- Beranda
- Berita dan Politik
Kemenangan Trump Berdampak Lebih Besar Pada Saham Dibandingkan Obligasi
...
TS
tumtumi
Kemenangan Trump Berdampak Lebih Besar Pada Saham Dibandingkan Obligasi
Saham-saham lapis tiga yang harganya murah justru paling terpukul saat pelaksanaan pemilihan presiden Amerika Serikat pada 8 November 2016. Kecemasan investor bahwa Donald Trump akan memenangkan pilpres AS membuat para pemodal di bursa Jakarta melepaskan portolionya pada saham-saham lapis tiga. Alhasil, harga saham tersebut turun hingga 10 persen.
Harga saham Eureka Prima Jakarta yang memiliki kode perdagangan di Bursa Jakarta LCGP pada perdagangan 9 November 2016 ditutup turun 10 persen menjadi Rp 171 per saham dari penutupan sehari sebelumnya. Saham lainnya yang mengalami penurunan cukup tajam di atas 7 persen, yakni Prasida Aneka Niaga (PSDN), Steady Safe (Safe) dan Martina Berto (MBTO).
Pada perdagangan 9 November 2016, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia turun 56,36 poin (1,03 persen) menjadi 5.414,321. Nilai investasi pemodal di bursa Jakarta langsung menyusut Rp 61,23 triliun menjadi Rp 5.857,33 triliun. Sektor infrastruktur mengalami penurunan paling tajam, yakni 2,3 persen di ikuti sektor finansial 1,52 persen dan industri dasar sebesar 1,13 persen.
http://databoks.katadata.co.id/datap...-november-2016

Pemilihan presiden Ameriksa Serikat tidak banyak berimbas terhadap pasar obligasi Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari indeks harga saham gabungan obligasi (ICBI) pada perdagangan pasar obligasi 9 November 2016 hanya turun 0,5549 poin (0,26 persen) menjadi 212,3703 dari penutupan sehari sebelumnya. Penurunannya lebih rendah dibandingkan indeks bursa saham. Indeks obligasi sepanjang 2016 menunjukkan tren kenaikan.
Untuk indeks obligasi pemerintah (total return) pada perdagangan 9 November 2016 mengalami koreksi 0,6148 poin (0,29 persen) ke level 209,7794 dari posisi sehari sebelumnya. Demikian pula indeks obligasi korporasi (total return) hanya turun 0,0457 poin (0,02 persen) menjadi 222,1462 dari penutupan sehari sebelumnya.
Fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup bagus, stabil nilai tukar rupiah, serta imbal hasil (yield) yang masih menarik dibandingkan surat utang negara lainnya membuat pasar tidak terlalu panik. Data Asiabondonline menunjukkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 sebesar 7,361 persen, jauh di atas Singapura 1,942 persen, Thailand 2,163 persen atau Jepang yang justru mencatat angka negatif.
http://databoks.katadata.co.id/datap...domestik-minim

Harga saham Eureka Prima Jakarta yang memiliki kode perdagangan di Bursa Jakarta LCGP pada perdagangan 9 November 2016 ditutup turun 10 persen menjadi Rp 171 per saham dari penutupan sehari sebelumnya. Saham lainnya yang mengalami penurunan cukup tajam di atas 7 persen, yakni Prasida Aneka Niaga (PSDN), Steady Safe (Safe) dan Martina Berto (MBTO).
Pada perdagangan 9 November 2016, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia turun 56,36 poin (1,03 persen) menjadi 5.414,321. Nilai investasi pemodal di bursa Jakarta langsung menyusut Rp 61,23 triliun menjadi Rp 5.857,33 triliun. Sektor infrastruktur mengalami penurunan paling tajam, yakni 2,3 persen di ikuti sektor finansial 1,52 persen dan industri dasar sebesar 1,13 persen.
http://databoks.katadata.co.id/datap...-november-2016
Pemilihan presiden Ameriksa Serikat tidak banyak berimbas terhadap pasar obligasi Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari indeks harga saham gabungan obligasi (ICBI) pada perdagangan pasar obligasi 9 November 2016 hanya turun 0,5549 poin (0,26 persen) menjadi 212,3703 dari penutupan sehari sebelumnya. Penurunannya lebih rendah dibandingkan indeks bursa saham. Indeks obligasi sepanjang 2016 menunjukkan tren kenaikan.
Untuk indeks obligasi pemerintah (total return) pada perdagangan 9 November 2016 mengalami koreksi 0,6148 poin (0,29 persen) ke level 209,7794 dari posisi sehari sebelumnya. Demikian pula indeks obligasi korporasi (total return) hanya turun 0,0457 poin (0,02 persen) menjadi 222,1462 dari penutupan sehari sebelumnya.
Fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup bagus, stabil nilai tukar rupiah, serta imbal hasil (yield) yang masih menarik dibandingkan surat utang negara lainnya membuat pasar tidak terlalu panik. Data Asiabondonline menunjukkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 sebesar 7,361 persen, jauh di atas Singapura 1,942 persen, Thailand 2,163 persen atau Jepang yang justru mencatat angka negatif.
http://databoks.katadata.co.id/datap...domestik-minim
0
908
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
694.8KThread•58.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya