- Beranda
- Berita dan Politik
RUMAH RETAK AKIBAT NORMALISASI SUNGAI, WARGA LAPOR POLISI
...
TS
trimusketeers
RUMAH RETAK AKIBAT NORMALISASI SUNGAI, WARGA LAPOR POLISI
Quote:

Sebanyak tiga rumah milik warga Desa Ampel, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka mengalami retak-retak dan anjlok, satu rumah di antaranya terpaksa dikosongkan dengan alasan khawatir ambruk secara tiba-tiba.
Ketiga rumah yang mengalami retak-retak tersebut masing-masing milik Opendi (55), Siti Komariah (29) yang baru selesai dibangun dan Toto (35 ) yang semuanya tinggal di RT 01/RW 02 dan saling bertetangga.
Kondisi ketiga rumah tersebut hampir di setiap sudut dindingnya mengalami retak-retak selebar antara 3 cm hingga 5 cm memangang dari atas hingga bagian bawah. Retakan hampir rata-rata berada di sambungan antara bata atau sudut ruangan, serta antara kusen pintu atau jendela hingga ada sudut jendela yang nyaris terlepas, ada pula yang retakannya horizontal serta miring ke bawah.
Lantai rumah juga demikian retak memanjang, ada pula yang mengalami anjlok sekitar 10 cm hingga 15 cm. Rumah milik Opendi sejak dua hari yang lalu terpaksa dikosongkan khawatir rumah ambruk secara tiba-tiba di saat pemiliknya sedang terlelap tidur dan menimpa penghuni. Sedangkan rumah milik pasangan suami istri, Agus dan Siti Komariah baru saja selesai dibangun namun belum ditempati.
Menurut Opendi yang juga tokoh masyarakat setempat, kondisi tersebut mulai diketahui pada Senin 10 Oktober pagi, namun retakan langsung diketahui sudah besar.
Mereka menduga retakan yang menimpa rumahnya tersebut akibat normalisasi Sungai Sindupraja yang dilakukan sebuah perusahaan sejak bulan puasa lalu. Namun, dampaknya baru terjadi saat ini. Kebetulan rumah mereka sangat dekat dengan Sungai Sindupraja berjarak kurang lebih tiga meteran saja.
“Dulunya rumah kami agak jauh dari sungai, karena antara bibir sungai dengan rumah kami terhalang beberapa rumah penduduk yang kini dibongkar akibat normalisasi sungai ini. Sehubungan rumah yang didirikan warga berada di bantaran sungai, sementara rumah kami adalah rumah milik pribadi. Sejak pembongkaran tersebut akhirnya rumah kami paling dekat dengan sungai sehingga ketika alat berat beroperasi sangat terasa dampaknya ke rumah,”papar Opendi, dikutip dari Kabar Cirebon, Sabtu (15/10/2016).
Kondisi ini diperparah dengan terjadinya pengikisan bibir sungai akibat luapan air yang demikian besar di saat hujan deras atau ada kiriman air dari wilayah hulu.
Sementara, Siti Komariah mengaku, sangat terpukul ketika melihat rumahnya yang baru dibangun sudah mengalami retak-retak dan harus diperbaiki kembali.
“Masa rumah baru belum juga ditempati harus diperbaiki lagi, sementara suami bekerja di luar kota,” kata Siti.
Sedangkan Toto sendiri akan segera mengosongkan rumahnya dan pindah sementara ke rumah orangtuanya, karena kondisi rumahnya sudah mengkhawatirkan. Bila tidak segera pindah khawatir suatu waktu ambruk. Mereka kini berharap, pihak perusahaan yang mengerjakan pekerjaan normalisasi sungai bertanggung jawab atas kerusakan rumah tersebut.
Kini warga berupaya melaporkan kerusakan rumahnya kepada pihak Polsek Ligung untuk dilakukan penyelidikan terkait penyebab kerusakan rumah mereka. Selain itu, warga pun melaporkannya kepada pemerintah kecamatan setempat.
Kapolsek Ligung, AKP Toto Sumarto mengatakan, pihaknya sudah meninjau lokasi bencana yang menimpa rumah warga. Pihaknya juga sudah menghubungi Balai Besar Wilayah Sungai serta PT Brantas untuk dilakukan penelitian dan penanganan lebih lanjut.
“Kami yang mendapat laporan warga sudah menindaklanjutinya dengan meninjau ke lokasi serta menghubungi BBWS yang mengelola aliran sungai ini, demikian juga ke PT Brantas. Kami kini menunggu jawaban mereka,” kata Toto.
Sumur
Anjirrr... masalah amdal tidak diperhitungkan, ini pasti salah..

Diubah oleh trimusketeers 17-10-2016 02:20
0
3.6K
Kutip
32
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
691.7KThread•56.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya