- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Mencintaimu dalam Diam
...
TS
chndracb88
Aku Mencintaimu dalam Diam
Angin semilir menusuk lembut kulit sawo matangku. Angin mengajak dedaunan menari. Rumput yang tidak terlalu tinggi pun terlihat senang dan bergoyang melihat daun yang menari. Aku memejamkan mata. Di bawah pohon yang cukup rindang aku bersandar. “Nikmat sekali cuaca hari ini,” ujarku dalam hati.
Angin katakan padanya
Bahwa aku cinta dia
Angin sampaikan padanya
Bahwa aku butuh dia
Lagu itu yang saat ini terdengar di telingaku, di balik headset yang kugunakan dan tersambung di MP3 yang kupunya. Aku sangat menikmati suasana seperti ini. Suasana sangat tenang, angin sejuk, dan mendengarkan musik. Aku terhanyut dalam lagu itu. Kuterka lagu itu bait demi bait, bahkan sampai kata demi kata. Belum selesai aku menyaksamai, lagu itu pun selesai. Kuputar balik untuk memaknai lebih dalam lagi. “Ya, Tuhan, ternyata lagu ini sangat tepat menggambarkan perasaanku saat ini.” Aku tersenyum sambil tetap memejamkan mata.
Namaku Bagas. Aku memang sangat suka menyendiri. Namun hal ini tidak membuatku tidak bergaul. Aku punya banyak teman. Hanya aku lebih senang menyendiri ketika ingin mengungkapkan isi hati. Menulis atau sekadar mendengarkan musik selalu menjadi bagian dalam hidupku. Aku selalu berada di tempat yang sama ketika ingin mengungkapkannya, di bawah pohon rindang sudut kiri di hutan mini kampusku. Teman-temanku pun sudah paham jika ingin mencariku. Tinggal datang ke hutan mini kampus, lalu tengok ke kiri. Mereka bilang pohon itulah kandangku. Memang tak bisa dimungkiri aku lebih senang berada di sana daripada berada di kos. Entah mengapa, rasanya lebih nyaman.
***
Sore itu, sehabis asar, aku tidak langsung pulang ke kos. Kalian pasti sudah tahu aku mau ke mana. Ya kan? Aku ambil kunci motor dari ransel, aku nyalakan motor dan berangkat ke hutan mini. Sesampai di sana, aku langsung menuju tempat biasa. Namun aku menemukan tempat itu tidak kosong, ada sosok kupu-kupu di sana. Dia duduk di tempat biasa aku duduki. Aku mendekatinya perlahan, dia bergeming. Aku tak ingin membuatnya terkejut dengan kedatanganku. Dia tetap diam, masih fokus pada bacaannya.
“Kamu Bagas kan?” tiba-tiba kupu-kupu itu menyapaku.
Aku kaget. Kenapa dia bisa tahu namaku? Kenapa dia bisa tahu aku ada di sini? Mungkin ini yang disebut mata faset. Mata seekor serangga yang dapat melihat ke semua titik yang tidak dapat dijangkau mata umumnya.
Oke aku bisa memaklumi dia bisa mengetahui keberadaanku tanpa melihat, tetapi bagaimana dengan namaku? Kok bisa dia tahu? Sepertinya aku tidak mengenal dia. Kupu-kupu itu menutup buku dan melihat ke arahku. Nampaknya dia tahu aku sedang bingung.
“Kau tidak kenal aku ya?” tanya kupu-kupu itu memulai percakapan.
“Kamu siapa? Sepertinya kita tidak pernah ketemu? Tapi kok kamu bisa tahu namaku?” tanyaku.
“Kenalin, Diana,” dia mengulurkan tangan kepadaku.
“Bagas,” jawabku singkat sambil menyambut tangannya.
“Lantas tahu dari mana namaku Bagas?” aku melanjutkan.
“Sebenarnya kita satu jurusan, Gas,” dia menjelaskan.
“Oh ya? Kok kayaknya aku gak pernah lihat kamu ya?”
“Kamu aja mungkin yang cuek sama perempuan. Padahal aku ikut kelasmu di salah satu mata kuliah kita,” jelasnya.
Singkat cerita, aku dan Diana mulai akrab. Oh my God, she’s so beutiful! Itulah mengapa aku menyebutnya kupu-kupu. Nampaknya aku jatuh cinta. Ya, jatuh cinta kepada kupu-kupu cantik di sebelahku. Jadi ini yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah, persetan. Yang penting sekarang aku harus tahu lebih banyak tentang dia.
