang hal
ini, sementara banyak hal berbahaya
yang terjadi di dalam telepon
genggam milik anak mereka.
dipegang oleh para anak-anak muda
di Jepang agaknya sedikit berubah.
Perubahan-perubahan tersebut
mengakibatkan kecenderungan untuk
menjadi stalker mulai bertambah.
Berdasarkan pendapat dari para
siswa, akhir-akhir ini lebih mudah
untuk mengekang pasangan melalui
telepon selular, bahkan sudah
banyak yang mengalaminya. Salah
satunya caranya adalah
“menghancurkan” telepon selular
milik pasangan, antara lain dengan
cara menghapus segala sesuatu yang
berhubungan dengan interaksi sang
pacar dengan teman lawan jenisnya.
Bahkan, mereka sampai meng-
forward e-mail dari lawan jenis
tersebut kepada telepon selular
mereka sendiri, untuk memeriksa
isinya! Selain hal-hal tersebut,
mereka juga membuat “aturan-
aturan” yang mengikat seperti,
“Kalau aku telepon atau e-mail ,
kamu harus balas dalam 10 menit,
ya!” , yang harus dituruti oleh
pasangan mereka.
Yang menjadi korbannya bukan
hanya perempuan saja, bahkan ada
juga cerita seorang laki-laki dengan
mantan pacarnya (yang pada saat
itu masih menjadi pacar), sebelum
tidur diharuskan untuk berkirim
pesan melalui aplikasi LINE, dan dia
tidak diperbolehkan untuk tidur
duluan sebelum pacarnya, karena
apabila dia tidur duluan, besok
paginya akan datang berpuluh-puluh
pesan dari sang pacar, yang
merupakan teror dari sang pacar.
“Karenanya, saya tidak bisa tidur
duluan, saya takut,” keluh anak laki-
laki tersebut. Ida Hiroyuki, penulis
buku tentang stalker dan kekerasan
rumah tangga, mengatakan bahwa
masyarakat pun menerima kenyataan
ini sebagai suatu bentuk cinta.
Semuanya bermula dari efek media,
antara lain seperti beberapa
selebritis di televisi yang
mengatakan,” Memiliki kontrol atas
pacar atau istri adalah cinta.” Di
game ataupun anime, juga terdapat
karakter-karakter yang memiliki rasa
posesif yang abnormal kepada
pasangannya, atau lebih akrab kita
kenal dengan sebutan Yandere.
Karena hal-hal tersebut, maka
terjadi persepsi yang berubah atas
cinta, “Para anak-anak muda
menganggap bahwa untuk
mengekang sang pacar adalah salah
satu bentuk dari perwujudan rasa
cinta.”
Berdasarkan statistik di tahun 2005,
terdapat kecenderungan
peningkatan jumlah stalker untuk
anak-anak yang masih berumur
belasan. Yang mengerikan adalah
sebagian kejadian-kejadian berasal
dari pertemuan di dunia virtual.
Musim panas tahun lalu, kejadian
yang terjadi di prefektur Kanagawa
dimana seorang pemuda berumur 15
tahun ditangkap di depan rumah
mantan pacarnya, dan tertangkap
basah dengan pelanggaran pasal
yang berhubungan dengan
penyalahgunaan senjata.
Pertemuan pertama mereka berasal
dari twitter dan selama kurang lebih
1 bulan hubungan mereka semuanya
dilakukan secara jarak jauh melalui
internet, lalu sang lelaki diputus
sepihak. Pada saat sang lelaki pergi
ke rumah sang pacar tersebut, ia
ditangkap oleh kepolisian Kanagawa
sebelum dia berbuat macam-macam.
Media jejaring sosial, seperti
Facebook, Twitter, dan Line,
mempermudah seseorang untuk
mengekang pasangannya selama 24
jam. Dari yang awalnya hanya
merupakan pesan-pesan untuk
menarik perhatian sang pacar, yang
kemudian berubah menjadi pesan-
pesan bernada ancaman, seperti,
“kembalilah, kalau kau tidak kembali,
mati saja” atau “akan kubunuh kau,
lalu kita mati bersama”
Yang menakutkan adalah, para orang
tua tidak mengetahui tentang hal
ini, sementara banyak hal berbahaya
yang terjadi di dalam telepon
genggam milik anak mereka.
Diubah oleh mohasbi28 06-02-2014 20:15
0
2.2K
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya