Kaskus

News

BeritagarIDAvatar border
TS
BeritagarID
Kemenangan Trump beroleh pengingkaran, satire, dan selamat
Kemenangan Trump beroleh pengingkaran, satire, dan selamat
Mural Donald Trump di Surabaya, Jawa timur, Minggu (30/10). Mural bertuliskan "Fascist, Racist, Dirty" itu dibuat seniman jalanan sebagai kritik atas lontaran-lontaran kontroversi dari Trump.
Donald John Trump, memastikan dirinya menjadi Presiden ke-46 Amerika Serikat.

Calon Partai Republik itu berhasil mengungguli kandidat lain dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, dalam Pemilihan Presiden AS 2016, Selasa (8/11) waktu setempat.

Terpilihnya Trump mengundang pelbagai reaksi di linimasa Twitter. Di AS, salah satu tagar yang terlihat menonjol adalah #NotMyPresident. Tagar itu memuat aksi-aksi protes dan ungkapan pengingkaran atas terpilihnya Trump.

Tokoh berusia 70 itu memang punya rekam jejak negatif di mata sebagian warga AS.

Antara lain, Trump kerap melontarkan sentimen rasial dan diskriminatif semasa kampanye. Termasuk berencana tak mengizinkan muslim memasuki AS, dan membangun tembok di perbatasan dengan Meksiko.

Berkenaan rekam jejak negatif itu, jurnalis The New Yorker, David Remnick, menyebut kemenangan Trump sebagai "tragedi Amerika".

"Terpilihnya Donald Trump, tak kurang dari tragedi bagi republik Amerika, tragedi atas konstitusi, dan kemenangan bagi kekerasan di dalam dan luar negeri, nativisme, otoritarianisme, kebencian terhadap perempuan, dan rasialisme," tulis Remnick.

Ungkapan senada disampaikan pula oleh warga AS, yang turut memopulerkan tagar #NotMyPresident.

Tagar itu juga dipenuhi gambar-gambar aksi protes yang meluas di sejumlah wilayah AS. Ihwal aksi protes yang meluas itu, Mic menulis, "Meski Barack Obama dan Hillary Clinton menerima kekalahan dari Trump, dan menganjurkan transformasi kekuasaan nan damai--tapi warga terlihat tak bersepakat.:
Wow! #NotMyPresident protest in NYC right now. [URL="https://S E N S O RRY7ALHQFih"]pic.twitter.com/RY7ALHQFih[/URL]
— Maddow Blog (@MaddowBlog) November 10, 2016 Thousands protesting Trump outside Trump Tower in NYC tonight. Mexican flags. Palestinian flags. Couldn't publish Facebook Live. [URL="https://S E N S O RyFisHRDFMv"]pic.twitter.com/yFisHRDFMv[/URL]
— Ahmed Shihab-Eldin (@ASE) November 10, 2016 Tonight in Chicago. #NotMyPresident [URL="https://S E N S O RUITNBCfLwU"]pic.twitter.com/UITNBCfLwU[/URL]
— Chantelle (@maxthisfooo) November 10, 2016 Respons linimasa Indonesia
Respons negatif atas terpilihnya Trump juga berdatangan dari linimasa Twitter Indonesia. Hal itu sudah terdengar sejak kemarin (9/11), seiring dengan proses penghitungan suara di AS.

"Bayangkan andai di RI ada tokoh rasis, intoleran, suka ngafir-ngafirin, nyalonin jadi presiden. Terus menang. Alangkah suramnya. AS kek gitu sekarang," tulis Akhmad Sahal (@Sahal_AS), intelektual muslim asal Indonesia, yang sedang tinggal di AS.

Pengamat politik, Saiful Mujani (@saiful_mujani), berpendapat bahwa kemenangan Trump bisa jadi indikasi perihal "dunia yang makin kurang toleran."

Aktivis Islam, Yenny Wahid menyebut terpilihnya Trump didorong oleh kecenderungan orang yang memilih berdasarkan emosi. Bukan pilihan rasional.

"Trump menang salah satunya karena gencar serang Islam. Muslim dijadikan momok bersama untuk takuti pemilih AS. Pemilih tidak rasional percaya dia," tulis anak kedua mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.

Ungkapan-ungkapan kritik atau kekecewaan macam itulah yang kerap muncul di linimasa Indonesia, menyusul terpilihnya Trump.
Brexit, Trump and in Indonesia's context, 411, show that people make choices emotionally not rationally. Then they regret it later
— Yenny Zannuba Wahid (@yennywahid) November 9, 2016 Bayangkan andai di RI ada tokoh rasis, intoleran, suka ngafir2in nyalonin jd presiden. Trus menang. Alangkah suramnya. AS kek gitu skrg.
— akhmad sahal (@sahaL_AS) November 9, 2016 Kemenangan Trump di USA indikasi dunia makin kurang toleran. Walau tak berharap benar, tesis huntington clash of civilizations mungk benar.
— saiful mujani (@saiful_mujani) November 9, 2016 Trump itu Dhani versi Indonesia. Bayangin Indonesia presidennya Dhani. ????
— sam maulana (@maulasam) November 9, 2016 USA have been spending millions of dollars to support democracy, anti discrimination program around the world. And now they have Trump emoticon-Smilie)))
— Tunggal Pawestri (@tunggalp) November 9, 2016
Namun, ada pula suara positif menyambut kemenangan Trump, yang terkirim dari linimasa Indonesia.

Misal, ucapan selamat yang disampaikan pengusaha sekaligus Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo.

Trump dan Hary memang punya jalinan bisnis. Mereka bekerjasa sama dalam pengelolaan resor mewah di kawasan Lido, Bogor, Jawa Barat. dan Tanah Lot, Bali.
Selamat atas kemenangan Donald Trump sbg Presiden AS ke 45. Hubungan Indonesia-AS akan lbh baik,produktif,membawa kemajuan bagi kedua negara [URL="https://S E N S O RdY5aFEfSvh"]pic.twitter.com/dY5aFEfSvh[/URL]
— Hary Tanoesoedibjo (@Hary_Tanoe) November 9, 2016
Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, juga turut mengucapkan selamat kepada Trump melalui linimasa Twitter. Fadli mengirim ucapan selamat, sembari membagikan swafotonya bersama Trump.
Congratulation! @realDonaldTrump [URL="https://S E N S O Rif5kOV8WC3"]pic.twitter.com/if5kOV8WC3[/URL]
— Fadli Zon (@fadlizon) November 9, 2016
Fadli--dan juga Setya Novanto, kala itu Ketua DPR--memang sempat bertemu Trump di AS, pada September 2015.

Pertemuan yang mengundang gunjingan dan cibiran di Indonesia. Para pengguna Twitter, kala itu, menyerang Fadli dan Setya, antara lain karena mereka memberi kesan bahwa warga Indonesia mendukung pencalonan Trump.

Beberapa pengguna Twitter pun masih ingat benar pertemuan itu.

Pengamat politik, Yunarto Wijaya (@yunartowijaya), salah satunya. Saat perolehan suara Trump mulai menanjak, Yunarto sempat mengirim sindiran satire yang menyasar Trump dan Fadli.

"Kalau Trump menang semoga Fadli Zon bisa ditarik ke sana, jadi menteri juga kita rela kok," tulisnya.

Relasi Fadli dan Trump itu juga kerap disinggung akun-akun lain.
Kalo Trump menang, semoga fadli zon bisa ditarik kesana, jadi menteri juga kita rela kok, apapun deh... #DoaTulus
— Yunarto Wijaya (@yunartowijaya) November 9, 2016 "Penista agama Islam harus dihukum." Fadli Zon said.Trump's agenda: "I will build the wall, ban Muslims." [URL="https://S E N S O RC9znXnlzXI"]https://S E N S O RC9znXnlzXI[/URL]
— Rumail Abbas (@Stakof) November 10, 2016 kami rela fadli zon dpanggil trump ke amrik..bukan dpanggil YME ya. mau jd apa trserah. kami ikhlas.. sumpah demi Tuhan. fahri skalian deh. [URL="https://S E N S O Rfp58ESaCGe"]https://S E N S O Rfp58ESaCGe[/URL]
— don kabelen (@donkabelen) November 9, 2016 Kemenangan Trump beroleh pengingkaran, satire, dan selamat


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...re-dan-selamat

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Kemenangan Trump beroleh pengingkaran, satire, dan selamat Pengakuan penjarah toko di Penjaringan

- Kemenangan Trump beroleh pengingkaran, satire, dan selamat Kenapa Ahok enggan mundur dari pencalonannya?

- Kemenangan Trump beroleh pengingkaran, satire, dan selamat Kenapa gelar perkara terbuka kasus Ahok dipersoalkan?

anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
9.6K
15
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Beritagar.id
Beritagar.id
KASKUS Official
13.5KThread890Anggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.