***
Malam itu, aku duduk di pelataran depan kosku, ditemani gitar Yamaha C-315 yang kubeli dengan jerih payahku. Bintang nampak menemani sang bulan. Hanya satu, tepat di sebelahnya. Bundaku pernah berkata, jika ada bulan dan hanya ditemani satu bintang, berilah nama bintang itu. Aku tak mengerti atas dasar apa dia berkata seperti itu? Dan buat apa bintang itu diberi nama? Namun yang jelas, entah mengapa aku memikirkan satu nama untuk bintang itu. Ya, Diana.
***
Pagi selanjutnya, aku masih berbaring di kasur tipis yang keras. Sulit sekali mataku terbuka. Sinar mentari masuk dari balik celah gorden yang tak kututup rapat. Aku terpaksa bangun karena sinar itu tepat menusuk mataku. Kubuka gorden dan pergi ke kamar mandi.
Selesai dari kamar mandi, aku bergegas pulang ke rumahku. Perjalanan cukup dekat karena hanya menempuh sekitar 2 jam perjalanan. Sesampainya dirumah, pintu tidak terkunci. Kudapati rumahku sangat sunyi. Tak ada seorang pun, kecuali aku. Ke mana Bunda dan Airin? Oh ya, Airin adikku satu-satunya. Dia sekarang duduk di kelas VIII SMP di daerahku. Ayahku telah tiada ketika aku masih duduk di kelas II SMA. Dia meninggal akibat penyakit jantung. Mungkin karena terlalu banyak merokok. Ah, aku sangat benci rokok. Kembali ke Bunda dan Airin, kucari mereka tetapi tetap tak kutemukan. Di kamar mereka, dapur, ruang tamu, semua kosong. Aku keluar rumah untuk menanyakan pada Bu Jannah, tetangga sebelah rumahku. Kudapati dia sedang menyapu halaman rumah.
“Bu, lihat Bunda dan Airin?” tanyaku.
“Oh, Nak Bagas. Tadi Bunda dibawa ke Rumah Sakit Satya Winarno oleh suamiku. Airin ikut. Bunda tadi batuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulut,” jelas Bu Jannah.
“Naik mobil angkot Pak Dewo?” tanyaku lagi.
“Iya, Nak, tadi sekalian suamiku narik, jadi diantar ke sana. Kalau kamu ke sana, Ibu ikut ya, Nak.”
“Saya mau langsung ke sana, Bu. Hari ini kan Sabtu, kuliah libur.”
“Oh gitu. Ya udah Ibu langsung siap-siap ya, Nak,” katanya sambil menaruh sapu dan sekop yang dia gunakan menyapu.
“Baik, Bu, aku masuk dulu ya.”
“Iya, Nak,” Ibu Jannah menjawab.
Setelah siap aku berangkat ke rumah sakit bersama Ibu Jannah. Sesampai di sana, aku melihat Buna dan Airin di ruang tunggu di luar rumah sakit. Setelah memarkir motor, aku langsung menghampiri mereka.
“Kok tidak di ruangan, Rin?” kutanya Airin.
“Bunda gak bawa uang, Kak, jadi gak bisa ditindaklanjuti,” jawab Airin.
Aku kaget. Kenapa rumah sakit tidak mau memberikan keringanan? Aku langsung menuju ruang administrasi untuk meminta kejelasan. Sesampai di sana, tetap saja tidak ada hasil. Aku pasrah. Namun ada seorang dokter menghampiriku. Tampaknya memang dia sudah mengamatiku sejak tadi. Aku menjelaskan semua pada dokter itu dan akhirnya dokter berkata kepada pihak administrasi untuk menindaklanjuti Bund.
“Semua biaya ibu anak ini saya tanggung,” kata dokter yang kuketahui bernama Dr Soetono dari name tag di dadanya.
Setelah Bunda ditindaklanjuti, kuhampiri dokter itu. Kutanya mengapa dia mau membantu.
“Ini wujud baktiku terhadap pasien, Nak,” jawabnya.
Aku berdoa dalam hati, “Ya, Tuhan, semoga seluruh dokter di dunia ini bisa seperti Dr Soetono, dokter yang tidak selalu mementingkan uang, dokter yang selalu memikirkan rakyat kecil, dokter yang baik hati dan merelakan sebagian uangnya untuk rakyat kecil. Terima kasih, Tuhan, Engkau menyisakan orang seperti dia.”
Bunda sekarang berada di Ruangan Melati, kelas dua yang diisi dua pasien. Aku sangat bersyukur. Sebenarnya Bunda dimasukkan ke kelas tiga pun tak masalah bagiku, asal Ibu dirawat.
Malam hari, hasil laboratorium sudah dapat dilihat. Aku yakin hasil laboratorium begitu cepat keluar karena ada sangkut paut dengan Dr Soetono. Coba jika tidak ada beliau, kemungkinan hasil laboratorium bakal keluar dua atau tiga hari kemudian. Bundaku didiagnosis terkena TBC, tetapi belum positif, masih bisa disembuhkan asal Ibu mau menuruti kata dokter.
Aku berbicara kepada dokter yang menangani Bunda agar rawat jalan saja dan tidak menginap. Walaupun semua biaya sudah ditanggung Dr Soetono, aku tidak mau merepotkan beliau. Ayahku pernah berkata sebisa mungkin jangan sampai merepotkan orang lain. Dokter sempat melarang, karena masih ada uji laboratorium yang harus dilakukan Bunda. Namun aku tetap memaksa untuk pulang dan rawat jalan saja. Akhirnya dokter menuruti kemauanku, asal aku berjanji membawa Bunda ke rumah sakit pada saat yang sudah ditentukan nanti.
***
Hari ini hari Minggu, setelah semua selesai, aku, Bunda, dan Airin sudah bisa pulang. Sebelumnya aku sudah meminta tolong Bu Jannah dan Pak Dewo menjemput Ibu di rumah sakit. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Bu Jannah dan Pak Dewo datang dan kami pulang. Bunda dan Airin naik mobil angkot Pak Dewo, sedangkan aku naik motorku.
Astaga, aku baru ingat kemarin sudah ada janji dengan Diana untuk bertemu kembali di tempat yang sama. Jujur, kemarin aku lupa janji itu. Aku terlalu sibuk memikirkan Ibu yang sedang sakit. Ah, Diana, maafkan aku.
Pagi menjelang siang, siang menjelang sore. Kulihat Bunda sudah istirahat di pembaringan. Airin nampak sedang asyik belajar di sebelah Bunda. Aku pamit pada Airin untuk kembali ke kos. Ya, aku mau ke hutan mini kampusku. Siapa tahu Diana di sana.
Sesampai di sana, hutan sangat sepi, sunyi tak ada orang. Apakah kemarin Diana ke sini? Ke mana dia sekarang? Apakah dia kecewa padaku? Ah, lebih baik aku menunggu di sini. Kala itu jam menunjukkan pukul 3 sore. Aku menunggu, tetapi dia tak kunjung datang. Ah sudahlah, mungkin hari ini dia tidak ke sini. Aku kembali pulang ke rumah.
Hari-hari berikutnya tak ada yang spesial. Selama satu minggu ini aku tak bertemu dia. Di manakah Diana? Sebenarnya aku ingin bertanya kepada teman-temanku, tetapi aku malu. Entah mengapa aku malu menanyakan soal Diana. Padahal, aku yakin salah satu di antara temanku pasti ada yang mengenal Diana. Tiap hari setelah kuliah aku mampir ke hutan mini untuk mencari, tetapi hasilnya nihil. Aku tak bertemu dia. Apakah dia nyata?
***
Senin bertemu Senin, sore itu aku kembali ke hutan mini kampus. Hari itu kurasa sangat penat sekali. Aku ingin menenangkan diri. Ah, kupu-kupu itu muncul lagi. Kudekati dia dan duduk di sebelahnya. Dia mengerti keberadaanku.
“Kamu ke mana aja seminggu ini kok gak pernah kelihatan?” ujarku memulai percakapan.
“Aku pulang ke kampungku, ada acara nikahan kakakku,” dia menjawab.
“Oh ya, untuk Sabtu kemarin maaf ya aku gak bisa datang dan tidak memberi tahu. Ibuku masuk rumah sakit dan aku bingung, sampai-sampai lupa ada janji denganmu,” aku menjelaskan kejadian kemarin.
“Iya, gak papa kok. Sabtu kemarin aku ke sini juga cuma bentar,” dia memaklumi.
Cantik sekali dia hari ini. Aku benar-benar jatuh cinta. Jika aku langsung menyatakan perasaanku, apakah akan dia balas? Kuurungkan niatku karena kami baru kenal, bahkan baru bertemu dua kali. Masih perlu pendekatan lebih, masih perlu mencari tahu tentang dia.
Setelah mengobrol sore ini, aku sedikit lebih tahu tentang dia. Nama lengkapnya Diana Rian Iswantoro, lahir di Tegal, 27 September 1996. Suka membaca buku dan suka tersenyum. Ah, aku suka senyuman itu.
Dua hari berlalu, aku bertemu dia di kantin kampus, sendirian. Kuhampiri dia sambil membawa minuman yang baru kupesan.
“Sendirian aja?” tanyaku yang sedikit mengagetkannya.
“Eh, Bagas. Iya nih, teman-temanku lagi salat. Kebetulan aku lagi gak salat, jadi nunggu di sini,” dia menjelaskan.
“Boleh minta nomor handphone-mu gak, Yan? Aku ingin sekali mengenalmu lebih dekat.” Andai saja kalimat ini terucap dari bibirku. Namun, ya beginilah aku, masih malu memulai. Tak banyak bercakap dengan dia. Tiba-tiba temannya sudah datang menghampiri Diana dan dia pamit dariku.
Makin hari aku kian dekat dengan dia. Kami pernah ke hutan kampus bersama hanya untuk menikmati udara sore setelah hujan. Aku juga pernah mengajak dia ke kantin untuk makan atau sekadar minum. Pernah juga sesekali aku mengajak dia ke toko buku untuk melihat buku-buku keluaran terbaru.
***
Suatu sore cahaya matahari sangat segar dinikmati. Hujan sudah reda. Kupacu motorku menuju hutan mini kampus. Aku sudah membuat rencana, cepat atau lambat aku harus menyatakan perasaanku kepada Diana. Di hutan mini, aku menemukan dia sedang mendengarkan musik. Semringah sekali senyumannya. Tampaknya dia sangat senang sore itu. Entah apa yang membuat dia senang, aku tak peduli. Kudekati dia, dan duduk di sebelahnya. Inikah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku?
“Seneng banget kayaknya hari ini? Ada apa?” aku bertanya.
“Ih kepo deh, ha-ha-ha,” jawabnya sambil tertawa.
“Aku mau omong padamu,” aku mulai serius.
“Kalo mau omong ya omong aja, Gas, kayak apa aja sih? Ha-ha-ha,” dia melanjutkan ketawa.
Belum sempat aku omong, dia sudah memotong omonganku.
“Eh, lihat ini deh, Gas,” dia mengeluarkan sesuatu dari tas. Setangkai bunga mawar.
“Dari siapa?” perasaanku mulai tak tenang.
“Dari Ivan, pacarku. Dia jauh-jauh datang dari Tegal hanya untuk memberi ini. Hadiah anniversary katanya,” mukanya memerah. Sangat senang tampaknya.
“Oh, kamu lagi anniversary? Selamat ya,” kataku lesu.
“Iya terima kasih, Bagas. Aku senang banget hari ini,” dia tersenyum. Ah, manis sekli senyum itu.
“Ya udah, yuk kita pulang. Matahari udah mau terbenam,” aku memotong kesenangannya.
“Eh, tadi katanya mau omong?” dia bertanya kepadaku.
“Eh, iya ya?” aku pura-pura bingung, “aku lupa mau omong apa, Yan. Nanti deh kalo inget aku omong.”
“Ya udah, yuk pulang,” Diana mengajakku.
Kuantar dia sampai kos. Aku langsung pamit pulang ke rumah. Kalian tahu perasaanku kan? Sulit kuungkapkan.
Malam ini, aku kembali berada di pelataran depan rumahku. Masih ditemani gitar yang sama. Namun tak nampak bintang yang kuberi nama itu. Hanya ada bulan sendirian. Diana, oh Diana, mengapa engkau sudah punya kekasih? Aku pikir dari respons yang kau berikan padaku, kau masih belum punya pasangan. Namun nyatanya? Ah, aku bingung. Aku bangun, masuk rumah dan menuju kamar. Kutaruh gitar kesayanganku dan mencoba tidur. Selamat malam, Diana. Diana yang sudah milik orang lain, aku masih suka senyummu.
Beberapa hari kemudian aku bertemu lagi dengan dia di tempat kali pertama kami bertemu dan bertegur sapa. Diana yang masih kusuka senyumannya.
“Hai, Kupu-kupu,” ingin kusapa dia seperti itu. Namun dia sudah menyapaku terlebih dahulu.
“Hai, Gas,” dia tersenyum.
“Hai juga,” aku membalas senyumnya. “Udah lama di sini?” aku bertanya.
“Ya lumayanlah, ini udah mau pulang. Kamu masih mau di sini?” dia balik bertanya.
“Ya, aku masih ingin menikmati udara di sini. Jika kau ingin pulang, pulanglah duluan, Yan,” kataku.
“Oke deh, see you later, Gas,” dia senyum kembali.
Sungguh aku masih suka senyum itu. Kubalas senyum kecilnya sebelum dia pergi meninggalkanku. Kupejamkan mataku, menikmati sisa angin yang berembus ke arahku. Maafkan aku, Diana, aku terlalu berharap lebih kepadamu. Namun aku tak akan membencimu, tak akan menjauhimu. Aku akan selalu ada untuk membuatmu bahagia, karena aku mencintaimu dalam diam.
Angin katakan padanya
Bahwa aku cinta dia
Angin sampaikan padanya
Bahwa aku butuh dia
Lagu itu yang saat ini terdengar di telingaku, di balik headset yang kugunakan dan tersambung di MP3 yang kupunya. Aku sangat menikmati suasana seperti ini. Suasana sangat tenang, angin sejuk, dan mendengarkan musik. Aku terhanyut dalam lagu itu. Kuterka lagu itu bait demi bait, bahkan sampai kata demi kata. Belum selesai aku menyaksamai, lagu itu pun selesai. Kuputar balik untuk memaknai lebih dalam lagi. “Ya, Tuhan, ternyata lagu ini sangat tepat menggambarkan perasaanku saat ini.” Aku tersenyum sambil tetap memejamkan mata.
Namaku Bagas. Aku memang sangat suka menyendiri. Namun hal ini tidak membuatku tidak bergaul. Aku punya banyak teman. Hanya aku lebih senang menyendiri ketika ingin mengungkapkan isi hati. Menulis atau sekadar mendengarkan musik selalu menjadi bagian dalam hidupku. Aku selalu berada di tempat yang sama ketika ingin mengungkapkannya, di bawah pohon rindang sudut kiri di hutan mini kampusku. Teman-temanku pun sudah paham jika ingin mencariku. Tinggal datang ke hutan mini kampus, lalu tengok ke kiri. Mereka bilang pohon itulah kandangku. Memang tak bisa dimungkiri aku lebih senang berada di sana daripada berada di kos. Entah mengapa, rasanya lebih nyaman.
***
Sore itu, sehabis asar, aku tidak langsung pulang ke kos. Kalian pasti sudah tahu aku mau ke mana. Ya kan? Aku ambil kunci motor dari ransel, aku nyalakan motor dan berangkat ke hutan mini. Sesampai di sana, aku langsung menuju tempat biasa. Namun aku menemukan tempat itu tidak kosong, ada sosok kupu-kupu di sana. Dia duduk di tempat biasa aku duduki. Aku mendekatinya perlahan, dia bergeming. Aku tak ingin membuatnya terkejut dengan kedatanganku. Dia tetap diam, masih fokus pada bacaannya.
“Kamu Bagas kan?” tiba-tiba kupu-kupu itu menyapaku.
Aku kaget. Kenapa dia bisa tahu namaku? Kenapa dia bisa tahu aku ada di sini? Mungkin ini yang disebut mata faset. Mata seekor serangga yang dapat melihat ke semua titik yang tidak dapat dijangkau mata umumnya.
Oke aku bisa memaklumi dia bisa mengetahui keberadaanku tanpa melihat, tetapi bagaimana dengan namaku? Kok bisa dia tahu? Sepertinya aku tidak mengenal dia. Kupu-kupu itu menutup buku dan melihat ke arahku. Nampaknya dia tahu aku sedang bingung.
“Kau tidak kenal aku ya?” tanya kupu-kupu itu memulai percakapan.
“Kamu siapa? Sepertinya kita tidak pernah ketemu? Tapi kok kamu bisa tahu namaku?” tanyaku.
“Kenalin, Diana,” dia mengulurkan tangan kepadaku.
“Bagas,” jawabku singkat sambil menyambut tangannya.
“Lantas tahu dari mana namaku Bagas?” aku melanjutkan.
“Sebenarnya kita satu jurusan, Gas,” dia menjelaskan.
“Oh ya? Kok kayaknya aku gak pernah lihat kamu ya?”
“Kamu aja mungkin yang cuek sama perempuan. Padahal aku ikut kelasmu di salah satu mata kuliah kita,” jelasnya.
Singkat cerita, aku dan Diana mulai akrab. Oh my God, she’s so beutiful! Itulah mengapa aku menyebutnya kupu-kupu. Nampaknya aku jatuh cinta. Ya, jatuh cinta kepada kupu-kupu cantik di sebelahku. Jadi ini yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah, persetan. Yang penting sekarang aku harus tahu lebih banyak tentang dia.
***
Malam itu, aku duduk di pelataran depan kosku, ditemani gitar Yamaha C-315 yang kubeli dengan jerih payahku. Bintang nampak menemani sang bulan. Hanya satu, tepat di sebelahnya. Bundaku pernah berkata, jika ada bulan dan hanya ditemani satu bintang, berilah nama bintang itu. Aku tak mengerti atas dasar apa dia berkata seperti itu? Dan buat apa bintang itu diberi nama? Namun yang jelas, entah mengapa aku memikirkan satu nama untuk bintang itu. Ya, Diana.
***
Pagi selanjutnya, aku masih berbaring di kasur tipis yang keras. Sulit sekali mataku terbuka. Sinar mentari masuk dari balik celah gorden yang tak kututup rapat. Aku terpaksa bangun karena sinar itu tepat menusuk mataku. Kubuka gorden dan pergi ke kamar mandi.
Selesai dari kamar mandi, aku bergegas pulang ke rumahku. Perjalanan cukup dekat karena hanya menempuh sekitar 2 jam perjalanan. Sesampainya dirumah, pintu tidak terkunci. Kudapati rumahku sangat sunyi. Tak ada seorang pun, kecuali aku. Ke mana Bunda dan Airin? Oh ya, Airin adikku satu-satunya. Dia sekarang duduk di kelas VIII SMP di daerahku. Ayahku telah tiada ketika aku masih duduk di kelas II SMA. Dia meninggal akibat penyakit jantung. Mungkin karena terlalu banyak merokok. Ah, aku sangat benci rokok. Kembali ke Bunda dan Airin, kucari mereka tetapi tetap tak kutemukan. Di kamar mereka, dapur, ruang tamu, semua kosong. Aku keluar rumah untuk menanyakan pada Bu Jannah, tetangga sebelah rumahku. Kudapati dia sedang menyapu halaman rumah.
“Bu, lihat Bunda dan Airin?” tanyaku.
“Oh, Nak Bagas. Tadi Bunda dibawa ke Rumah Sakit Satya Winarno oleh suamiku. Airin ikut. Bunda tadi batuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulut,” jelas Bu Jannah.
“Naik mobil angkot Pak Dewo?” tanyaku lagi.
“Iya, Nak, tadi sekalian suamiku narik, jadi diantar ke sana. Kalau kamu ke sana, Ibu ikut ya, Nak.”
“Saya mau langsung ke sana, Bu. Hari ini kan Sabtu, kuliah libur.”
“Oh gitu. Ya udah Ibu langsung siap-siap ya, Nak,” katanya sambil menaruh sapu dan sekop yang dia gunakan menyapu.
“Baik, Bu, aku masuk dulu ya.”
“Iya, Nak,” Ibu Jannah menjawab.
Setelah siap aku berangkat ke rumah sakit bersama Ibu Jannah. Sesampai di sana, aku melihat Buna dan Airin di ruang tunggu di luar rumah sakit. Setelah memarkir motor, aku langsung menghampiri mereka.
“Kok tidak di ruangan, Rin?” kutanya Airin.
“Bunda gak bawa uang, Kak, jadi gak bisa ditindaklanjuti,” jawab Airin.
Aku kaget. Kenapa rumah sakit tidak mau memberikan keringanan? Aku langsung menuju ruang administrasi untuk meminta kejelasan. Sesampai di sana, tetap saja tidak ada hasil. Aku pasrah. Namun ada seorang dokter menghampiriku. Tampaknya memang dia sudah mengamatiku sejak tadi. Aku menjelaskan semua pada dokter itu dan akhirnya dokter berkata kepada pihak administrasi untuk menindaklanjuti Bund.
“Semua biaya ibu anak ini saya tanggung,” kata dokter yang kuketahui bernama Dr Soetono dari name tag di dadanya.
Setelah Bunda ditindaklanjuti, kuhampiri dokter itu. Kutanya mengapa dia mau membantu.
“Ini wujud baktiku terhadap pasien, Nak,” jawabnya.
Aku berdoa dalam hati, “Ya, Tuhan, semoga seluruh dokter di dunia ini bisa seperti Dr Soetono, dokter yang tidak selalu mementingkan uang, dokter yang selalu memikirkan rakyat kecil, dokter yang baik hati dan merelakan sebagian uangnya untuk rakyat kecil. Terima kasih, Tuhan, Engkau menyisakan orang seperti dia.”
Bunda sekarang berada di Ruangan Melati, kelas dua yang diisi dua pasien. Aku sangat bersyukur. Sebenarnya Bunda dimasukkan ke kelas tiga pun tak masalah bagiku, asal Ibu dirawat.
Malam hari, hasil laboratorium sudah dapat dilihat. Aku yakin hasil laboratorium begitu cepat keluar karena ada sangkut paut dengan Dr Soetono. Coba jika tidak ada beliau, kemungkinan hasil laboratorium bakal keluar dua atau tiga hari kemudian. Bundaku didiagnosis terkena TBC, tetapi belum positif, masih bisa disembuhkan asal Ibu mau menuruti kata dokter.
Aku berbicara kepada dokter yang menangani Bunda agar rawat jalan saja dan tidak menginap. Walaupun semua biaya sudah ditanggung Dr Soetono, aku tidak mau merepotkan beliau. Ayahku pernah berkata sebisa mungkin jangan sampai merepotkan orang lain. Dokter sempat melarang, karena masih ada uji laboratorium yang harus dilakukan Bunda. Namun aku tetap memaksa untuk pulang dan rawat jalan saja. Akhirnya dokter menuruti kemauanku, asal aku berjanji membawa Bunda ke rumah sakit pada saat yang sudah ditentukan nanti.
***
Hari ini hari Minggu, setelah semua selesai, aku, Bunda, dan Airin sudah bisa pulang. Sebelumnya aku sudah meminta tolong Bu Jannah dan Pak Dewo menjemput Ibu di rumah sakit. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Bu Jannah dan Pak Dewo datang dan kami pulang. Bunda dan Airin naik mobil angkot Pak Dewo, sedangkan aku naik motorku.
Astaga, aku baru ingat kemarin sudah ada janji dengan Diana untuk bertemu kembali di tempat yang sama. Jujur, kemarin aku lupa janji itu. Aku terlalu sibuk memikirkan Ibu yang sedang sakit. Ah, Diana, maafkan aku.
Pagi menjelang siang, siang menjelang sore. Kulihat Bunda sudah istirahat di pembaringan. Airin nampak sedang asyik belajar di sebelah Bunda. Aku pamit pada Airin untuk kembali ke kos. Ya, aku mau ke hutan mini kampusku. Siapa tahu Diana di sana.
Sesampai di sana, hutan sangat sepi, sunyi tak ada orang. Apakah kemarin Diana ke sini? Ke mana dia sekarang? Apakah dia kecewa padaku? Ah, lebih baik aku menunggu di sini. Kala itu jam menunjukkan pukul 3 sore. Aku menunggu, tetapi dia tak kunjung datang. Ah sudahlah, mungkin hari ini dia tidak ke sini. Aku kembali pulang ke rumah.
Hari-hari berikutnya tak ada yang spesial. Selama satu minggu ini aku tak bertemu dia. Di manakah Diana? Sebenarnya aku ingin bertanya kepada teman-temanku, tetapi aku malu. Entah mengapa aku malu menanyakan soal Diana. Padahal, aku yakin salah satu di antara temanku pasti ada yang mengenal Diana. Tiap hari setelah kuliah aku mampir ke hutan mini untuk mencari, tetapi hasilnya nihil. Aku tak bertemu dia. Apakah dia nyata?
***
Senin bertemu Senin, sore itu aku kembali ke hutan mini kampus. Hari itu kurasa sangat penat sekali. Aku ingin menenangkan diri. Ah, kupu-kupu itu muncul lagi. Kudekati dia dan duduk di sebelahnya. Dia mengerti keberadaanku.
“Kamu ke mana aja seminggu ini kok gak pernah kelihatan?” ujarku memulai percakapan.
“Aku pulang ke kampungku, ada acara nikahan kakakku,” dia menjawab.
“Oh ya, untuk Sabtu kemarin maaf ya aku gak bisa datang dan tidak memberi tahu. Ibuku masuk rumah sakit dan aku bingung, sampai-sampai lupa ada janji denganmu,” aku menjelaskan kejadian kemarin.
“Iya, gak papa kok. Sabtu kemarin aku ke sini juga cuma bentar,” dia memaklumi.
Cantik sekali dia hari ini. Aku benar-benar jatuh cinta. Jika aku langsung menyatakan perasaanku, apakah akan dia balas? Kuurungkan niatku karena kami baru kenal, bahkan baru bertemu dua kali. Masih perlu pendekatan lebih, masih perlu mencari tahu tentang dia.
Setelah mengobrol sore ini, aku sedikit lebih tahu tentang dia. Nama lengkapnya Diana Rian Iswantoro, lahir di Tegal, 27 September 1996. Suka membaca buku dan suka tersenyum. Ah, aku suka senyuman itu.
Dua hari berlalu, aku bertemu dia di kantin kampus, sendirian. Kuhampiri dia sambil membawa minuman yang baru kupesan.
“Sendirian aja?” tanyaku yang sedikit mengagetkannya.
“Eh, Bagas. Iya nih, teman-temanku lagi salat. Kebetulan aku lagi gak salat, jadi nunggu di sini,” dia menjelaskan.
“Boleh minta nomor handphone-mu gak, Yan? Aku ingin sekali mengenalmu lebih dekat.” Andai saja kalimat ini terucap dari bibirku. Namun, ya beginilah aku, masih malu memulai. Tak banyak bercakap dengan dia. Tiba-tiba temannya sudah datang menghampiri Diana dan dia pamit dariku.
Makin hari aku kian dekat dengan dia. Kami pernah ke hutan kampus bersama hanya untuk menikmati udara sore setelah hujan. Aku juga pernah mengajak dia ke kantin untuk makan atau sekadar minum. Pernah juga sesekali aku mengajak dia ke toko buku untuk melihat buku-buku keluaran terbaru.
***
Suatu sore cahaya matahari sangat segar dinikmati. Hujan sudah reda. Kupacu motorku menuju hutan mini kampus. Aku sudah membuat rencana, cepat atau lambat aku harus menyatakan perasaanku kepada Diana. Di hutan mini, aku menemukan dia sedang mendengarkan musik. Semringah sekali senyumannya. Tampaknya dia sangat senang sore itu. Entah apa yang membuat dia senang, aku tak peduli. Kudekati dia, dan duduk di sebelahnya. Inikah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku?
“Seneng banget kayaknya hari ini? Ada apa?” aku bertanya.
“Ih kepo deh, ha-ha-ha,” jawabnya sambil tertawa.
“Aku mau omong padamu,” aku mulai serius.
“Kalo mau omong ya omong aja, Gas, kayak apa aja sih? Ha-ha-ha,” dia melanjutkan ketawa.
Belum sempat aku omong, dia sudah memotong omonganku.
“Eh, lihat ini deh, Gas,” dia mengeluarkan sesuatu dari tas. Setangkai bunga mawar.
“Dari siapa?” perasaanku mulai tak tenang.
“Dari Ivan, pacarku. Dia jauh-jauh datang dari Tegal hanya untuk memberi ini. Hadiah anniversary katanya,” mukanya memerah. Sangat senang tampaknya.
“Oh, kamu lagi anniversary? Selamat ya,” kataku lesu.
“Iya terima kasih, Bagas. Aku senang banget hari ini,” dia tersenyum. Ah, manis sekli senyum itu.
“Ya udah, yuk kita pulang. Matahari udah mau terbenam,” aku memotong kesenangannya.
“Eh, tadi katanya mau omong?” dia bertanya kepadaku.
“Eh, iya ya?” aku pura-pura bingung, “aku lupa mau omong apa, Yan. Nanti deh kalo inget aku omong.”
“Ya udah, yuk pulang,” Diana mengajakku.
Kuantar dia sampai kos. Aku langsung pamit pulang ke rumah. Kalian tahu perasaanku kan? Sulit kuungkapkan.
Malam ini, aku kembali berada di pelataran depan rumahku. Masih ditemani gitar yang sama. Namun tak nampak bintang yang kuberi nama itu. Hanya ada bulan sendirian. Diana, oh Diana, mengapa engkau sudah punya kekasih? Aku pikir dari respons yang kau berikan padaku, kau masih belum punya pasangan. Namun nyatanya? Ah, aku bingung. Aku bangun, masuk rumah dan menuju kamar. Kutaruh gitar kesayanganku dan mencoba tidur. Selamat malam, Diana. Diana yang sudah milik orang lain, aku masih suka senyummu.
Beberapa hari kemudian aku bertemu lagi dengan dia di tempat kali pertama kami bertemu dan bertegur sapa. Diana yang masih kusuka senyumannya.
“Hai, Kupu-kupu,” ingin kusapa dia seperti itu. Namun dia sudah menyapaku terlebih dahulu.
“Hai, Gas,” dia tersenyum.
“Hai juga,” aku membalas senyumnya. “Udah lama di sini?” aku bertanya.
“Ya lumayanlah, ini udah mau pulang. Kamu masih mau di sini?” dia balik bertanya.
“Ya, aku masih ingin menikmati udara di sini. Jika kau ingin pulang, pulanglah duluan, Yan,” kataku.
“Oke deh, see you later, Gas,” dia senyum kembali.
Sungguh aku masih suka senyum itu. Kubalas senyum kecilnya sebelum dia pergi meninggalkanku. Kupejamkan mataku, menikmati sisa angin yang berembus ke arahku. Maafkan aku, Diana, aku terlalu berharap lebih kepadamu. Namun aku tak akan membencimu, tak akan menjauhimu. Aku akan selalu ada untuk membuatmu bahagia, karena aku mencintaimu dalam diam.
anasabila memberi reputasi
1
2.1K
10
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•55KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya