Kaskus

News

3anaarraAvatar border
TS
3anaarra
Misteri Wong Alas di Hutan Lindung Carang Lembayung
Hidup di Hutan, Wong Alas Carang Lembayung Masih Jadi Misteri

Kemungkinan hanya beberapa orang yang mengetahui jika di kawasan hutan lindung Carang Lembayung wilayah Ardi Lawet (Purbalingga Bagian Timur), masih ada penghuni yang sering dinamakan Wong Alas Carang Lembayung. Bagaimana keberadaan mereka yang sampai saat ini masih misteri, padahal ceritanya ramai sampai ke wilayah perbatasan Pemalang.

Konon, Wong Alas hidup dan berdomisili di sekitar kawasan Ardi Lawet. Sebuah pegunungan yang ada di sebagian besar wilayah Kecamatan Rembang dengan perbatasan Kabupaten Pemalang. Selama puluhan tahun, kisah tentang Wong Alas yang menghuni kawasan hutan lindung hanya beredar di Desa Panusupan Kecamatan Rembang, Dusun Karang Gintung Desa Panusupan, Desa Tundaga, dan Desa Watukumpul (Pemalang).

Dikutip dari radar banyumas, Kurang lebih sekitar tahun 2002 yang lalu, Anggota Muda PPA Gasda mengadakan pengembaraan dengan melakukan penjelajahan di hutan wilayah Ardi Lawet dengan mengusung nama “Expedisi Panu-Kumpul” yang menempuh rute dari desa Panusupan Kecamatan Rembang Purbalingga menuju Watu Kumpul Pemalang.

Expedisi kecil-kecilan pertama ini dimulai dari Desa Panusupan menuju Ardi Lawet, kemudian berjalan menyisir punggungan sebelah barat Gunung Pulosari, Gunung Kraton, Gunung Senggani dan terakhir melewati Punggungan Rocky yang melintang dari barat ke timur. Jalur expedisi tetap dipertahankan sejajar disebelah timur Sungai Kahuripan. Gambaran umum mengenai hutan tersebut adalah banyak diketemukannya bekas-bekas tebangan disepanjang jalur expedisi. Sedikit sekali pohon dengan diameter lebih dari 30 cm yang masih berdiri.

Yang menarik adalah perilaku para penebang yang masih takut ketahuan atau berjumpa dengan orang asing. Beberapa kali team expedisi mendengar suara prosesi penebangan atau penggergajian kayu namun saat didekati para penebang lari bersembunyi dengan masih meninggalkan beberapa perkakasnya. Team expedisi juga menjumpai fauna langka yang dilindungi di hutan tersebut seperti Burung Rangkong (Horn Bill), Elang, Pelatuk, Monyet ekor panjang (lutung), serta kotoran Macan Pohon ( kuat dugaan hewan ini masih hidup ), disamping juga berbagai jenis tumbuhan.

Namun hal yang jauh lebih menarik adalah cerita mengenai Wong Alas atau Suku Pejajaran (Pajajaran) atau Suku Carang Lembayung (tinggal daerah Carang Lembayung) yang konon menghuni kawasan hutan Ardi Lawet ini, secara mendetail ceritanya sebagai berikut;

Sebenarnya semenjak tahun 1992 secara rutin anggota-anggota PPA GASDA (dahulu Gasda Pala) kerap melakukan Hiking ke Ardi Lawet. Pesona Ardi Lawet dan kemisteriusan kawasan sekitar terutama gunung-gunung diutara Ardi Lawet telah membuat para anggota PPA GASDA untuk selalu “sowan” kesana. Namun baru sekitar tahun 1998 / 1999 kabar mengenai Wong Alas ini sampai ke Gasda dari salah satu anggota Gasda bernama Sudibyo asal Sindureja rt 01/05 Kaligondang Purbalingga. Dibyo saat ini mengisahkan pengalaman teman-teman sekampungnya yang bertualang ke Ardi Lawet dan kemudian tersesat di sebelah utara Ardi Lawet.

Saat ditengah hutan mereka menjumpai serombongan orang yang tinggal diatas pohon dan mereka sempat melakukan barter, tidak begitu jelas barang apa yang dibarter, bahasa yang digunakan maupun pakaian yang dikenakan. Pada tahun itu juga beberapa Anggota Gasda melakukan expedisi iseng Panusupan – Watu Kumpul pertama namun menjumpai kegagalan karena kurangnya persiapan fisik dan mental. Expedisi iseng tersebut berakhir dipuncak Gunung Kraton. Team expedisi hanya menjumpai Macan Kumbang (Hitam) dan kengerian mistik hutan Gunung Kraton. Setahun kemudian expedisi ini diulangi dan lagi-lagi menemui kegagalan dikaki Gunung Kraton. Baru pada kurang lebih dua tahun lalu expedisi ini berhasil menembus jalur Panusupan – Watu Kumpul.

Informasi yang menguatkan bahwa mereka adalah manusia biasa semakin banyak dan dengan alasan itu juga,salah satunya, yang menyebabkan beberapa tahun yang lalu yaitu tanggal 7 hingga 11 Juli 2004 PPA GASDA kembali melakukan penjelajahan dengan nama “Expedisi Panu-Tunda”, yang diikuti oleh 10 orang peserta,terdiri dari 4 orang anggota Muda, satu anggota inti (perempuan) 3 anggota luar biasa dan 2 orang volunter.

Kali ini team expedisi menempuh jalur sisi timur Gunung Kraton yang menurut informasi merupakan tempat yang diduga adalah wilayah Suku Carang Lembayung tinggal dan pada salah satu bagian hutan kami menemukan sebuah situs atau lebih tepatnya semacam batu yang dibentuk, seperti lingga atau mungkin menhir yang tergeletak begitu saja didalam hutan. Team ini tidak sempat meneliti lebih jauh, dan hanya sempat memotretnya tanpa bisa menggesernya karena terlalu berat.

Saat istirahat dan menginap di rumah warga di Desa Tundagan (Pemalang), tim ekspedisi untuk pertama kalinya mendengar banyak kisah tentang Wong Alas,” tambah Taufik. Warga Desa Tundagan mengidentifikasi Wong Alas dengan sebutan Suku Carang Lembayung. Wong Alas kabarnya merupakan keturunan prajurit kerajaan Pajajaran. Anak buah Syekh Jambu Karang. Karena enggan mengikuti Syekh Jambu Karang memeluk agama Islam, prajurit itu bersembunyi di hutan sekitar Ardi Lawet. Taufik mengatakan, bukti adanya Wong Alas terdapat sebuah candi di wilayah Tundagan atau sebagai situs petilasan.

Tahun 1978 ada sebuah desa disebelah timur desa Sirongge Watu Kumpul yang mengundang kesenian Lengger. Sementara itu beberapa kilometer kearah barat daya dari desa tersebut ada sebuah dusun/dukuh kecil yang hanya terdiri dari beberapa KK yang terletak didalam hutan kawasan Rembang. Mengetahui di Desa (X) ada Lengger ,maka warga dusun (X) berinisiatif untuk mengundang Lengger tersebut mampir dan mengadakan pertunjukan di dusunnya. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan pada malam hari, dan pada saat waktu telah melewati tengah malam, warga dusun (X) merasa aneh dengan keadaan ditempat pertunjukkan Lengger tersebut.

Lambat laun penonton semakin bertambah banyak pada saat lagu Ande-Ande Lumut diperdendangkan. Warga dusun (X) merasa curiga dengan kedatangan sejumlah penonton yang asing dimata mereka. Seandainya penonton asing itu datang dari desa tentunya tidak sedikit yang dikenal oleh warga dusun. Setelah diperhatikan lebih seksama oleh warga dusun ternyata penonton asing ini memiliki keganjilan pada kaki dan bagian tubuh lainnya, dan gegerlah warga dusun (X) tersebut. Konon semenjak kejadian itu, dusun ditengah hutan itu ditinggalkan warganya yang lebih memilih mengungsi ke desa. Cerita ini disampaikan oleh salah seorang warga Tundangan dan didengar kesaksiannya oleh kami, Pak Karnoto dan Mas Karno. Konon Tembang Ande-Ande Lumut adalah tembang yang disukai wong alas, dan tembang ini bisa dijadikan media untuk mengundang wong alas 'turun gunung'.

Terdapat empat desa yang letaknya tidak jauh dari kawasan wingit Ardi Lawet dan Gunung Kraton. Yaitu Desa Tundagan di wilayah Pemalang, Desa Sirau, Penusupan, Tunjung Muli (Karangmoncol). Dari empat desa tersebut, versi cerita tentang Wong Alas sangat beragam. Umumnya warga Panusupan mengaku tidak tahu mengenai Wong Alas, meski tidak sedikit warga yang secara rutin menebang kayu di hutan. Sementara warga Desa Tunjung Muli hanya sebagian kecil yang kerap melintas jalan setapak sepanjang Sungai Kahuripan menuju Tundagan. Tidak jarang mereka berpapasan dengan Wong Alas ditengah hutan. Konon sosoknya berupa manusia berpakaian putih tanpa jahitan. (*/susgasda@yahoogroups)

Spoiler for Hutan Lindung Carang Lembayung:



Spoiler for Penelusuran Jejak Wong Alas:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 2 suara
15
15
50%
15
50%
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan anasabila memberi reputasi
2
6.5K
11
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Dunia Hiburan
Berita Dunia Hiburan
KASKUS Official
25.1KThread5.7KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.